KOMUNIKASI YANG MELEKATKAN KELUARGA

 

Artikel Ibu di Galamedia-croppedSuatu sore, saya terperanjat.

Salah satu anak saya yang beranjak remaja mengucapkan kalimat yang menurut saya tidak layak. Bahasa tubuh dan ekspresi wajahnya juga membuat saya kaget karena dia biasanya sangat santun.

Ini dari mana asalnya?

 

Sebelum membahas kejutan pahit sore itu, saya ingin menyingkap pandangan tentang keluarga sebagai madrasah atau sekolah pertama bagi anak. Ada yang berpendapat bahwa sebagaimana anak burung yang belajar terbang dari induknya, anak pun pasti bisa belajar apa pun dari keluarganya.

 

Sayangnya, saat ini sebagian keluarga terserang gamang. Ada orang tua yang ragu apakah dia benar-benar punya peran dalam pendidikan anak-anak zaman sekarang, atau paling tidak bertanya-tanya, bagaimana caranya.

 

Apalagi jika kondisi ini dikaitkan dengan bergegasnya zaman bergerak. Tak sedikit orang tua yang merasa gaptek atau kudet—dua singkatan gaul yang mewakili makna ketertinggalan dalam era digital.

Akibatnya, terjadilah kesenjangan komunikasi antar generasi dan terlihatnya gejala yang lazim disebut panic parenting.

 

Namanya juga panik. Tindakan dan keputusan dilakukan secara mendadak, tidak terkendali, penuh suasana cemas, dan seringkali menimbulkan perilaku yang kurang terpuji.  Atas nama cinta, tanpa niat menyakiti, orang tua bisa melakukan kekerasan kepada anak, demikian pula sebaliknya.

 

Saya pun pernah mengalaminya.

Saat mendapati anak saya mengucapkan kalimat tak layak tadi, rentetan pertanyaan siap melompat.

Anehnya, mungkin saking terkejutnya, lidah saya terkunci. Ada untungnya juga, sih. Saya tak perlu melontarkan kalimat balasan yang akan saya sesali kemudian. Saya memandanginya dengan tajam, masih tak percaya, sementara dia melihat ke arah lain.

 

Kami sama-sama terkejut, sama-sama tidak menyangka cara berkomunikasi seperti itu bisa muncul. Di antara suasana kaku saat itu, saya ingat Marshall Rosenberg (2012: 125) yang mendefinisikan perilaku kami sebagai violent communication atau komunikasi yang bermuatan kekerasan.

 

Bisa jadi pemicunya adalah saya.

Mungkin sebelumnya saya membuatnya sangat kesal, dan akhirnya dia lepas kendali. Bisa jadi dia sedang jengkel dengan hal lain atau orang lain, kemudian saya yang kena getahnya.

Mungkin Anda pernah mengalami hal yang sama, bertengkar dengan anak atau pasangan kemudian menyesal berhari-hari.

 

Tak perlu resah, kita bisa sama-sama belajar menerapkan (kembali) komunikasi yang melekatkan keluarga. Saya yakin bahwa komunikasi yang jelas, terbuka, dan penuh cinta adalah pijakan yang kuat bagi keluarga yang sehat.

 

Keluarga yang terbiasa berkomunikasi secara sehat akan memiliki kelentingan, daya tahan, sekaligus kemampuan mengatasi masalah. Orang tua dengan gaya komunikasi yang sehat akan lebih optimal dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Pada gilirannya, anak-anak akan tumbuh dengan karakter positif: percaya diri sekaligus santun, terbuka sekaligus tahu batas.

 

Nah, bagaimana caranya membangun komunikasi yang sehat?

Ternyata, kemampuan berkomunikasi dengan baik itu bukan genetis tapi hasil latihan. Komunikasi yang sehat itu bukan sesuatu yang terberi, tapi harus diupayakan. Kita bisa merujuk ke berbagai buku komunikasi keluarga dan menerapkannya di rumah. Saya rangkumkan beberapa langkah—mudah menuliskannya, perlu perjuangan dan komitmen untuk melakukannya.

 

Pertama, luangkan waktu. Hadiah termahal yang bisa kita berikan kepada keluarga, terutama anak-anak, adalah waktu. Kekurangan waktu buat keluarga adalah problem yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kekurangan uang.

Padatnya jadwal kegiatan yang berbeda-beda membuat anggota keluarga sulit menemukan waktu untuk bisa mengobrol santai.

Ini tidak bisa dibiarkan. Waktu luang mesti diciptakan dengan cara yang kreatif, disesuaikan dengan kebiasaan keluarga. Ada keluarga yang bisa berbincang  leluasa saat subuh, ada yang memilih malam hari menjelang tidur. Ada yang menjadwalkan pertemuan keluarga, misalnya setiap malam Sabtu semua anggota wajib kumpul di rumah. Acaranya? Makan bersama dan saling bertukar cerita. Walau sejenak, luangkan. Jadikan kegiatan penting, bukan sambil lalu.

 

Kedua, hidupkan rumah dengan tawa. Ungkapan bahwa tawa adalah obat terbaik itu tidak berlebihan. Tertawa mengaktifkan fungsi alamiah tubuh untuk lebih rileks sehingga mengurangi stress. Keluarga dengan tradisi humor lebih mudah membangun komunikasi yang sehat antar anggotanya daripada keluarga yang cenderung serius. Humor membuka sumbatan kekakuan antar generasi dan mencairkan kecanggungan setelah pertengkaran, misalnya.

