Menyusun PTK itu Gampang

ptkTatap muka melalui kopi darat, jumpa ide melalui buku. Salah satu cara saya bertemu dengan teman-teman guru berbagai belahan dunia adalah membaca karya mereka. Melalui foto-foto pembelajaran kreatif di media sosial, status atau kicauan yang menggugah imajinasi, hingga tulisan di blog yang sarat informasi, mereka bicara.

Ameliasari T Kesuma. Teman saya yang satu ini adalah guru ekonomi MAN (Madrasah Aliyah Negeri) Salatiga. Sebagai guru di sekolah formal, gaya mengajarnya istimewa. Aneka terobosan unik dia lakukan, demi memberikan kesempatan kepada murid-muridnya belajar dengan cara yang seharusnya.

Dengan prinsip itu pula dia menulis buku Menyusun PTK itu Gampang. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) lazim dilakukan oleh guru untuk melakukan refleksi atas pembelajaran yang berlangsung di kelas. Melalui buku ini terlihatlah jembatan yang nyaman antara materi pelajaran yang sarat hafalan dan teori dengan praktik  pembelajaran yang konteksual. Misalnya, dia memadukan materi uang dan bank dengan prinsip pengelolaan uang sehari-hari yang dilakukan murid. Aktivitas membuat anggaran berdasarkan uang saku ditutup dengan beramai-ramai menyerbu bank terdekat untuk membuka rekening tabungan. Inilah jembatan yang saya maksud, berupa aktivitas yang melibatkan aspek fisik dan emosional dalam pembelajaran.

Gagasan sebuah buku bisa sampai ke ruang kesadaran pembaca ketika penulisnya bukan hanya berbagi cerita, namun mengajak pembaca berbincang. Tampilan buku ini menarik, padat–kurang dari 100 halaman—dengan permainan tabel berwarna, seperti obrolan yang menyegarkan. Tahap-tahap penelitian dipaparkan dengan sederhana, melalui contoh nyata dan bonus CD berisi penelitian yang telah dipublikasikan.

Setelah membacanya, saya yang bukan guru ekonomi pun mendadak merasa bisa mengampu mata pelajaran ini dengan mudah. Ehm, merasa bisa, bukan bisa :-)

Amelia hendak menyampaikan bahwa kelas yang datar akan menghasilkan PTK yang lurus-lurus saja, sementara kelas yang dinamis akan membuat guru bersemangat menyusun PTK-nya. Itu benang merah yang saya peroleh, pesan tersirat yang tertangkap. Mau pilih yang lurus atau yang dinamis, dengan buku ini menyusun PTK tetap jadi gampang. Coba saja.

Pesan buku ini di sini.

Kelas Menulis Online Self Editing

Malam tadi adalah malam terakhir.

Dua bulan ini saya mengawal dua generasi kelas bertajuk Kelas Menulis Online (KMO) Self Editing. Penyelenggaranya adalah komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN), pesertanya tentu ibu-ibu. Tujuan kelas ini sederhana: belajar mengoreksi dan menyunting naskah sendiri. Pesertanya dari berbagai wilayah Indonesia, ada yang dari luar negeri. Kelas yang digunakan adalah sebuah lorong rahasia di Facebook. Pesan tersembunyi dari kelas ini adalah menjadikan media sosial sebagai sarana belajar, berjejaring dalam kebaikan, dan berbagi manfaat.

KMO Self Editing

KMO Self Editing, foto oleh Ardiba Sefrienda

Tunggu. Jangan bayangkan suasana kelas editing ini serius dan penuh kerut. Selama dua bulan, dua gerombolan ibu meramaikan malam-malam saya dengan celoteh, senda gurau, pertanyaan, bahkan perisakan yang menyenangkan. Kelas yang digelar dua jam setiap malam ini pun jadi ajang bertukar ilmu dan wawasan, sekaligus berbagi ikatan persahabatan.

Dengan sejumlah pertimbangan, saya memilih lima materi ini untuk disajikan:

1. Mengapa naskah wajib disunting?
2. Mengolah diksi sesuai target pembaca.
3. Mengenali kalimat tidak efektif dan mengoreksinya.
4. Menata paragraf agar nyaman dibaca.
5. EYD dan selingkung.

Saya melewatkan detail materi tertentu dan memberikan porsi lebih di  materi yang lain, disesuaikan dengan keperluan peserta. Bahasa Indonesia yang mungkin jadi pelajaran membosankan saat di bangku sekolah, kini menjelma sebagai pelepas penat. Menyunting tulisan teman dan tulisan sendiri itu hiburan, bahkan mengunduh dan menjajal KBBI daring pun jadi permainan yang mengasyikkan—atau membingungkan bagi yang gagal mengunduh, ehehe…. Kan wajib melibatkan emosi dalam pembelajaran.

