Bahasa Ibu, Penanda Diri

Anna Farida:

Seharusnya tulisan ini bertengger di “Teaching Adventure” :-)

Originally posted on Anna Farida:

kuis bahasa ibuSaya orang Jawa. Saat bertutur melalui lisan maupun tulisan, yang biasa saya gunakan adalah bahasa yang dipahami kebanyakan orang—dalam hal ini bahasa Indonesia. Bahasa Jawa saya gunakan ketika berkumpul dengan kalangan yang berbahasa ibu sama.

Namun demikian, kadang ada rasa rindu menggunakan bahasa ibu, termasuk di depan publik. Saya penasaran, apakah teman-teman Facebook saya merasakan hal yang sama.

Karena itu, Agustus 2014 yang lalu, saya iseng mengadakan kuis berbagi bahasa ibu, dengan tema “ketika anak sakit”.

Reaksi teman-teman saya beraneka. Ada yang merasa kagok karena lama tidak menulis dengan bahasa ibu, ada yang senang karena nemu tempat merindu, ada pula yang excited karena kuis ini dianggap unik bahkan ajaib. Padahal, yang dikuiskan adalah sesuatu yang sangat dekat dengan diri kita.

Di akhir kuis, saat membaca tulisan demi tulisan sambil tersenyum, saya bahagia. Berderet kosakata yang sama sekali belum pernah saya baca. Inilah kekayaan Indonesia, warisan masa silam yang wajib kita…

View original 2,422 more words

Menggagas Karakter Remaja

Teh Elsa. Saat dia masih SD, aku sudah punya anak :-D

Teh Elsa. Saat dia masih SD, aku sudah punya anak :-D

“Anak saya sudah 15 tahun, tapi saya malu tanya apakah dia sudah mimpi basah atau belum. Gimana caranya?”

SMS itu masuk saat saya mengudara di acara “Resensi Buku” di Radio MQ FM 102,7, Daarut Tauhiid, Bandung, 25 Januari 2014.

Dipandu penyiar sigap yang belum lama meninggalkan masa remajanya, kami berbincang seru tentang buku “Pilar-pilar Pembangunan Karakter Remaja” yang diterbitkan oleh Nuansa Cendekia.

Buku ini didesain sebagai panduan praktis bagi guru SMP-SMA untuk menerapkan 18 + 3 karakter dalam pembelajaran. Benar, ini buku buat guru. Namun demikian, kita harus ingat bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara sekolah-orang tua-masyarakat. Jadi, panduan buat guru tentu bisa jadi panduan ortu.

Saya awali segmen pertama dengan pandangan masyarakat umum tentang remaja dan bagaimana remaja memandang dirinya sendiri.

Amati berita yang berselirak di media elektronik dan cetak. Bandingkan, mana yang lebih marak, mana yang lebih menarik untuk dibaca, kabar remaja berprestasi atau berita remaja bunuh diri.

Tanpa mengabaikan angka spektakuler yang mewakili sisi negatif remaja, kita wajib tetap berusaha membangun sisi yang lainnya, tetap mengupayakan berkembangnya karakter remaja yang mulia, kan?

Bagaimana caranya?

Pertanyaan di atas bisa jadi salah satu titik masuk yang menarik.

Foto dok. MQ FM Bandung

Foto dok. MQ FM Bandung

Rasanya, semua remaja suka membahas seksualitas—walau sambil buang muka, mereka pasti pasang telinga. Coba saja.

Kita bisa masuk dari sisi sains dan membahas berkembangnya organ reproduksi, bisa juga menilik aspek agama, tentang mandi wajib, misalnya.

Gurauan seperti ini pun bisa dipraktikkan:

Ibu: “Kak, akan tiba saatnya Kakak mimpi basah. Sperma keluar dari dalam tubuh, tanda Kakak sudah siap punya anak. Ibu harus rela dipanggil nenek. Mau dikasih nama siapa nanti?”

Anak: “Ibu, aaah! Masa masih SMP punya anak?”

Ibu: “Jadi, apa yang akan Kakak lakukan sekarang?”

