Haruskah EYD Jadi EBI?

media eyd ebi

EYD jadi EBI

Kita pernah merumpikan topik ini, kan? HU Pikiran Rakyat memuatnya di rubrik “Wisata Bahasa”, 26 Juni 2016.

Haruskah EYD Jadi EBI?

Oleh: Anna Farida

 

Seminggu ini beberapa pertanyaan bernada sama masuk ke kotak pesan saya.

Mbak Anna, beneran, EYD jadi EBI? Kok seperti nama udang kering?

 

Sebenarnya saya juga baru dua tiga minggu ini mendengar kabar terbitnya Salinan Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Nah, kan, singkatannya memang EBI. Sampai sekarang saya masih canggung setelah sekian lama menggunakan istilah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

 

Saat membandingkan kedua pedoman itu dari sisi sistematika maupun isi secara sepintas, tak saya temukan perbedaan yang mendasar. Ada tambahan pedoman penggunaan huruf tebal dalam kata berhuruf miring, ada perbedaan urutan penggunaan kata serapan, selebihnya belum saya baca secara terperinci.

 

Dalam perjalanannya, EYD tiga kali diperbarui. Kita mengenal versi 1975, 1987, dan 2009. Versi 2015 ini adalah pedoman bahasa Indonesia yang mutakhir, dan frasa “yang disempurnakan” tidak lagi digunakan dalam permendikbud di atas. Jadi boleh, dong, dijuluki EBI. Nama baru, semangat baru.

 

Tanpa lebih jauh mengulas apa yang membuat EYD berbeda dari EBI, atau mempertanyakan apakah namanya tetap EYD atau menjadi EBI, bagi saya perubahan itu kemestian. Bahasa adalah sarana manusia berkomunikasi, berasal dari kesepakatan para penggunanya, yang kemudian dibakukan.

 

Manusia selalu berubah, jadi wajar jika bahasa pun bergerak dinamis. Kita beruntung jadi manusia yang lahir belakangan, jadi tak perlu ikut repot mengumpulkan kata demi kata, menetapkan maknanya, dan merumuskan cara penulisannya. Saya lahir saat bahasa Indonesia sudah punya kamus,  siap guna, tinggal pakai. Kamus Besar Bahasa Indonesia sudah dicetak dengan kertas, tak terserak di bebatuan atau daun lontar. Lebih dari itu, kini kita menikmati kamus elektronik yang sangat praktis, bisa digenggam ke mana-mana dalam telepon pintar.

 

Beberapa kali aturan berbahasa Indonesia memang mengalami perubahan karena berbagai pertimbangan. Kita seharusnya menyambutnya dengan gembira. Perubahan, walau sedikit saja, adalah tanda bahwa kita adalah manusia yang terus tumbuh menyempurna. Dari berbagai sisi, bahasa di seluruh dunia akan terus berubah—bisa berkembang, meluas, bisa juga hilang digantikan bahasa lain. Coba perhatikan, berapa persen anak-anak kita yang aktif menggunakan bahasa ibu dalam komunikasi sehari-hari?

Kita juga mengenal bahasa yang dihidupkan dari kematian—bahasa yang pernah lama dilupakan sejarah—dan kini  jadi bahasa yang ikut berkuasa di dunia. Anda tahu, kan, bahasa apa itu?

 

Jadi, terbitnya EBI adalah peluang bagi para pengguna bahasa Indonesia untuk belajar ulang dan melakukan penyesuaian—toh perubahannya tidak banyak. Munculnya aturan baru akan membuat kita diingatkan untuk tetap menjadi bagian yang aktif dalam perkembangan bahasa Indonesia. Tak ada yang lebih berhak dan wajib menjaga sekaligus mengembangkan bahasa ini selain kita—saya dan Anda.

 

Kini saatnya kita bisa nyeletuk kepada anak-anak di rumah atau di sekolah, “EYD jadi EBI, lho.”

Lantas anak-anak akan bertanya, “Apa, sih, EYD? Apa pula itu EBI?”

Itulah kesempatan emas untuk menjelaskan bahwa kita punya bahasa Indonesia, kita punya pedomannya. Anak-anak mesti tahu bahwa mereka mewarisi bahasa yang sudah berkembang dan melintasi berbagai peristiwa penting, bahkan saat mereka masih melayang-layang di alam ruh.

 

Saya gembira, walau sebenarnya hati saya agak mencelus juga. Dalam permendikbud yang baru terbit itu disebutkan bahwa Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

 

Sudah lama EYD menemani saya menulis bersama banyak teman, hingga menghasilkan buku eletronik “Bercanda dengan EYD”. Anda bisa mengunduhnya secara gratis via internet.

 

Inilah perjalanan bahasa kita, proses besar yang wajib dirayakan. Kita bersyukur bahasa Indonesia didudukkan pada tempatnya yang semestinya, lengkap dengan pedoman yang dilindungi hukum. Terima kasih, EYD, selamat datang Ejaan Bahasa Indonesia, selamat datang EBI.

————————-

Anna Farida, penulis, kepala Sekolah Perempuan, narasumber “Dunia Pendidikan” RRI Pro-4 Bandung.

Menemani Remaja Belajar Bertanggung Jawab

 

media pr 25 Juni 2016

Opini di HU Pikiran Rakyat, 25 Juni 2016

Ini artikel asli yang saya kirim ke Harian Umum Pikiran Rakyat. Versi koran lebih padat, tak banyak melantur seperti ini😀

 

Seorang ibu mengeluh tentang putrinya yang sudah dua belas tahun tapi belum tertib membereskan kamarnya sendiri. Semula sang ibu membiarkan kamar sang putri berantakan, tapi lama-lama tidak tahan dan turun tangan sambil mengomel. Kamar pun beres untuk kemudian dibuat berantakan lagi, demikian setiap hari.

Saat menyadari bahwa anak beranjak remaja dan  kecakapan hidupnya belum sesuai harapan—misalnya dalam hal tingkah laku atau prestasi belajar—yang paling sering dilakukan orang tua adalah menyalahkan diri sendiri. Berikutnya akan ada kecenderungan untuk menyalahkan orang lain seperti pasangan, guru, atau teman-teman sang anak.

 

Masalah kian ruwet ketika yang disalahkan tidak terima dan balik menyalahkan. Ayah menyalahkan Ibu dan sebaliknya, orang tua menyalahkan guru, guru menyalahkan orang tua, anak menyalahkan orang tua dan sebaliknya.