Tentu, bercanda tetap harus dilakukan dalam lingkup kesantunan yang semestinya. Kata dan tindakan kasar atau melecehkan tetap tak dibenarkan. Jangan sampai bercanda justru menjadi wahana saling bully dan akhirnya tidak menyenangkan lagi. Ada keluarga yang lekat karena terbiasa saling ledek. Ini sah saja, asal semua ikut bergembira. Aturannya sederhana, segera kurangi intensitas gurauan begitu ada salah satu yang tidak tertawa.

 

Ketiga, biasakan berbicara secara spesifik. Komunikasi yang sehat bisa dipahami dengan mudah oleh anggota keluarga yang lain. Kebiasaan ini penting terutama ketika ada anggota keluarga yang mengalami masalah. Kalimat-kalimat sindiran, termasuk kalimat yang tidak bermakna jelas, hanya akan menimbulkan masalah baru.

Misalnya, kakak dan adik bertengkar. Kakak menggerutu, “Adik menyebalkan.”

Itu kalimat umum. Ajak dia untuk membuatnya spesifik. Kan tidak dalam semua hal Adik menyebalkan. Tanya dia, Adik menyebalkan ketika melakukan apa.

“Kakak nggak suka, ya, kalau Adik bikin berantakan mainan?” misalnya.

Ajakan semacam ini lambat laun akan membangun karakter obyektif pada anak. Fokus dia adalah perbuatan yang tidak dia sukai, bukan semata-mata kepada pelakunya.

 

Keempat, jadilah pendengar yang aktif. Dalam prinsip komunikasi empatik yang diajarkan Stephen Covey, salah satu karakter komunikasi yang sehat adalah berusaha mengerti dulu, baru dimengerti. Nah, salah satu cara untuk mengerti orang lain ketika berkomunikasi adalah mendengarkan aktif.

Apa maksudnya?

Misalnya anak sedang bercerita tentang temannya yang punya handphone baru. Respon orang tua bisa macam-macam:

  • Mendengarkannya sambil lalu sambil berkomentar, “Ah, pemborosan! Anak kecil kok gonta-ganti hape!
  • Menyindirnya, “Anak yang baik biasanya bisa membedakan keinginan dan kebutuhan.”
  • Menuduhnya, “Pingin juga? Punya uang berapa, emang?”
  • Mendengarkannya secara aktif, “Seri apa katanya? Bagus, ya. Ayah juga pingin ganti hape belum kesampaian saja.

Salah satu aspek penting dalam komunikasi yang sehat adalah melibatkan diri dengan lawan bicara. Berikan respon positif, misalnya menganggukkan kepala, mengajukan pertanyaan, atau pernyataan singkat seperti “Oh, ya? Wah! Serius?” kepadanya.

 

Dengan melibatkan diri, sebagai orang tua, kita bisa memahami sudut pandang anak sekaligus menghormatinya. Jika kita membiasakan diri mendengarkan anak, teladan itu akan mereka ikuti. Pada gilirannya, ketika orang tua menyampaikan sesuatu, anak akan mendengarkannya secara aktif pula. Perbuatan baik dicontohkan, kebiasaan terpuji diteladankan.

 

Kelima, perhatikan bahasa nonverbal. Suatu saat Anda menemukan anak cemberut dan melangkahkan kakinya tanpa semangat, sudut matanya sembap memerah.

Ketika ditanya, dia menjawab, “Enggak apa-apa, kok. Cuma capek”.

Mana yang lebih Anda percayai, bahasa lisannya atau bahasa tubuhnya?

Menangkap bahasa tubuh ini perlu perhatian penuh. Ekspresi lawan bicara seperti memalingkan pandangan atau memainkan jari tanda gugup tak akan terlihat jika Anda tidak memperhatikan dia.

Karena itu, ketika anak berbicara, letakkan gawai. Berhentilah sejenak dari kesibukan Anda, hadapkan badan kepadanya. dengan cara ini Anda akan lebih memahaminya dan lebih peka jika ada hal lain yang dia sembunyikan.

Di saat yang sama, anak jadi yakin bahwa orang tuanya memandang hal yang dia sampaikan adalah penting, bahwa dia pun penting. Ini modal yang sangat berharga untuk membangun komunikasi yang lekat dan terbuka.

 

Lima cara di atas bisa dibangun perlahan-lahan, bisa dimulai dari mana saja, tanpa saling tuding siapa yang harus memulainya lebih dulu. Semua anggota keluarga punya peran yang sama, karena keluarga milik bersama.

Komunikasi adalah hal yang paling sering dianggap natural, namun ternyata tak bisa terbangun secara asal. Perlu latihan dan kemauan yang konsisten, sebagaimana burung belajar terbang yang tak henti mengepakkan sayap. Berulang-ulang, mencoba lagi saat gagal, start and restart.

 

Salam takzim,

Anna Farida

————————-

Dimuat di Harian Galamedia, Selasa, 25 Mei 2016. Ini versi aslinya. Pada versi koran ada beberapa suntingan.

 

EYD BERUBAH JADI EBI?

Bercanda Dengan EYDEYD berubah jadi EBI! Aduh, jadi ingat udang kering!

Mbak, Anna, beneran, jadi EBI? Masa sih tidak ada singkatan yang lebih keren, gitu?

Ehehe ….

Sebenarnya saya mau diam-diam saja dulu, karena memang belum punya waktu untuk membaca Salinan Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia secara detail.

Tapi daripada saya ditanya-tanya lagi, lebih baik saya buat tulisan ini.

 

Jadi begini, terus terang saya juga baru tahu beberapa minggu terakhir bahwa ada peraturan baru yang mengatur ejaan bahasa Indonesia kita tercinta, namanya sudah saya sebut di atas. Memang masih canggung, setelah lama menggunakan istilah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), kini saya harus membiasakan diri dengan singkatan baru, EBI.

