Coursera: jaga sisi pembelajar

courseraSyarat wajib guru adalah kemauan belajar.

Syarat wajib penulis adalah membaca.

Kredo tersebut turut menjaga kualitas profesi yang hingga kini saya tekuni. Saat saya mengajar di Sekolah Perempuan, menulis buku, dan menjadi trainer di berbagai pelatihan editing, belajar dan membaca itu nyawa. Tanpa keduanya, saya bisa kehabisan bensin untuk terus berkarya.

Namun demikian, bagi saya yang sok sibuk ini, sekadar belajar di antara padatnya aktivitas bukan hal mudah. Saya perlu kondisi yang bisa menjaga displin dan konsistensi agar proses belajar terukur dengan jelas. Saya juga perlu tenggat agar kegiatan belajar menjadi hal yang memacu semangat. Maklum, penulis kan pekerjaannya mengejar tenggat. Sudah jadi irama hidup, hehe…

Karenanya, ketika seorang teman memperkenalkan Coursera, saya langsung berpikir, this is it! Kursus online ditawarkan berbagai perguruan tinggi ternama dunia, dengan pilihan materi yang sangat beragam. Gratis. Saya heboh melihat banyak mata kuliah pendidikan yang selama ini saya idamkan. Materi disajikan melalui video presentasi pengajar, lengkap dengan salindia, sehingga saya tak perlu keluar rumah. Cocok benar untuk ibu yang masih punya anak-anak kecil seperti saya.

coursera partnersDurasi kursus bervariasi, mulai empat sampai belasan minggu. Kurikulumnya jelas, bahan bacaan tak terbatas, target penguasaan materi per minggu urut, dan sistem penugasannya bervariasi dengan tenggat yang pasti. Evaluasi diberikan dalam bentuk kuis mingguan, penulisan esai, presentasi, dan pengerjaan proyek tertentu sesuai kursus yang diambil. Bukan main. Yang paling menantang, saya harus berkompetisi dengan diri sendiri!

Seperti anak sekolah yang dapat seragam baru, saya menjalani kursus pertama dengan semangat full. Materinya adalah Internet Hystory. Ah, mudah, saya pikir. Membaca silabusnya saya yakin bisa membabat kursus ini dengan mudah. Ternyata nol besar. Saya kelabakan menghadapi tenggat yang selalu bikin kaget—lho, kok tiba-tiba sudah akhir pekan. Wah, kok materi ini belum sempat saya simak, buku itu belum sempat saya baca. Yah, saya sudah tidak bisa setor tugas. Aduh, saya jelas gagal. Materi yang saya anggap enteng ternyata tak bisa saya tuntaskan. Beberapa kursus berikutnya juga berakhir sama, rontok di tengah jalan—bahkan ada yang tak saya jalani sama sekali. Malu, ih, semangat enroll doang.

Kecewa?

Ya. Saya kalah melawan diri sendiri, tak sukses mengelola waktu sendiri. Saya guru, tapi bukan contoh yang laik.

Patah arang?

Never. Saya tantang diri saya lagi dan lagi. Ada teman yang punya bayi dan berhasil lulus, masa saya tidak bisa. Panas, dong!

Saya mulai atur strategi. Saya pilih kursus yang durasinya relatif singkat dan silabusnya tidak terlalu padat. Kali ini saya tidak boleh rakus, ambil satu kursus saja: Foundations of Teaching for
Learning 2: Being a Teacher.

Dengan pengalaman dan kegagalan yang sudah beberapa kali, saya atur waktu. Setiap hari Selasa, kegiatan saya adalah menyelesaikan materi dan tugas Coursera. Sebelum tugas selesai, aktivitas lain wajib menunggu. Konsisten, disiplin, telaten.

Minggu demi minggu berlalu cepat, kuis berlalu, tugas bisa saya setorkan tepat waktu—kadang mepet tenggat juga, beberapa jam sebelum icon gembok terpajang. Akhirnya dengan lega saya berhasil melewati tugas terakhir. Kualitasnya bahkan jauh dari standar saya sendiri, tapi setidaknya ini langkah bagus untuk manajemen waktu saya.

Coursera teach-2Eh, kejutan! Saya lulus dengan predikat distinction.

Senang tak terkira, lebay tiada banding. Saya kabarkan berita ini melalui Facebook, dan banjir ucapan selamat membuat saya nyengir. Lha saya cuma lulus satu kursus, itu pun dengan jungkir balik, kok teman-teman saya ribut minta ampun. Hoho… itulah gunanya teman, mereka ada untuk berbagi semangat, saling mengompori, dan saling ledek di saat yang pas.

Bagi saya, mengikuti kursus di Coursera—yang lulus maupun yang gagal—adalah petualangan intelektual, emosional, bahkan spiritual. Nuansa keilmuan terpuaskan ketika menyimak materi, prokrastinasi dikendalikan, dan rasa syukur hadir atas kesempatan belajar yang masih saya peroleh. Bagi manusia, belajar adalah kemestian.

Nah… nah…

Setelah berhasil, seharusnya saya sudah lebih berpengalaman, dong.

Ya, sih, tapi pengalaman saja tidak cukup. Saya kembali mengendurkan disiplin jadwal setiap Selasa karena desakan pekerjaan yang tak bisa menunggu. Ah, alasan! Fesbukan setiap waktu masih sempat, kan? Satu kursus bahkan gagal ketika satu tugas terakhir tak sempat saya kirimkan karena lupa. Mangkel sekali rasanya.

Sekarang saya sedang menanti kursus berikutnya. Lulus sekali, gagal berkali-kali, enroll tanpa henti.

Atas semua pengalaman itu, saya merasa hidup ini lebih berisi. Belajar membuat saya tetap terbuka sekaligus rendah hati. Kabarnya, saya bisa membuat tulisan yang bagus, memberikan training editing dengan cara yang menarik, tapi terbukti masih sering gagal mengalahkan diri sendiri. Bergabung di Coursera membuat sisi pembelajar saya tetap terjaga.

Saya suka.

 

6 thoughts on “Coursera: jaga sisi pembelajar

    • Benar, Mas Said. Rata-rata materi disampaikan dalam bahasa Inggris yang standar, kok. Menurut saya sih enroll dulu, ikuti dulu, cuek saja paham sebagian juga. Tabrak dulu bahasanya, lama-lama juga biasa😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s