PENDIDIKAN YANG BUKAN BASA-BASI

IMG_20170811_164459Untuk satu buku, saya membuat dua resensi. Yang satu dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, satu lagi di Majalah Pendidikan Jawa Barat, Suara Daerah, edisi 525 tahun 2017.

Beberapa suntingan membuat tulisan ini lebih rapi, terima kasih, Editor.

Kepada pembaca blog, saya bagikan versi aslinya:

 

 

 

Ketika menerima buku ini, nyali saya agak ciut. Bagaimana tidak, tebalnya nyaris 500 halaman dan saya bukan pembaca yang tangguh. Satu-satunya modal saya berani membaca buku ini adalah minat saya pada dunia pendidikan, khususnya pendidikan keluarga.

Judulnya menarik, “Teman Tumbuh Teman Belajar” dan saya segera dilibatkan dalam rangkaian cerita yang penuh aroma petualangan. Bagi ibu-ibu yang tinggal di daerah perkotaan, yang sangat jarang keluar rumah, membaca aneka kisah dari berbagai sudut Indonesia sungguh mendatangkan hawa  semangat dan inspirasi.

Selama ini saya berpikir bahwa pendidikan di daerah pedesaan pasti tertinggal. Sarana dan prasarananya terbatas, gurunya pun tidak berkualitas. Terlebih ketika saya membaca berita yang jadi tren di media massa dan media sosial tentang potret miris pendidikan kita. Ada anak-anak yang harus bersekolah di kandang kambing, harus melintasi jurang demi bisa masuk kelas, atau para guru yang rela dibayar dengan hasil ladang. Saya merasa nelangsa membayangkan pendidikan anak-anak di sana.

Cara pikir saya lambat laun jadi terpola, orang desa pasti tertinggal.

 

Syukurlah, saya menemukan buku yang ditulis oleh TRUE, sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang pendampingan masyarakat ini. Buku bersampul hijau ini mengoreksi pemahaman sekaligus membuka wawasan saya. Ternyata, tidak semua daerah tertinggal itu terbelit dengan masalah rendahnya pendidikan. Ternyata juga, ada guru-guru istimewa yang menjadi pemupuk harapan sekaligus pejuang.

Dalam keterbatasan yang ada, mereka berani berbuat tanpa menunggu dikasihani oleh pihak mana pun. Mereka bergerak karena kesadaran yang tumbuh dari kepedulian yang nyata tentang pendidikan, bukan sekadar formalitas atau atas nama tugas.

 

Salah satu bab yang menarik perhatian saya adalah bagian “Jelajah Keerom”. Di Arso, salah satu desa di pelosok Papua ini tersimpan percikan kemanusiaan. Saat dunia Barat menggaungkan pendidikan yang humanis, Arso memiliki konsep Wamep Yun—pendidikan kasih sayang. Bukan hasil riset canggih, bukan temuan ilmiah para ahli di universitas ternama dunia, konsep ini lahir dari rahim kebudayaan yang penuh ketulusan dan kebaikan.

Tak heran jika Prof. Dr. Yus Rusyana memberikan pemaknaan yang menggugah seperti ini:

Mereka membelajarkan murid dengan gaya baru dalam suasana kasih sayang dan saling menghargai. Maka murid-murid pun bangkit belajar dalam riang gembira. Wah, kelas tempat belajar pun mereka buka. Terjadilah kelas yang lapang meluas, berupa lingkungan yang penuh rona dan mempesona. Terdapat tanah, air, udara, cahaya. Tumbuhan dengan ranting dan daun berwarna-warni. Terdapat binatang di air dan di darat. Berjumpa pula dengan warga masyarakat yang hidup dalam budayanya. Mereka bekerja, mereka memiliki pengetahuan, menggunakan perlengkapan dan peralatan. Mereka punya cara hidup bekerja sama, saling sapa dalam kasih sayang. Maka menjelmalah pendidikan kasih sayang. Wamep yun! (halaman190-191)

 

Tim True menyaksikan bagaimana sekolah diselenggarakan di sana. Memang, gedungnya sederhana, kelasnya pun apa adanya. Namun, dari kesahajaan itu terpancar semangat belajar murid-muridnya, dipandu oleh guru-guru yang penuh dedikasi. Jauh dari semaraknya kehidupan kota tidak membuat surut semangat mereka untuk membelajarkan murid menjadi generasi  yang lebih baik.

 

Mereka mengajar dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada, alam menjadi laboratorium nyata. Prioritas pembelajaran juga dilakukan dengan penuh pertimbangan. Bu Yelmin, salah satu guru di Arso, memberikan perhatian lebih pada mata pelajaran bahasa Indonesia khususnya baca tulis. Dengan berani beliau menggantikan mata pelajaran lain dengan bahasa Indonesia demi memastikan agar semua siswa melek literasi sebelum naik kelas 4.

Benar. Bukan hanya mampu baca tulis, Bu Yelmin mengajar murid-muridnya memahami bacaan dan mampu menceritakannya kembali dengan percaya diri di hadapan teman.

 

Ini terobosan berani. Tanpa gema program literasi yang berlebihan, Bu Yelmin sepenuhnya yakin bahwa membaca adalah modal dasar yang paling kuat bagi anak untuk belajar. Karena itulah, pada saat pelajaran bahasa Indonesia, anak-anak yang sudah lancar membaca diberi buku, membaca, dan mendiskusikan bacaan. Sementara itu, Bu Yelmin membantu anak yang belum lancar membaca. Konsep belajar mandiri diterapkan, guru benar-benar hadir sebagai fasilitator—tugasnya adalah memantik kesadaran belajar anak sehingga mereka bergerak atas kemauan sendiri.

 

Saya melongo. Bahkan beberapa sekolah yang pernah mengundang saya sebagai narasumber terkait gerakan literasi di Bandung pun masih gamang dengan program ini. Masih banyak guru di kota yang bingung  membuat variasi kegiatan 15 menit membaca.

Sementara itu, dengan tekad yang sederhana, membekali anak dengan kemampuan baca tulis, Bu Yelmin sudah melakukannya sejak lama.

 

Karena itulah, bagi saya, buku ini jadi istimewa. Rangkaian kesederhanaan yang dipaparkan membuat saya tersengat rasa malu sekaligus semangat untuk berbuat lebih baik. Buku ini bertutur tentang guru-guru yang berani, dengan pemikiran yang melampaui silabus dan kurikulum formal. Mereka menghadirkan harapan bahwa kebaikan itu bisa lahir dari mana pun selama ada tekad kuat mewujudkannya.

Bukan hanya itu, sesuai dengan judulnya, Teman Tumbuh Teman Belajar menuntun saya menyusuri keindahan Indonesia dari kacamata yang berbeda. Bukan cara pandang wisata yang biasa tersaji melalui layar kaca, tapi paradigma pendidikan yang mengakar tulus, dan bukan basa-basi.

Salam takzim,

Anna Farida

 

Judul: Seri Guru Berani (Nias-Poso-Keerom-Boven Digoel), Teman Tumbuh Teman Belajar

Pemakna: Prof. Dr. Yus Rusyana

Penulis: Kalih Raksasewu, Susana Srini, Musta’ien, Achmad Ferzal

Penerbit: TCA, True Creative Aid, Bogor

Jumlah halaman: 492

Tahun terbit: 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s