 

Tadi pagi bersama Ubit (11), saya berusaha membandingkan keduanya dari sisi sistematika maupun isi. Walau sepintas—itulah sebabnya saya sebenarnya belum mau bicara, nunggu para pakar saja. Saya kan hanya juru siar, tapi tergoda untuk berkomentar #sotoyasalways—saya tidak menemukan perbedaan yang mendasar.

 

Ada tambahan pedoman penggunaan huruf tebal dalam kata berhuruf miring, ada perbedaan urutan penggunaan kata serapan, lantas apa lagi, tadi, ya? Lupa.

 

Ala kulli hal—cieee, biar terkesan salihah menjelang Ramadan—yang ingin saya bahas bukan itu. Berapa kali pun pedoman bahasa diubah, seharusnya bukan masalah.

Bahasa itu kan sarana manusia berkomunikasi, berasal dari kesepakatan para penggunanya, kemudian dibakukan. Kita beruntung jadi manusia yang lahir belakangan, jadi tak perlu ikut ribut mengumpulkan kata demi kata, menetapkan maknanya, merumuskan penulisannya. Kita (maksudnya saya) lahir saat bahasa Indonesia sudah punya kamus. Siap guna, tinggal pakai.

 

Beberapa kali aturan berbahasa Indonesia mengalami perubahan karena berbagai pertimbangan. Ada sedikit teman yang berkata, “Ah, kok plin-plan, bikin bingung saja”. Ada juga yang menyambut perubahan demi perubahan dengan gembira.

 

Saya termasuk kawanan yang kedua.

Saya suka jika dalam bahasa ada perubahan, walau sedikit saja. Itu tanda bahwa kita adalah manusia yang terus tumbuh menyempurna. Dari berbagai sisi, bahasa di seluruh dunia akan terus berubah—bisa berkembang, bisa juga hilang, digantikan bahasa lain.

Eh, ada juga bahasa yang dihidupkan dari kematian dan kini ikut berkuasa di dunia. Anda tahu bahasa apa itu? Ehehe.

 

Jadi santai saja. Tak perlu resah jika ada aturan yang membuat kita harus belajar ulang dan melakukan penyesuaian. Justru inilah kesempatan bagi kita untuk belajar lagi dan lagi. Saya akan tetap menjadi bagian yang aktif dalam perkembangan bahasa Indonesia, semoga Anda pun demikian.

Jika mampu, buatlah aturan baru, kampanyekan, dan jadikan kesepakatan. Bukan tak mungkin kita jadi penemu yang kemudian ditiru. Namanya juga bikin aturan, tak bisa sembarangan dan banyak kaidahnya, tentu.

Senyampang menunggu kita jadi ahli bahasa, kita taat saja dulu, ya, dengan pedoman yang ada. Bagaimana?

 

Ngomong-ngomong, saya baru saja meluncurkan kumpulan rumpian #IngatEYD dengan komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis. Diskusi segar, ringan, namun bernas ada di sana. Kita bisa belajar kaidah bahasa Indonesia dan tetap awet muda.

Bisa diunduh gratis di sini.

 

Terima kasih sudah menjadi teman belajar kami, EYD. Kau selalu di hati.

Agak mencelus juga hati saya membaca tulisan bahwa Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Tapi inilah perjalanan yang wajib dirayakan. Kita bersyukur masih banyak orang yang peduli dengan bahasanya sendiri dan menjadikannya peraturan yang dilindungi hukum.

 

Demikian siaran hari ini, kita tunggu koreksi, masukan, dan konfirmasi dari para pakar.

Selamat datang Ejaan Bahasa Indonesia, selamat datang EBI.

Salam takzim,

Anna Farida

www.annafarida.com

 

BERCANDA DENGAN EYD

bercanda dengan EYDArtikel ini dimuat dalam “Wisata Bahasa” Harian Umum Pikiran Rakyat. Saya bagikan versi aslinya, ya.

 

BERCANDA DENGAN EYD

(Anna Farida)

Bagaimana jika ada kajian Ejaan Yang Disempurnakan yang diawali dengan dialog seperti ini:

#IngatEYD

Ini perlu diketahui para suami ketika merayu istri.

Istri: “Mas, baju baruku bagus, enggak?”
Suami: “Bagus, dong, Sayangku. Lehermu jadi terlihat jenjang …”
I: “Maksudmu apa? Nyindir leherku yang besar, ya?”
S: “Oh … um … maksudku … berjenjang-jenjang …”
I: “Hah! Tahu enggak kata itu apa artinyaaa? Grrrhhh!”

Istri kian murka, rayuan gagal.

Saya mengajar di sebuah komunitas menulis perempuan yang kebanyakan anggotanya adalah ibu rumah tangga. Ada yang memiliki latar belakang pendidikan bahasa, ada yang tidak. Ada yang masih ingat pelajaran tata bahasa, ada yang bilang lupa. Rata-rata, alasan mereka adalah karena tak suka pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

Pendek kata, dulu tak suka sekarang lupa.

Selain ilmu, bahasa itu kan keterampilan. Begitu jarang digunakan, dia akan segera dilupakan. Dulu, saat SMA, nilai rapor saya untuk bahasa Jerman selalu 9. Sekarang, kemampuan Deutsch saya ada di level pre-basic alias dasar saja tidak. Kosakata? Nyaris punah.

Apa sebabnya?

