ROMO MAGNIS: tiga catatan akhir 2015

Frans_magnis_suseno

sumber: id.wikipedia.org

80 tahun dan tulisannya masih jernih, tak bikin jera.

Hari ini, ujung 2015, melalui grup Whatsapp, saya membaca tulisan Romo Magnis di Harian Kompas. Saya mengenal Franz Magnis Suseno melalui buku-bukunya, dan bertemu tahun 1995-an. Saat itu Himpunan Mahasiswa Islam mengadakan training—entah training apa saya lupa, HMI kan memang doyan bikin training.

Saya bertugas menjemput Romo di Stasiun Hall, dan langsung mengenalinya begitu pertama kali melihatnya.

Dengan posturnya yang menjulang, dia berjalan tegap sambil menenteng tas dan payung hitam panjang di kedua tangannya—mana kanan mana kiri saya lupa. Begitu dia mendekat, terlihatlah bros salib kecil di kerah bajunya. Mana kanan mana kiri saya juga lupa—ini nulis kok banyak lupanya.

Hari ini Romo Magnis menulis di koran Kompas. Tulisannya jernih, tentu tidak seperti tulisan saya yang berhamburan kebanyakan iseng. Can’t be helped, what to to do, kata Ubit.

Romo membuka tulisannya dengan mempertanyakan konsep revolusi mental dan menyambungnya dengan kalimat ini, “Bahwa kita memerlukan sebuah revolusi mental untuk keluar dari rawa mediokritas, kemalasan intelektual, kecengengan emosional, kedangkalan spiritual, kebrutalan dogmatisme, dan dari belenggu-belenggu prasangka dan kecurigaan yang menyandera bangsa sulit disangkal.”

Menurut Romo Magnis, sebagai refleksi akhir tahun, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah budaya kekerasan. Selain kasus tawuran, pengeroyokan, dan penindasan, Romo menyebut kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Masih saja ada kalangan yang dipaksa untuk menjalankan atau untuk tidak menjalankan ibadah tertentu bahkan dianggap sesat jika keyakinannya berbeda dengan “kebanyakan”.

Yang kedua adalah bebas dari rasa takut. Masih terkait tentang kebebasan beribadah, disebutkan bahwa masih ada orang yang hidup dalam ketakutan karena keyakinan religius dan tata cara ibadahnya tidak disetujui kalangan lain. Para tokoh agama pun ditantang untuk bersikap, di mana mereka berdiri. Ibadah itu kan hak yang sangat personal antara manusia dan Tuhan. Masa mau direcoki oleh orang lain. Pulang ke akhirat juga sendiri-sendiri, kan?—eh tentu Anda tahu bahwa dua kalimat terakhir itu omelan saya.

Yang ketiga adalah korupsi.

Lha, ini yang harus dipangkas habis!

Beragama atau tidak, koruptor itu menyebalkan dan wajib diberantas. Sayangnya, kita masih saja disuguhi drama tidak lucu tentang pemberantasan korupsi di Indonesia. Dua minggu yang lalu televisi masih menyiarkan aneka keributan terkait isu korupsi. Sekarang mana?

Kasus satu demi kasus menguap tanpa kita ketahui (saya saja kali, yang tidak tahu, ya? Wong yang sering ditonton acara got talent melulu, itu juga acara tahun lalu yang sudah jelas pemenangnya—nah mulai ngelantur) Peduli amat dengan komentar masyarakat, apalagi masyarakat seperti saya yang pintarnya mengoceh atau bahasa kerennya berwacana di media sosial. Hari ini teriak-teriak tentang pendidikan berkualitas, besok mamerin foto narsis tak keruan atau nebeng narsis ke anak ahaha.

Haish, setop.

Kita sedang serius, ini.

Tiga hal di atas masih jadi catatan besar hingga tahun-tahun ke depan. Saya yang ibuk-ibuk dan mengajar ibuk-ibuk ini pun perlu menyempatkan diri untuk berpikir melampaui cucian piring dan keranjang setrikaan. Yang berlangsung di sekitar kita saat ini, di negara kita, sangat menentukan kualitas hidup anak-anak kita hari ini dan kelak.

Jadi, peduli adalah pilihan terbaik.

Begitulah renungan akhir tahun ini. Sejatinya saya hendak menulis tentang hal lain, tapi rasanya tulisan Romo Magnis ini lebih penting saya bagikan duluan.

Semoga bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s