TTS dan CARI KATA SEPUTAR ISLAM

TTS Cari Kata Seputar Islam - Anna Farida

TTS Cari Kata Seputar Islam – Anna Farida

Bikin buku TTS? Enteng, pikir saya. Eits! Ternyata, menyusun 2.400 pertanyaan dan 1.200 kata bermakna tentang Islam itu bikin saya nyaris frustrasi.

Isi kamus seperti sudah tumpah setengahnya, tapi soal yang saya buat belum sampai seperempatnya. Masalah yang saya temui berkaitan dengan transliterasi Arab-Indonesia, hingga istilah yang tidak mudah diterjemahkan. Lebih dari itu, saya harus bisa mengajukan pertanyaan yang padat tapi jelas, sehingga pembaca memahaminya dengan baik. Komposisi pertanyaan mudah, sedang, dan sulit juga saya perhitungkan.

Saya pernah mau mundur, lho.

Sambil malu-malu saya angkat tangan kepada editor, “Mbak Dewi, kita bikin buku lain, saja, yuuuk…”

Editor bertahan. Dia semangati saya untuk terus berjuang.

Saya sulut kembali energi yang sempat mengempis. Saya merancang buku ini demi menyajikan cara seru untuk menemani teman-teman mempelajari (kembali) Islam dengan cara yang asyik. Jadi, saya harus mengerjakannya dengan energi yang melimpah.

Saya yakin TTS ini akan jadi teman berbincang yang lumayan cerdas. Biasanya, ketika mengisi TTS, saya jadi meramban ke sana kemari cari referensi. Banyak serendipity yang saya temukan dan membuat saya membaca tanpa henti.

Ini kampanye saya di sampul belakang. TTS dan Cari Kata itu mengajak Anda

  • Menambah kosa kata
  • Menyehatkan otak
  • Melatih konsentrasi
  • Memperluas pengetahuan
  • Mengasah kesabaran
  • Merasakan nikmatnya sukses
  • Memperoleh hiburan

Wawasan baru tentang Islam bisa Anda temukan, pengetahuan yang telah Anda miliki jadi bangkit kembali.

Jadi, saya berharap, buku TTS dan dan Cari Kata ini akan jadi awal yang baik. Setelah mengisi kotak demi kotak, menemukan kata demi kata, semoga pembaca jadi ingin tahu lebih banyak tentang istilah yang baru saja ditemukan.

Seperti biasa, ketika buku masuk percetakan, saya meriang.

Banyak pihak yang mengawal buku ini. Editor, desainer, hingga Ali–putra saya–dengan setia membantu saya melakukan cek akhir. Eh saat buku siap cetak, desainernya masih saya recoki dengan revisi susulan. Maaf, dan tentu saja terima kasih setulusnya.

Semoga buku ini bermanfaat, menemani Ramadan teman-teman semua.

Turun panggung, melanjutkan meriang :-D

MENYUNTING EMPATI

editing workshop

Foto dok. panitia

Pagi itu saya buru-buru.

Ada workshop penerjemahan dan jurnalistik di Jakarta, dan saya bertugas memberikan materi penyuntingan naskah alias editing.

Bus melaju tanpa hambatan, jadi seharusnya saya tiba tepat waktu.

Tiba-tiba sopir menepikan kendaraan, dan berdiri di hadapan saya dengan sikap sopan. Ternyata dia menyapa penumpang yang duduk di belakang saya.

Terdengarlah dialog ini:

Ibu, maaf. Jadinya Ibu mau turun di mana?”

Aduh, Ibu juga belum tahu. Dari tadi nelepon belum diangkat…”

Ibu kan mau ke daerah ****?” (Saya lupa nama tempatnya)

Iya.”

Begini, Bu. Bus ini tidak akan lewat ****.”

Trus gimana?”

Lebih enak Ibu turun di Ceger. Nanti dari sana Ibu naik taksi.”