Ini jalan buntu.

Semua pihak terjebak dalam pertikaian yang menguras energi tanpa solusi. Anak menyaksikan perilaku orang-orang dewasa yang kontraproduktif dan menjadikan perilaku itu sebagai pijakan bertindak.

 

Menyalahkan diri sendiri dan orang lain mungkin memberi ruang untuk memperoleh pembenaran, mengapa perilaku anak meleset dari harapan.

Kita tahu, sebagian remaja kita tumbuh dalam lingkungan yang kondusif dan sebagian lagi harus berjuang keras menjalani tumbuh kembang yang layak. Faktanya, tumbuh dalam kondisi apa pun, tuntutan masa depan yang mereka hadapi tetap sama.

 

Lantas apa yang bisa dilakukan oleh orang tua atau orang dewasa lain dalam proses pembelajaran remaja menjadi pribadi yang bertanggung jawab?

 

Setop berperan jadi korban

Juara dalih terpopuler yang biasa diajukan remaja ketika tanggung jawabnya meleset adalah menyalahkan orang lain atau hal lain. Ketika datang terlambat, misalnya, dia berdalih “Adik saya rewel. Saya harus menghiburnya dulu. Angkotnyangetem (nunggu penumpang lain) hampir sejam. Tadi saya lewat pasar tumpah, jalan jadi macet.”

Artinya, dia mencoba berkata bahwa “Saya ini korban kerewelan adik saya, korban angkot yang lambat, korban pasar yang padat. Jadi saya seharusnya diampuni. Aturan-aturan itu tidak berlaku bagi saya karena saya ini korban. Karena saya korban, saya tidak perlu bertanggung jawab.”

 

Ketika remaja menempatkan diri sebagai korban, kepada mereka harus disampaikan, “Menyalahkan adik atau angkot dan pasar tidak menyelesaikan masalah. Ayo kita cari cara untuk datang tepat waktu.”

Hal yang sama bisa diterapkan ketika kita menjumpai kamarnya berantakan dan dia menyalahkan tugas sekolah yang banyak, misalnya.

“Menyalahkan tugas sekolah bukan solusi. Kesepakatan kita adalah kamar harus rapi sebelum sarapan, dan kita sama-sama tahu konsekuensinya jika kamar berantakan.”

 

Artinya, kesepakatan dan konsekuensi harus diketahui bersama sebelum ada kejadian. Pastikan remaja paham bahwa konsekuensi adalah hasil dari pilihan yang salah, bukan hukuman.

 

Pada saat yang sama, orang tua pun wajib konsisten saat berhadapan dengan situasi yang memestikan teladan yang baik.  Mari kita selisik peristiwa berikut ini:

 

Alif terlambat bangun dan kesal. Dia uring-uringan karena Senin adalah hari upacara. Murid yang terlambat akan dapat jatah membersihkan selokan sekolah. Sang ibu juga kesal karena semalam Alif melanggar jam tidur yang sudah disepakati. Tapi bagaimana lagi, ibunya merasa bersalah sekaligus tidak tega, bahkan ikut malu jika Alif membersihkan selokan.

Akhirnya sang ibu menelepon sekolah, “Alif sedang tidak enak badan, Pak. Mohon izin datang terlambat ke sekolah.”

 

Sekarang siapa yang punya problem dengan tanggung jawab? Mengapa Ibu memilih berpihak pada perilaku negatif Alif? Dia salah mengambil keputusan begadang, terlambat bangun, terancam kena sanksi, dan ibunya membereskan urusannya.

 

Ketika anak bersikap kurang baik, misalnya bersikap kasar, tidak mengerjakan PR, tidak sopan, atau melakukan pelanggaran lain di rumah atau di sekolah, sebagian orang tua mencari jalan pintas: jadi pembela.

Mereka mengemukakan dalih atas sikap kurang baik tadi, misalnya “Saya dan ibunya berpisah, jadi dia kurang fokus. Di rumah sedang ada masalah, jadi emosinya cepat terpancing. Mungkin dia kurang sehat, jadi cuek saja saat diajak bicara.”

 

Pada saat itulah orang tua mengiyakan bahwa anak adalah korban, jadi tak perlu bertanggung jawab. Anak akan melihat bahwa ternyata cara ini mujarab untuk menghindari konsekuensi dan menjadikannya kebiasaan.

Kita tak bisa menutup kemungkinan bahwa remaja kita sedang menghadapi situasi pelik yang membuatnya tidak leluasa menempatkan dirinya. Itu lain cerita. Yang sedang kita bahas justru dalih yang biasa digunakan orang tua untuk menutupi ketidakmampuan anak untuk bertanggung jawab.  Jadi memang ada unsur manipulasi di sana, dan anak mengaminkannya.

 

Dengan daya pikir yang mulai berkembang, remaja tahu bagaimana perasaan ayah atau ibu terhadap mereka. Somehowremaja ini mengendus aroma rasa bersalah dari kedua orang tua jika mereka melakukan kesalahan.

 

Dalam bahasa Jawa ada istilah anak polah bapa pradhah, jika anak melakukan kesalahan, orang tua ikut menanggung akibatnya. Tentu benar, perbuatan anak masuk dalam cakupan tanggung jawab orang tua. Pada saat yang sama, melatih tanggung jawab anak juga tanggung jawab orang tua, bahkan jauh lebih besar bobotnya. Tak selamanya orang tua ada di sisi anak untuk jadi “pahlawan penyelamat”.

 

Kita berharap anak-anak tumbuh dan berkembang kuat sesuai dengan potensinya, bukan dilemahkan karena orang tua selalu jadi tameng yang melingkupi mereka.

Bahkan untuk anak-anak yang difabel sekalipun, latihan bertanggung jawab mesti diberikan sedini mungkin dengan porsi sesuai kondisi mereka masing-masing.

 

Jika mereka mengalami kesulitan menumbuhkan tanggung jawab, tugas orang tua adalah membantunya berlatih. Salah satunya adalah mengurangi porsi peran “pahlawan semu” tadi.

Awali dengan duduk bersama remaja kita, ajak dia bicara. Sampaikan bahwa usianya kini mulai remaja, dan belajar bertanggung jawab adalah salah satu cara menapaki keberhasilan dalam hidup (Covey, 2009).