Lulus SMA, saya mendalami pendidikan bahasa Inggris di IKIP Bandung. Setelah itu, saya aktif menulis, mengajar menulis, dan menjadi trainer berbagai pelatihan orang tua dan guru. Artinya, saya lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Untuk berjejaring dengan komunitas guru internasional, saya pakai bahasa Inggris. Tak bisa dicegah, kurang dari sepuluh tahun, bahasa Jerman saya bisa dibilang lenyap.

Tragedi yang sama bisa terjadi pada bahasa Indonesia—termasuk bahasa ibu. Kecakapan berbahasa sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Pengaruh itu bisa positif bisa pula sebaliknya.

Tren bahasa singkatan misalnya. Kebiasaan menyingkat kata mulai muncul ketika telepon genggam menawarkan menu pesan singkat alias SMS. Jumlah karakter per pesan dibatasi, dan untuk setiap pesan dikenakan biaya tertentu.

Tak lama kemudian media sosial menyediakan fasilitas chatting. Bahasa tidak formal berkembang cepat, bahasa alay ikut menyergap. Seiring dengan mudah dan murahnya akses internet, tren ini cenderung diiyakan oleh kebanyakan pengguna media sosial.

Awalnya para ibu adem ayem saja, bahkan ikut dalam euforia komunikasi abad ke-21.

Saya juga.

Lama-lama yang mengeluh kian banyak.

Saya juga.

Menurut para ibu, anak-anak mengalami kesulitan ketika harus menuangkan gagasan dalam tulisan karena lebih akrab dengan bahasa chatting. Ini terjadi dalam semua mata pelajaran.

Beberapa rekan guru termasuk dosen curhat. Mengajar anak-anak membuat laporan atau sekadar menulis pengalaman dan pendapat jadi tugas yang mahaberat. Murid dan mahasiswa mereka rata-rata masih harus dibimbing untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang baik. Kesalahan tata bahasa yang sama terus berulang. Kosakata mereka terbatas, dan gaya tulis mereka terlihat sekali dipaksakan. Laporan dua halaman bikin mereka mengeluh, sementara arsip chat harian bisa ribuan pesan.

Para ibu tak kalah gerah.

Sebagian besar lupa banyak hal, sebagian yang lain lebih akrab dengan bahasa media sosial. Buntutnya, saya sering jadi sasaran tembak saat anak-anak mereka dapat tugas bahasa Indonesia.

Pesan-pesan begini, nih, yang bikin saya tambah sayang pada para ibu.

“Bu Anna, yang baku mana, sih? Nasihat atau nasehat? Tampak atau nampak? Maaf, ini PR anak saya.”

“Lah, kan tinggal buka kamus online, Bu.”

“Kan ada Bu Anna. Bisa sekalian tanya-tanya hal lain.”

“Haish!”

Jadilah saya kamus berjalan. Padahal, untuk banyak kata, saya pun buka kamus. Saya bahkan berkali-kali buka kamus untuk satu kata yang sama karena lupa.

Saya merasa mau dan merasa perlu, karena ingin tulisan saya bermutu. Bahasa kan mewakili karakter sekaligus kredibilitas seseorang. Saya belajar juga belum lama, kok. Bukti tertulisnya ada di blog saya. Tulisan yang saya buat dua tahun yang lalu masih berantakan, tulisan dua bulan yang lalu, bahkan dua hari yang lalu, masih saja ada yang meleset. Saya meringis sambil menyunting tulisan lama begitu ada pembaca berkomentar.

Saya juga tak bersedia disebut guru, apalagi pakar EYD—biasa, para ibu sering lebay kasih julukan macam-macam. Saya lebih suka disebut juru siar.

Sesuai namanya, hobi saya adalah menyiarkan kabar, kadang salah kadang benar.

Tak sekali saya minta maaf di depan khalayak bahwa ternyata penjelasan saya salah, atau tulisan saya tak sesuai kaidah.

Berulang-ulang saya sampaikan kepada para ibu bahwa belajar bahasa bukan perkara instan. Bahasa bukan melulu rumus yang bisa dihafal, melainkan sarana komunikasi yang mesti dijadikan kebiasaan. Kemauan untuk menggunakan bahasa yang baik secara konsisten perlu dijaga.

Dengan niat menularkan kemauan inilah, saya memilih metode humor dalam menyampaikan materi EYD. Materi ajar selama tiga tahun terakhir akan dijadikan ebook untuk dibagikan gratis. Tunggu tanggal edarnya.

Saya sajikan materi dalam bentuk cerita atau dialog imajiner yang lucu, kadang agak berlebihan. Setahu saya, berdasarkan pengalaman, humor membuat orang merasa santai dan membuka diri.

Nah, kesediaan membuka diri adalah kondisi ideal untuk belajar. Materi lebih mudah diserap, pemahaman menancap kuat. Suasana cair membuat belajar jadi produktif sekaligus menyenangkan.

Mau contoh?

Dialog semacam ini bisa menuai komentar panjang yang hidup:

#‎IngatEYD

“Lihat, Bu! Bis diangkut oleh bas pakai bus!”
“Biarin. Asal bukan bapakmu yang diangkut.” –kalem mode on– 

Bis: Kotak kecil milik kantor pos, untuk memasukkan surat. 
Bas: Kepala pekerja (mandor).
Bus: Kendaraan besar beroda empat.

Nah, Ibu-ibu …
Naiklah bus, bukan bis, apalagi bas!

Kadang saya tantang para ibu untuk membuat kalimat, kemudian saya bahas—tentu dengan pendekatan dan penjelasan sesantai mungkin. Dengan begitu, mereka tidak merasa dihakimi. Contoh soalnya seperti ini:

#‎IngatEYD
Ingin kuhangatkan sore yang basah. Sayang, denting mangkuk tukang bakso mengiang sejenak lantas menghilang.

