Guru Berani: Teman Tumbuh Teman Belajar

guru berani gakal

foto milik Guru Berani

guru berani PR

Resensi ini dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, 27 April 2017.

Seperti biasa, versi korannya lebih bagus karena sentuhan editor. Ini versi blognya, lengkap dengan haha hihi seperti biasa juga.

Resensi Buku

Judul: Seri Guru Berani (Nias-Poso-Keerom-Boven Digoel), Teman Tumbuh Teman Belajar

Pemakna: Prof. Dr. Yus Rusyana

Penulis: Kalih Raksasewu, Susana Srini, Musta’ien, Achmad Ferzal

Penerbit: TCA, True Creative Aid, Bogor

Jumlah halaman: 492

Tahun terbit: 2016

Panggilan itu Ada di Sini!

Salah satu teman saya bercerita bahwa salah satu cita-citanya adalah menjadi relawan bagi korban perang di Somalia. Mau mengabdi jadi guru, katanya. Sambil lalu saya tanya, Somalia itu di mana, apa ibu kotanya. Dia meringis dan menjawab, “Apa ya? Aku lupa.”

Saya pun meringis tak kalah lebarnya. Mengabdi pada kemanusiaan sih di Indonesia juga bisa, tak perlu melintasi jarak 7558 kilometer ke negara yang bahkan tidak dia ketahui ibu kotanya.

Mau belajar empati? Kita bisa bertindak lokal sesuai kemampuan. Mau cari tantangan? Mari, saya tunjukkan tantangan yang sesungguhnya: memenangkan harkat dan martabat generasi yang akan datang melalui pendidikan. Saya pun baru saja menemukannya, bukan di daerah rawan konflik di benua lain, tapi di sini, di Indonesia.

Sebelumnya, saya lebih sering menyaksikan potret pendidikan yang kurang ramah di daerah 3T Indonesia (Terluar, Terdepan, Tertinggal) melalui media massa atau media sosial. Ada rasa sedih tapi hanya bisa berkomentar, lalu menyindir pihak berwenang, dan sudah. Permasalahan dianggap selesai ketika saya menuliskannya di media sosial. Tampaknya saya termasuk kawanan yang disebut-sebut Rhenald Kasali sebagai generasi wacana—yang pintar bermain kata tanpa tindakan nyata, omdo alias ngomong doang #manabaskom #tutupmuka.

Tentu, berwacana pun perlu. Ada, kok, perubahan mendasar yang berawal dari diskusi panjang maupun pendek. Dalam dunia pendidikan, diskursus hingga polemik selalu saja hadir, kadang membuat semarak kadang bikin kesal berbagai pihak. Tak jarang orang jadi apatis ketika diajak membahas isu pendidikan.

Namun demikian, saya menemukan letupan semangat nyata yang juga dituangkan secara indah melalui kata-kata, dari sebuah buku berjudul “Teman Tumbuh Teman Belajar.”

Tampilan sampulnya hijau tua, dengan siluet gugusan pulau Indonesia di atasnya. Seri Guru berani yang saya baru saja baca memuat liputan perjalanan yang bermakna di empat wilayah Indonesia: Nias, Poso, Keerom, dan Boven-Digoel.

Walau ada sejumlah salah tik yang mengganggu, melalui cerita  yang ditulis dengan bahasa yang renyah, saya diajak mengunjungi  relung-relung kebijakan yang sebelumnya tersembunyi.

Adalah True, sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang pendampingan masyarakat untuk menemukan potensi uniknya dan memuliakan masyarakat melalui potensinya tersebut. Diawaki oleh beberapa penulis dan pendidik, sebuah tim dibentuk untuk menyusuri beberapa daerah Indonesia. Tujuannya adalah riset sekaligus belajar dari khasanah kearifan yang tersimpan di sana. Kita coba injakkan langkah ke Poso, sebuah kabupaten di Sulawesi Tengah.

Di sanalah Tim True menemukan konsep harmoni diri, harmoni sesama, harmoni alam. Mapalus (gotong royong), sintuwu maroso (persatuan yang kokoh), dan nosarara nosabatutu (bersama-sama kita satu) adalah kearifan yang senantiasa melekat dalam hidup sehari-hari masyarakat (halaman 75).

Dalam ranah pendidikan, konsep harmoni menjadi kesepakatan dan gerakan bersama untuk menggali kembali dan melestarikan nilai-nilai hidup yang saling menghargai. Pluralisme yang dikampanyekan dalam pergaulan dunia bukan hanya slogan di sini. Seorang guru, Ani Tumakaka, mengimplementasikan makna integrasi budaya ke dalam mata pelajaran sekolah dengan cara yang sangat natural (halaman 155).

Mengawali pelajaran dengan teka-teki, dia membetot perhatian murid-muridnya. Sejak awal pembelajaran, terjalinlah sinapsis demi sinapsis di dalam tempurung kepala mereka, neuron yang satu bertemu dengan neuron yang lain, menghasilkan pengetahuan yang tersimpan dalam memori jangka panjang (Rakhmat: 2005). Inilah belajar yang sesungguhnya!

Tak berhenti di situ, Bu Ani mengajak anak-anak bermain dengan kemiri, benda yang tadi jadi misteri. Olah fisik mengaktifkan anak-anak secara psikomotor, dan membuat mereka kian siap menerima pelajaran. Sambil bermain, Bu Ani memberikan tebak-tebakan dengan materi operasi hitung matematika. Anak-anak menyambutnya dengan penuh antusias—dan dengan kesiapan itulah mereka kemudian masuk kelas, menggambar, dan mempelajari struktur tumbuhan kemiri. Terasa sekali kegembiraan anak-anak saat belajar dan membuat laporan. Mereka bahkan memajang gambar mereka dengan percaya diri.

Seluruh proses pembelajaran yang melibatkan murid secara aktif berjalan tanpa canggung, seolah sudah menjadi keseharian mereka. Sebagai catatan, sekolah ini ada di Tentena, dengan Danau Poso yang melegenda. Semua media yang digunakan Bu Ani pun mendekatkan murid pada keseharian dan pelajaran menjadi bagian yang nyata, bukan konsep abstrak yang susah diingat. Inilah yang disebut oleh Utomo Dananjaya sebagai media pembelajaran aktif (2010).

Rangkaian kisah yang ditemukan kemudian dituliskan dalam buku ini adalah mutiara yang benar-benar harus diperoleh dengan menyelam ke lautan dan membuka cangkang tiram. Tak akan tampak dari permukaan, apalagi hanya dengan memandang pantai dari kejauhan. Itu kelakuan saya ketika lihat air–takut basah, boro-boro menyelam! 😛

Dari buku ini kita belajar, bahwa kesejatian pendidikan adalah perpaduan niat mulia guru dan keterlibatan masyarakat untuk memuliakan generasi yang akan datang. Dalam kesederhanaan, tekat kuat para guru berani ini benar-benar penyala zaman—demikian Prof. Dr. Yus Rusyana menyebutnya.

Di dalam kesahajaan, ada hidden curriculum yang menjaga kecerdasan emosi anak-anak Tentena agar tidak terkikis oleh padatnya materi ajar. Bersama para guru ini kita belajar untuk menyambut panggilan untuk berjuang bersama. Mungkin kelak ada saatnya kita berangkat ke Somalia bersama teman saya itu. Saat ini, di antara deru “industri” pendidikan dan wacana “tingkat tinggi” yang terus didengungkan, kita masih mendengar bahwa panggilan itu ada di sini.

Dari balik jendela kebinekaan Indonesia.

Salam takzim,

Anna Farida

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s