 

Tepat pada saat yang sama, orang tua pun mesti yakin bahwa anak mampu melakukannya. Melepaskan porsi patron atau pahlawan juga perlu perjuangan. Jadi, terkait berlatih tanggung jawab, anak dan orang tua berjuang bersama-sama.

 

Ketika remaja bersikap tidak santun di sekolah atau kurang sopan ke tetangga, misalnya, jangan buru-buru menelepon untuk minta maaf. Ajak dia belajar bertanggung jawab dengan minta maaf sendiri. Temani dia jika perlu. Jika dia menolak, biarkan anak menerima konsekuensinya—misalnya dapat surat peringatan dan sekolah atau dijauhi teman sekitar rumah.”

 

Jadi bukan hanya anak yang harus siap, orang tua pun harus siap. Besar kemungkinan dia akan marah kepada Anda dan menyangka Anda tidak sayang lagi. Mungkin dia mengomel, mungkin juga bungkam sebagai tanda protes.

Ketika dia melakukan kesalahan dan menempatkan diri sebagai korban, ajukan pertanyaan yang tepat seperti ini:

“Tanggung jawab siapa, nih, buang sampah setiap sore?”

“Kemarin repot banget, Bu. Pak Guru kasih banyak tugas.”

Yang kita bahas bukan siapa yang salah, tapi tanggung jawab siapa ini.”

 

Jika kita membantah tugas yang banyak atau menyalahkan keteledorannya, yang akan dia lakukan pada kesempatan lain adalah mencari alasan yang lebih paten.

Jadi, berikan tanggapan yang sederhana: Tanggung jawab adalah tanggung jawab. Kali ini dia lalai dan mesti diperbaiki lain waktu.

Lakukan tanpa pertengkaran panjang, tanpa omelan, fokus pada tanggung jawabnya. Bersiaplah juga untuk bersabar, perubahan tak akan terjadi dalam semalam.

 

Sepakati target bersama

Awali dengan membahas pentingnya bagi remaja belajar menjadi manusia dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab. Ada target belajar yang wajib dicapai. Buat target yang masuk akal, sesuai kemampuan mereka, tingkatkan porsinya seiring waktu. Dengan menyepakati target bersama, misalnya berangkat les tanpa terlambat, remaja kita akan berusaha mencapainya.

 

Target juga bisa diwujudkan dalam daftar tugas.

Awalnya, remaja tidak akan suka. Bagi mereka, daftar tugas adalah bencana nomor tujuh di dunia.

Isi daftar tugas bisa bervariasi seperti mengurus rumah, latihan musik, latihan olah raga, baca kitab suci, baca buku, atau tugas apa pun sesuai keperluan dan ciri khas keluarga.

 

Bukan tidak mungkin akan terjadi “perang” pada masa-masa awal, atau anak hanya bersemangat di hari pertama, lupa di hari kedua, kemudian buyar di hari ketiga. Ketika ini terjadi, tugas untuk orang tua hanya satu: berhenti satpam yang rewel.

Kita boleh mengingatkan dia sesekali, menemaninya sesekali. Terapkan konsekuensi tanpa banyak menyalahkannya.

 

Yang tak kalah pentingnya, izinkan remaja memilih daftar tugas sendiri. Ini wujud tanggung jawabnya, dan efeknya jauh lebih bagus daripada untaian tugas yang dibuatkan oleh orang tua.

Pada hakikatnya, hidup anak adalah hidupnya, pilihan adalah pilihannya, orang tua adalah teman seperjalanannya. Tugas kita adalah mendampinginya mewujudkan pilihan itu, bukan memilihkannya jalan hidup dan menuntutnya bertanggung jawab atasnya.

 

Temani mereka, beri apresiasi atas pencapaian dan niat baik sekecil apa pun. Gagal di hari pertama? Mulai lagi besok, lusa, minggu depan. Start and restart, karena belajar itu sepanjang hayat.

 

————————-

Anna Farida adalah kepala Sekolah Perempuan, penulis buku “Parenting with Heart”.

KOMUNIKASI YANG MELEKATKAN KELUARGA

 

Artikel Ibu di Galamedia-croppedSuatu sore, saya terperanjat.

Salah satu anak saya yang beranjak remaja mengucapkan kalimat yang menurut saya tidak layak. Bahasa tubuh dan ekspresi wajahnya juga membuat saya kaget karena dia biasanya sangat santun.

Ini dari mana asalnya?

 

Sebelum membahas kejutan pahit sore itu, saya ingin menyingkap pandangan tentang keluarga sebagai madrasah atau sekolah pertama bagi anak. Ada yang berpendapat bahwa sebagaimana anak burung yang belajar terbang dari induknya, anak pun pasti bisa belajar apa pun dari keluarganya.

 

Sayangnya, saat ini sebagian keluarga terserang gamang. Ada orang tua yang ragu apakah dia benar-benar punya peran dalam pendidikan anak-anak zaman sekarang, atau paling tidak bertanya-tanya, bagaimana caranya.

 

Apalagi jika kondisi ini dikaitkan dengan bergegasnya zaman bergerak. Tak sedikit orang tua yang merasa gaptek atau kudet—dua singkatan gaul yang mewakili makna ketertinggalan dalam era digital.

Akibatnya, terjadilah kesenjangan komunikasi antar generasi dan terlihatnya gejala yang lazim disebut panic parenting.

 

Namanya juga panik. Tindakan dan keputusan dilakukan secara mendadak, tidak terkendali, penuh suasana cemas, dan seringkali menimbulkan perilaku yang kurang terpuji.  Atas nama cinta, tanpa niat menyakiti, orang tua bisa melakukan kekerasan kepada anak, demikian pula sebaliknya.

 

Saya pun pernah mengalaminya.

Saat mendapati anak saya mengucapkan kalimat tak layak tadi, rentetan pertanyaan siap melompat.

Anehnya, mungkin saking terkejutnya, lidah saya terkunci. Ada untungnya juga, sih. Saya tak perlu melontarkan kalimat balasan yang akan saya sesali kemudian. Saya memandanginya dengan tajam, masih tak percaya, sementara dia melihat ke arah lain.

