Liputan Bincang Edukasi #5

Berikut ini sharing santai saya tentang Bined #5. Artikel ini terlanjur saya tulis dengan gaya santai dan saya post di blog pribadi, hehe… semoga berkenan

Ka-ki: Susan, Dhitta, Aku, Sanny

Ka-ki: Susan, Dhitta, Aku, Sanny

Sabtu, 17 Maret 2012. Berlokasi di Boeminini Edupreneur Center, Jl Purnawarman 70 Bandung, Bincang Edukasi menghadirkan suasana sumringah dan memercikkan bara di hatiku.

Betapa tidak, empat pembicaranya adalah orang-orang bukan hanya punya semangat tapi juga dedikasi pada pendidikan. Masih muda-muda, dan menularkan greget untuk berbuat kebaikan.

Ketika aku sampai—sedikit terlambat karena yang mau nganter susah banguuuun— Ammy Ramdhania, teman bertengkarku, sudah duduk manis di sana.

Tak lama kemudian, pembicara pertama dipanggil. Dhitta Puti Sarasvati. Aku mengenalnya secara virtual di Ikatan Guru Indonesia, dan senang bisa bertatap muka. Dia bertutur sepenuh hati tentang aktivitas mengajar yang ditekuninya. Mataku basah tak tertahan ketika Puti bercerita sambil berusaha menguasai tangisnya, tentang anak-anak didiknya yang berulang kali gagal lulus ujian nasional. Peristiwa itu sudah bertahun-tahun yang lalu, tapi sesuatu yang pernah kita lakukan sepenuh hati, tak akan mudah pergi.

Banyak anak yang menerima stigma “bodoh” dari orang-orang yang seharusnya mengayomi mereka. Banyak anak yang terabaikan hak pendidikannya. Mereka tak melulu minta dibela dengan demonstrasi dan suara lantang mengecam pemerintah. Sebuah kerja nyata adalah kemestian. Karenanya, Puti dan teman-temannya memilih untuk berbuat.

Saat ini, selain mengajar, dia aktif membina Rumah Mentari bersama relawan yang lain. Di sana, anak-anak yang “terpinggirkan” punya rumah untuk belajar.

Pembicara berikutnya adalah Kandi Sekarwulan. Wow… masih mahasiswa, rupanya. Gerakan yang diusungnya bersama teman-temannya diberi nama Komunitas Sahabat Kota. Kegiatannya adalah memberikan edukasi—terutama kepada anak dan remaja—tentang kota dan berbagai aspeknya. Bagi Kandi dan teman-teman, kota tidak selalu identik dengan kemacetan, kesemrawutan, serta ritme hidup yang terburu-buru. Bagi mereka, kota tetap bisa—atau memiliki peluang—untuk jadi tempat yang ramah bagi penghuninya.

Program yang mereka gelar banyak bersentuhan dengan sudut-sudut kota yang tak lazim disentuh. Dengan berbagai trik menarik, mereka ajak anak-anak untuk mengenal kotanya, dan memicu kemauan mereka untuk berbuat demi kota yang lebih nyaman, berkualitas, dan manusiawi. Kandi mencontohkan program bermain di pasar—belajar berbincang dengan penjual, menyusuri sungai—dan melakukan aksi bersih, hingga mengunjungi sekolah-sekolah untuk menyebarkan kepedulian.

Saat Bincang Edukasi berlangsung, Komunitas Sahabat Kota tengah mengadakan acara Jelajah Jembatan Layang Pasupati untuk anak-anak. Mereka berkegiatan di sana, mengamati sekeliling, berbicara tentang polusi, dan belajar mencari solusi alternatif untuk kota ini.

Pembicara ke tiga adalah Kolaborasi Cozy Street Corner – Save Our Music & Karina Adistiana (Anyi) dari gerakan Peduli Musik Anak.

Seru sekali presentasi yang ini, karena yang didaulat tampil selama tujuh belas menit bukan hanya Anyi, tapi juga sajian lagu-lagu unik dari Cozy Street Corner.

Kami bukan hanya belajar bahwa musik itu tidak melulu bahan hiburan dan dagangan, tapi juga belajar berbicara dengan anak-anak melalui musik. Gerakan Peduli Musik Anak ditujukan kepada orangtua, dengan tujuan membekali orangtua tentang musik yang benar dan layak untuk anak.

Menurut Anyi, musik yang baik bukan hanya enak dinikmati, tapi juga bisa mengajak hati kita berkomunikasi—dan akhirnya meninggalkan jejak perubahan yang baik.

Rangkaian pembicara Bincang Edukasi ini ditutup oleh Andi Sutioso dari Rumah Belajar Semi Palar. Dengan gaya Sunda-nya yang santai, dia bercerita tentang komunitas belajar yang diasuhnya bersama beberapa rekan.

Semi Palar mengajak anak-anak yang belajar di sana mengalami pendidikan yang holistik. Mereka diajak untuk memiliki pengalaman belajar yang nyata. Misalnya, pak Andi mencontohkan, ketika belajar menanam jagung, ajaklah mereka berdoa agar jagung itu subur. Beri kesempatan untuk anak-anak dari berbagai agama mengekspresikan doa melalui cara masing-masing. Beri ruang kepada mereka untuk saling menghargai perbedaan, karena menjadi manusia yang empatik tak bisa diperoleh melalui teori semata.

Nah…

Setelah semua pembicara berbagi, acara dilanjutkan dengan tanya jawab.

Ada seorang penanya yang sempat membuatku terpesona. Seorang siswi SMU berkisah tentang pengalamannya mengajar di sebuah sekolah dasar.

“Murid-murid saya itu kaku saat diminta bertanya atau berpendapat. Usut punya usut, ternyata mereka memang dibiasakan untuk diam dan tidak banyak bicara. Mereka merasa bahwa pendapat mereka tidak dihargai. Saya ajukan usul kepada bapak ibu guru agar mereka diberi kesempatan berekspresi…”

Ah, anak semuda itu, remaja sebelia itu, sudah punya passion berbagi dan prinsip pembelajaran yang manusiawi. Bahasanya rapi, tutur katanya penuh percaya diri…

Benar, Indonesia masih punya harapan, kok…

Berikutnya adalah mengumpulkan ide untuk perbaikan pendidikan, dan mem-voting tiga ide yang bisa direalisasikan bersama.

Saat sesi ini pula aku bertemu dengan teman-teman pegiat homeschooling, jadi heboh sejenak dan foto-foto hehe…

Yang berhasil kutangkap dari voting itu, disepakati bahwa ide yang akan segera digarap bersama adalah mendirikan perpustakaan di daerah terpencil, mengadakan komunitas belajar untuk para ibu, dan hipnoparenting atau hipnoteaching atau apa gitu aku tak yakin… maaaf…

Akhirnya acara benar-benar harus ditutup dengan pembagian VCD Yo Mari Berdendang dari Peduli Musik Anak… gratis tentu saja—terima kasih :-)

Aku berpamitan kepada teman-teman yang kukenal—mana mungkin pamitan ke semua peserta—dan meluncur mencari tempat untuk menyelesaikan beberapa naskah bersama Ammy.

Sekian… kembali meluruskan punggung.

*Niatnya sih pasang link-link tentang para pembicara dan programnya. Mohon googling sendiri yaaa…banyak kok. Ngantuk bangeeet….*

Maaf…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s