Pilar-pilar Pembangunan Karakter Remaja

Pilar-pilar Pembangunan Karakter Remaja

SMS di atas mewakili sekian banyak orang tua dan guru yang gugup dan gagap ketika mendapatkan pertanyaan sejenis. Ada seorang guru yang mengirim surel kepada saya dan bertanya, bagaimana cara menemani anak yang selalu jadi korban perisakan (bullying) tanpa terkesan pilih kasih, tanpa menjadikan anak itu semakin jadi bulan-bulanan.

Bagaimana dengan ayah tunggal yang harus siap dengan menstruasi pertama putrinya? Bagaimana seharusnya sikap guru PLH melihat rekan sekerjanya buang sampah sembarangan di depan siswa? Bagaimana cara siswa menolak ajakan temannya untuk menjajal rokok tanpa dicap “anak mami”? Kegiatan apa yang bisa dijadikan tren di media sosial, sehingga remaja bersemangat berpartisipasi dan menyebarkannya?

Sejam berlalu cepat, pertanyaan dari pendengar mengalir padat, dan saya harus segera pulang, melintasi hujan menuju kandang :-)

Terima kasih, MQ FM, semoga selalu menjadi inspirasi umat.

Resensi Buku: Pentingnya Penguasaan Dasar Parenting bagi Orangtua

parenting with heartMENJADI orangtua bukanlah pekerjaan yang langsung bisa, alamiah, sederhana, atau mudah. Butuh semacam buku panduan untuk memahami fungsi dasar parenting (keayahbundaan) sebagai pembekalan agar orangtua bisa memosisikan diri dalam keluarga terhadap tumbuh kembang anak sesuai tuntutan zaman. Bagaimanapun, menjadi orangtua dan anak adalah posisi kesejajaran, sudah saatnya orangtua membuka perspektif baru tentang cakrawala kehidupan anak dan pola pengasuhan berdasarkan asah (pemberian bekal kognitif dari sekolah dan aneka pelajaran), asih (pemenuhan kebutuhan pokoknya), dan asuh (bonding/ikatan emosional dan spiritual).

Elia Daryati dan Anna Farida dengan tajam dan mengena berbagi banyak hal mengenai ilmu parenting  berdasarkan pengalaman mereka sehari-hari dalam buku Parenting with Heart, Menumbuhkan Anak dengan Hati. Elia Daryati R. adalah psikolog, pembicara di berbagai seminar bidang psikologi terapan bertema psikologi perkembangan dan pendidikan. Pengalamannya menangani berbagai kasus keayahbundaan membuatnya dipercaya mengasuh rubrik konsultasi psikologi di Harian Pikiran Rakyat. Sedang Anna Farida seorang ibu, penulis, pernah menjadi guru sekolah dasar dan menengah, pun punya pengalaman beraneka.

Ada banyak segi menarik yang dikupas dalam buku ini. Isi dibagi dalam beberapa bagian yang runtut menjelaskan. Dalam Konsep Diri, kita akan disadarkan bahwa mendidik anak tidak seperti membuat kue bolu, kita sedang mendidik kakinya. Pembahasan berbagai kasus dalam pola pengasuhan anak yang menimbulkan masalah berikut solusi yang harus direnungkan. Sebab, anak-anak berupaya menemukan konsep dirinya mengenai siapakah aku, dan tugas orangtua membantu anak menemukan hal tersebut dengan cara tepat.

Kita bisa becermin dari buku ini tentang beragam kasus yang tepat dan tidak tepat berdasarkan pengalaman Elia dan Anna. Penanganan perbedaan karakter anak, penerapan standar yang salah, orangtua paruh waktu yang kehadirannya tak menyamankan anak, orangtua tunggal, ketika anak tidak percaya diri, pemahaman ritualitas agama yang salah karena tak berdampingan dengan spiritualitas, anak tidak bisa di-joki-kan, fungsi ayah dan ibu kala pemisahan peran, penerapan disiplin, pola pengasuhan, menuntun anak agar yakin berdiri sendiri, arti bicara dan mendengarkan, jangan over protective, anak pun bisa stres, mengasuh ala kawat dan kain.

