Hari ini Hari Guru

Yang juga membedakan manusia dengan binatang adalah kemampuannya merepotkan orang lain.

Lihat saja apa yang dia lakukan begitu kehadirannya diketahui oleh ibunya.

Ada yang gembira sepenuh jiwa, “Alhamdulillah, positif!”

Ada yang cemas penuh sesal, “Oh, no! Kok positif?”

Pertapaannya di dalam rahim hingga proses kelahirannya melibatkan banyak orang: ayah ibunya, tenaga medis, kakek nenek, kerabat, tetangga, teman orang tuanya …

 

Tak mungkin dia bangkit sendiri mencari kain bedongnya.

Tangis pertamanya ditaburi ucapan selamat dibalur doa-doa. Pertumbuhannya dituntun oleh banyak orang. Dia dijaga benteng bantal guling saat belajar tengkurap, dialas tilam empuk ketika belajar duduk. Air susu tak henti disodorkan, langsung ke mulutnya. Makanan halus disajikan dan disuapkan, tinggal ditelannya.

Saat langkahnya mulai terayun satu  dua, genggaman hangat membimbingnya. Tak seperti bayi kambing yang harus tersungkur dan bangkit sendiri, lengan-lengan terbuka lebar untuk menyongsong pijakan goyahnya. Ada senyum yang membuatnya merasa aman menapak, ada pelukan hangat yang menyambutnya.

Saat dia tumbuh sebagai anak-anak, sebagai remaja, sebagai orang dewasa, tak henti orang tuanya menggumamkan doa. Tak henti orang-orang di sekelilingnya membantunya hidup–ada yang mengajarinya kebaikan, ada yang menjerumuskannya dalam keburukan. Tak salah bila ada ucapan, “Baik buruknya seseorang turut ditentukan oleh bantuan kehidupan yang diterimanya”.

Di rumah, kepadanya disampaikan nilai-nilai kemuliaan: hormat kepada yang lebih tua, sayang kepada yang lebih muda, adil dengan sesama manusia. Di sekolah, kepadanya diajarkan ilmu dan wawasan, oleh guru oleh kawan. Di lingkungan tetangga dia belajar, di lingkungan kerja, dia belajar. Semua dia lakukan di antara manusia lain, yang bisa disentuhnya maupun yang dikenalnya melalui jejaring maya.

Hingga tiba saat kematiannya, manusia lain pun masih melibatkan diri. Ada yang melakukannya karena tulus cinta padanya, atau karena hormat pada orang tua dan anak-anaknya, atau sekadar prihatin karena tiada manusia lain yang mau mengurusnya.

Tak mungkin dia mencari sendiri kain kafannya. Mustahil dia berjalan sendiri ke kuburnya. Penghormatan yang terakhir sebagai manusia, pun dia terima dari orang-orang di sekitarnya.

Sekian gelintir, sekian puluh, sekian ratus … sekian banyak manusia lain ikut membentuk nilai kehidupan yang diyakininya. Dia belajar dari banyak guru dalam rentang usianya. Proses dan hasil belajar itulah yang akan dibawanya sebagai secuil kecil bekal untuk menghadap Tuhannya.

Manusia, dari awal kehadirannya hingga kepulangannya, adalah murid dari manusia lain.

Hari ini, 25 November 2014, adalah Hari Guru.

Untuk semua guru, dari sejak kelahiranku hingga kematianku, terima kasih atas semua bekal tentang laku hidup, kebaikan, dan ilmu. Salam takzim, ampuni kelalaikanku atas ajaranmu.

[Resensi] Pilar-pilar Pembangunan Karakter Remaja

Anna Farida:

Terima kasih resensinya, Mbak Marfungah Nafazayan :-)

Originally posted on Catatan Bunda:

BUKU PILAR-PILAR PEMBANGUNAN KARAKTER REMAJA

  • Judul Buku                   : Pilar-pilar Pembangunan Karakter Remaja
  • Nama Pengarang          : Anna Farida
  • Nama Penerbit             : NUANSA CENDIKIA
  • Tahun Terbit                : Januari 2014
  • Cetakan                      : Pertama
  • Jumlah Halaman            : 152 hlm,;15,5 x 23,5 cm
  • ISBN                            : 978-602-8395-14-4
  • Harga                          : Rp.50.000,-

ISI BUKU

Pada bab awal buku ini menjelaskan mengenai remaja menurut berbagai sumber. Baik dilihat dari sudut pandang siapa mereka, bagaimana ciri-ciri fisik  maupun  perubahan psikologis yang terjadi, baik remaja laki-laki maupun perempuan .