Kalian kutantang.
Buat dua atau tiga kalimat. Gunakan beberapa kata yang suku kata terakhirnya mengandung “ang-ing-ung-eng-ong”. EYD akan kita benahi bersama. Ayo, tulis. Kok malah “ndomblong” 

Hasilnya luar biasa. Daya imajinasi dan daya bahasa para ibu ini meletup tanpa katup!

Yang perlu saya lakukan hanya mengoreksi sebagian kaidah EYD yang meleset dan membiarkan sebagian yang lain. Tak perlu dikoreksi semua, nanti mereka jera. Saya juga kan tidak tahu semua.

Nah, mari bercanda.

 

Salam takzim,

Anna Farida, Kepala Sekolah Perempuan, juru siar EYD, penulis, tinggal di Bandung, www.annafarida.com

Eksis Tanpa H3B

dilarang_masuk Tunggu!

Jangan klik “like” dulu, jangan “share” dulu.

Baca sejenak tulisan ini, setidaknya dua menit.

Kemarin saya dan Indari Mastuti berkunjung Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat, bertemu Pak Januar Yepi Ruswita dan Pak Budhiana Kartawijaya. Tujuannya tentu membahas kegiatan yang bisa digarap bersama Pikiran Rakyat.

Nah, terkait kegiatan menulis, salah satu keprihatinan Pak Budhiana adalah masih rendahnya information literacy di kalangan pengguna media sosial ditandai dengan beredar luasnya H3B (Hoax, Horor, Hasut, dan Bully).

Apa itu hoax?

Itu, tuh, berita yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Termasuk yang dari grup sebelah, kali, ya? Masih ingat?
Informasi tersebut bisa berupa foto, artikel, video, atau pernyataan tokoh tertentu. Yang bikin gemas adalah berita hoax yang dilengkapi foto palsu.

Pak Yanuar menunjukkan foto selfie perempuan berkerudung di lokasi pemboman yang baru lalu. Diduga foto itu hasil olahan dan aslinya memperlihatkan perempuan yang selfie saat salat Idulfitri. Mana yang asli mana yang palsu hanya ahli foto yang paham. Yang bukan jangan ikutan sotoy, deh!

Hikmahnya, jangan keseringan selfie #halah

Yang bikin supergemas, berita-berita seperti itu kadang di-share oleh teman-teman kita.

Ketika berita atau foto dari sumber lain kita perlihatkan, yang bersangkutan otomatis bilang “Maaf, kan saya tidak tahu”.

Lha ya itu! Jika tidak tahu kenapa nge-share?

Menyebarkan berita hoax itu bikin level kekerenan Anda merosot sekian tingkat, lho.

Berikutnya adalah horor.

Seorang teman di grup WA langsung mengundurkan diri ketika ada anggota yang memajang foto jemari bolong-bolong—saya lupa, entah karena serangan kutu atau kebanyakan pegang hape. Eh, kalau ngasih informasi lantas bilang saya lupa apa sumbernya termasuk hoax bukan, ya? Asli ini serius tanya.

Dia ketakutan dan perlu waktu lama untuk membujuknya kembali bergabung. Permintaan maaf memang disampaikan, tapi kerusakan kan sudah terjadi.

Kabarnya juga, banyak foto korban terorisme Sarinah beredar di media sosial. Hanya kabarnya karena teman FB saya baik-baik sehingga saya tidak pernah lihat.

Sudah. Jika saya perinci lagi uraiannya, tulisannya saya ini juga bakal beraroma horor, deh.

Jadi prinsipnya kita tahu bahwa menyebarkan berita atau gambar yang menimbulkan rasa takut itu tidak sip sama sekali. Buat apa, sih? Membuktikan bahwa kita penuh belas kasih dengan menuliskan kalimat “Aduh, kasihan, ya!” Atau bahwa kita ini saleh dengan menayangkan foto korban sambil memaktubkan doa-doa?

Kasih ya kasih, doa ya doa. Tapi horor ya tetap horor.

H yang ketiga adalah hasut.

Semoga kita terhindar dari memberitakan dan membagikan berita yang memecah belah persaudaraan. Saya pernah menemukan orang menggosipkan keburukan mantan pasangan atau mantan rekan kerja secara terbuka di media sosial.

Ketika ada yang tanya apa tujuannya, jawabannya bikin nyengir “Ini kan FB saya. kalau tidak suka ya nggak usah baca. Gampang, kan?” #melongo3detik

Kata Pak Budhiana, jika bermuatan hasutan, kalimat yang terlihat sepele, video kocak, atau meme yang bikin ngakak sekalipun bisa mendatangkan maut. Karena informasi hoax, orang bisa dituduh sesat karena berbeda cara salat. Karena berita horor, manusia bisa saling tuding.

Padahal, saling tuding antar manusia belum ada cabang olahraganya. Yang ada baru saling pukul, saling tendang, saling banting😀

Yang terakhir adalah bully.

Tidak semua pengguna media sosial itu paham etika pergaulan digital. Jadi, ketika ada yang melakukan kesalahan, termasuk menyebarkan 3-H di atas, please kasih tahu baik-baik. Jangan sampai kita jadi perisak atau tukang bully karena merasa paling beretika dan paling akademis.

Ketika ada yang menyampaikan pandangan berbeda di media sosial, pahami dulu, takar dulu. Apakah Anda punya pengetahuan tentang yang dia bahas? Jika tidak, suwer, lebih baik diam.

