Parenting buat apa, sih?

Training Parenting Anna FaridaBuat apa ikut pelatihan parenting segala? Jadi orang tua itu kan alami. Baca buku parenting juga nggak segitunya penting. Teori sih gampang, praktiknya susah!

Nulis buku parenting? Nggak berani, ah! Saya bukan orang tua sempurna.

Saya pernah berpandangan seperti itu waktu anak sulung saya masih bayi. Waktu saya masih “berkuasa” atasnya, ketika yang dia perlukan dari saya “hanya” ASI dan pelukan.

Seiring melajunya tumbuh kembang anak, yang saya alami sungguh mencengangkan. Saya gedandapan, gelagapan, kaget.

Maklum, orang tua baru.

Saya telepon ibu saya, saya datangi banyak teman, saya baca banyak buku, saya kunjungi banyak seminar.

Memang benar, teori sih gampang. Praktiknya susah. Nasihat ibu saya, pengalaman yang dibagikan teman, trik yang dibahas di buku, dan saran yang disampaikan di seminar membuat saya kian merasa bersalah. Susah bener, ya, jadi orang tua. Gitu aja nggak bisa. Marah melulu, setres melulu.

Jadi, biarkan mengalir saja, gitu?

Pasrah bener, ya.

Alhamdulillah, atas keluh kesah dan kebingungan saya itu, memerciklah sebuah kesadaran.

Datang sebuah kabar bahwa saat remaja, Ibnu Sina membaca buku metafisika Aristoteles 40 kali, hingga kata per kata tertanam di benaknya, dan dia tetap merasa belum paham. Nggak seperti saya, baca buku sekali saja langsung merasa pintar. Cendekiawan dunia sepanjang masa saja membaca satu buku puluhan kali demi mempelajari sesuatu, lha saya ini apa?

Siang malam dia isi dengan belajar, memadukan bacaan dengan ibadah, memohon petunjuk kepada Allah. Dan setelah upaya terbaik dan doa tertulus, terbukalah kunci pemahamannya melalui sebuah tafsir yang ditulis oleh Ibn Farabi. Tentu, kunci itu tak akan bermakna jika Ibn Sina belajar sambil lalu.     

Jadi malu. Sejak itu saya berusaha tidak mudah menyerah saat belajar,Training Parenting Anna Farida sekaligus tidak sotoy begitu merasa telah mengetahui sesuatu.

Sungguh proses yang panjang, karena 17 tahun belum membuat saya yakin telah menjadi ibu yang baik. Masih saja sesal terucap, kegamangan datang tiba-tiba, dan was-was menyelinap.

Dalam situasi seperti itu, mana mau saya sendirian. Perlu orang sekampung untuk membesarkan satu anak.

Saya tak bisa lagi berkata “Yang penting bukan anak saya, yang penting anak saya baik-baik saja.”

Demi mencari teman belajar, saya menulis buku-buku parenting. Bukan untuk memproklamasikan diri sebagai ibu yang sudah top. Halah, jauh banget dari kata itu. Justru buku itu menjadi salah satu sarana pertobatan dan niat baik untuk terus belajar. Tanya saja anak-anak saya, betapa saya ini ibu yang sering belajar kepada mereka.

Karena itu juga, demi menghidupkan semangat belajar, saya berani jadi trainer pelatihan parenting. Saya ajak orang tua lain berbagi cerita, berkisah tentang ketakutan, berbagi pengalaman, dan bertekad menguatkan harapan.

Kata orang bestari, ketakutan dan harapan mesti selalu berjalan beriringan. Ketakutan membuat kita waspada, harapan membuat kita tetap optimis saat berjalan.

parenting with heart anna faridaSaya percaya bahwa salah satu metode belajar yang baik adalah mengajar. Saya jadi lebih banyak belajar EYD karena dikenal teman-teman sebagai juru siar EYD. Saya terus berlatih karena saya sering diundang memberi pelatihan editing dan penerjemahan. Saya akan belajar lebih giat jadi orang tua yang baik karena saya menulis buku dan jadi trainer parenting.

Ternyata, bagi saya, hal paling alami yang mesti dilakukan orang tua adalah belajar.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s