 

Kami sama-sama terkejut, sama-sama tidak menyangka cara berkomunikasi seperti itu bisa muncul. Di antara suasana kaku saat itu, saya ingat Marshall Rosenberg (2012: 125) yang mendefinisikan perilaku kami sebagai violent communication atau komunikasi yang bermuatan kekerasan.

 

Bisa jadi pemicunya adalah saya.

Mungkin sebelumnya saya membuatnya sangat kesal, dan akhirnya dia lepas kendali. Bisa jadi dia sedang jengkel dengan hal lain atau orang lain, kemudian saya yang kena getahnya.

Mungkin Anda pernah mengalami hal yang sama, bertengkar dengan anak atau pasangan kemudian menyesal berhari-hari.

 

Tak perlu resah, kita bisa sama-sama belajar menerapkan (kembali) komunikasi yang melekatkan keluarga. Saya yakin bahwa komunikasi yang jelas, terbuka, dan penuh cinta adalah pijakan yang kuat bagi keluarga yang sehat.

 

Keluarga yang terbiasa berkomunikasi secara sehat akan memiliki kelentingan, daya tahan, sekaligus kemampuan mengatasi masalah. Orang tua dengan gaya komunikasi yang sehat akan lebih optimal dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Pada gilirannya, anak-anak akan tumbuh dengan karakter positif: percaya diri sekaligus santun, terbuka sekaligus tahu batas.

 

Nah, bagaimana caranya membangun komunikasi yang sehat?

Ternyata, kemampuan berkomunikasi dengan baik itu bukan genetis tapi hasil latihan. Komunikasi yang sehat itu bukan sesuatu yang terberi, tapi harus diupayakan. Kita bisa merujuk ke berbagai buku komunikasi keluarga dan menerapkannya di rumah. Saya rangkumkan beberapa langkah—mudah menuliskannya, perlu perjuangan dan komitmen untuk melakukannya.

 

Pertama, luangkan waktu. Hadiah termahal yang bisa kita berikan kepada keluarga, terutama anak-anak, adalah waktu. Kekurangan waktu buat keluarga adalah problem yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kekurangan uang.

Padatnya jadwal kegiatan yang berbeda-beda membuat anggota keluarga sulit menemukan waktu untuk bisa mengobrol santai.

Ini tidak bisa dibiarkan. Waktu luang mesti diciptakan dengan cara yang kreatif, disesuaikan dengan kebiasaan keluarga. Ada keluarga yang bisa berbincang  leluasa saat subuh, ada yang memilih malam hari menjelang tidur. Ada yang menjadwalkan pertemuan keluarga, misalnya setiap malam Sabtu semua anggota wajib kumpul di rumah. Acaranya? Makan bersama dan saling bertukar cerita. Walau sejenak, luangkan. Jadikan kegiatan penting, bukan sambil lalu.

 

Kedua, hidupkan rumah dengan tawa. Ungkapan bahwa tawa adalah obat terbaik itu tidak berlebihan. Tertawa mengaktifkan fungsi alamiah tubuh untuk lebih rileks sehingga mengurangi stress. Keluarga dengan tradisi humor lebih mudah membangun komunikasi yang sehat antar anggotanya daripada keluarga yang cenderung serius. Humor membuka sumbatan kekakuan antar generasi dan mencairkan kecanggungan setelah pertengkaran, misalnya.

Tentu, bercanda tetap harus dilakukan dalam lingkup kesantunan yang semestinya. Kata dan tindakan kasar atau melecehkan tetap tak dibenarkan. Jangan sampai bercanda justru menjadi wahana saling bully dan akhirnya tidak menyenangkan lagi. Ada keluarga yang lekat karena terbiasa saling ledek. Ini sah saja, asal semua ikut bergembira. Aturannya sederhana, segera kurangi intensitas gurauan begitu ada salah satu yang tidak tertawa.

 

Ketiga, biasakan berbicara secara spesifik. Komunikasi yang sehat bisa dipahami dengan mudah oleh anggota keluarga yang lain. Kebiasaan ini penting terutama ketika ada anggota keluarga yang mengalami masalah. Kalimat-kalimat sindiran, termasuk kalimat yang tidak bermakna jelas, hanya akan menimbulkan masalah baru.

Misalnya, kakak dan adik bertengkar. Kakak menggerutu, “Adik menyebalkan.”

Itu kalimat umum. Ajak dia untuk membuatnya spesifik. Kan tidak dalam semua hal Adik menyebalkan. Tanya dia, Adik menyebalkan ketika melakukan apa.

“Kakak nggak suka, ya, kalau Adik bikin berantakan mainan?” misalnya.

Ajakan semacam ini lambat laun akan membangun karakter obyektif pada anak. Fokus dia adalah perbuatan yang tidak dia sukai, bukan semata-mata kepada pelakunya.

 

Keempat, jadilah pendengar yang aktif. Dalam prinsip komunikasi empatik yang diajarkan Stephen Covey, salah satu karakter komunikasi yang sehat adalah berusaha mengerti dulu, baru dimengerti. Nah, salah satu cara untuk mengerti orang lain ketika berkomunikasi adalah mendengarkan aktif.

Apa maksudnya?

Misalnya anak sedang bercerita tentang temannya yang punya handphone baru. Respon orang tua bisa macam-macam:

  • Mendengarkannya sambil lalu sambil berkomentar, “Ah, pemborosan! Anak kecil kok gonta-ganti hape!
  • Menyindirnya, “Anak yang baik biasanya bisa membedakan keinginan dan kebutuhan.”
  • Menuduhnya, “Pingin juga? Punya uang berapa, emang?”
  • Mendengarkannya secara aktif, “Seri apa katanya? Bagus, ya. Ayah juga pingin ganti hape belum kesampaian saja.

Salah satu aspek penting dalam komunikasi yang sehat adalah melibatkan diri dengan lawan bicara. Berikan respon positif, misalnya menganggukkan kepala, mengajukan pertanyaan, atau pernyataan singkat seperti “Oh, ya? Wah! Serius?” kepadanya.

 

Dengan melibatkan diri, sebagai orang tua, kita bisa memahami sudut pandang anak sekaligus menghormatinya. Jika kita membiasakan diri mendengarkan anak, teladan itu akan mereka ikuti. Pada gilirannya, ketika orang tua menyampaikan sesuatu, anak akan mendengarkannya secara aktif pula. Perbuatan baik dicontohkan, kebiasaan terpuji diteladankan.