Ya sudah, gimana bagusnya saja…”

Suara ibu itu menggantung. Keraguan dan kecemasannya membuat sang sopir berpaling ke arah saya dan bertanya, “Mbak, turun di Pasar Rebo trus ke Pondok Gede, kan?”

Iya, Pak,” sahut saya.

Ibu ini mau turun di Ceger. Tapi saya hanya bisa berhenti di perlintasan jalan tol. Ibu ini harus jalan kira-kira seratus meter trus nyebrang. Mbak mau nemenin?”

Dia menjelaskan bahwa turun di Ceger sama saja, dan akan ada banyak taksi di sana. Lagi-lagi saya mengangguk tak yakin. Saya tidak tahu Ceger, tidak tahu juga Pasar Rebo.

Ah, sama-sama tidak tahu, kan. Jadi saya setuju saja.

Maka turunlah kami di sisi jalan tol diiringi ucapan terima kasih sang sopir.

Ternyata ibu yang duduk di belakang saya itu sudah berusia lanjut. Kami berjalan bergandengan tangan, dan berpisah tanpa sempat berkenalan.

Kejadian singkat itu terputar ulang ketika saya duduk di dalam taksi.

Saya pernah menemukan sopir yang mengemudi ala pilot pesawat tempur di film-film. Ada pula yang merokok seenaknya di bus ber-AC, atau menelepon sambil menginjak rem semaunya.

Hari itu saya belajar dari seorang sopir yang berbeda.

Dia bisa saja menurunkan semua penumpang yang tidak punya tujuan jelas di pool terakhir. Dia juga bisa berteriak dari kursinya dan bertanya ke ibu itu, atau meminta kondekturnya untuk melakukannya. Dia juga bisa saja kasih instruksi agar ibu itu turun sendiri, tanpa repot-repot minta tolong kepada saya. Pilihannya untuk menepikan bus hanya untuk bertanya, dan tutur katanya yang santun itu sungguh mengesankan. Masih ada orang baik, masih ada harapan untuk dunia yang lebih baik.

Karakter seperti inilah yang mesti sampai kepada anak-anak kita, generasi muda kita, masyarakat kita. Sebenarnya, kita selalu punya pilihan untuk peduli.

Saya sampai di lokasi tiga puluh menit lebih lambat—untung ada acara lain yang bisa ditukar jadwalnya. Workshop berlangsung dua sesi, bermain kalimat dan paragraf dari pagi hingga sore, seru sekali.

Coursera: jaga sisi pembelajar

courseraSyarat wajib guru adalah kemauan belajar.

Syarat wajib penulis adalah membaca.

Kredo tersebut turut menjaga kualitas profesi yang hingga kini saya tekuni. Saat saya mengajar di Sekolah Perempuan, menulis buku, dan menjadi trainer di berbagai pelatihan editing, belajar dan membaca itu nyawa. Tanpa keduanya, saya bisa kehabisan bensin untuk terus berkarya.

Namun demikian, bagi saya yang sok sibuk ini, sekadar belajar di antara padatnya aktivitas bukan hal mudah. Saya perlu kondisi yang bisa menjaga displin dan konsistensi agar proses belajar terukur dengan jelas. Saya juga perlu tenggat agar kegiatan belajar menjadi hal yang memacu semangat. Maklum, penulis kan pekerjaannya mengejar tenggat. Sudah jadi irama hidup, hehe…

Karenanya, ketika seorang teman memperkenalkan Coursera, saya langsung berpikir, this is it! Kursus online ditawarkan berbagai perguruan tinggi ternama dunia, dengan pilihan materi yang sangat beragam. Gratis. Saya heboh melihat banyak mata kuliah pendidikan yang selama ini saya idamkan. Materi disajikan melalui video presentasi pengajar, lengkap dengan salindia, sehingga saya tak perlu keluar rumah. Cocok benar untuk ibu yang masih punya anak-anak kecil seperti saya.

coursera partnersDurasi kursus bervariasi, mulai empat sampai belasan minggu. Kurikulumnya jelas, bahan bacaan tak terbatas, target penguasaan materi per minggu urut, dan sistem penugasannya bervariasi dengan tenggat yang pasti. Evaluasi diberikan dalam bentuk kuis mingguan, penulisan esai, presentasi, dan pengerjaan proyek tertentu sesuai kursus yang diambil. Bukan main. Yang paling menantang, saya harus berkompetisi dengan diri sendiri!