Selanjutnya , buku ini membahas mengenai 21…

View original 287 more words

MEMERKOSA BAHASA

10552439_10202522322675073_786562598078022292_nSemiloka Bahasa dan Lembaga Adat yang diadakan Badan Bahasa Kemendikbud ini asyik. Para pemateri yang diundang memaparkan bahasa dan adat dari sisi yang tidak mainstream. Adrianus Meliala (gelarnya banyak sekali!), guru besar kriminologi Universitas Indonesia, berbicara tentang fungsi bahasa untuk dalam merusak perdamaian dan kebhinekaan. Ini dia hasil catatan saya.

Tentang bahasa, ada tiga sudut pandang kriminologis:

1. Bahasa dan tutur kebencian (terjemahan ngarang dari hate speech—semoga pas di lidah pas di hati haha)

2. Bahasa dan kriminologi budaya

3. Bahasa dan sensitivitas sosial

Ada sebuah kejahatan yang disebut hate crime. Ketika Anda benci kepada saya karena saya perempuan Jawa, bergigi besar, dan berkerudung, Anda telah melakukan kejahatan. Saya tidak memilih ras dan gender saya. Saya meyakini Islam sebagai pilihan yang paling pribadi. Jika aspek primordial dan lahiriah itu membuat Anda tidak suka dan bersikap tidak baik, Anda telah jadi penjahat. Halah!

Kebencian itu berpengaruh pada pilihan bahasa penutur, menghasilkan tuturan dengan nuansa serupa. Inilah sudut pandang yang pertama, bahasa dan tutur kebencian.

Misalnya:

  • Maklum, lah. Perempuan memang tidak bisa diandalkan.

  • Orang Papua itu biar direndam sebulan tetap hitam.

  • Mas, berdiri, dong, biar kelihatan!–diucapkan ketika ada orang pendek berbicara.

Jika dibiarkan dan dibudayakan, tutur kebencian itu bisa berujung pada pelecehan, kekerasan, hingga pemusnahan kelompok tertentu. Ya! Itu bisa terjadi. Bahasa yang digunakan untuk menyebarkan kebencian bisa merusak otak penutur dan petuturnya, sekaligus merusak masyarakat dari skala yang terkecil hingga terluas. Anda ingat aneka slogan lebay beraroma SARA yang bermunculan di masa kampanye beberapa bulan terakhir? Menurut Prof. Meliala, itu kejahatan. Bahasa diperkosa untuk memojokkan dan menindas orang lain.

Sudut pandang yang kedua adalah bahasa dan krimonologi budaya, yaitu perilaku menyimpang yang berlaku dalam keseharian. Penyimpangan ini diterima sebagai kewajaran karena melibatkan simbol-simbol resmi atau umum.

Misalnya:

  • Tentara menggantungkan tanda pangkat di spion mobil agar bebas berkendara, atau pakai seragam dinas saat mengurus pajak.

  • Bunyi sirine saat rombongan pejabat lewat—Minggir kalian. Gue mau lewat.

  • Grafitti di tembok kota: Sahur on the Road dengan lambang gank tertentu—Mari sahur sambil balapan motor.

  • Kalimat dalam iklan atau kampanye yang merujuk pada jajaran pulau di Indonesia atau bendera merah putih dengan tujuan memanipulasi emosi kebangsaan.

 

Foto: Alffian W P Walukow, Sulawesi Utara.

Foto: Alffian W P Walukow, Sulawesi Utara.

Lambang-lambang tersebut lazim dipakai berbagai kalangan dan dianggap wajar. Tak jarang, anak-anak dan remaja kita menggunakannya atau menjadikannya lelucon. Please hindari penggunaan simbol atau bahasa yang bertujuan merusak kerukunan dan budaya kebaikan.

Sudut pandang yang ketiga adalah bahasa dan kepekaan sosial, yaitu berubahnya komunikasi secara sadar atau tidak, biasanya karena pilihan medium—bisa berupa kata-kata atau bahasa tubuh yang menyinggung orang lain.