Saya berani bersumbar bahwa KMO Self Editing adalah kelas terpadat yang pernah saya kawal. Semua diskusi dan tugas dipajang di dalam kelas agar peserta saling belajar. Dari empat jenis penugasan, saya memberikan penilaian dan masukan secara terbuka. Semoga, peserta kenyang dengan ratusan paragraf, lengkap dengan pembahasannya, bonus rumpian dan jitakan saya :-D

Ibu-ibu yang ajaib. Di antara padatnya aktivitas pekerjaan dan rumah, mereka sempat bermain dengan diksi, imbuhan, frasa, kalimat, kohesi, koherensi, merubah… eh, mengubah, hehe…

Kelas ini nyaris tak pernah sepi. Ketika saya berhalangan hadir pun, mereka menciptakan diskusi sendiri. Hingga malam terakhir tadi, pertanyaan masih saja dilontarkan. Enggan rasanya berhenti.

Sayang, tiba juga saatnya saya berterima kasih, berpamitan, meminta maaf, dan mengucapkan salam, “Jayalah di udara” hahaha….

Sekolah Perempuan

Sekolah Perempuan

Saat ini saya bersama teman-teman mengelola sebuah sekolah bernama Sekolah Perempuan.

Program yang kini berjalan adalah pelatihan menulis selama tiga bulan dengan target menyelesaikan satu naskah siap kirim ke penerbit.  Setiap angkatan memfasilitasi sekitar 30 peserta didik, dan angkatan ketiga mulai belajar tanggal 8 Februari 2014.

Sesuai dengan namanya, pengajar dan peserta Sekolah Perempuan adalah kaum perempuan. Kelas diselenggarakan secara offline dan online.

Pesertanya tersebar dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk para ibu yang bermukim di luar negeri.

Kelas Offline Sekolah Perempuan

Kelas Offline Sekolah Perempuan

Kelas offline diadakan setiap Sabtu pukul 08.00-11.00 WIB di Sekolah Perempuan, Jl. PLN Dalam No. 1/203D (Jalan Mohammad Toha) Bandung, Jawa Barat.

Kelas Online Sekolah Perempuan via Facebook

Kelas Online Sekolah Perempuan via Facebook

Kelas online diadakan setiap Sabtu pukul 14.00-17.00 WIB melalui grup Facebook, Skype, dan webinar.  Penyampaian materi, diskusi, dan penugasan, semua dilakukan secara online.

Kelas Online Sekolah Perempuan (webinar). Foto: Rin Priyani

Kelas Online Sekolah Perempuan (webinar).                  Foto: Rin Priyani

Perlahan-lahan, secara bertahap, para ibu ini belajar menggunakan sarana belajar virtual yang bisa diakses melalui gawai (gadget) masing-masing.

Sungguh, belajar bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, dan di usia berapa saja :-)

Kelas Online Sekolah Perempuan (Skype), Foto: Rin Priyani

Kelas Online Sekolah Perempuan (Skype),                      Foto: Rin Priyani

Selain menerima materi tentang kepenulisan, setiap peserta juga memperoleh kesempatan untuk menjalani coaching menulis dengan mentor yang berpengalaman. Mereka memperoleh bimbingan secara pribadi selama tiga bulan untuk menyelesaikan sebuah naskah buku.

Bahagia sekali melihat alumni Sekolah Perempuan yang kian menunjukkan produktivitas dalam menulis dan aktif berkarya.

Materi yang diberikan:
1. Ide: Menangkap dan mengelolanya
2. Membuat outline naskah
3. Menulis novel bagi pemula
4. Riset dalam penulisan
5. Kalimat dan paragraf
6. Writer blocks dan manajemen waktu

Sekolah Perempuan Angkatan II

Sekolah Perempuan Angkatan II

7. Membidik pasar buku
8. Editing dan Revisi
9. Membuat proposal naskah ke penerbit
10. Promosi buku sebelum dan sesudah terbit
11. Branding bagi penulis

12. Proses penerbitan buku

Para pengajar:

Indari Mastuti (Founder, Bandung, Jabar)

Anna Farida (Kepala Sekolah, Bandung, Jabar)

Ida Fauziah (Mentor, Johor, Malaysia)

Nurul Asmayani  (Mentor, Kalimantan Selatan)

Julie Nava (Mentor, Michigan, Amerika Serikat)

Humas:

Kartikowati DH (Atie)
HP 085 216 216 034

PIN BB 25F542E6

Neurosains, “Neuroeducation”

Kang Jalal. Otaknya dilamar Dr. Taufik Pasiak, mau diteliti. Nanti setelah meninggal ;-)

Kang Jalal. Otaknya dilamar Dr. Taufik Pasiak, mau diteliti. Nanti setelah meninggal ;-)

Tanggal 23 Oktober 2013, saya mendadak merasa cerdas.

