Kemampuan Menulis Anak Rendah (?)

write by science news dot org

write by science news dot org

Hari ini, sebelum masuk kelas, saya berbincang dengan Bu Neneng, guru sains di sekolah tempat saya menjadi guru tamu. Dia kian terlihat cantik dengan kehamilannya yang masuk bulan ke-lima. Obrolan kami bermula dari belajar Second Life, kurikulum Diknas yang sangat padat, dan kemampuan menulis anak.

Sebenarnya, memang isu ini yang ingin saya bahas dengan sekolah. Dua minggu berlalu setelah saya mengajarkan blogging kepada anak-anak, hanya satu anak yang posting tulisan baru.

Menurut Bu Neneng, kemampuan menulis yang digariskan oleh Diknas untuk kelas 7 (kelas 1 SMP) adalah 250 kata. Dan untuk memenuhi syarat minimal itupun, anak-anak mengeluhkan banyak hal:

  • Tidak ada ide
  • Capek nulis
  • Tidak biasa
  • Susah
  • Ngetiknya lama
  • Bete
  • Bosan
  • and the list goes on…..

Bagi anak yang tidak terbiasa menulis, 250 kata itu bisa jadi mimpi buruk. Menelusuri penyebabnya bagaikan berjalan keliling dalam labirin tak bertepi. Lebih sulit daripada menjawab pertanyaan “Mana lebih dulu, telur atau ayam”.

Labirin itu adalah:

  • Siapa yang membuat anak segan menulis?
  • Apakah sekolah sudah memiliki program yang pas bagi anak agar mampu menulis?
  • Apakah memang anak itu harus menulis?
  • Sejak kapan anak seharusnya diajak menulis?
  • Dengan cara bagaimana?
  • Kapan anak diperkenalkan pada kaidah bahasa?
  • Belajar kaidah dulu atau menuangkan ide dulu?
  • Bagaimana cara memancing ide anak-anak?
  • (Bagi guru) bagaimana mengevaluasi dan memperkaya tulisan anak?
  • Bagaimana dengan target kurikulum

Dan labirin itu kian berkelindan tak tentu ujung lorongnya. Kian kita urai, kian banyak cabang gelap yang tercipta.

Bagi saya, labirin itu berasal dari sikap underestimate saya kepada anak-anak. Padahal anak-anak tidak ada kaitannya dengan labirin palsu itu.

Jika saya bisa menanamkan keyakinan bahwa setiap anak pasti bisa menuangkan gagasannya menjadi tulisan, maka mereka pasti bisa. Keyakinan saya itu akan terlihat dalam ucapan dan perilaku saya. Ketika berhadapan dengan saya, anak jadi percaya diri dan bebas menulis apa saja—sebanyak atau sesedikit apapun—tanpa harus tahu bahwa banyak guru dan pembuat kebijakan pendidikan yang ragu memilih lorong mana dalam labirin tadi.

Saya juga tak perlu menunggu dinobatkan menjadi penulis besar untuk bersemangat mengajak anak-anak berani menulis.

Dear teachers, if you think they can, they can!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s