(Mas) Sugeng Riyadi

 

 

Selo, Boyolali, Jawa Tengah

Selo, Boyolali, Jawa Tengah

Suami saya orang Bugis. Pernikahan delapan belas tahun tidak membuatnya terampil berbahasa Jawa. Sama parahnya, kosakata Bugis saya juga tak lebih dari dua belas lema.

Ini Lebaran tahun ketiga di rumah Mbah Kung, kakek saya. Untuk pertama kali, suami saya ikut acara bakar ikan bersama para pemuda di desa. Biasanya dia menghabiskan waktu untuk tidur setelah jadi sopir antar kota antar provinsi. Sambil membawa sepiring peuyeum, dia berangkat bersama paklik saya, dan pulang tiga jam kemudian dengan baju berbau asap.

“Seru, bumbu ikan bakarnya enak, tapi ngantuk banget,” katanya.

Keesokan harinya, setelah salat Idulfitri dan saling bersalaman, sambil heran suami saya bertanya, “Semalam Bapak kenalan dengan banyak orang yang namanya Sugeng Riyadi. Bapak pikir itu nama laki-laki. Ternyata perempuan juga banyak yang namanya Sugeng Riyadi, ya?”

Saya bengong sejenak, berpikir beberapa detik, lalu terbahak tak tertahankan. Di antara tatapan kesalnya, saya jelaskan bahwa sugeng riyadi itu artinya selamat hari raya. Bukan nama orang! Pasti frasa itu sering dia dengar tahun sebelumnya, tapi sepintas saja. Suasana Lebaran di rumah Mbah Kung kan selalu ramai, dan biasanya kunjungan kami hanya beberapa jam. Baru kali ini suami saya berinteraksi dengan penduduk asli dalam waktu yang lebih lama.

Begitu kami pulang, kasus sugeng riyadi memburaikan tawa seisi rumah, termasuk kotek ayam yang berkeliaran. Anak-anak merdeka meledek bapaknya, sementara suami saya bersungut-sungut tanpa daya.

Pantes. Beberapa orang menunjukkan reaksi aneh semalam,” keluhnya.

Kenapa, emang?” tanya saya.

Kalau ada yang ngajak salaman sambil bilang ‘sugeng riyadi‘ pasti Bapak jawab ‘Saya Anwar’. Kan Bapak pikir dia ngajak kenalan hahaha!” akhirnya dia ikut tertawa.

Hari itu dan hari berikutnya, setiap tamu terhibur oleh “Mas Sugeng Riyadi” yang jadi wajib diceritakan berulang-ulang. Pasalnya, anak-anak bergiliran mengintai orang yang menyalami bapaknya. Tawa mereka membahana begitu frasa fenomenal itu terdengar. Mau tak mau sang tamu bertanya, “Kenapa tertawa?” dan … mengalirlah kisah itu kembali😀

Dari berbagai sumber saya temukan keterangan bahwa frasa sugeng riyadi berasal dari bahasa Jawa sugeng riyadin. Sugeng artinya selamat, riyadin adalah singkatan dari riyaya din. Riyaya artinya hari raya atau hari besar, din berasal dari bahasa Arab yang berarti agama. Jadi riyadin adalah hari raya agama (Islam). Belakangan kata riyadin jadi dilafalkan riyadi

Ngaturaken sugeng riyadi, sedoyo kalepatan nyuwun pangapunten.

Salam Idulfitri, semoga kita berjumpa dengan Ramadan lagi.

8 thoughts on “(Mas) Sugeng Riyadi

  1. Salam kenal, saya juga bugis, istri jombang. Kemaren banyak yg ngucapin gitu, ga ngerti, di WA aja blum balas, soalnya ga ngerti maksudnya Hihihihih, salam buat suami sesama sopir akap 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s