Suatu saat saya dan Anda sedang berbincang seru. Kita tertawa riang dan saling berkomentar. Tiba-tiba antusiasme Anda merosot dan lebih banyak diam. Saya harus peka, mungkin ada kalimat saya yang menyinggung perasaan Anda. Bahasa adalah penghasil sensitivitas yang ampuh, dan kedewasaan penuturlah yang berperan di sini.

Misalnya:

  • Kata mualaf atau Cina diucapkan di kalangan yang sensitif dengan dua kata itu

  • Iklan Ayo ramai-ramai beli properti! dipasang di wilayah rawan pangan

  • Promosi rok mini di komunitas ibu menyusui yang punya problem berat badan. Coba saja kalau berani!

  • Menyebut-nyebut kata “ingin merdeka” di wilayah konflik di Papua.

Jadi, bahasa sebagai salah satu temuan spektakuler dalam sejarah manusia sekaligus karunia Tuhan ini punya dua sisi. Anda mau pilih yang mana?

Di akhir paparan dan contoh-contoh “nakal” yang sebagian besar off the record, Prof. Meliala berpesan, “Berhentilah membuat bahasa menderita. Jangan perkosa dia untuk jadi sarana penyebar kebencian.”

 

Penafian: Tulisan ini adalah hasil catatan saya dari materi Prof. Adrianus Meliala dalam Semiloka Bahasa dan Lembaga Adat, Badan Bahasa Kemdikbud, tanggal 17-20 Agustus 2014 di TMII. Jika ada kesalahan pemahaman maupun contoh, tuduhlah saya, hehe.

 

(Mas) Sugeng Riyadi

 

 

Selo, Boyolali, Jawa Tengah

Selo, Boyolali, Jawa Tengah

Suami saya orang Bugis. Pernikahan delapan belas tahun tidak membuatnya terampil berbahasa Jawa. Sama parahnya, kosakata Bugis saya juga tak lebih dari dua belas lema.

Ini Lebaran tahun ketiga di rumah Mbah Kung, kakek saya. Untuk pertama kali, suami saya ikut acara bakar ikan bersama para pemuda di desa. Biasanya dia menghabiskan waktu untuk tidur setelah jadi sopir antar kota antar provinsi. Sambil membawa sepiring peuyeum, dia berangkat bersama paklik saya, dan pulang tiga jam kemudian dengan baju berbau asap.

“Seru, bumbu ikan bakarnya enak, tapi ngantuk banget,” katanya.

Keesokan harinya, setelah salat Idulfitri dan saling bersalaman, sambil heran suami saya bertanya, “Semalam Bapak kenalan dengan banyak orang yang namanya Sugeng Riyadi. Bapak pikir itu nama laki-laki. Ternyata perempuan juga banyak yang namanya Sugeng Riyadi, ya?”

Saya bengong sejenak, berpikir beberapa detik, lalu terbahak tak tertahankan. Di antara tatapan kesalnya, saya jelaskan bahwa sugeng riyadi itu artinya selamat hari raya. Bukan nama orang! Pasti frasa itu sering dia dengar tahun sebelumnya, tapi sepintas saja. Suasana Lebaran di rumah Mbah Kung kan selalu ramai, dan biasanya kunjungan kami hanya beberapa jam. Baru kali ini suami saya berinteraksi dengan penduduk asli dalam waktu yang lebih lama.

Begitu kami pulang, kasus sugeng riyadi memburaikan tawa seisi rumah, termasuk kotek ayam yang berkeliaran. Anak-anak merdeka meledek bapaknya, sementara suami saya bersungut-sungut tanpa daya.

Pantes. Beberapa orang menunjukkan reaksi aneh semalam,” keluhnya.

Kenapa, emang?” tanya saya.

Kalau ada yang ngajak salaman sambil bilang ‘sugeng riyadi‘ pasti Bapak jawab ‘Saya Anwar’. Kan Bapak pikir dia ngajak kenalan hahaha!” akhirnya dia ikut tertawa.