Saya harus buru-buru menuliskan diclaimer bahwa berikut ini adalah cerita saya mengikuti Seminar Nasional  Neuroscience in Communication Studies.  Saya hanya menulis hal-hal yang mengesankan dan berhasil saya pahami. Artinya, semua materi bagus, makalahnya tebal, dan tak semua saya mengerti, haha… Sebagian saya tulis di twitter, @annafaridaku.

Dari pagi hingga sore, saya menyimak lima pemateri keren yang berbicara tentang otak. Dokter dan Doktor, semuanya pintar menyampaikan makalah dengan renyah.

Diawali oleh dr. Erial Bahar, M.Sc., pakar neurosains-neuroanatomi Universitas Sriwijaya:

  • Otak menerima dan mengolah informasi dalam waktu seper sekian milidetik, melakukan kalkulasi, dan menghasilkan respon motorik.
  • Menjelaskan cara kerja memori manusia tak semudah menerangkan kode biner. Otak bekerja secara highly parallel, multitasking, effortlessly. Komputer bekerja secara serial, perlu “klik” untuk bekerja.
  • Can the brain understand the brain?
  • Dokter yang menangani jasad Einstein “mencuri” otaknya untuk diteliti. Ternyata, otak Enstein sama berat dengan orang kebanyakan, tapi memiliki sel neuroglia yang lebih banyak.
  • Jumlah syaraf dalam otak manusia ada sekira 100 miliar dengan 100 triliun sinapsis (membayangkan angka ini membuat saya haus haha)
  • Prefrontal cortex (di dalam batok kepala kita di bagian depan—yak, silakan diraba. Benar, kira-kira di balik dahi, agak ke atas) adalah bagian otak yang membedakan manusia dengan binatang. Di dalamnya ada gen unik yang hanya dimiliki manusia.

Kedua adalah Dr. Rismiyati E. Koesma, pakar psikologi (komunikasi interpersonal) Universitas Padjadjaran. Kabarnya beliau sudah berusia 60 tahun lebih, tapi casing-nya menakjubkan. Cantik, suaranya jernih, tenang…

  • Neuropsikologi mempelajari bagaimana proses biologis memengaruhi perilaku mental.
  • Sistem limbik: hubungan antara otak, emosi, motivasi, dan memori. Tampil pada manusia sebagai sistem afektif.
  • Yang berperan dalam komunikasi interpersonal: Usia, jenis kelamin, kondisi neuropsikologis.
  • Komunikasi verbal dan non verbal. Lisan bisa direkayasa, tapi tubuh selalu jujur. Reaksi seperti kontak mata, keringat, gerakan spontan tubuh, tarikan napas, dsb. adalah bentuk komunikasi non verbal.

Ketiga adalah Popy Rufaidah, PhD., Ketua Program Magister Manajemen Universitas Padjadjaran berbicara tentang neurobranding, neuroeconomics.

  • Neurobranding memahami perilaku psikologis konsumen, dan pengetahuan itu digunakan untuk membangun brand yang mendatangkan efek paling optimal.
  • Kita ini dijajah merk dari pagi hingga pagi lagi. Kita nyaris tidak mengenal produk. Bangun tidur gosok gigi pakai pepsodent, sarapan pakai blueband, bepergian naik toyota, dan seterusnya… Jika kita sudah terbiasa dengan merk itu, rasanya tak sah jika memakai merk lain. That’s neurobranding.
  • Brand: lebih baik beda sedikit daripada sedikit lebih baik. Saya juga lupa apa artinya, tapi kalimat ini saya tulis dan saya garis bawahi, jadi penting sekali hehe…
  • Personal branding: Identity, image, integrity. What you say, what you wear, what you do.
  • Otak itu seperti hardware. Belajar adalah menginstal software baru. Jika rusak atau terjangkit virus, format ulang. Re-learn! Belajar lagi. Branding is installing a value.

Keempat adalah Dr. Taufik Pasiak, ahli neuroanatomi & neuroteologi Universitas Sam Ratulangi. Hubungan otak dan keberagamaan.