 

Kelima, perhatikan bahasa nonverbal. Suatu saat Anda menemukan anak cemberut dan melangkahkan kakinya tanpa semangat, sudut matanya sembap memerah.

Ketika ditanya, dia menjawab, “Enggak apa-apa, kok. Cuma capek”.

Mana yang lebih Anda percayai, bahasa lisannya atau bahasa tubuhnya?

Menangkap bahasa tubuh ini perlu perhatian penuh. Ekspresi lawan bicara seperti memalingkan pandangan atau memainkan jari tanda gugup tak akan terlihat jika Anda tidak memperhatikan dia.

Karena itu, ketika anak berbicara, letakkan gawai. Berhentilah sejenak dari kesibukan Anda, hadapkan badan kepadanya. dengan cara ini Anda akan lebih memahaminya dan lebih peka jika ada hal lain yang dia sembunyikan.

Di saat yang sama, anak jadi yakin bahwa orang tuanya memandang hal yang dia sampaikan adalah penting, bahwa dia pun penting. Ini modal yang sangat berharga untuk membangun komunikasi yang lekat dan terbuka.

 

Lima cara di atas bisa dibangun perlahan-lahan, bisa dimulai dari mana saja, tanpa saling tuding siapa yang harus memulainya lebih dulu. Semua anggota keluarga punya peran yang sama, karena keluarga milik bersama.

Komunikasi adalah hal yang paling sering dianggap natural, namun ternyata tak bisa terbangun secara asal. Perlu latihan dan kemauan yang konsisten, sebagaimana burung belajar terbang yang tak henti mengepakkan sayap. Berulang-ulang, mencoba lagi saat gagal, start and restart.

 

Salam takzim,

Anna Farida

————————-

Dimuat di Harian Galamedia, Selasa, 25 Mei 2016. Ini versi aslinya. Pada versi koran ada beberapa suntingan.

 

EYD BERUBAH JADI EBI?

Bercanda Dengan EYDEYD berubah jadi EBI! Aduh, jadi ingat udang kering!

Mbak, Anna, beneran, jadi EBI? Masa sih tidak ada singkatan yang lebih keren, gitu?

Ehehe ….

Sebenarnya saya mau diam-diam saja dulu, karena memang belum punya waktu untuk membaca Salinan Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia secara detail.

Tapi daripada saya ditanya-tanya lagi, lebih baik saya buat tulisan ini.

 

Jadi begini, terus terang saya juga baru tahu beberapa minggu terakhir bahwa ada peraturan baru yang mengatur ejaan bahasa Indonesia kita tercinta, namanya sudah saya sebut di atas. Memang masih canggung, setelah lama menggunakan istilah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), kini saya harus membiasakan diri dengan singkatan baru, EBI.

 

Tadi pagi bersama Ubit (11), saya berusaha membandingkan keduanya dari sisi sistematika maupun isi. Walau sepintas—itulah sebabnya saya sebenarnya belum mau bicara, nunggu para pakar saja. Saya kan hanya juru siar, tapi tergoda untuk berkomentar #sotoyasalways—saya tidak menemukan perbedaan yang mendasar.

 

Ada tambahan pedoman penggunaan huruf tebal dalam kata berhuruf miring, ada perbedaan urutan penggunaan kata serapan, lantas apa lagi, tadi, ya? Lupa.

 

Ala kulli hal—cieee, biar terkesan salihah menjelang Ramadan—yang ingin saya bahas bukan itu. Berapa kali pun pedoman bahasa diubah, seharusnya bukan masalah.

Bahasa itu kan sarana manusia berkomunikasi, berasal dari kesepakatan para penggunanya, kemudian dibakukan. Kita beruntung jadi manusia yang lahir belakangan, jadi tak perlu ikut ribut mengumpulkan kata demi kata, menetapkan maknanya, merumuskan penulisannya. Kita (maksudnya saya) lahir saat bahasa Indonesia sudah punya kamus. Siap guna, tinggal pakai.

 

Beberapa kali aturan berbahasa Indonesia mengalami perubahan karena berbagai pertimbangan. Ada sedikit teman yang berkata, “Ah, kok plin-plan, bikin bingung saja”. Ada juga yang menyambut perubahan demi perubahan dengan gembira.

 

Saya termasuk kawanan yang kedua.

Saya suka jika dalam bahasa ada perubahan, walau sedikit saja. Itu tanda bahwa kita adalah manusia yang terus tumbuh menyempurna. Dari berbagai sisi, bahasa di seluruh dunia akan terus berubah—bisa berkembang, bisa juga hilang, digantikan bahasa lain.

Eh, ada juga bahasa yang dihidupkan dari kematian dan kini ikut berkuasa di dunia. Anda tahu bahasa apa itu? Ehehe.

 

Jadi santai saja. Tak perlu resah jika ada aturan yang membuat kita harus belajar ulang dan melakukan penyesuaian. Justru inilah kesempatan bagi kita untuk belajar lagi dan lagi. Saya akan tetap menjadi bagian yang aktif dalam perkembangan bahasa Indonesia, semoga Anda pun demikian.

Jika mampu, buatlah aturan baru, kampanyekan, dan jadikan kesepakatan. Bukan tak mungkin kita jadi penemu yang kemudian ditiru. Namanya juga bikin aturan, tak bisa sembarangan dan banyak kaidahnya, tentu.

Senyampang menunggu kita jadi ahli bahasa, kita taat saja dulu, ya, dengan pedoman yang ada. Bagaimana?

 

Ngomong-ngomong, saya baru saja meluncurkan kumpulan rumpian #IngatEYD dengan komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis. Diskusi segar, ringan, namun bernas ada di sana. Kita bisa belajar kaidah bahasa Indonesia dan tetap awet muda.

Bisa diunduh gratis di sini.

 

Terima kasih sudah menjadi teman belajar kami, EYD. Kau selalu di hati.

Agak mencelus juga hati saya membaca tulisan bahwa Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Tapi inilah perjalanan yang wajib dirayakan. Kita bersyukur masih banyak orang yang peduli dengan bahasanya sendiri dan menjadikannya peraturan yang dilindungi hukum.

 

Demikian siaran hari ini, kita tunggu koreksi, masukan, dan konfirmasi dari para pakar.

Selamat datang Ejaan Bahasa Indonesia, selamat datang EBI.