Jika kita punya pengetahuan, perlukah pendapatnya itu dibantah atau dikomentari? Apakah bermanfaat jika kita ikut nimbrung berdebat dan memaki? Apakah berpengaruh jika kita turut memaparkan klarifikasi dan bukti?

Di layar hape kita adaaa saja akun yang hobinya menyebar kebencian. Ditenggelamkan dalam lautan rujukan seilmiah apa pun jempolnya tetap menggapai-gapai buat nge-klik share berita salah.

Sudah.

Sekarang silakan klik like dan share–pe de saja ada yang mau share😀 , biar eksis tanpa H3B #anotherhalah.

Salam takzim,

Anna Farida

—————–

WARTA:

Februari 2016 akan ada workshop ngeblog dan information literacy bersama HU Pikiran Rakyat. Kita akan belajar perbedaan jurnalisme dan jurnalisme warga, berlatih mencari rujukan yang benar sesuai kaidah pemberitaan yang layak, hingga aspek hukum yang wajib diketahui para blogger.

 

GRUP TETANGGA SEBELAH?

calvin_and_hobbes

wikispaces.com

Saya 98% yakin, Anda pernah baca informasi seperti ini:

$%#@$^^&*^%$#

$%#@$^^&*^%$#

… dan seterusnya dan selanjutnya …

(dari grup sebelah) atau (dari grup tetangga)

 

Sebelah mana? Tetangga siapa?

Sabtu lalu saya merumpi bersama pengurus Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) dan membahas sejumlah program untuk mengompori ibu-ibu agar kian rajin menulis. Selain dikompori, anggota akan diajak kembali belajar prinsip-prinsip sederhana saat mengutip sebuah sumber informasi termasuk menyebarkannya. Biar enggak malu-maluin nyebar berita hoax!

Pakai daster yes, nyebar berita bohong no!

Di Sekolah Perempuan, saya pernah ngomel bawel wel wel, memperingatkan alumni agar tidak sampai bikin Julie Nava cari nyiru buat tutup muka. Soalnya dialah mentor yang mengajarkan materi riset dalam menulis, termasuk melacak rujukan dengan cara yang benar.

Lha, sekarang lain lagi.

Saya ikut dan diikutkan dalam beberapa grup Whatsapp dan Facebook. Bukan sepuluh dua puluh kali saya dapatkan informasi yang sumbernya dari grup sebelah atau grup tetangga. Celakanya, saya juga pernah latah membagikan informasi dengan menyebut tetangga sebelah itu. Sekarang sudah tobat.

Mengapa tren ini muncul, ya? Mengapa tidak sebut saja sumbernya, dari Grup Menyanyi Riang, misalnya. Malas? Mau cepat? Atau sudah dianggap biasa?

Coba cek, deh. Jika Anda punya waktu luang, lakukan eksperimen ini. Saya minta Anda karena saya emoh melakukannya.

Misalnya Anda dapat info tetangga dari A tentang cara cepat langsing dengan jus durian #halah. Minta A bertanya kepada grup tetangga itu, apa sumber atau rujukannya.

Anggap saja yang menyebarkan info di grup tetangga itu adalah B. Berdasarkan kesotoyan saya, besar kemungkinan B akan menjawab “dari grup sebelah”.

Jika B bertanya kepada C di grup sebelah itu, C akan menjawab dari grup tetangga sebelah.

Berikutnya, kata D dari tetangganya tetangga atau mertuanya tetangga. Demikian seterusnya hingga Z, mungkin kembali A mungkin juga pindah ke A-2.

Jus durian pun sukses menjadi travelling theory.

 

Kan saya tidak menyebarkan kebencian? Kan hanya menyebarkan quote atau gambar yang memotivasi?

Walau tujuannya baik, caranya tetap harus benar.

Sederhana saja, Buk. Suwer tidak ribet.

Sebarkan kebaikannya, sebutkan sumbernya. Itu hanya setitik upaya untuk peduli, kok.

Sebut saja namanya, “info dari Mas Edward dari Grup Penggemar Tahu”.

Dengan cara ini, Mas Edward akan dapat apresiasi, sekaligus waspada. Karena sadar namanya akan disebut sebagai sumber berita, dia akan lebih hati-hati dengan isi berita yang disebarkannya. Ini harapan imajinatif saya yang dangkal—kasihan banget, sudah imajinasi, dangkal pula haha.

Kemungkinan lainnya, orang yang jadi sumber beritanya memang bertujuan merusak dan menyebarkan kerusakan. Tentu dia tak ingin namanya disebut dan memilih sembunyi di rumah tetangga sebelah tadi.  Masa jempol Anda ikut-ikutan mendukung kejahatannya?

Tapi saya yakin itu bukan Mas Edward – ini ngomongin apa, sih?

Jadi gitu, ya, Buk.

Mulai saat ini kita biasakan menyebut nama siapa pun yang menyebarkan berita apa pun. Atau setop saja, deh, menyebarkan berita yang rujukannya tetangga sebelah itu.

Sambil promosi, saya punya grup kuliah via Whatsapp tentang parenting dan pernikahan (nggaya, pakai nama kuliah—biarin), dan adminnya galak bener. Dia melarang anggota menge-post berita salin-rekat alias copas dari grup lain.

Jika Anda mau berbagi informasi, ceritakan saja apa isinya, jangan di-copas mentah-mentah. Setidaknya ada usaha sedikit untuk mencerna sebuah berita dan menuliskannya sesuai pemahaman sendiri.

Hal sederhana ini juga setitik upaya untuk menjaga generasi berikutnya, lho.

Ngeri banget membayangkan anak-anak kita jadi generasi copas dan generasi tetangga sebelah.