Anak-anak itu ibarat gelombang radio. Ketika dia merasa menemukan kecocokan dengan frekuensi tertentu, di situlah suaranya terdengar bening. Jadi, orangtua bukan sekadar penangkap gelombang radio tetapi juga pemancarnya (hlm. 13).

Anak bukanlah sekadar objek yang diarahkan sesuai cita-cita dan keinginan orangtua, melainkan subjek yang memiliki perasaan, pemikiran, dan kesadaran yang unik dan berpotensi luar biasa. Bisakah kita sebagai orangtua menyelaraskan tujuan hidup agar anak-anak yang merupakan amanah bisa kita kembalikan pada Allah dengan kepala tegak, bersih seperti keadaan semula?

Dalam Komitmen, disadari ataupun tidak, jadi orangtua itu pilihan. Jika kita telah memilih sebagai orangtua, maka bagaimanakah peran kita dalam menempatkan me time, rezeki, game atau film porno yang dicandui anak, posisi guru, umpatan, kala posisi orangtua distigma anak, kalah pengaruh, dan upaya merebut posisi agar semestinya.

Butuh perjuangan sekaligus pengorbanan. Yang terberat memang jikalau anak salah langkah karena kita salah memosisikan diri dalam pilihan tersebut. Parenting with Heart dengan ringan dan bernas menjabarkan masalah selalu ada solusi, tinggal seberapa kuat niat dan upaya orangtua untuk mengubah diri agar keadaan bisa saling menyamankan dalam harmonisasi yang utuh. Komunikasi dua arah merupakan kunci utama yang jangan terabaikan.

Dalam Nightmares, setiap zaman ada penawarnya, dan kebenaran tidak akan berubah hakikatnya. Bagaimanakah menghadapi mimpi buruk dalam kenyataan hidup? Hidup tidak selalu manis, tidak selalu baik. Keburukan tak lebih dari pasangan kebaikan, tinggal peran orangtua untuk mengarahkan, mengayomi, dan melindungi anak.

Pendidikan seks bagi anak, amarah anak, kebohongan anak, anak mencuri, membangkang, penakut, arti pintar, pemisahan gender, bullying, dan pelabelan adalah hal-hal yang melingkupi kehidupan anak dewasa ini.

Bagian terakhir, Berdamai dengan ABG, betapa Elia dan Anna berupaya melengkapi buku kecil namun padat ini dengan pola kesinambungan. Tahapan anak menjadi ABG berikut kasus-kasus yang dialaminya, memberi nilai tambah pengetahuan bagi yang peduli pada fungsi keayahbundaan.  “Dan tibalah saatnya kulonggarkan genggaman dan mulai jadi teman baikmu.”

Di sinilah masa perebutan peran orangtua dan pengaruh luar bagi hidup anak. Ketika anak bukan kanak-kanak lagi, tentu banyak hal yang berubah, barangkali orangtua pun harus berubah dalam artian positif. Berupaya keras dengan memahami anak agar anak pun memahami orangtua. Jangan lupakan pula relasi segitiga antara anak, orangtua, dan Tuhan!

Ada beberapa typo dan salah pilihan kosakata dalam buku ini, secara pribadi Anna Farida pun mengakui, namun dalam cetakan kedua telah direvisi dan ditambahi beberapa bagian mengenai kejahatan seksual pada anak. Benar-benar buku yang wajib dimiliki orangtua yang peduli fungsi keayahbundaan, ditulis dalam bahasa yang enak dibaca pula!