Salam takzim,

Anna Farida

www.annafarida.com

 

BERCANDA DENGAN EYD

bercanda dengan EYDArtikel ini dimuat dalam “Wisata Bahasa” Harian Umum Pikiran Rakyat. Saya bagikan versi aslinya, ya.

 

BERCANDA DENGAN EYD

(Anna Farida)

Bagaimana jika ada kajian Ejaan Yang Disempurnakan yang diawali dengan dialog seperti ini:

#IngatEYD

Ini perlu diketahui para suami ketika merayu istri.

Istri: “Mas, baju baruku bagus, enggak?”
Suami: “Bagus, dong, Sayangku. Lehermu jadi terlihat jenjang …”
I: “Maksudmu apa? Nyindir leherku yang besar, ya?”
S: “Oh … um … maksudku … berjenjang-jenjang …”
I: “Hah! Tahu enggak kata itu apa artinyaaa? Grrrhhh!”

Istri kian murka, rayuan gagal.

Saya mengajar di sebuah komunitas menulis perempuan yang kebanyakan anggotanya adalah ibu rumah tangga. Ada yang memiliki latar belakang pendidikan bahasa, ada yang tidak. Ada yang masih ingat pelajaran tata bahasa, ada yang bilang lupa. Rata-rata, alasan mereka adalah karena tak suka pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

Pendek kata, dulu tak suka sekarang lupa.

Selain ilmu, bahasa itu kan keterampilan. Begitu jarang digunakan, dia akan segera dilupakan. Dulu, saat SMA, nilai rapor saya untuk bahasa Jerman selalu 9. Sekarang, kemampuan Deutsch saya ada di level pre-basic alias dasar saja tidak. Kosakata? Nyaris punah.

Apa sebabnya?

Lulus SMA, saya mendalami pendidikan bahasa Inggris di IKIP Bandung. Setelah itu, saya aktif menulis, mengajar menulis, dan menjadi trainer berbagai pelatihan orang tua dan guru. Artinya, saya lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Untuk berjejaring dengan komunitas guru internasional, saya pakai bahasa Inggris. Tak bisa dicegah, kurang dari sepuluh tahun, bahasa Jerman saya bisa dibilang lenyap.

Tragedi yang sama bisa terjadi pada bahasa Indonesia—termasuk bahasa ibu. Kecakapan berbahasa sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Pengaruh itu bisa positif bisa pula sebaliknya.

Tren bahasa singkatan misalnya. Kebiasaan menyingkat kata mulai muncul ketika telepon genggam menawarkan menu pesan singkat alias SMS. Jumlah karakter per pesan dibatasi, dan untuk setiap pesan dikenakan biaya tertentu.

Tak lama kemudian media sosial menyediakan fasilitas chatting. Bahasa tidak formal berkembang cepat, bahasa alay ikut menyergap. Seiring dengan mudah dan murahnya akses internet, tren ini cenderung diiyakan oleh kebanyakan pengguna media sosial.

Awalnya para ibu adem ayem saja, bahkan ikut dalam euforia komunikasi abad ke-21.

Saya juga.

Lama-lama yang mengeluh kian banyak.

Saya juga.

Menurut para ibu, anak-anak mengalami kesulitan ketika harus menuangkan gagasan dalam tulisan karena lebih akrab dengan bahasa chatting. Ini terjadi dalam semua mata pelajaran.

Beberapa rekan guru termasuk dosen curhat. Mengajar anak-anak membuat laporan atau sekadar menulis pengalaman dan pendapat jadi tugas yang mahaberat. Murid dan mahasiswa mereka rata-rata masih harus dibimbing untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang baik. Kesalahan tata bahasa yang sama terus berulang. Kosakata mereka terbatas, dan gaya tulis mereka terlihat sekali dipaksakan. Laporan dua halaman bikin mereka mengeluh, sementara arsip chat harian bisa ribuan pesan.

Para ibu tak kalah gerah.

Sebagian besar lupa banyak hal, sebagian yang lain lebih akrab dengan bahasa media sosial. Buntutnya, saya sering jadi sasaran tembak saat anak-anak mereka dapat tugas bahasa Indonesia.

Pesan-pesan begini, nih, yang bikin saya tambah sayang pada para ibu.

“Bu Anna, yang baku mana, sih? Nasihat atau nasehat? Tampak atau nampak? Maaf, ini PR anak saya.”

“Lah, kan tinggal buka kamus online, Bu.”

“Kan ada Bu Anna. Bisa sekalian tanya-tanya hal lain.”

“Haish!”

Jadilah saya kamus berjalan. Padahal, untuk banyak kata, saya pun buka kamus. Saya bahkan berkali-kali buka kamus untuk satu kata yang sama karena lupa.

Saya merasa mau dan merasa perlu, karena ingin tulisan saya bermutu. Bahasa kan mewakili karakter sekaligus kredibilitas seseorang. Saya belajar juga belum lama, kok. Bukti tertulisnya ada di blog saya. Tulisan yang saya buat dua tahun yang lalu masih berantakan, tulisan dua bulan yang lalu, bahkan dua hari yang lalu, masih saja ada yang meleset. Saya meringis sambil menyunting tulisan lama begitu ada pembaca berkomentar.

Saya juga tak bersedia disebut guru, apalagi pakar EYD—biasa, para ibu sering lebay kasih julukan macam-macam. Saya lebih suka disebut juru siar.

Sesuai namanya, hobi saya adalah menyiarkan kabar, kadang salah kadang benar.

Tak sekali saya minta maaf di depan khalayak bahwa ternyata penjelasan saya salah, atau tulisan saya tak sesuai kaidah.

Berulang-ulang saya sampaikan kepada para ibu bahwa belajar bahasa bukan perkara instan. Bahasa bukan melulu rumus yang bisa dihafal, melainkan sarana komunikasi yang mesti dijadikan kebiasaan. Kemauan untuk menggunakan bahasa yang baik secara konsisten perlu dijaga.

Dengan niat menularkan kemauan inilah, saya memilih metode humor dalam menyampaikan materi EYD. Materi ajar selama tiga tahun terakhir akan dijadikan ebook untuk dibagikan gratis. Tunggu tanggal edarnya.

Saya sajikan materi dalam bentuk cerita atau dialog imajiner yang lucu, kadang agak berlebihan. Setahu saya, berdasarkan pengalaman, humor membuat orang merasa santai dan membuka diri.