Seperti anak sekolah yang dapat seragam baru, saya menjalani kursus pertama dengan semangat full. Materinya adalah Internet Hystory. Ah, mudah, saya pikir. Membaca silabusnya saya yakin bisa membabat kursus ini dengan mudah. Ternyata nol besar. Saya kelabakan menghadapi tenggat yang selalu bikin kaget—lho, kok tiba-tiba sudah akhir pekan. Wah, kok materi ini belum sempat saya simak, buku itu belum sempat saya baca. Yah, saya sudah tidak bisa setor tugas. Aduh, saya jelas gagal. Materi yang saya anggap enteng ternyata tak bisa saya tuntaskan. Beberapa kursus berikutnya juga berakhir sama, rontok di tengah jalan—bahkan ada yang tak saya jalani sama sekali. Malu, ih, semangat enroll doang.

Kecewa?

Ya. Saya kalah melawan diri sendiri, tak sukses mengelola waktu sendiri. Saya guru, tapi bukan contoh yang laik.

Patah arang?

Never. Saya tantang diri saya lagi dan lagi. Ada teman yang punya bayi dan berhasil lulus, masa saya tidak bisa. Panas, dong!

Saya mulai atur strategi. Saya pilih kursus yang durasinya relatif singkat dan silabusnya tidak terlalu padat. Kali ini saya tidak boleh rakus, ambil satu kursus saja: Foundations of Teaching for
Learning 2: Being a Teacher.

Dengan pengalaman dan kegagalan yang sudah beberapa kali, saya atur waktu. Setiap hari Selasa, kegiatan saya adalah menyelesaikan materi dan tugas Coursera. Sebelum tugas selesai, aktivitas lain wajib menunggu. Konsisten, disiplin, telaten.

Minggu demi minggu berlalu cepat, kuis berlalu, tugas bisa saya setorkan tepat waktu—kadang mepet tenggat juga, beberapa jam sebelum icon gembok terpajang. Akhirnya dengan lega saya berhasil melewati tugas terakhir. Kualitasnya bahkan jauh dari standar saya sendiri, tapi setidaknya ini langkah bagus untuk manajemen waktu saya.

Coursera teach-2Eh, kejutan! Saya lulus dengan predikat distinction.

Senang tak terkira, lebay tiada banding. Saya kabarkan berita ini melalui Facebook, dan banjir ucapan selamat membuat saya nyengir. Lha saya cuma lulus satu kursus, itu pun dengan jungkir balik, kok teman-teman saya ribut minta ampun. Hoho… itulah gunanya teman, mereka ada untuk berbagi semangat, saling mengompori, dan saling ledek di saat yang pas.

Bagi saya, mengikuti kursus di Coursera—yang lulus maupun yang gagal—adalah petualangan intelektual, emosional, bahkan spiritual. Nuansa keilmuan terpuaskan ketika menyimak materi, prokrastinasi dikendalikan, dan rasa syukur hadir atas kesempatan belajar yang masih saya peroleh. Bagi manusia, belajar adalah kemestian.

Nah… nah…

Setelah berhasil, seharusnya saya sudah lebih berpengalaman, dong.

Ya, sih, tapi pengalaman saja tidak cukup. Saya kembali mengendurkan disiplin jadwal setiap Selasa karena desakan pekerjaan yang tak bisa menunggu. Ah, alasan! Fesbukan setiap waktu masih sempat, kan? Satu kursus bahkan gagal ketika satu tugas terakhir tak sempat saya kirimkan karena lupa. Mangkel sekali rasanya.

Sekarang saya sedang menanti kursus berikutnya. Lulus sekali, gagal berkali-kali, enroll tanpa henti.