Hari itu dan hari berikutnya, setiap tamu terhibur oleh “Mas Sugeng Riyadi” yang jadi wajib diceritakan berulang-ulang. Pasalnya, anak-anak bergiliran mengintai orang yang menyalami bapaknya. Tawa mereka membahana begitu frasa fenomenal itu terdengar. Mau tak mau sang tamu bertanya, “Kenapa tertawa?” dan … mengalirlah kisah itu kembali :-D

Dari berbagai sumber saya temukan keterangan bahwa frasa sugeng riyadi berasal dari bahasa Jawa sugeng riyadin. Sugeng artinya selamat, riyadin adalah singkatan dari riyaya din. Riyaya artinya hari raya atau hari besar, din berasal dari bahasa Arab yang berarti agama. Jadi riyadin adalah hari raya agama (Islam). Belakangan kata riyadin jadi dilafalkan riyadi

Ngaturaken sugeng riyadi, sedoyo kalepatan nyuwun pangapunten.

Salam Idulfitri, semoga kita berjumpa dengan Ramadan lagi.

TTS dan CARI KATA SEPUTAR ISLAM

TTS Cari Kata Seputar Islam - Anna Farida

TTS Cari Kata Seputar Islam – Anna Farida

Bikin buku TTS? Enteng, pikir saya. Eits! Ternyata, menyusun 2.400 pertanyaan dan 1.200 kata bermakna tentang Islam itu bikin saya nyaris frustrasi.

Isi kamus seperti sudah tumpah setengahnya, tapi soal yang saya buat belum sampai seperempatnya. Masalah yang saya temui berkaitan dengan transliterasi Arab-Indonesia, hingga istilah yang tidak mudah diterjemahkan. Lebih dari itu, saya harus bisa mengajukan pertanyaan yang padat tapi jelas, sehingga pembaca memahaminya dengan baik. Komposisi pertanyaan mudah, sedang, dan sulit juga saya perhitungkan.

Saya pernah mau mundur, lho.

Sambil malu-malu saya angkat tangan kepada editor, “Mbak Dewi, kita bikin buku lain, saja, yuuuk…”

Editor bertahan. Dia semangati saya untuk terus berjuang.

Saya sulut kembali energi yang sempat mengempis. Saya merancang buku ini demi menyajikan cara seru untuk menemani teman-teman mempelajari (kembali) Islam dengan cara yang asyik. Jadi, saya harus mengerjakannya dengan energi yang melimpah.

Saya yakin TTS ini akan jadi teman berbincang yang lumayan cerdas. Biasanya, ketika mengisi TTS, saya jadi meramban ke sana kemari cari referensi. Banyak serendipity yang saya temukan dan membuat saya membaca tanpa henti.

Ini kampanye saya di sampul belakang. TTS dan Cari Kata itu mengajak Anda

  • Menambah kosa kata
  • Menyehatkan otak
  • Melatih konsentrasi
  • Memperluas pengetahuan
  • Mengasah kesabaran
  • Merasakan nikmatnya sukses
  • Memperoleh hiburan

Wawasan baru tentang Islam bisa Anda temukan, pengetahuan yang telah Anda miliki jadi bangkit kembali.

Jadi, saya berharap, buku TTS dan dan Cari Kata ini akan jadi awal yang baik. Setelah mengisi kotak demi kotak, menemukan kata demi kata, semoga pembaca jadi ingin tahu lebih banyak tentang istilah yang baru saja ditemukan.

Seperti biasa, ketika buku masuk percetakan, saya meriang.

Banyak pihak yang mengawal buku ini. Editor, desainer, hingga Ali–putra saya–dengan setia membantu saya melakukan cek akhir. Eh saat buku siap cetak, desainernya masih saya recoki dengan revisi susulan. Maaf, dan tentu saja terima kasih setulusnya.

Semoga buku ini bermanfaat, menemani Ramadan teman-teman semua.

Turun panggung, melanjutkan meriang :-D

MENYUNTING EMPATI

editing workshop

Foto dok. panitia

Pagi itu saya buru-buru.

Ada workshop penerjemahan dan jurnalistik di Jakarta, dan saya bertugas memberikan materi penyuntingan naskah alias editing.

Bus melaju tanpa hambatan, jadi seharusnya saya tiba tepat waktu.

Tiba-tiba sopir menepikan kendaraan, dan berdiri di hadapan saya dengan sikap sopan. Ternyata dia menyapa penumpang yang duduk di belakang saya.

Terdengarlah dialog ini:

Ibu, maaf. Jadinya Ibu mau turun di mana?”

Aduh, Ibu juga belum tahu. Dari tadi nelepon belum diangkat…”

Ibu kan mau ke daerah ****?” (Saya lupa nama tempatnya)

Iya.”

