Belajar Second Life di Sekolah

why SL

Saat ini saya sedang mempelajari salah satu platform tiga dimensi bernama Second Life. Yang membuat saya tertarik untuk menekuninya adalah fasilitas pendidikan virtualnya.

Unsur “fun” yang juga dimilikinya bisa dikemas menjadi bahan ajar yang menantang bagi guru maupun murid. Di SL, guru dan murid sama-sama belajar: bertemu dan belajar dari banyak ahli berkualitas internasional, menjelajah berbagai landmark (LM) di seluruh dunia, berbagai fasilitas yang nyaris mustahil dikunjungi di kehidupan nyata (Real Life–RL) seperti NASA atau Abyss Observatory.

Sejauh yang saya temui, para pelaku SLED (Second Life for Education) adalah orang-orang yang ramah dan sangat mau berbagi ilmu. Salah satu kurator Abyss, Hajime Nishimura (pimpinan JapaneseAgency for Marine Earth Science and Technology—JAMSTEC di dunia nyata) dengan murah hati menyediakan waktu bagi siapapun yang berminat belajar. Begitupun dengan para ahli maupun praktisi pendidikan yang lain. Kebanyakan dari mereka selalu berkata, “IM me anytime I’m online.”

Komunitas SLED Indonesia juga mulai aktif menjalin komunikasi dan saling berbagi ilmu.

Jadi, hari ini saya mengajak anak-anak belajar Second Life.

Sebenarnya batas minimal pengguna SL adalah 18 tahun. Sebagaimana jejaring sosial pada umumnya, Second Life menyajikan semua jenis LM: mulai dari yang dianggap suci seperti Ka’bah, hingga LM tak pantas yang mesti dijauhi. Karenanya, saya memutuskan untuk mengajak murid-murid saya (kali ini usia SMP) membuat account dari email saya. Dengan demikian, saya tetap bisa memantau perkembangan mereka di SL.

Walau sebenarnya SL ini bukan game, tapi aura game-nya memang terasa sekali. Melalui avatar yang mereka dandani sendiri, anak-anak merasakan kehadiran diri mereka di berbagai LM. Itulah yang membedakan SL dengan distance learning yang lain.

Ketika perpikir hendak mengajarkannya, semula saya ragu. Saya menghabiskan dua minggu lebih di SL hanya untuk membuat avatar bergerak natural. bahu kanan saya pegal, daya yang sama sekali bukan gamer sangat gagap. Tetapi, saat diyakinkan oleh fakta bahwa anak saya yang 9 tahunpun bisa dengan mudah belajar, saya nekat mencobanya di sekolah.

Ternyata keraguan saya tidak terbukti. Dengan sigap anak-anak menerima instruksi singkat saya, dan segera ribut dalam hitungan menit. Semua berteriak senang, dengan antusias saling melihat layar monitor teman. Anak-anak perempuan ramai sekali meminta saya mengirimi baju untuk mengganti kostum avatar mereka. Anak-anak laki-laki juga tak mau kalah. “Car factory, Ms?” Mereka ribut mau melihat pabrik motor dan mobil, lapangan bola… Hmmh… Pabrik mobil? Saya tak pernah memikirkannya sebelum ini.

Saat koneksi internet melemah dan SL terpaksa crashed, saya mengajak mereka berbincang tentang kesabaran. Ketika avatar mereka tidak bisa tampil sempurna di monitor, saya ajak mereka diskusi tentang perlunya jaringan teknologi informasi yang layak di sekolah. Saat SL berhasil kembali log in dengan lengkap, mulailah mereka gaduh lagi.

anak-anak berbincang dengan Fatema dari Mesir

anak-anak berbincang dengan Fatema dari Mesir

Ini hari pertama, dan beberapa murid saya berhasil berteman dengan seseorang yang mereka temui di LM Islam Online. Mereka bercakap-cakap melalui text chat, dengan bahasa Inggris nekat, bahkan ada anak yang hanya menjawab setiap pertanyaan dengan jawaban “yes.” Biarlah, yang penting berani dulu🙂

Pembelajaran seperti ini memang lumayan menyita energi di awal, sebagaimana ketika saya mengajarkan blogging. Saya harus mondar mandir melayani setiap teriakan, “Ms. Anna…Ms. Anna….Ms…”

Berikutnya tinggal memantau, memperkaya, dan mengevaluasi.

Minggu depan kami akan belajar basic building. Belajar membuat benda tiga dimensi, yang konon baru dipelajari mahasiswa jurusan arsitektur semasa saya kuliah dulu. Thanks to Ines Setiawan (SL: Ines Ogura) atas inspirasinya.

So, please add annafarida Maggiore at Second Life.

Why not?

4 thoughts on “Belajar Second Life di Sekolah

  1. mba anna, sy baru masuk sl dikenalin mba lala. masih bingung2 hehehe…
    oya, mba anna avatarnya berkerudung ya? tar ajarin saya ya, sy masih pake avatar bawaan sl.
    add saya ya: ayasofa huckleberry ^_^!
    makasih banyak, senang menemukan blog nya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s