Catatan: Banyak yang tanya, tulisan ini boleh di-copas tidak?
Ya boleh, lah. Siarkan seluasnya, sebutkan sumbernya. Jika ada yang keberatan kan tinggal jitak saya😀

Saya siarkan tulisan ini dan kabur segera, takut juga kena jitak penyuka tetangga sebelah ahahah.

 

Salam takzim,

Anna Farida

ROMO MAGNIS: tiga catatan akhir 2015

Frans_magnis_suseno

sumber: id.wikipedia.org

80 tahun dan tulisannya masih jernih, tak bikin jera.

Hari ini, ujung 2015, melalui grup Whatsapp, saya membaca tulisan Romo Magnis di Harian Kompas. Saya mengenal Franz Magnis Suseno melalui buku-bukunya, dan bertemu tahun 1995-an. Saat itu Himpunan Mahasiswa Islam mengadakan training—entah training apa saya lupa, HMI kan memang doyan bikin training.

Saya bertugas menjemput Romo di Stasiun Hall, dan langsung mengenalinya begitu pertama kali melihatnya.

Dengan posturnya yang menjulang, dia berjalan tegap sambil menenteng tas dan payung hitam panjang di kedua tangannya—mana kanan mana kiri saya lupa. Begitu dia mendekat, terlihatlah bros salib kecil di kerah bajunya. Mana kanan mana kiri saya juga lupa—ini nulis kok banyak lupanya.

Hari ini Romo Magnis menulis di koran Kompas. Tulisannya jernih, tentu tidak seperti tulisan saya yang berhamburan kebanyakan iseng. Can’t be helped, what to to do, kata Ubit.

Romo membuka tulisannya dengan mempertanyakan konsep revolusi mental dan menyambungnya dengan kalimat ini, “Bahwa kita memerlukan sebuah revolusi mental untuk keluar dari rawa mediokritas, kemalasan intelektual, kecengengan emosional, kedangkalan spiritual, kebrutalan dogmatisme, dan dari belenggu-belenggu prasangka dan kecurigaan yang menyandera bangsa sulit disangkal.”

Menurut Romo Magnis, sebagai refleksi akhir tahun, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah budaya kekerasan. Selain kasus tawuran, pengeroyokan, dan penindasan, Romo menyebut kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Masih saja ada kalangan yang dipaksa untuk menjalankan atau untuk tidak menjalankan ibadah tertentu bahkan dianggap sesat jika keyakinannya berbeda dengan “kebanyakan”.

Yang kedua adalah bebas dari rasa takut. Masih terkait tentang kebebasan beribadah, disebutkan bahwa masih ada orang yang hidup dalam ketakutan karena keyakinan religius dan tata cara ibadahnya tidak disetujui kalangan lain. Para tokoh agama pun ditantang untuk bersikap, di mana mereka berdiri. Ibadah itu kan hak yang sangat personal antara manusia dan Tuhan. Masa mau direcoki oleh orang lain. Pulang ke akhirat juga sendiri-sendiri, kan?—eh tentu Anda tahu bahwa dua kalimat terakhir itu omelan saya.

Yang ketiga adalah korupsi.

Lha, ini yang harus dipangkas habis!

Beragama atau tidak, koruptor itu menyebalkan dan wajib diberantas. Sayangnya, kita masih saja disuguhi drama tidak lucu tentang pemberantasan korupsi di Indonesia. Dua minggu yang lalu televisi masih menyiarkan aneka keributan terkait isu korupsi. Sekarang mana?

Kasus satu demi kasus menguap tanpa kita ketahui (saya saja kali, yang tidak tahu, ya? Wong yang sering ditonton acara got talent melulu, itu juga acara tahun lalu yang sudah jelas pemenangnya—nah mulai ngelantur) Peduli amat dengan komentar masyarakat, apalagi masyarakat seperti saya yang pintarnya mengoceh atau bahasa kerennya berwacana di media sosial. Hari ini teriak-teriak tentang pendidikan berkualitas, besok mamerin foto narsis tak keruan atau nebeng narsis ke anak ahaha.

Haish, setop.

Kita sedang serius, ini.

Tiga hal di atas masih jadi catatan besar hingga tahun-tahun ke depan. Saya yang ibuk-ibuk dan mengajar ibuk-ibuk ini pun perlu menyempatkan diri untuk berpikir melampaui cucian piring dan keranjang setrikaan. Yang berlangsung di sekitar kita saat ini, di negara kita, sangat menentukan kualitas hidup anak-anak kita hari ini dan kelak.

Jadi, peduli adalah pilihan terbaik.

Begitulah renungan akhir tahun ini. Sejatinya saya hendak menulis tentang hal lain, tapi rasanya tulisan Romo Magnis ini lebih penting saya bagikan duluan.

Semoga bermanfaat

Disiplin Positif Bagi Remaja: Bisa?

Sebelum merumpi, mari bernostalgia sejenak.

Ingat waktu anak masih bayi? Ingat waktu dia belajar jalan? Kita harap-harap cemas, ingin jadi orang pertama yang menyaksikannya menapakkan kaki sendiri. Mula-mula kita menuntunnya, berjalan bersamanya, mengikuti irama langkahnya. Otomatis kita bungkukkan punggung, dan pegal-pegal sesudahnya. Tapi tak kapok juga, kan? Besok diulangi lagi. Lagi dan lagi.

Ketika genggaman mulai kita lepaskan, kita tahu bahwa mungkin dia akan jatuh. Tapi di saat yang sama kita percaya bahwa jatuh adalah bagian dari proses belajar.