  • Neuroplasticity: Kemampuan otak manusia mengatur ulang apa pun secara terstruktur. Ketika Anda memikirkan sesuatu, otak sudah berpikir bahwa sesuatu itu benar-benar terjadi. Hati-hati dengan pikiran Anda.
  • Kerusakan prefrontal kanan (yak, silakan raba kembali, bagian mana tadi?) akan menimbulkan kerusakan moral.
  • Ketika Anda merasakan Tuhan sebagai tumpuan harapan dan cinta, prefrontal kanan otak Anda aktif.  “Penyucian jiwa akan memperkuat akal pikiran” (Muthahhari)
  • Facial Acting Coding System. Ada senyum di dalam otak (benar-benar tersenyum, tulus, jujur) ada senyum yang tampak—direkayasa, hanya menarik dua ujung bibir.
  • Ada beberapa foto senyum yang diperlihatkan dan Dr. Taufik menganalisis senyum mereka—termasuk senyum tokoh dan selebriti yang kita kenal, hehe… Tebak siapa?
  • Default manusia adalah makhluk jujur. Jika berdusta dia akan stress.
  • Beda mistikus dan orang gila. Penampilan bisa jadi sama, tapi mistikus sikapnya mencerahkan. Pengalamannya datang dan hilang secara sadar, dan datang dalam waktu singkat, bisa berulang. Orang gila sebaliknya. Anda tidak akan tercerahkan olehnya.
  • Qalbu adalah satu sisi dari otak.

Pemateri pamungkas adalah Dr. Jalaluddin Rakhmat. Seminar nasional ini diadakan untuk beliau yang memasuki masa pensiun dari Universitas Padjadjaran, sekaligus memperingati Dies Natalis Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad. Kabarnya Fikom akan mendirikan The Jalal Center untuk mengkaji pemikiran beliau di bidang ilmu komunikasi. Kali ini Kang Jalal berbicara tentang neurokomunikasi.

  • Banyak film diputar, mengaduk emosi: takut, haru, cemas, dan bingung, haha…
  • Kisah Phineas Gage, mandor yang mengalami kecelakaan dan luka di kepala. Setelah sembuh, dia yang dulu penyayang, kini jadi temperamental. Seorang istri yang awalnya sederhana dan taat berubah jadi hobi selingkuh (aduh!). Setelah diperiksa, ada kerusakan di prefrontal cortex. Masih ingat, kan, di mana itu? Penyebabnya adalah karena kepala sang istri pernah dibenturkan suaminya ke dinding.
  • Mirror neuron: penemuan ilmiah terpenting setelah DNA? Neuron yang membangun peradaban (manusia) – Vilayanur Ramachandran. Anda bisa search presentasinya di Ted Talk. Search juga Dr. Daniel Glaser.
  • Mirror neuron ada di prefrontal cortex. Mirror neuron membuat kita bisa menangkap pemikiran orang lain tidak melalui nalar tapi melalui stimulasi langsung. melalui perasaan, bukan pikiran.
  • Ketika mengamati orang lain, kita (seolah) melakukan tindakan mereka itu dalam diri kita, dan kita turut merasakan emosi mereka.
  • Neurolinguistik: Memperbaiki kemampuan dan kebiasaan berbahasa melalui ilmu tentang otak. Diyakini bahwa bahasa yang benar akan menjadikan otak manusia benar.
  • Neuroanatomi melahirkan brain-based learning. Cara belajar manusia itu dipengaruhi oleh aktivitas otak, tapi ilmu otak ini tidak (belum) diajarkan secara khusus di fakultas pendidikan. Neurokomunikasi akan menjadi mata kuliah wajib di Fikom Unpad, Thanks to Kang Jalal.
  • Di titik ini, saya (iya, saya, Anna Farida...) jadi kepikiran dengan istilah neuroeducation, neuroteaching, neurolearning. Ngarang, hehe…
  • Word can change your brain (buku Andrew Newberg). Kata yes bersifat assuring, kata no menimbulkan stress. Jika anak Anda merengek hendak ikut, alih-alih berkata “Nggak, jangan ikut Ibu…” katakan “Ya. Hari ini Adik di rumah dulu, ya…”
  • Melalui CT scan sejumlah subjek dipindai aktivitas otaknya. Ketika membaca tulisan berisi kata-kata kasar, reaksi otaknya adalah fight, flight, dan freeze. Melawan, lari, atau mogok. Sekadar membaca tulisan saja reaksinya nyata, bagaimana dengan anak-anak yang setiap saat terpapar dengan kata-kata dan perlakuan kasar.
  • Kata-kata kasar melukai otak Anda dan otak orang di sekeliling Anda. Cara berkomunikasi yang salah akan mendatangkan efek yang sama.
  • Jika Anda membayangkan Tuhan sebagai zat yang keras dan hobi menghukum 15 menit sehari, Anda akan mengalami permanent brain damage.
  • Semua makalah akan diterbitkan menjadi jurnal tentang neurosains. Publish or perish.

