Menggagas Karakter Remaja

Teh Elsa. Saat dia masih SD, aku sudah punya anak :-D

Teh Elsa. Saat dia masih SD, aku sudah punya anak😀

“Anak saya sudah 15 tahun, tapi saya malu tanya apakah dia sudah mimpi basah atau belum. Gimana caranya?”

SMS itu masuk saat saya mengudara di acara “Resensi Buku” di Radio MQ FM 102,7, Daarut Tauhiid, Bandung, 25 Januari 2014.

Dipandu penyiar sigap yang belum lama meninggalkan masa remajanya, kami berbincang seru tentang buku “Pilar-pilar Pembangunan Karakter Remaja” yang diterbitkan oleh Nuansa Cendekia.

Buku ini didesain sebagai panduan praktis bagi guru SMP-SMA untuk menerapkan 18 + 3 karakter dalam pembelajaran. Benar, ini buku buat guru. Namun demikian, kita harus ingat bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara sekolah-orang tua-masyarakat. Jadi, panduan buat guru tentu bisa jadi panduan ortu.

Saya awali segmen pertama dengan pandangan masyarakat umum tentang remaja dan bagaimana remaja memandang dirinya sendiri.

Amati berita yang berselirak di media elektronik dan cetak. Bandingkan, mana yang lebih marak, mana yang lebih menarik untuk dibaca, kabar remaja berprestasi atau berita remaja bunuh diri.

Tanpa mengabaikan angka spektakuler yang mewakili sisi negatif remaja, kita wajib tetap berusaha membangun sisi yang lainnya, tetap mengupayakan berkembangnya karakter remaja yang mulia, kan?

Bagaimana caranya?

Pertanyaan di atas bisa jadi salah satu titik masuk yang menarik.

Foto dok. MQ FM Bandung

Foto dok. MQ FM Bandung

Rasanya, semua remaja suka membahas seksualitas—walau sambil buang muka, mereka pasti pasang telinga. Coba saja.

Kita bisa masuk dari sisi sains dan membahas berkembangnya organ reproduksi, bisa juga menilik aspek agama, tentang mandi wajib, misalnya.

Gurauan seperti ini pun bisa dipraktikkan:

Ibu: “Kak, akan tiba saatnya Kakak mimpi basah. Sperma keluar dari dalam tubuh, tanda Kakak sudah siap punya anak. Ibu harus rela dipanggil nenek. Mau dikasih nama siapa nanti?”

Anak: “Ibu, aaah! Masa masih SMP punya anak?”

Ibu: “Jadi, apa yang akan Kakak lakukan sekarang?”

Pilar-pilar Pembangunan Karakter Remaja

Pilar-pilar Pembangunan Karakter Remaja

SMS di atas mewakili sekian banyak orang tua dan guru yang gugup dan gagap ketika mendapatkan pertanyaan sejenis. Ada seorang guru yang mengirim surel kepada saya dan bertanya, bagaimana cara menemani anak yang selalu jadi korban perisakan (bullying) tanpa terkesan pilih kasih, tanpa menjadikan anak itu semakin jadi bulan-bulanan.

Bagaimana dengan ayah tunggal yang harus siap dengan menstruasi pertama putrinya? Bagaimana seharusnya sikap guru PLH melihat rekan sekerjanya buang sampah sembarangan di depan siswa? Bagaimana cara siswa menolak ajakan temannya untuk menjajal rokok tanpa dicap “anak mami”? Kegiatan apa yang bisa dijadikan tren di media sosial, sehingga remaja bersemangat berpartisipasi dan menyebarkannya?

Sejam berlalu cepat, pertanyaan dari pendengar mengalir padat, dan saya harus segera pulang, melintasi hujan menuju kandang🙂

Terima kasih, MQ FM, semoga selalu menjadi inspirasi umat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s