Atas semua pengalaman itu, saya merasa hidup ini lebih berisi. Belajar membuat saya tetap terbuka sekaligus rendah hati. Kabarnya, saya bisa membuat tulisan yang bagus, memberikan training editing dengan cara yang menarik, tapi terbukti masih sering gagal mengalahkan diri sendiri. Bergabung di Coursera membuat sisi pembelajar saya tetap terjaga.

Saya suka.

 

Mendidik Anak, Mendidik Orang Tua

parenting with heartSejak buku Parenting with Heart terbit, saja sering mendapatkan pesan pribadi berisi pertanyaan, cerita, hingga curhat. Padahal, untuk buku ini saya hanya berperan sebagai co-writer. Saya mendampingi Bu Elia Daryati menuliskan berbagai pengalamannya sebagai psikolog.

Walaupun demikian, saya senang menerima dan membalas pesan-pesan itu, dengan disclaimer bahwa saya bukan ahli tumbuh kembang anak, bukan pula konsultan parenting. Saya ini ibu yang juga sedang sama-sama belajar.

Dalam sebuah talkshow di radio, Bu Elia menyampaikan satu hal penting yang rasanya perlu saya bagikan.

Sebagai manusia, kita punya target jangka panjang, menengah, dan pendek. Kita sekolah dari jenjang ke jenjang, ikut kursus ini dan itu, demi menangguk sukses di masa kini dan masa depan. Kita menyisihkan pendapatan sebagai dana pensiun, agar ada jaminan saat kita tak lagi produktif.

Sayangnya, untuk tugas pengasuhan, tak banyak orang tua yang menetapkan target jangka panjang, menengah, dan pendek. Tidak ada sekolah orang tua, tidak banyak kursus keayahbundaan yang didesain untuk mendidik para orang tua. Kebanyakan menganggap bahwa tugas pengasuhan adalah hal yang alami, natural, nggak perlu belajar juga bisa.

Saya sepakat bahwa yang pengasuhan adalah tugas alamiah, dan yang disebut alami sebagai orang tua adalah belajar. Artinya, kemestian sebagai manusia yang memiliki anak adalah belajar menjadi orang tua yang baik dan benar. Yang kita didik adalah manusia yang akan menjadi pemimpin manusia lain, dan pemimpin bagi diri mereka sendiri. Ini sama sekali bukan tugas sepele. Tantangannya sangat besar, apalagi di zaman sekarang, saat baik dan buruk  berjalan bersisian bagai tiada batas.

Tugas kita adalah menjadi teladan, memandu mereka memilih teladan yang benar, dan pada akhirnya menjadikan diri mereka teladan bagi orang lain. Tugas itu tak bisa kita jalankan dengan kaidah “jalani saja”. Never.

Tak ada pilihan lain kecuali belajar.

Menyusun PTK itu Gampang

ptkTatap muka melalui kopi darat, jumpa ide melalui buku. Salah satu cara saya bertemu dengan teman-teman guru berbagai belahan dunia adalah membaca karya mereka. Melalui foto-foto pembelajaran kreatif di media sosial, status atau kicauan yang menggugah imajinasi, hingga tulisan di blog yang sarat informasi, mereka bicara.

Ameliasari T Kesuma. Teman saya yang satu ini adalah guru ekonomi MAN (Madrasah Aliyah Negeri) Salatiga. Sebagai guru di sekolah formal, gaya mengajarnya istimewa. Aneka terobosan unik dia lakukan, demi memberikan kesempatan kepada murid-muridnya belajar dengan cara yang seharusnya.

Dengan prinsip itu pula dia menulis buku Menyusun PTK itu Gampang. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) lazim dilakukan oleh guru untuk melakukan refleksi atas pembelajaran yang berlangsung di kelas. Melalui buku ini terlihatlah jembatan yang nyaman antara materi pelajaran yang sarat hafalan dan teori dengan praktik  pembelajaran yang konteksual. Misalnya, dia memadukan materi uang dan bank dengan prinsip pengelolaan uang sehari-hari yang dilakukan murid. Aktivitas membuat anggaran berdasarkan uang saku ditutup dengan beramai-ramai menyerbu bank terdekat untuk membuka rekening tabungan. Inilah jembatan yang saya maksud, berupa aktivitas yang melibatkan aspek fisik dan emosional dalam pembelajaran.