Begini, Bu. Bus ini tidak akan lewat ****.”

Trus gimana?”

Lebih enak Ibu turun di Ceger. Nanti dari sana Ibu naik taksi.”

Ya sudah, gimana bagusnya saja…”

Suara ibu itu menggantung. Keraguan dan kecemasannya membuat sang sopir berpaling ke arah saya dan bertanya, “Mbak, turun di Pasar Rebo trus ke Pondok Gede, kan?”

Iya, Pak,” sahut saya.

Ibu ini mau turun di Ceger. Tapi saya hanya bisa berhenti di perlintasan jalan tol. Ibu ini harus jalan kira-kira seratus meter trus nyebrang. Mbak mau nemenin?”

Dia menjelaskan bahwa turun di Ceger sama saja, dan akan ada banyak taksi di sana. Lagi-lagi saya mengangguk tak yakin. Saya tidak tahu Ceger, tidak tahu juga Pasar Rebo.

Ah, sama-sama tidak tahu, kan. Jadi saya setuju saja.

Maka turunlah kami di sisi jalan tol diiringi ucapan terima kasih sang sopir.

Ternyata ibu yang duduk di belakang saya itu sudah berusia lanjut. Kami berjalan bergandengan tangan, dan berpisah tanpa sempat berkenalan.

Kejadian singkat itu terputar ulang ketika saya duduk di dalam taksi.

Saya pernah menemukan sopir yang mengemudi ala pilot pesawat tempur di film-film. Ada pula yang merokok seenaknya di bus ber-AC, atau menelepon sambil menginjak rem semaunya.

Hari itu saya belajar dari seorang sopir yang berbeda.

Dia bisa saja menurunkan semua penumpang yang tidak punya tujuan jelas di pool terakhir. Dia juga bisa berteriak dari kursinya dan bertanya ke ibu itu, atau meminta kondekturnya untuk melakukannya. Dia juga bisa saja kasih instruksi agar ibu itu turun sendiri, tanpa repot-repot minta tolong kepada saya. Pilihannya untuk menepikan bus hanya untuk bertanya, dan tutur katanya yang santun itu sungguh mengesankan. Masih ada orang baik, masih ada harapan untuk dunia yang lebih baik.

Karakter seperti inilah yang mesti sampai kepada anak-anak kita, generasi muda kita, masyarakat kita. Sebenarnya, kita selalu punya pilihan untuk peduli.

Saya sampai di lokasi tiga puluh menit lebih lambat—untung ada acara lain yang bisa ditukar jadwalnya. Workshop berlangsung dua sesi, bermain kalimat dan paragraf dari pagi hingga sore, seru sekali.

Coursera: jaga sisi pembelajar

courseraSyarat wajib guru adalah kemauan belajar.

Syarat wajib penulis adalah membaca.

Kredo tersebut turut menjaga kualitas profesi yang hingga kini saya tekuni. Saat saya mengajar di Sekolah Perempuan, menulis buku, dan menjadi trainer di berbagai pelatihan editing, belajar dan membaca itu nyawa. Tanpa keduanya, saya bisa kehabisan bensin untuk terus berkarya.

Namun demikian, bagi saya yang sok sibuk ini, sekadar belajar di antara padatnya aktivitas bukan hal mudah. Saya perlu kondisi yang bisa menjaga displin dan konsistensi agar proses belajar terukur dengan jelas. Saya juga perlu tenggat agar kegiatan belajar menjadi hal yang memacu semangat. Maklum, penulis kan pekerjaannya mengejar tenggat. Sudah jadi irama hidup, hehe…

Karenanya, ketika seorang teman memperkenalkan Coursera, saya langsung berpikir, this is it! Kursus online ditawarkan berbagai perguruan tinggi ternama dunia, dengan pilihan materi yang sangat beragam. Gratis. Saya heboh melihat banyak mata kuliah pendidikan yang selama ini saya idamkan. Materi disajikan melalui video presentasi pengajar, lengkap dengan salindia, sehingga saya tak perlu keluar rumah. Cocok benar untuk ibu yang masih punya anak-anak kecil seperti saya.

coursera partnersDurasi kursus bervariasi, mulai empat sampai belasan minggu. Kurikulumnya jelas, bahan bacaan tak terbatas, target penguasaan materi per minggu urut, dan sistem penugasannya bervariasi dengan tenggat yang pasti. Evaluasi diberikan dalam bentuk kuis mingguan, penulisan esai, presentasi, dan pengerjaan proyek tertentu sesuai kursus yang diambil. Bukan main. Yang paling menantang, saya harus berkompetisi dengan diri sendiri!

