Bahasa Ibu, Penanda Diri

Seharusnya tulisan ini bertengger di “Teaching Adventure”🙂

Anna Farida

kuis bahasa ibuSaya orang Jawa. Saat bertutur melalui lisan maupun tulisan, yang biasa saya gunakan adalah bahasa yang dipahami kebanyakan orang—dalam hal ini bahasa Indonesia. Bahasa Jawa saya gunakan ketika berkumpul dengan kalangan yang berbahasa ibu sama.

Namun demikian, kadang ada rasa rindu menggunakan bahasa ibu, termasuk di depan publik. Saya penasaran, apakah teman-teman Facebook saya merasakan hal yang sama.

Karena itu, Agustus 2014 yang lalu, saya iseng mengadakan kuis berbagi bahasa ibu, dengan tema “ketika anak sakit”.

Reaksi teman-teman saya beraneka. Ada yang merasa kagok karena lama tidak menulis dengan bahasa ibu, ada yang senang karena nemu tempat merindu, ada pula yang excited karena kuis ini dianggap unik bahkan ajaib. Padahal, yang dikuiskan adalah sesuatu yang sangat dekat dengan diri kita.

Di akhir kuis, saat membaca tulisan demi tulisan sambil tersenyum, saya bahagia. Berderet kosakata yang sama sekali belum pernah saya baca. Inilah kekayaan Indonesia, warisan masa silam yang wajib kita…

View original post 2,422 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s