Gagasan sebuah buku bisa sampai ke ruang kesadaran pembaca ketika penulisnya bukan hanya berbagi cerita, namun mengajak pembaca berbincang. Tampilan buku ini menarik, padat–kurang dari 100 halaman—dengan permainan tabel berwarna, seperti obrolan yang menyegarkan. Tahap-tahap penelitian dipaparkan dengan sederhana, melalui contoh nyata dan bonus CD berisi penelitian yang telah dipublikasikan.

Setelah membacanya, saya yang bukan guru ekonomi pun mendadak merasa bisa mengampu mata pelajaran ini dengan mudah. Ehm, merasa bisa, bukan bisa :-)

Amelia hendak menyampaikan bahwa kelas yang datar akan menghasilkan PTK yang lurus-lurus saja, sementara kelas yang dinamis akan membuat guru bersemangat menyusun PTK-nya. Itu benang merah yang saya peroleh, pesan tersirat yang tertangkap. Mau pilih yang lurus atau yang dinamis, dengan buku ini menyusun PTK tetap jadi gampang. Coba saja.

Pesan buku ini di sini.

Kelas Menulis Online Self Editing

Malam tadi adalah malam terakhir.

Dua bulan ini saya mengawal dua generasi kelas bertajuk Kelas Menulis Online (KMO) Self Editing. Penyelenggaranya adalah komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN), pesertanya tentu ibu-ibu. Tujuan kelas ini sederhana: belajar mengoreksi dan menyunting naskah sendiri. Pesertanya dari berbagai wilayah Indonesia, ada yang dari luar negeri. Kelas yang digunakan adalah sebuah lorong rahasia di Facebook. Pesan tersembunyi dari kelas ini adalah menjadikan media sosial sebagai sarana belajar, berjejaring dalam kebaikan, dan berbagi manfaat.

KMO Self Editing

KMO Self Editing, foto oleh Ardiba Sefrienda

Tunggu. Jangan bayangkan suasana kelas editing ini serius dan penuh kerut. Selama dua bulan, dua gerombolan ibu meramaikan malam-malam saya dengan celoteh, senda gurau, pertanyaan, bahkan perisakan yang menyenangkan. Kelas yang digelar dua jam setiap malam ini pun jadi ajang bertukar ilmu dan wawasan, sekaligus berbagi ikatan persahabatan.

Dengan sejumlah pertimbangan, saya memilih lima materi ini untuk disajikan:

1. Mengapa naskah wajib disunting?
2. Mengolah diksi sesuai target pembaca.
3. Mengenali kalimat tidak efektif dan mengoreksinya.
4. Menata paragraf agar nyaman dibaca.
5. EYD dan selingkung.

Saya melewatkan detail materi tertentu dan memberikan porsi lebih di  materi yang lain, disesuaikan dengan keperluan peserta. Bahasa Indonesia yang mungkin jadi pelajaran membosankan saat di bangku sekolah, kini menjelma sebagai pelepas penat. Menyunting tulisan teman dan tulisan sendiri itu hiburan, bahkan mengunduh dan menjajal KBBI daring pun jadi permainan yang mengasyikkan—atau membingungkan bagi yang gagal mengunduh, ehehe…. Kan wajib melibatkan emosi dalam pembelajaran.

