MENULIS ITU SEMESTINYA MEMBEBASKAN

20180206_114446

Smuthers menggali ide paling umum dan paling ganjil

Saya membuat riset kecil, berdiskusi dengan sepuluh anak muda. Delapan dari mereka mengaku tidak suka menulis. Alasannya tidak bisa, tidak punya ide, males, atau semata-mata tidak suka.

Baik, akan saya buktikan bahwa semua bisa menulis.

 

Seminggu kemudian, saya bikin ribut di kelas XI SMU Plus Muthahhari Bandung. Selama satu semester, saya bakal menemani para remaja ini belajar menulis.

Pada pertemuan pertama,  kami eksplorasi kendala-kendala yang biasa muncul saat menulis. Kebanyakan menyatakan bahwa menulis itu tidak menyenangkan karena mereka takut salah dan tidak biasa.

OK, kita akan buat kelas menulis yang akan membuat mereka berani, kita jadikan menulis sebagai kebiasaan.

 

Jurus pertama, Free Writing.

Saya menggunakan buku “Free Writing” karya Hernowo Hasim sebagai panduan.

Saya sampaikan kepada pemuda-pemudi itu bahwa dalam waktu lima menit, mereka bebas menulis apa pun. Saya berjanji tidak akan membacanya, apalagi membacakannya di depan kelas.

Mereka boleh menulis rasa kesal, curhat, keluhan, apa pun. Tulisan boleh disimpan boleh dibuang. Kami melakukan FW ini beberapa kali dalam beberapa pertemuan.

 

Setelah alarm 5 menit berbunyi, saya minta mereka bercerita tentang pengalaman melakukan FW. Mereka berkata menemukan kebebasan, merasa ringan saat menulis, merasa bingung mau menulis apa, ada juga yang masih bertanya-tanya sebenarnya tujuan saya itu sebenarnya apa, haha.

 

Mungkin mereka berpikir, masa iya kelas menulis mengajarkan hal seperti itu.

Bisa jadi berdasarkan pemahaman mereka, mengarang atau menulis adalah kegiatan yang penuh aturan dan penghakiman: tunjukkan kalimat utama, gunakan ejaan yang benar, tulis tema yang bagus, bacakan di depan kelas.

Memang, ada anak yang terpapar budaya baca tulis sejak kecil, sehingga menulis sudah menjadi kebiasaan. Mereka biasa menulis spontan, misalnya dalam buku harian atau corat-coret di halaman paling belakang buku tulis, sekaligus percaya diri saat tulisan mereka dibaca orang lain.

Pada saat yang sama, ada juga anak yang tidak biasa menulis—karena tidak biasa, malu, atau takut salah tadi.

 

Bagi yang biasa atau tidak biasa menulis, FW sangat membantu.

FW membangun rasa percaya diri mereka bahwa menulis bisa mudah dan membebaskan. Mereka bebas menulis apa pun, dan tulisan itu sepenuhnya jadi milik mereka. Mereka bisa berlatih tanpa takut duluan atau malu duluan, atau duluan-duluan yang lain.

 

Dalam pertemuan berikutnya kami bahas ide-ide yang bisa diangkat jadi tulisan—dari tema yang paling mainstream sampai tema yang paling ganjil seperti bersin sambil membuka mata 😀

Mereka bisa mengambil salah satu tema yang ada untuk jadi bahan FW. Sebagian anak mengizinkan saya membaca tulisan mereka, sebagian tetap tidak mau.

Masih menikmati FW yang sangat privat, rupanya. Saya sabar saja.

 

Agar tidak bosan dengan FW—siapa tahu ada yang tidak suka—saya sampaikan juga materi copywriting. Kami belajar membuat kalimat-kalimat menarik dalam poster kegiatan dan menulis profil diri.

Saya amati cara kerja mereka dalam kelompok. Saya beri peluang bagi anak yang suka tampil untuk memaparkan poster kelompoknya, sambil sesekali saya beri trik public speaking sederhana.

 

Nah, berikutnya adalah blogging.

Minggu lalu saya ajak mereka membuat blog dan berdiskusi mengapa blog penting untuk menyimpan portofolio. Sudah SMA, penting punya rumah maya untuk menyimpan karya. Yang sudah mahir nge-blog bertugas membantu teman lain.

Hari ini, setelah beberapa pertemuan mereka bebas menulis apa pun, saya menerima kiriman tautan blog mereka.

Isinya beraneka, mulai dari kopi, game, sepeda motor kuno, sahabat, cerita di sekolah, puisi, fotografi, bale nyungcung, anime, musik, hijab, sampai kematian.

Gaya tulisan mereka penuh warna, ada yang panjang ada yang pendek.

Saya sampaikan bahwa blog ini akan dibaca publik dan mereka santai saja. Tidak ada yang berkata takut atau malu. Karena itulah saya berani memberi beberapa masukan kecil terkait tata penulisannya. Sedikiiit saja, sambil lalu saja.

 

Hari ini kami belajar, setelah nyaman menulis untuk diri sendiri, perlahan kami bakal nyaman menulis untuk publik.

Minggu depan kami sudah punya rencana lain. Mohon doa senantiasa.

 

Salam takzim,

Anna Farida

 

Ini tautan blog mereka, feel free to read and add comments 😊

https://malikahdiza18.blogspot.co.id

http://kunyukwarrior.blogspot.co.id

https://javadictivity.blogspot.co.id

https://kikiwotits15comeasyouare.blogspot.co.id/

http://ondeondee05.blogspot.co.id

http://obromarkoto72.blogspot.co.id/

http://iniblognyamd.blogspot.co.id/

http://ranisyaaw.blogspot.co.id

https://therumix.blogspot.co.id/

https://auouoel.blogspot.co.id

http://hafifah99.blogspot.co.id/

https://bosvandromen.blogspot.com/

http://stuff-discussion.blogspot.co.id/

http://arafisetiawan67.blogspot.co.id/

http://aiamareru.blogspot.co.id/

http://imah018.blogspot.co.id/

http://mutamimmah14.blogspot.co.id

Advertisements

4 thoughts on “MENULIS ITU SEMESTINYA MEMBEBASKAN

  1. Luar biasa cara Cikgu mensupport mereka. Saya bayangkan semua anak akan menulis jika mendapatkan bimbingan dan perlakuan seperti ini. Great! Cara yang harus saya terapkan pada Najwa dan Najib. Saya izin mengunjungi blog mereka ya 🙂

  2. Saya sudah BW ke blog mereka, senang lihat semangat mereka.
    Menulis adalah therapy, semoga jadi salah satu cara mereka menenangkan diri di zaman seperti ini.
    Semangat ya,Mbak. Saya senang kalau bisa punya kesempatan seperti Mbak Anna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s