DATA BUKU

Judul              : Parenting with Heart, Menumbuhkan Anak dengan Hati

Penulis            : Elia Daryati dan Anna Farida

Penerbit          : Kaifa

Cetakan          : I, Maret 2014

Tebal              : 190 halaman

ISBN               : 978-602-7870-31-4

Harga             : Rp45.000,00

Resensi ini ditulis oleh Rohyati Sofjan

Riwayat pemuatan karya     : Pikiran Rakyat, Galamedia, Jendela Seni, Annida, Republika, Jawa Pos, Suara Karya, Cybersastra, Syir’ah, PETA NEWS, Angsoduo, Titikoma, BEN!, Batam Post,  Padang Ekspres,  Kartika,  Imut,  Tribun Jabar,  Keren Beken,  Aku Anak Saleh, dan Baranews.com. Berikut beberapa buku antologi puisi dan cerpen hasil keroyokan: Bandung dalam Puisi, Dian Sastro for President End of Trilogy, Roh, Herbarium, Loktong, Viaduct, dan Karena Bahagia Itu Sederhana. Alhamdulillah, tahun 2014 ini beroleh juara 1 untuk event menulis Happy Mom yang diadakan Penerbit Asrifa, dan juara 2 Mozaik Blog Competition yang diadakan Mozaik Indie Publisher.

Resensi Buku: Bullying pada Anak

parenting with heartDATA BUKU

Judul: Parenting with Heart, Menumbuhkan Anak dengan Hati

Penulis: Elia Daryati dan Anna Farida

Penerbit: Kaifa

Cetakan: I, Maret 2014

Tebal: 190 halaman

ISBN: 978-602-7870-31-4

Harga: Rp45.000,00

BULLYING bisa bermakna penindasan, penggencetan, penggertakan, atau pengancaman. Sebuah kosakata tidak baru yang seakan membaru di zaman sekarang ini. Dan anak-anak kerap menjadi korban, baik dari teman sebaya atau orang dewasa!

Anak, bagaimanapun, adalah insan lemah yang masih butuh bimbingan dari orang dewasa. Pola pengasuhan orangtua bagaimanakah yang akan membuat anak aman dari tindakan bullying sekitar? Atau tidak menjadi pelaku bullying alias pem-bully sendiri?

Palung, anak saya yang masih balita kerap di-bully anak tetangga kelas 5 MI kampung kami. Saya heran dengan pola asuh  orangtuanya karena membiarkan anak tersebut menjadi biang onar di sekitar, menganggu anak lain yang lebih kecil pula dengan cara memukul, termasuk kebiasaan mencurinya yang akut sehingga mendapat stigma negatif dari lingkungan. Anak pencuri karena orangtuanya terbiasa mengambil yang bukan haknya, entah di kebun atau tempat orang lain dengan alasan kemiskinan atau kemalasan. Anak pem-bully karena orangtuanya terbiasa bersikap seenaknya dan sok berkuasa terhadap orang lain dalam ucapan dan tindakan.

Ketika biang onar itu dimarahi tetangga karena merusak properti pekarangan rumah, ibunya malah tidak minta maaf pada tetangga itu. Pembiaran demikian tidak cuma bisa menimbulkan rasa sakit hati pada orang lain, merusak anak tersebut untuk beroleh label “abadi”.

Elia Daryati dan Anna Farida penulis buku panduan fungsi keayahbundaan (parenting), membahas soal bullying dalam buku Parenting with Heart, Menumbuhkan Anak dengan Hati (Kaifa, Maret 2014). “Bullying melibatkan tiga pihak: penindas, korban, dan penonton. Penindas dan korban memiliki posisi yang jelas; yang satu merasa ‘puas’, sedangkan yang lain sedih. Yang galau adalah para penonton. Ketika anak-anak menyaksikan temannya ditindas, apa yang mereka rasakan? Kebanyakan ingin membantu tapi takut, dan akhirnya memilih diam.”

Penyebab apakah kian maraknya bullying sekarang ini? Pengaruh media massa cetak dan elektronik dengan bias gaya hidup hedonis dan kian permisif? Internet yang mudah diakses anak? Pergeseran peran dan fungsi keayahbundaan sendiri? Mulai lunturnya tatanan moral dan spiritual masyarakat? Atau sekadar pengaruh strata sosial?