Saya berani bersumbar bahwa KMO Self Editing adalah kelas terpadat yang pernah saya kawal. Semua diskusi dan tugas dipajang di dalam kelas agar peserta saling belajar. Dari empat jenis penugasan, saya memberikan penilaian dan masukan secara terbuka. Semoga, peserta kenyang dengan ratusan paragraf, lengkap dengan pembahasannya, bonus rumpian dan jitakan saya :-D

Ibu-ibu yang ajaib. Di antara padatnya aktivitas pekerjaan dan rumah, mereka sempat bermain dengan diksi, imbuhan, frasa, kalimat, kohesi, koherensi, merubah… eh, mengubah, hehe…

Kelas ini nyaris tak pernah sepi. Ketika saya berhalangan hadir pun, mereka menciptakan diskusi sendiri. Hingga malam terakhir tadi, pertanyaan masih saja dilontarkan. Enggan rasanya berhenti.

Sayang, tiba juga saatnya saya berterima kasih, berpamitan, meminta maaf, dan mengucapkan salam, “Jayalah di udara” hahaha….

Sekolah Perempuan

Sekolah Perempuan

Saat ini saya bersama teman-teman mengelola sebuah sekolah bernama Sekolah Perempuan.

Program yang kini berjalan adalah pelatihan menulis selama tiga bulan dengan target menyelesaikan satu naskah siap kirim ke penerbit.  Setiap angkatan memfasilitasi sekitar 30 peserta didik, dan angkatan ketiga mulai belajar tanggal 8 Februari 2014.

Sesuai dengan namanya, pengajar dan peserta Sekolah Perempuan adalah kaum perempuan. Kelas diselenggarakan secara offline dan online.

Pesertanya tersebar dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk para ibu yang bermukim di luar negeri.

Kelas Offline Sekolah Perempuan

Kelas Offline Sekolah Perempuan

Kelas offline diadakan setiap Sabtu pukul 08.00-11.00 WIB di Sekolah Perempuan, Jl. PLN Dalam No. 1/203D (Jalan Mohammad Toha) Bandung, Jawa Barat.

Kelas Online Sekolah Perempuan via Facebook

Kelas Online Sekolah Perempuan via Facebook

Kelas online diadakan setiap Sabtu pukul 14.00-17.00 WIB melalui grup Facebook, Skype, dan webinar.  Penyampaian materi, diskusi, dan penugasan, semua dilakukan secara online.

Kelas Online Sekolah Perempuan (webinar). Foto: Rin Priyani

Kelas Online Sekolah Perempuan (webinar).                  Foto: Rin Priyani

Perlahan-lahan, secara bertahap, para ibu ini belajar menggunakan sarana belajar virtual yang bisa diakses melalui gawai (gadget) masing-masing.

Sungguh, belajar bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, dan di usia berapa saja :-)

Kelas Online Sekolah Perempuan (Skype), Foto: Rin Priyani

Kelas Online Sekolah Perempuan (Skype),                      Foto: Rin Priyani

Selain menerima materi tentang kepenulisan, setiap peserta juga memperoleh kesempatan untuk menjalani coaching menulis dengan mentor yang berpengalaman. Mereka memperoleh bimbingan secara pribadi selama tiga bulan untuk menyelesaikan sebuah naskah buku.

Bahagia sekali melihat alumni Sekolah Perempuan yang kian menunjukkan produktivitas dalam menulis dan aktif berkarya.

Materi yang diberikan:
1. Ide: Menangkap dan mengelolanya
2. Membuat outline naskah
3. Menulis novel bagi pemula
4. Riset dalam penulisan
5. Kalimat dan paragraf
6. Writer blocks dan manajemen waktu

Sekolah Perempuan Angkatan II

Sekolah Perempuan Angkatan II

7. Membidik pasar buku
8. Editing dan Revisi
9. Membuat proposal naskah ke penerbit
10. Promosi buku sebelum dan sesudah terbit
11. Branding bagi penulis

12. Proses penerbitan buku

Para pengajar:

Indari Mastuti (Founder, Bandung, Jabar)

Anna Farida (Kepala Sekolah, Bandung, Jabar)

Ida Fauziah (Mentor, Johor, Malaysia)

Nurul Asmayani  (Mentor, Kalimantan Selatan)

Julie Nava (Mentor, Michigan, Amerika Serikat)

Humas:

Kartikowati DH (Atie)
HP 085 216 216 034

PIN BB 25F542E6