BERCANDA DENGAN EYD

bercanda dengan EYDArtikel ini dimuat dalam “Wisata Bahasa” Harian Umum Pikiran Rakyat. Saya bagikan versi aslinya, ya.

 

BERCANDA DENGAN EYD

(Anna Farida)

Bagaimana jika ada kajian Ejaan Yang Disempurnakan yang diawali dengan dialog seperti ini:

#IngatEYD

Ini perlu diketahui para suami ketika merayu istri.

Istri: “Mas, baju baruku bagus, enggak?”
Suami: “Bagus, dong, Sayangku. Lehermu jadi terlihat jenjang …”
I: “Maksudmu apa? Nyindir leherku yang besar, ya?”
S: “Oh … um … maksudku … berjenjang-jenjang …”
I: “Hah! Tahu enggak kata itu apa artinyaaa? Grrrhhh!”

Istri kian murka, rayuan gagal.

Saya mengajar di sebuah komunitas menulis perempuan yang kebanyakan anggotanya adalah ibu rumah tangga. Ada yang memiliki latar belakang pendidikan bahasa, ada yang tidak. Ada yang masih ingat pelajaran tata bahasa, ada yang bilang lupa. Rata-rata, alasan mereka adalah karena tak suka pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

Pendek kata, dulu tak suka sekarang lupa.

Selain ilmu, bahasa itu kan keterampilan. Begitu jarang digunakan, dia akan segera dilupakan. Dulu, saat SMA, nilai rapor saya untuk bahasa Jerman selalu 9. Sekarang, kemampuan Deutsch saya ada di level pre-basic alias dasar saja tidak. Kosakata? Nyaris punah.

Apa sebabnya?

Lulus SMA, saya mendalami pendidikan bahasa Inggris di IKIP Bandung. Setelah itu, saya aktif menulis, mengajar menulis, dan menjadi trainer berbagai pelatihan orang tua dan guru. Artinya, saya lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Untuk berjejaring dengan komunitas guru internasional, saya pakai bahasa Inggris. Tak bisa dicegah, kurang dari sepuluh tahun, bahasa Jerman saya bisa dibilang lenyap.

Tragedi yang sama bisa terjadi pada bahasa Indonesia—termasuk bahasa ibu. Kecakapan berbahasa sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Pengaruh itu bisa positif bisa pula sebaliknya.

Tren bahasa singkatan misalnya. Kebiasaan menyingkat kata mulai muncul ketika telepon genggam menawarkan menu pesan singkat alias SMS. Jumlah karakter per pesan dibatasi, dan untuk setiap pesan dikenakan biaya tertentu.

Tak lama kemudian media sosial menyediakan fasilitas chatting. Bahasa tidak formal berkembang cepat, bahasa alay ikut menyergap. Seiring dengan mudah dan murahnya akses internet, tren ini cenderung diiyakan oleh kebanyakan pengguna media sosial.

Awalnya para ibu adem ayem saja, bahkan ikut dalam euforia komunikasi abad ke-21.

Saya juga.

Lama-lama yang mengeluh kian banyak.

Saya juga.

Menurut para ibu, anak-anak mengalami kesulitan ketika harus menuangkan gagasan dalam tulisan karena lebih akrab dengan bahasa chatting. Ini terjadi dalam semua mata pelajaran.

Beberapa rekan guru termasuk dosen curhat. Mengajar anak-anak membuat laporan atau sekadar menulis pengalaman dan pendapat jadi tugas yang mahaberat. Murid dan mahasiswa mereka rata-rata masih harus dibimbing untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang baik. Kesalahan tata bahasa yang sama terus berulang. Kosakata mereka terbatas, dan gaya tulis mereka terlihat sekali dipaksakan. Laporan dua halaman bikin mereka mengeluh, sementara arsip chat harian bisa ribuan pesan.

Para ibu tak kalah gerah.

Sebagian besar lupa banyak hal, sebagian yang lain lebih akrab dengan bahasa media sosial. Buntutnya, saya sering jadi sasaran tembak saat anak-anak mereka dapat tugas bahasa Indonesia.

Pesan-pesan begini, nih, yang bikin saya tambah sayang pada para ibu.

