Eksis Tanpa H3B

dilarang_masuk Tunggu!

Jangan klik “like” dulu, jangan “share” dulu.

Baca sejenak tulisan ini, setidaknya dua menit.

Kemarin saya dan Indari Mastuti berkunjung Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat, bertemu Pak Januar Yepi Ruswita dan Pak Budhiana Kartawijaya. Tujuannya tentu membahas kegiatan yang bisa digarap bersama Pikiran Rakyat.

Nah, terkait kegiatan menulis, salah satu keprihatinan Pak Budhiana adalah masih rendahnya information literacy di kalangan pengguna media sosial ditandai dengan beredar luasnya H3B (Hoax, Horor, Hasut, dan Bully).

Apa itu hoax?

Itu, tuh, berita yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Termasuk yang dari grup sebelah, kali, ya? Masih ingat?
Informasi tersebut bisa berupa foto, artikel, video, atau pernyataan tokoh tertentu. Yang bikin gemas adalah berita hoax yang dilengkapi foto palsu.

Pak Yanuar menunjukkan foto selfie perempuan berkerudung di lokasi pemboman yang baru lalu. Diduga foto itu hasil olahan dan aslinya memperlihatkan perempuan yang selfie saat salat Idulfitri. Mana yang asli mana yang palsu hanya ahli foto yang paham. Yang bukan jangan ikutan sotoy, deh!

Hikmahnya, jangan keseringan selfie #halah

Yang bikin supergemas, berita-berita seperti itu kadang di-share oleh teman-teman kita.

Ketika berita atau foto dari sumber lain kita perlihatkan, yang bersangkutan otomatis bilang “Maaf, kan saya tidak tahu”.

Lha ya itu! Jika tidak tahu kenapa nge-share?

Menyebarkan berita hoax itu bikin level kekerenan Anda merosot sekian tingkat, lho.

Berikutnya adalah horor.

Seorang teman di grup WA langsung mengundurkan diri ketika ada anggota yang memajang foto jemari bolong-bolong—saya lupa, entah karena serangan kutu atau kebanyakan pegang hape. Eh, kalau ngasih informasi lantas bilang saya lupa apa sumbernya termasuk hoax bukan, ya? Asli ini serius tanya.

Dia ketakutan dan perlu waktu lama untuk membujuknya kembali bergabung. Permintaan maaf memang disampaikan, tapi kerusakan kan sudah terjadi.

Kabarnya juga, banyak foto korban terorisme Sarinah beredar di media sosial. Hanya kabarnya karena teman FB saya baik-baik sehingga saya tidak pernah lihat.

Sudah. Jika saya perinci lagi uraiannya, tulisannya saya ini juga bakal beraroma horor, deh.

Jadi prinsipnya kita tahu bahwa menyebarkan berita atau gambar yang menimbulkan rasa takut itu tidak sip sama sekali. Buat apa, sih? Membuktikan bahwa kita penuh belas kasih dengan menuliskan kalimat “Aduh, kasihan, ya!” Atau bahwa kita ini saleh dengan menayangkan foto korban sambil memaktubkan doa-doa?

Kasih ya kasih, doa ya doa. Tapi horor ya tetap horor.

H yang ketiga adalah hasut.

Semoga kita terhindar dari memberitakan dan membagikan berita yang memecah belah persaudaraan. Saya pernah menemukan orang menggosipkan keburukan mantan pasangan atau mantan rekan kerja secara terbuka di media sosial.

Ketika ada yang tanya apa tujuannya, jawabannya bikin nyengir “Ini kan FB saya. kalau tidak suka ya nggak usah baca. Gampang, kan?” #melongo3detik

Kata Pak Budhiana, jika bermuatan hasutan, kalimat yang terlihat sepele, video kocak, atau meme yang bikin ngakak sekalipun bisa mendatangkan maut. Karena informasi hoax, orang bisa dituduh sesat karena berbeda cara salat. Karena berita horor, manusia bisa saling tuding.

Padahal, saling tuding antar manusia belum ada cabang olahraganya. Yang ada baru saling pukul, saling tendang, saling banting😀

Yang terakhir adalah bully.

Tidak semua pengguna media sosial itu paham etika pergaulan digital. Jadi, ketika ada yang melakukan kesalahan, termasuk menyebarkan 3-H di atas, please kasih tahu baik-baik. Jangan sampai kita jadi perisak atau tukang bully karena merasa paling beretika dan paling akademis.

Ketika ada yang menyampaikan pandangan berbeda di media sosial, pahami dulu, takar dulu. Apakah Anda punya pengetahuan tentang yang dia bahas? Jika tidak, suwer, lebih baik diam.

Jika kita punya pengetahuan, perlukah pendapatnya itu dibantah atau dikomentari? Apakah bermanfaat jika kita ikut nimbrung berdebat dan memaki? Apakah berpengaruh jika kita turut memaparkan klarifikasi dan bukti?

Di layar hape kita adaaa saja akun yang hobinya menyebar kebencian. Ditenggelamkan dalam lautan rujukan seilmiah apa pun jempolnya tetap menggapai-gapai buat nge-klik share berita salah.

Sudah.

Sekarang silakan klik like dan share–pe de saja ada yang mau share😀 , biar eksis tanpa H3B #anotherhalah.

Salam takzim,

Anna Farida

—————–

WARTA:

Februari 2016 akan ada workshop ngeblog dan information literacy bersama HU Pikiran Rakyat. Kita akan belajar perbedaan jurnalisme dan jurnalisme warga, berlatih mencari rujukan yang benar sesuai kaidah pemberitaan yang layak, hingga aspek hukum yang wajib diketahui para blogger.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s