Seperti anak sekolah yang dapat seragam baru, saya menjalani kursus pertama dengan semangat full. Materinya adalah Internet Hystory. Ah, mudah, saya pikir. Membaca silabusnya saya yakin bisa membabat kursus ini dengan mudah. Ternyata nol besar. Saya kelabakan menghadapi tenggat yang selalu bikin kaget—lho, kok tiba-tiba sudah akhir pekan. Wah, kok materi ini belum sempat saya simak, buku itu belum sempat saya baca. Yah, saya sudah tidak bisa setor tugas. Aduh, saya jelas gagal. Materi yang saya anggap enteng ternyata tak bisa saya tuntaskan. Beberapa kursus berikutnya juga berakhir sama, rontok di tengah jalan—bahkan ada yang tak saya jalani sama sekali. Malu, ih, semangat enroll doang.

Kecewa?

Ya. Saya kalah melawan diri sendiri, tak sukses mengelola waktu sendiri. Saya guru, tapi bukan contoh yang laik.

Patah arang?

Never. Saya tantang diri saya lagi dan lagi. Ada teman yang punya bayi dan berhasil lulus, masa saya tidak bisa. Panas, dong!

Saya mulai atur strategi. Saya pilih kursus yang durasinya relatif singkat dan silabusnya tidak terlalu padat. Kali ini saya tidak boleh rakus, ambil satu kursus saja: Foundations of Teaching for
Learning 2: Being a Teacher.

Dengan pengalaman dan kegagalan yang sudah beberapa kali, saya atur waktu. Setiap hari Selasa, kegiatan saya adalah menyelesaikan materi dan tugas Coursera. Sebelum tugas selesai, aktivitas lain wajib menunggu. Konsisten, disiplin, telaten.

Minggu demi minggu berlalu cepat, kuis berlalu, tugas bisa saya setorkan tepat waktu—kadang mepet tenggat juga, beberapa jam sebelum icon gembok terpajang. Akhirnya dengan lega saya berhasil melewati tugas terakhir. Kualitasnya bahkan jauh dari standar saya sendiri, tapi setidaknya ini langkah bagus untuk manajemen waktu saya.

Coursera teach-2Eh, kejutan! Saya lulus dengan predikat distinction.

Senang tak terkira, lebay tiada banding. Saya kabarkan berita ini melalui Facebook, dan banjir ucapan selamat membuat saya nyengir. Lha saya cuma lulus satu kursus, itu pun dengan jungkir balik, kok teman-teman saya ribut minta ampun. Hoho… itulah gunanya teman, mereka ada untuk berbagi semangat, saling mengompori, dan saling ledek di saat yang pas.

Bagi saya, mengikuti kursus di Coursera—yang lulus maupun yang gagal—adalah petualangan intelektual, emosional, bahkan spiritual. Nuansa keilmuan terpuaskan ketika menyimak materi, prokrastinasi dikendalikan, dan rasa syukur hadir atas kesempatan belajar yang masih saya peroleh. Bagi manusia, belajar adalah kemestian.

Nah… nah…

Setelah berhasil, seharusnya saya sudah lebih berpengalaman, dong.

Ya, sih, tapi pengalaman saja tidak cukup. Saya kembali mengendurkan disiplin jadwal setiap Selasa karena desakan pekerjaan yang tak bisa menunggu. Ah, alasan! Fesbukan setiap waktu masih sempat, kan? Satu kursus bahkan gagal ketika satu tugas terakhir tak sempat saya kirimkan karena lupa. Mangkel sekali rasanya.

Sekarang saya sedang menanti kursus berikutnya. Lulus sekali, gagal berkali-kali, enroll tanpa henti.

Atas semua pengalaman itu, saya merasa hidup ini lebih berisi. Belajar membuat saya tetap terbuka sekaligus rendah hati. Kabarnya, saya bisa membuat tulisan yang bagus, memberikan training editing dengan cara yang menarik, tapi terbukti masih sering gagal mengalahkan diri sendiri. Bergabung di Coursera membuat sisi pembelajar saya tetap terjaga.

Saya suka.