Kita serukan pujian, “Yuk! Bisa. Ayo, jalan ke Mama. Tenang, Ayah jagain …”

Ketika dia lelah, kita akan menunggunya, kadang menggendongnya. Tak pernah kita memaksanya, karena yakin bahwa pada saatnya dia akan berjalan juga.

Kita percaya.

Sambil menunggunya siap kembali, kita desain rumah dan teras sebagai tempat latihannya. Kita amankan pernik yang bisa berbahaya. Tangga ditutup, meja berujung runcing diplester, taplak dieliminasi. Kursi ditata sedemikian rupa agar bisa jadi pegangan—kita bangunkan lingkungan yang membuatnya bersemangat sekaligus aman. Ketika dia makin lincah bergerak, tata letak barang di rumah pun diubah lagi. Kita jadi interior designer yang bekerja penuh cinta.

Sekarang …

Kita punya remaja. Ke mana pegangan yang pernah kita rancang itu? Apakah kita kunci karena rasa takut? Atau kita perpanjang ukurannya demi mendukung tumbuh kembangnya?

Kita tahu, tibalah saat untuk mulai melepasnya, tapi di saat yang sama kita ragu apakah dia akan baik-baik saja. Bagaimana jika dia tersandung dan jatuh, sedangkan kita tak lagi di sisinya dan menggenggam tangannya?

Aduh, jadi mellow, gini.

Dalam berbagai buku dan pendapat ahli tumbuh kembang kita belajar bahwa saat memasuki masa remaja, anak cenderung mulai ingin menemukan diri sendiri dan melepaskan diri dari “penjagaan” orang tua. Padahal, sebenarnya mereka masih sangat memerlukan panduan, termasuk dalam mendisiplinkan diri sendiri.

Mereka sendiri merasa, saat masih anak-anak, disiplin lebih mudah diterapkan. Orang tua masih pegang peran besar, anak ikut mematuhi. Jika terjadi kesalahan, orang tua lebih mudah memaafkan dan segera mengambil alih tanggung jawab – ini umumnya, lho, ya.

Kini, mereka telah remaja.

Disebut dan diperlakukan sebagai anak-anak jelas tak mau lagi. Diminta bersikap sebagai orang dewasa pun masih gamang. Jadi disiplin yang seperti yang yang cocok?

Dalam pengasuhan, kita mengenal istilah positive discipline atau disiplin positif. Secara sederhana, ciri-cirinya adalah:

  • Disiplin ditujukan untuk mengatur perilaku agar anak mengerti mana yang salah dan yang benar
  • Anak menjadi subjek. Mereka tahu bahwa disiplin didesain untuk kepentingan mereka
  • Disiplin positif membangun sikap percaya diri, bukan untuk menyakiti anak dengan alasan apa pun
  • Disiplin bukan alat pangkas kepentingan anak atau senjata untuk melindungi kepentingan orangtua

Bagaimana menerapkannya?

  • Awali dengan membuat kesepakatan dengan anak tentang aturan yang hendak diterapkan
  • Sampaikan pendapat orang tua, simak dan apresiasi pendapat anak
  • Perjelas mana aturan yang tidak dapat diganggu gugat, jelaskan mengapa
  • Pilih intonasi, bahasa tubuh, dan waktu yang pas
  • Pilih kalimat positif
  • Berikan waktu pribadi untuk masing-masing anak
  • Jika anak memperlihatkan komitmen, berikan apresiasi
  • Jika terjadi pelanggaran, cari solusi bersama, bukan selalu hukuman. Ajak dia untuk mencoba lagi dan lagi.
  • Tegas, dan di saat yang sama tetap ramah.
  • Jadilah teladan. Jadilah orang pertama yang komitmen pada hal yang telah disepakati — ini tantangan bagi kebanyakan orang tua, hehe.
  • Sabar, perlu waktu – ini jauh lebih menantang, ehm!

Bagaimana menjaganya?

Rapat keluarga dan membahas aturan bisa sangat menyenangkan. Bagian yang tricky adalah menjaga konsistensi saat menerapkannya. Terkait penerapan aturan, sejujurnya, remaja masih tergantung pada orang tua. Perilaku orang tua akan menjadi cermin dan rujukan mereka dalam bersikap.

Ketika orang tua melanggar aturan lalu lintas, misalnya, remaja akan melihatnya sebagai referensi. Awalnya mereka ragu, apakah ini benar atau salah.

Jika sesuatu yang salah menjadi kebiasaan, bukan mustahil jadi kebenaran bagi mereka. Saat pengetahuan mereka kian berkembang, dan menemukan bahwa ternyata orang tua melakukan pelanggaran, lunturlah kepercayaan.

Rasa tak percaya ini akan merembet ke aspek kehidupan yang lain.

Tak heran jika remaja mulai mencari patron dan teman lain yang lebih fair, teman yang tidak melulu berwacana tentang kebaikan namun di saat yang sama melanggar peraturan tanpa sungkan.

Konsistensi.

Inilah benteng pertama sekaligus utama dalam membangun perilaku disiplin bersama remaja. Semoga Allah menggenapkan yang tercecer dalam upaya pengasuhan kita.

————————-

Anna Farida, kepala Sekolah Perempuan, penulis buku-buku pendidikan keluarga. Karyanya bisa dilihat di www.annafarida.com

Makalah ini disampaikan dalam seminar orang tua tanggal 21 November 2015 bertema Save The Children With Helmet. Program SELAMAT – Save The Children – Yayasan Sayangi Tunas Cilik – SMPN 14 Bandung – Komite Orang Tua Kota Bandung.

#ngaku: Makalahnya serius biar nggaya, padahal presentasinya curhat-curhatan seperti biasa😀