Catatan saya sudah habis. Tunggu saja jurnalnya terbit :-)

Ini salah satu seminar terasyik yang pernah saya ikuti. Tempatnya nyaman, di ballroom Grand Preanger Bandung. Kue sponge rasa jeruk dan puding mangganya enak. Semur daging & cah brokolinya segar, cangkir lemon tea-nya bagus. Eh, ada kue sosis yang selalu hangat dengan saus pedas.

Nah, kan… langsung ketahuan kualitas otak saya.

Maaf!

Teaching Writing Biography through Skype

Tampang saya di kelas Bu Atin. Foto milik Atin Tresna.

Tampang saya di kelas Bu Atin. Foto milik Atin Tresna.

15 Mei 2013, menjelang pukul 10.00 WIB, Skype saya berdering.  Sesuai janji, rekan guru dari sebuah sekolah menengah pertama menampakkan wajahnya di layar. Kendala teknis audio yang sempat tidak terdengar kami selesaikan dalam waktu relatif singkat.

Atin Tresna Septina adalah teman kuliah saya. Kini dia mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris d SMPN 1 Bale Endah Bandung. Tiga tahun silam dia pernah memperkenalkan kelasnya kepada saya melalui Skype. Kini dia menggagas sebuah proyek unik. Tugas Writing Biography yang didahului wawancara narasumber melalui Skype adalah ide keren. Saya tersanjung diminta jadi tokoh yang akan jadi subjek proyek ini. Waduh, siapa saya? Hehe… tentu saja temannya Bu Atin.

Anak-anak yang saya jumpai kali ini terlihat berbeda. Tiga tahun lalu, wajah yang muncul di layar terlihat masih malu-malu. Kini yang tampil adalah kelas yang lebih percaya diri. Dugaan saya karena mereka sudah lebih akrab dengan internet dan gadget. Fasilitas video conferencing juga bukan lagi hal yang aneh. Dugaan saya lagi, mereka percaya diri karena apa yang hendak mereka lakukan hari itu sudah disiapkan dengan baik.

Skype-2-Nyaman di kelas

Skype-2-Nyaman di kelas. Foto: Atin Tresna

Dan berlangsunglah sesi wawancara yang menyenangkan. Javanese English dan Sundanese English bertemu, hoho… Terima kasih, anak-anak. You’re great!

Mereka bergantian bertanya tentang profesi saya sebagai penulis, dan pengalaman saya saat pertama kali menerbitkan buku. Sesekali pembicaraan saya melantur, sesekali juga Inggris Jawa saya tidak bisa mereka tangkap dengan baik. Namun demikian, secara keseluruhan, kelas kami asyik sekali.

Tidak ada yang sulit jika kita mau mencoba. Dulu saya mengenal Bu Atin sebagai teman yang mengaku gagap teknologi. Sekarang dia terampil dengan perangkat mengajar online dan yang lebih penting bersedia menggunakannya. Kadang gemes. Jika guru-guru yang rajin berjejaring di Facebok bersedia saling bertukar kelas, merancang proyek antar kelas, antar sekolah, antar negara… tampaknya anak-anak kita akan punya wawasan yang sedikit lebih luas dibandingkan dengan saat kita sekolah dulu.

Tugas menulis bisa jadi pengalaman unik, mengaktifkan emosi positif saat belajar. Bu Atin bercerita bahwa anak didiknya jadi bersemangat menggali informasi lebih jauh tentang topik yang sedang ditulis. Hasilnya pun mengagumkan. Tadi pagi saya menerima email berisi beberapa tugas mereka.

Beberapa hasil tugas writing biography

Beberapa hasil tugas writing biography

Senang membaca tulisan mereka, walau ada beberapa bagian yang dilebih-lebihkan, sampai membuat saya ge er haha…

Saya sedang rehat mengajar formal dan fokus menulis, tapi Skype session dengan kelas Bu Atin memercikkan ide untuk melakukan sesuatu dengan cakupan yang lebih luas. Ingin mengajak rekan-rekan guru yang lain “Arisan Kelas” hehe…  Semoga bisa segera meluangkan waktu ;-)