Nah, kesediaan membuka diri adalah kondisi ideal untuk belajar. Materi lebih mudah diserap, pemahaman menancap kuat. Suasana cair membuat belajar jadi produktif sekaligus menyenangkan.

Mau contoh?

Dialog semacam ini bisa menuai komentar panjang yang hidup:

#‎IngatEYD

“Lihat, Bu! Bis diangkut oleh bas pakai bus!”
“Biarin. Asal bukan bapakmu yang diangkut.” –kalem mode on– 

Bis: Kotak kecil milik kantor pos, untuk memasukkan surat. 
Bas: Kepala pekerja (mandor).
Bus: Kendaraan besar beroda empat.

Nah, Ibu-ibu …
Naiklah bus, bukan bis, apalagi bas!

Kadang saya tantang para ibu untuk membuat kalimat, kemudian saya bahas—tentu dengan pendekatan dan penjelasan sesantai mungkin. Dengan begitu, mereka tidak merasa dihakimi. Contoh soalnya seperti ini:

#‎IngatEYD
Ingin kuhangatkan sore yang basah. Sayang, denting mangkuk tukang bakso mengiang sejenak lantas menghilang.

Kalian kutantang.
Buat dua atau tiga kalimat. Gunakan beberapa kata yang suku kata terakhirnya mengandung “ang-ing-ung-eng-ong”. EYD akan kita benahi bersama. Ayo, tulis. Kok malah “ndomblong” 

Hasilnya luar biasa. Daya imajinasi dan daya bahasa para ibu ini meletup tanpa katup!

Yang perlu saya lakukan hanya mengoreksi sebagian kaidah EYD yang meleset dan membiarkan sebagian yang lain. Tak perlu dikoreksi semua, nanti mereka jera. Saya juga kan tidak tahu semua.

Nah, mari bercanda.

 

Salam takzim,

Anna Farida, Kepala Sekolah Perempuan, juru siar EYD, penulis, tinggal di Bandung, www.annafarida.com

Eksis Tanpa H3B

dilarang_masuk Tunggu!

Jangan klik “like” dulu, jangan “share” dulu.

Baca sejenak tulisan ini, setidaknya dua menit.

Kemarin saya dan Indari Mastuti berkunjung Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat, bertemu Pak Januar Yepi Ruswita dan Pak Budhiana Kartawijaya. Tujuannya tentu membahas kegiatan yang bisa digarap bersama Pikiran Rakyat.

Nah, terkait kegiatan menulis, salah satu keprihatinan Pak Budhiana adalah masih rendahnya information literacy di kalangan pengguna media sosial ditandai dengan beredar luasnya H3B (Hoax, Horor, Hasut, dan Bully).

Apa itu hoax?

Itu, tuh, berita yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Termasuk yang dari grup sebelah, kali, ya? Masih ingat?
Informasi tersebut bisa berupa foto, artikel, video, atau pernyataan tokoh tertentu. Yang bikin gemas adalah berita hoax yang dilengkapi foto palsu.

Pak Yanuar menunjukkan foto selfie perempuan berkerudung di lokasi pemboman yang baru lalu. Diduga foto itu hasil olahan dan aslinya memperlihatkan perempuan yang selfie saat salat Idulfitri. Mana yang asli mana yang palsu hanya ahli foto yang paham. Yang bukan jangan ikutan sotoy, deh!

Hikmahnya, jangan keseringan selfie #halah

Yang bikin supergemas, berita-berita seperti itu kadang di-share oleh teman-teman kita.

Ketika berita atau foto dari sumber lain kita perlihatkan, yang bersangkutan otomatis bilang “Maaf, kan saya tidak tahu”.

Lha ya itu! Jika tidak tahu kenapa nge-share?

Menyebarkan berita hoax itu bikin level kekerenan Anda merosot sekian tingkat, lho.

Berikutnya adalah horor.

Seorang teman di grup WA langsung mengundurkan diri ketika ada anggota yang memajang foto jemari bolong-bolong—saya lupa, entah karena serangan kutu atau kebanyakan pegang hape. Eh, kalau ngasih informasi lantas bilang saya lupa apa sumbernya termasuk hoax bukan, ya? Asli ini serius tanya.

Dia ketakutan dan perlu waktu lama untuk membujuknya kembali bergabung. Permintaan maaf memang disampaikan, tapi kerusakan kan sudah terjadi.

Kabarnya juga, banyak foto korban terorisme Sarinah beredar di media sosial. Hanya kabarnya karena teman FB saya baik-baik sehingga saya tidak pernah lihat.

Sudah. Jika saya perinci lagi uraiannya, tulisannya saya ini juga bakal beraroma horor, deh.

Jadi prinsipnya kita tahu bahwa menyebarkan berita atau gambar yang menimbulkan rasa takut itu tidak sip sama sekali. Buat apa, sih? Membuktikan bahwa kita penuh belas kasih dengan menuliskan kalimat “Aduh, kasihan, ya!” Atau bahwa kita ini saleh dengan menayangkan foto korban sambil memaktubkan doa-doa?

Kasih ya kasih, doa ya doa. Tapi horor ya tetap horor.

H yang ketiga adalah hasut.

Semoga kita terhindar dari memberitakan dan membagikan berita yang memecah belah persaudaraan. Saya pernah menemukan orang menggosipkan keburukan mantan pasangan atau mantan rekan kerja secara terbuka di media sosial.

Ketika ada yang tanya apa tujuannya, jawabannya bikin nyengir “Ini kan FB saya. kalau tidak suka ya nggak usah baca. Gampang, kan?” #melongo3detik

Kata Pak Budhiana, jika bermuatan hasutan, kalimat yang terlihat sepele, video kocak, atau meme yang bikin ngakak sekalipun bisa mendatangkan maut. Karena informasi hoax, orang bisa dituduh sesat karena berbeda cara salat. Karena berita horor, manusia bisa saling tuding.

Padahal, saling tuding antar manusia belum ada cabang olahraganya. Yang ada baru saling pukul, saling tendang, saling banting😀

Yang terakhir adalah bully.

Tidak semua pengguna media sosial itu paham etika pergaulan digital. Jadi, ketika ada yang melakukan kesalahan, termasuk menyebarkan 3-H di atas, please kasih tahu baik-baik. Jangan sampai kita jadi perisak atau tukang bully karena merasa paling beretika dan paling akademis.