Ketika kanak-kanak, saya alami juga kasus di-bully anak lain, kebanyakan pelakunya anak yang merasa diri dominan dalam lingkungan dan pergaulan. Seiring usia saya sudah mulai bisa menjaga diri. Lingkungan sekolah saya di SMU Al Fatah wilayah aman dari pem-bully-an. Entah karena masa itu hubungan antara senior dan junior seakan tak lebih dari satu keluarga yang akrab dan damai, atau kekerasan di tahun 1994-1997 bukanlah tren di Kecamatan Limbangan.

Sekarang? Keponakan perempuan saya yang sekolah di SMK swasta kecamatan mengeluh kerap di-bully senior sampai teman sekelasnya sendiri. Saya heran betapa kerasnya kehidupan remaja zaman sekarang. Heran betapa agresifnya gadis remaja sehingga persaingan dan klik menciptakan konflik tidak perlu. Entah demi eksistensi diri atau timpangnya fungsi keayahbundaan di rumah.

Tekanan ekonomi bisa menyebabkan ibu harus bekerja bahkan sampai merantau ke luar negeri, ayah sibuk sendiri atau abai di rumah, ada juga orangtua yang kualitas hubungan kekeluargaan di dalam rumah tidak maksimal, sedangkan tatanan norma sosial di kampung yang semula ketat mulai bergeser longgar; jadilah anak berbuat sesuka hati dalam hal gaya hidup, berbusana, tutur kata, sampai tindakan lainnya sebagai cara beroleh perhatian.

Kita hidup di zaman yang penuh pergeseran, kemajuan teknologi jika tidak dibarengi dengan kebijakan pemikiran maka akan cenderung destruksif/merusak. Elia dan Anna memandu orangtua yang anaknya di-bully. “Saat anak masih mengumpulkan keberanian untuk berpihak kepada yang benar, yang harus kita lakukan adalah memberikan dukungan atau penguatan. Jika kita terus mendesaknya untuk membuktikan keberanian, memaksanya untuk melawan, mencelanya ketika dia takut, jangan-jangan kita juga telah memosisikan diri sebagai penindas.”

Pertanyaan penting lainnya, bagaimana panduan untuk orangtua yang anaknya senang mem-bully?***

Limbangan, Garut, 9 Oktober 2014

RESENSI ini ditulis oleh Rohyati Sofjan.

Riwayat pemuatan karya     : Pikiran Rakyat, Galamedia, Jendela Seni, Annida, Republika, Jawa Pos, Suara Karya, Cybersastra, Syir’ah, PETA NEWS, Angsoduo, Titikoma, BEN!, Batam Post,  Padang Ekspres,  Kartika,  Imut,  Tribun Jabar,  Keren Beken,  Aku Anak Saleh, dan Baranews.com. Berikut beberapa buku antologi puisi dan cerpen hasil keroyokan: Bandung dalam Puisi, Dian Sastro for President End of Trilogy, Roh, Herbarium, Loktong, Viaduct, dan Karena Bahagia Itu Sederhana. Alhamdulillah, tahun 2014 ini beroleh juara 1 untuk event menulis Happy Mom yang diadakan Penerbit Asrifa, dan juara 2 Mozaik Blog Competition yang diadakan Mozaik Indie Publisher.

 

Resensi Buku: Belajar Kata Secara Asyik

TTS Cari Kata Seputar Islam - Anna Farida

TTS Cari Kata Seputar Islam – Anna Farida

Resensi ini ditulis oleh teman SMS-an yang penuh pesona, punya gaya bahasa istimewa, Rohyati Sofjan.

DATA BUKU             : TTS & CARI KATA SEPUTAR ISLAM

PENULIS                    : ANNA FARIDA

PENERBIT                 : QIBLA/BHUANA ILMU POPULER

CETAKAN                 : PERTAMA, JULI 2014

TEBAL                       : 84 HALAMAN

ISBN                           : 978-602-249-663-2

HARGA                      : Rp29.000,00

 

BIASANYA dengan cara bagaimanakah Anda belajar mengenai kata, lama maupun baru? Kata yang terbentuk dari bahasa ibu kita atau yang lumrah terdengar maupun terbaca? Kata dari bahasa asing sendiri, yang kerap atau jarang kita gunakan?