“Bu Anna, yang baku mana, sih? Nasihat atau nasehat? Tampak atau nampak? Maaf, ini PR anak saya.”

“Lah, kan tinggal buka kamus online, Bu.”

“Kan ada Bu Anna. Bisa sekalian tanya-tanya hal lain.”

“Haish!”

Jadilah saya kamus berjalan. Padahal, untuk banyak kata, saya pun buka kamus. Saya bahkan berkali-kali buka kamus untuk satu kata yang sama karena lupa.

Saya merasa mau dan merasa perlu, karena ingin tulisan saya bermutu. Bahasa kan mewakili karakter sekaligus kredibilitas seseorang. Saya belajar juga belum lama, kok. Bukti tertulisnya ada di blog saya. Tulisan yang saya buat dua tahun yang lalu masih berantakan, tulisan dua bulan yang lalu, bahkan dua hari yang lalu, masih saja ada yang meleset. Saya meringis sambil menyunting tulisan lama begitu ada pembaca berkomentar.

Saya juga tak bersedia disebut guru, apalagi pakar EYD—biasa, para ibu sering lebay kasih julukan macam-macam. Saya lebih suka disebut juru siar.

Sesuai namanya, hobi saya adalah menyiarkan kabar, kadang salah kadang benar.

Tak sekali saya minta maaf di depan khalayak bahwa ternyata penjelasan saya salah, atau tulisan saya tak sesuai kaidah.

Berulang-ulang saya sampaikan kepada para ibu bahwa belajar bahasa bukan perkara instan. Bahasa bukan melulu rumus yang bisa dihafal, melainkan sarana komunikasi yang mesti dijadikan kebiasaan. Kemauan untuk menggunakan bahasa yang baik secara konsisten perlu dijaga.

Dengan niat menularkan kemauan inilah, saya memilih metode humor dalam menyampaikan materi EYD. Materi ajar selama tiga tahun terakhir akan dijadikan ebook untuk dibagikan gratis. Tunggu tanggal edarnya.

Saya sajikan materi dalam bentuk cerita atau dialog imajiner yang lucu, kadang agak berlebihan. Setahu saya, berdasarkan pengalaman, humor membuat orang merasa santai dan membuka diri.

Nah, kesediaan membuka diri adalah kondisi ideal untuk belajar. Materi lebih mudah diserap, pemahaman menancap kuat. Suasana cair membuat belajar jadi produktif sekaligus menyenangkan.

Mau contoh?

Dialog semacam ini bisa menuai komentar panjang yang hidup:

#‎IngatEYD

“Lihat, Bu! Bis diangkut oleh bas pakai bus!”
“Biarin. Asal bukan bapakmu yang diangkut.” –kalem mode on– 

Bis: Kotak kecil milik kantor pos, untuk memasukkan surat. 
Bas: Kepala pekerja (mandor).
Bus: Kendaraan besar beroda empat.

Nah, Ibu-ibu …
Naiklah bus, bukan bis, apalagi bas!

Kadang saya tantang para ibu untuk membuat kalimat, kemudian saya bahas—tentu dengan pendekatan dan penjelasan sesantai mungkin. Dengan begitu, mereka tidak merasa dihakimi. Contoh soalnya seperti ini:

#‎IngatEYD
Ingin kuhangatkan sore yang basah. Sayang, denting mangkuk tukang bakso mengiang sejenak lantas menghilang.

Kalian kutantang.
Buat dua atau tiga kalimat. Gunakan beberapa kata yang suku kata terakhirnya mengandung “ang-ing-ung-eng-ong”. EYD akan kita benahi bersama. Ayo, tulis. Kok malah “ndomblong” 

Hasilnya luar biasa. Daya imajinasi dan daya bahasa para ibu ini meletup tanpa katup!

Yang perlu saya lakukan hanya mengoreksi sebagian kaidah EYD yang meleset dan membiarkan sebagian yang lain. Tak perlu dikoreksi semua, nanti mereka jera. Saya juga kan tidak tahu semua.

Nah, mari bercanda.

 

Salam takzim,

Anna Farida, Kepala Sekolah Perempuan, juru siar EYD, penulis, tinggal di Bandung, www.annafarida.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s