Ketika ada yang menyampaikan pandangan berbeda di media sosial, pahami dulu, takar dulu. Apakah Anda punya pengetahuan tentang yang dia bahas? Jika tidak, suwer, lebih baik diam.

Jika kita punya pengetahuan, perlukah pendapatnya itu dibantah atau dikomentari? Apakah bermanfaat jika kita ikut nimbrung berdebat dan memaki? Apakah berpengaruh jika kita turut memaparkan klarifikasi dan bukti?

Di layar hape kita adaaa saja akun yang hobinya menyebar kebencian. Ditenggelamkan dalam lautan rujukan seilmiah apa pun jempolnya tetap menggapai-gapai buat nge-klik share berita salah.

Sudah.

Sekarang silakan klik like dan share–pe de saja ada yang mau share😀 , biar eksis tanpa H3B #anotherhalah.

Salam takzim,

Anna Farida

—————–

WARTA:

Februari 2016 akan ada workshop ngeblog dan information literacy bersama HU Pikiran Rakyat. Kita akan belajar perbedaan jurnalisme dan jurnalisme warga, berlatih mencari rujukan yang benar sesuai kaidah pemberitaan yang layak, hingga aspek hukum yang wajib diketahui para blogger.

 

GRUP TETANGGA SEBELAH?

calvin_and_hobbes

wikispaces.com

Saya 98% yakin, Anda pernah baca informasi seperti ini:

$%#@$^^&*^%$#

$%#@$^^&*^%$#

… dan seterusnya dan selanjutnya …

(dari grup sebelah) atau (dari grup tetangga)

 

Sebelah mana? Tetangga siapa?

Sabtu lalu saya merumpi bersama pengurus Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) dan membahas sejumlah program untuk mengompori ibu-ibu agar kian rajin menulis. Selain dikompori, anggota akan diajak kembali belajar prinsip-prinsip sederhana saat mengutip sebuah sumber informasi termasuk menyebarkannya. Biar enggak malu-maluin nyebar berita hoax!

Pakai daster yes, nyebar berita bohong no!

Di Sekolah Perempuan, saya pernah ngomel bawel wel wel, memperingatkan alumni agar tidak sampai bikin Julie Nava cari nyiru buat tutup muka. Soalnya dialah mentor yang mengajarkan materi riset dalam menulis, termasuk melacak rujukan dengan cara yang benar.

Lha, sekarang lain lagi.

Saya ikut dan diikutkan dalam beberapa grup Whatsapp dan Facebook. Bukan sepuluh dua puluh kali saya dapatkan informasi yang sumbernya dari grup sebelah atau grup tetangga. Celakanya, saya juga pernah latah membagikan informasi dengan menyebut tetangga sebelah itu. Sekarang sudah tobat.

Mengapa tren ini muncul, ya? Mengapa tidak sebut saja sumbernya, dari Grup Menyanyi Riang, misalnya. Malas? Mau cepat? Atau sudah dianggap biasa?

Coba cek, deh. Jika Anda punya waktu luang, lakukan eksperimen ini. Saya minta Anda karena saya emoh melakukannya.

Misalnya Anda dapat info tetangga dari A tentang cara cepat langsing dengan jus durian #halah. Minta A bertanya kepada grup tetangga itu, apa sumber atau rujukannya.

Anggap saja yang menyebarkan info di grup tetangga itu adalah B. Berdasarkan kesotoyan saya, besar kemungkinan B akan menjawab “dari grup sebelah”.

Jika B bertanya kepada C di grup sebelah itu, C akan menjawab dari grup tetangga sebelah.

Berikutnya, kata D dari tetangganya tetangga atau mertuanya tetangga. Demikian seterusnya hingga Z, mungkin kembali A mungkin juga pindah ke A-2.

Jus durian pun sukses menjadi travelling theory.

 

Kan saya tidak menyebarkan kebencian? Kan hanya menyebarkan quote atau gambar yang memotivasi?

Walau tujuannya baik, caranya tetap harus benar.

Sederhana saja, Buk. Suwer tidak ribet.

Sebarkan kebaikannya, sebutkan sumbernya. Itu hanya setitik upaya untuk peduli, kok.

Sebut saja namanya, “info dari Mas Edward dari Grup Penggemar Tahu”.

Dengan cara ini, Mas Edward akan dapat apresiasi, sekaligus waspada. Karena sadar namanya akan disebut sebagai sumber berita, dia akan lebih hati-hati dengan isi berita yang disebarkannya. Ini harapan imajinatif saya yang dangkal—kasihan banget, sudah imajinasi, dangkal pula haha.

Kemungkinan lainnya, orang yang jadi sumber beritanya memang bertujuan merusak dan menyebarkan kerusakan. Tentu dia tak ingin namanya disebut dan memilih sembunyi di rumah tetangga sebelah tadi.  Masa jempol Anda ikut-ikutan mendukung kejahatannya?

Tapi saya yakin itu bukan Mas Edward – ini ngomongin apa, sih?

Jadi gitu, ya, Buk.

Mulai saat ini kita biasakan menyebut nama siapa pun yang menyebarkan berita apa pun. Atau setop saja, deh, menyebarkan berita yang rujukannya tetangga sebelah itu.

Sambil promosi, saya punya grup kuliah via Whatsapp tentang parenting dan pernikahan (nggaya, pakai nama kuliah—biarin), dan adminnya galak bener. Dia melarang anggota menge-post berita salin-rekat alias copas dari grup lain.

Jika Anda mau berbagi informasi, ceritakan saja apa isinya, jangan di-copas mentah-mentah. Setidaknya ada usaha sedikit untuk mencerna sebuah berita dan menuliskannya sesuai pemahaman sendiri.

Hal sederhana ini juga setitik upaya untuk menjaga generasi berikutnya, lho.

Ngeri banget membayangkan anak-anak kita jadi generasi copas dan generasi tetangga sebelah.

Catatan: Banyak yang tanya, tulisan ini boleh di-copas tidak?
Ya boleh, lah. Siarkan seluasnya, sebutkan sumbernya. Jika ada yang keberatan kan tinggal jitak saya😀

Saya siarkan tulisan ini dan kabur segera, takut juga kena jitak penyuka tetangga sebelah ahahah.

 

Salam takzim,

Anna Farida