Ada jutaan kata bertebaran. Kita kerap menggunakannya meski bisa jadi tidak menyadari artinya secara linguistik, tanpa bersandar teori ilmu bahasa tertentu. Kata-kata bisa menjadi umum dan akrab penggunaannya, atau khusus dan jarang digunakan; sesuai sifat kata sendiri sebagai penyusun kalimat dalam bahasa universal manusia.

Ada banyak cara bagi kita untuk belajar mengenai kata baru atau lama, dengan menyimak percakapan atau bacaan, secara audio atau audio visual. Dan dalam zaman internet sekarang ini, kian mudahlah bagi kita untuk belajar mengenal kata dari milis, blog, group Facebook, sampai jejaring sosial lainnya.

Anna Farida, penulis buku produktif, jeli mengambil celah peluang pengenalan kata dengan menyusun buku TTS & Cari Kata.  Dalam biodata di halaman akhir kita akan mengenal bagaimanakah sosok Anna sendiri. Melalui sejumlah buku pendidikan yang ditulisnya, Anna menyampaikan pesan bahwa belajar bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan.

Anna adalah kepala sekolah dan mentor menulis di Sekolah Perempuan, pembicara di berbagai pelatihan editing, dan penerjemah buku. Di komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis, Anna mengasuh kelas “Ingat EYD”. Berbagi wawasan tentang ejaan yang disempurnakan dan bahasa Indonesia melalui obrolan ringan, sesekali dengan cara bercanda. Dengan cara demikian, Anna berharap agar kecintaan bangsa Indonesia terhadap bahasanya tetap terjaga.

Jika di antara Anda ada yang suka mengisi TTS di koran atau majalah, buku ini barangkali bisa menjadi karib. TTS & Cari Kata Seputar Islam lebih tebal dan khusus. Agak rumit tapi tak mengesampingkan rasa asyik. Di sana kekayaan kosakata Anna bertebaran.

30 halaman TTS dengan puluhan ragam variasi kolom untuk diisi, berikut kunci jawabannya,  terasa tidak sembarangan pilihan kosakatanya. Ada banyak kata yang berbobot dan kerap tidak kita ketahui atau pedulikan maknanya, kita diajak berpikir sekaligus mencerna. Meski, terus terang, saya alami kesulitan dan tak pernah bisa penuh mengisi kolom karena ada banyak kolom yang berdiri sendiri sekaligus tidak bertautan dengan kolom lain yang lebih mudah, sehingga kerap terpaksa mencontek kunci jawabannya di bagian belakang. Barangkali Anna bisa mempertimbangkan tingkat kesulitan buku TTS yang disusunnya, bahwa kata sulit sebaiknya disandingkan dengan beberapa kata yang lebih mudah dalam tautan kolom.

Dalam bagian 30 halaman cari kata, masing-masing ada 40 kata bermakna di antara huruf yang berserakan. Anda bisa menemukannya dari kiri ke kanan, kanan ke kiri, atas ke bawah, bawah ke atas, dan diagonal atas bawah; masih lebih dirasa mudah karena konsistensi tautan abjadnya.

Nilai tambah dari TTS & Cari Kata Seputar Islam adalah pengetahuan tentang Islam. Wawasan baru bisa Anda temukan. Ingatan dan pengetahuan yang telah lama Anda miliki pun jadi bangkit kembali. Dengan kata lain, Anna mengajak kita untuk belajar Islam jadi seru, penuh tantangan, dan menyenangkan.

Hari ini Hari Guru

Yang juga membedakan manusia dengan binatang adalah kemampuannya merepotkan orang lain.

Lihat saja apa yang dia lakukan begitu kehadirannya diketahui oleh ibunya.

Ada yang gembira sepenuh jiwa, “Alhamdulillah, positif!”

Ada yang cemas penuh sesal, “Oh, no! Kok positif?”

Pertapaannya di dalam rahim hingga proses kelahirannya melibatkan banyak orang: ayah ibunya, tenaga medis, kakek nenek, kerabat, tetangga, teman orang tuanya …

 

Tak mungkin dia bangkit sendiri mencari kain bedongnya.

