Qaisra Shahraz Bertutur tentang Pendidikan

shahraz by contemporarywriters.com

shahraz by contemporarywriters.com

Tadi siang, di masjid raya Mujahiddin Jl. Sancang Bandung, aku turut larut bersama sekitar lima ratus peserta kuliah umum yang kebanyakan guru. Excellence in Teaching and Learning, begitu temanya. Dengan putri kecilku menggantung di pundakku, aku duduk di deretan paling depan, di sayap samping kanan. Sang novelis, Qaisra Shahraz, didampingi penerjemah dan seorang penyiar radio sebagai moderatornya, mulai berbagi pandangan tentang pendidikan.

Penulis asal Pakistan ini tumbuh dan menetap di Inggris. Orangnya tinggi, rambut berombak tergerai (entah apa warnanya: pirang atau kemerahan?), cantik dan mancung khas. Dengan jabatan bergengsi yang dimilikinya itu, Qaisra tampil begitu bersahaja dengan tunik (begitukah kalangan fashion menyebutnya?) serta selendangnya. Gaya bicaranya penuh percaya diri, laiknya guru berpengalaman.

Tugasnya sebagai British Ofsted Inspector, Education Consultant dan Teacher Trainer membuatnya kompeten membahas supervisi pendidikan. Begitu banyak idealisme yang dibagikannya di siang hari itu. Sayang tak semua berhasil kuserap. Putri cantikku tak mau ketinggalan mengajukan “usul” ini dan itu. Belum lagi suara berdengung suara peserta yang mayoritas ibu-ibu guru, juga sibuk saling berbisik membahas entah apa.

Kembali ke Qaisra. Saat menjalankan tugas supervisi ke suatu sekolah, kualifikasi guru selalu menjadi bahan pertanyaannya: apakah tingkat pendidikannya, apa spesialisasi ajarnya, berapa sering guru mengikuti training pendidikan dan seberapa besar pengaruh training tersebut dalam meningkatkan kualitas ajarnya. Menurutnya, guru mesti selalu di-update melalui banyak training untuk memperkaya wawasan dan memelihara antusiasme dalam mengajar. Jelas sekali penulis Perempuan Suci dan Perempuan Terluka ini begitu percaya bahwa guru merupakan ujung tombak pendidikan. Teachers are great people. Without you, education will be nothing, ujarnya. Hadirinpun bertepuk riuh.

Selanjutnya, Qaisra menjelaskan tugasnya sebagai penyelia pendidikan di Inggris. British OfSted mengawasi pelaksanaan semua jenjang pendidikan di Inggris, Lembaga ini milik pemerintah dan tentunya dibiayai pemerintah. Mungkin bisa disamakan dengan salah satu fungsi supervisi Depdiknas di Indonesia (iyakah?). Saat melakukan supervisi kelas, dia akan duduk setidaknya satu jam. Tiga hal yang dilakukannya adalah Melihat: apakah yang diajarkan guru, apakah murid belajar sesuatu. Mendengar: apa yang disampaikan guru, dan bagaimana respon maupun aktivitas murid. Membaca: rencana pembelajaran yang disusun guru, dan hasil pekerjaan murid. Tak ketinggalan, Qaisra juga memeriksa daftar hadir murid. Jika data kehadiran cenderung tidak lengkap, dipastikan ada masalah dalam pembelajaran (entah dari pihak guru maupun murid).

Berikutnya, pembelajaran dikatakan berhasil apabila murid—seratus persen murid, tak kurang—benar-benar mempelajari sesuatu. Guru harus memiliki catatan kekuatan dan kelemahan masing-masing murid, dan menggunakan bahan maupun metoda ajar yang bervariasi. Menurut Qaisra, kunci utama pembelajaran adalah lesson plan yang benar dan detail. Dengan perencanaan yang baik, guru bisa menciptakan suasana belajar yang kondusif, yaitu dengan:

a) Memberitahukan topik apa yang akan dipelajari hari ini dengan jelas (tuliskan di papan tulis, beritahu murid secara lisan)

b) Instruksikan apa yang bisa dilakukan murid untuk mempelajari topik tersebut.

c) Berikan tugas-tugas (di sekolah maupun di rumah) yang menantang. Arahkan murid untuk berinteraksi aktif dengan guru dan kawan-kawannya.

d) Lakukan evaluasi dengan bertanya: apa yang sudah dipelajari hari ini, dan sampaikan materi untuk pertemuan berikutnya.

Last but not least, suasana kelas yang membuat murid banyak belajar hanya bisa diciptakan oleh guru yang mencintai pekerjaannya, dan mencintai murid-muridnya. Qaisra sendiri seorang guru. Dia tahu betul bahwa mengajar adalah pekerjaan yang berat. Namun jika profesi ini didasari oleh cinta, guru akan menjadi figur yang penuh antusiasme dalam memfasilitasi muridnya belajar. Antusiasme itulah yang akan terpancar dan menyengat murid-muridnya. Murid bagaikan cermin. Jika guru tersenyum, mereka tersenyum. Guru tertawa mereka tertawa. Guru antusias, mereka antusias.

Hm….. apa lagi? Aku hanya menyimak, tanpa catatan tanpa rekaman. Rasanya tadi siang aku begitu yakin bisa mengingat semuanya. Kini, lagi-lagi aku sadar bahwa daya ingatku perlu kulatih lebih sistematis lagi. Meskipun begitu, aku bahagia. Qaisra berhasil menularkan optimismenya kepadaku. Menularkan kecintaannya pada pendidikan, menularkan penghormatannya pada guru. Sungguh perempuan yang istimewa.🙂

Bandung, 8 Februari 2008, posting ulang dari annafaridaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s