MENYUNTING EMPATI

editing workshop

Foto dok. panitia

Pagi itu saya buru-buru.

Ada workshop penerjemahan dan jurnalistik di Jakarta, dan saya bertugas memberikan materi penyuntingan naskah alias editing.

Bus melaju tanpa hambatan, jadi seharusnya saya tiba tepat waktu.

Tiba-tiba sopir menepikan kendaraan, dan berdiri di hadapan saya dengan sikap sopan. Ternyata dia menyapa penumpang yang duduk di belakang saya.

Terdengarlah dialog ini:

Ibu, maaf. Jadinya Ibu mau turun di mana?”

Aduh, Ibu juga belum tahu. Dari tadi nelepon belum diangkat…”

Ibu kan mau ke daerah ****?” (Saya lupa nama tempatnya)

Iya.”

Begini, Bu. Bus ini tidak akan lewat ****.”

Trus gimana?”

Lebih enak Ibu turun di Ceger. Nanti dari sana Ibu naik taksi.”

Ya sudah, gimana bagusnya saja…”

Suara ibu itu menggantung. Keraguan dan kecemasannya membuat sang sopir berpaling ke arah saya dan bertanya, “Mbak, turun di Pasar Rebo trus ke Pondok Gede, kan?”

Iya, Pak,” sahut saya.

Ibu ini mau turun di Ceger. Tapi saya hanya bisa berhenti di perlintasan jalan tol. Ibu ini harus jalan kira-kira seratus meter trus nyebrang. Mbak mau nemenin?”

Dia menjelaskan bahwa turun di Ceger sama saja, dan akan ada banyak taksi di sana. Lagi-lagi saya mengangguk tak yakin. Saya tidak tahu Ceger, tidak tahu juga Pasar Rebo.

Ah, sama-sama tidak tahu, kan. Jadi saya setuju saja.

Maka turunlah kami di sisi jalan tol diiringi ucapan terima kasih sang sopir.

Ternyata ibu yang duduk di belakang saya itu sudah berusia lanjut. Kami berjalan bergandengan tangan, dan berpisah tanpa sempat berkenalan.

Kejadian singkat itu terputar ulang ketika saya duduk di dalam taksi.

Saya pernah menemukan sopir yang mengemudi ala pilot pesawat tempur di film-film. Ada pula yang merokok seenaknya di bus ber-AC, atau menelepon sambil menginjak rem semaunya.

Hari itu saya belajar dari seorang sopir yang berbeda.

Dia bisa saja menurunkan semua penumpang yang tidak punya tujuan jelas di pool terakhir. Dia juga bisa berteriak dari kursinya dan bertanya ke ibu itu, atau meminta kondekturnya untuk melakukannya. Dia juga bisa saja kasih instruksi agar ibu itu turun sendiri, tanpa repot-repot minta tolong kepada saya. Pilihannya untuk menepikan bus hanya untuk bertanya, dan tutur katanya yang santun itu sungguh mengesankan. Masih ada orang baik, masih ada harapan untuk dunia yang lebih baik.

Karakter seperti inilah yang mesti sampai kepada anak-anak kita, generasi muda kita, masyarakat kita. Sebenarnya, kita selalu punya pilihan untuk peduli.

Saya sampai di lokasi tiga puluh menit lebih lambat—untung ada acara lain yang bisa ditukar jadwalnya. Workshop berlangsung dua sesi, bermain kalimat dan paragraf dari pagi hingga sore, seru sekali.

2 thoughts on “MENYUNTING EMPATI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s