Tangis pertamanya ditaburi ucapan selamat dibalur doa-doa. Pertumbuhannya dituntun oleh banyak orang. Dia dijaga benteng bantal guling saat belajar tengkurap, dialas tilam empuk ketika belajar duduk. Air susu tak henti disodorkan, langsung ke mulutnya. Makanan halus disajikan dan disuapkan, tinggal ditelannya.

Saat langkahnya mulai terayun satu  dua, genggaman hangat membimbingnya. Tak seperti bayi kambing yang harus tersungkur dan bangkit sendiri, lengan-lengan terbuka lebar untuk menyongsong pijakan goyahnya. Ada senyum yang membuatnya merasa aman menapak, ada pelukan hangat yang menyambutnya.

Saat dia tumbuh sebagai anak-anak, sebagai remaja, sebagai orang dewasa, tak henti orang tuanya menggumamkan doa. Tak henti orang-orang di sekelilingnya membantunya hidup–ada yang mengajarinya kebaikan, ada yang menjerumuskannya dalam keburukan. Tak salah bila ada ucapan, “Baik buruknya seseorang turut ditentukan oleh bantuan kehidupan yang diterimanya”.

Di rumah, kepadanya disampaikan nilai-nilai kemuliaan: hormat kepada yang lebih tua, sayang kepada yang lebih muda, adil dengan sesama manusia. Di sekolah, kepadanya diajarkan ilmu dan wawasan, oleh guru oleh kawan. Di lingkungan tetangga dia belajar, di lingkungan kerja, dia belajar. Semua dia lakukan di antara manusia lain, yang bisa disentuhnya maupun yang dikenalnya melalui jejaring maya.

Hingga tiba saat kematiannya, manusia lain pun masih melibatkan diri. Ada yang melakukannya karena tulus cinta padanya, atau karena hormat pada orang tua dan anak-anaknya, atau sekadar prihatin karena tiada manusia lain yang mau mengurusnya.

Tak mungkin dia mencari sendiri kain kafannya. Mustahil dia berjalan sendiri ke kuburnya. Penghormatan yang terakhir sebagai manusia, pun dia terima dari orang-orang di sekitarnya.

Sekian gelintir, sekian puluh, sekian ratus … sekian banyak manusia lain ikut membentuk nilai kehidupan yang diyakininya. Dia belajar dari banyak guru dalam rentang usianya. Proses dan hasil belajar itulah yang akan dibawanya sebagai secuil kecil bekal untuk menghadap Tuhannya.

Manusia, dari awal kehadirannya hingga kepulangannya, adalah murid dari manusia lain.

Hari ini, 25 November 2014, adalah Hari Guru.

Untuk semua guru, dari sejak kelahiranku hingga kematianku, terima kasih atas semua bekal tentang laku hidup, kebaikan, dan ilmu. Salam takzim, ampuni kelalaikanku atas ajaranmu.

[Resensi] Pilar-pilar Pembangunan Karakter Remaja

Anna Farida:

Terima kasih resensinya, Mbak Marfungah Nafazayan :-)

Originally posted on Catatan Bunda:

BUKU PILAR-PILAR PEMBANGUNAN KARAKTER REMAJA

  • Judul Buku                   : Pilar-pilar Pembangunan Karakter Remaja
  • Nama Pengarang          : Anna Farida
  • Nama Penerbit             : NUANSA CENDIKIA
  • Tahun Terbit                : Januari 2014
  • Cetakan                      : Pertama
  • Jumlah Halaman            : 152 hlm,;15,5 x 23,5 cm
  • ISBN                            : 978-602-8395-14-4
  • Harga                          : Rp.50.000,-

ISI BUKU

Pada bab awal buku ini menjelaskan mengenai remaja menurut berbagai sumber. Baik dilihat dari sudut pandang siapa mereka, bagaimana ciri-ciri fisik  maupun  perubahan psikologis yang terjadi, baik remaja laki-laki maupun perempuan .

Selanjutnya , buku ini membahas mengenai 21…

View original 287 more words