MAGISTER BERDASTER

1998, waktu wisuda S-1 dari IKIP Bandung, saya bawa bayi dua bulan. Setelah itu, saya memutuskan untuk tinggal di rumah.

Karena saya lulusan terbaik saat itu, banyak teman bertanya-tanya mengapa saya “cuma” ngasuh anak. Ada yang penasaran apakah saya dirumahkan oleh suami saya.

BIG no. Menikah tidak membuat saya kehilangan kemerdekaan. Membaktikan diri pada keluarga adalah pilihan saya. Gamang memang kadang datang, tapi saya kuatkan diri. Saya tanya lagi diri saya mau pilih mana.

Tahun-tahun berikutnya, bayi demi bayi lahir, balita demi balita tumbuh, anak-anak pun harus diantar ke sana kemari. Beberapa kali saya menjajal bekerja di luar rumah, tapi tidak senyaman bekerja di rumah sendiri.
Mungkin salah satu alasannya adalah agar tak perlu mandi pagi-pagi #tutupmuka.

So, saya habiskan waktu bareng keluarga, mengasuh anak-anak. Ya Allah, betapa ternyata tugas ini sangat menantang. Jangan ditanya berapa kubik air mata saya tumpahkan, doa dan keluhan yang saya bisikkan. Meski demikian, harapan tak henti saya tanam.

Untuk refreshing, saya baca buku, mencoba jadi penerjemah, belajar ngeblog, dan mulai menulis. Ada kelas-kelas online di Coursera saya ikuti, walau hanya tuntas satu kali. Pelatihan menulis saya datangi, aneka lomba menulis saya jajal, menang kalah tidak peduli.

Perlahan-lahan, dengan niat latihan, di antara waktu saya mengurus cucian piring, setrikaan, dan antar-antar anak selama belasan tahun, saya menulis buku.
Saya ini bawel, ceriwis. Saya tidak tega jika anak-anak jadi sasaran omelan harian.

Jadi, untuk mengurangi porsi dan durasi kicauan itu, saya memilih menulis.
Awalnya tulisan-tulisan itu sekadar buat wadah “muntahan”, ternyata lama-lama otot menulis saya melentur.

Hingga hari ini, tiga puluh tiga buku dengan berbagai tema saya tulis, termasuk e-book, paper, tulisan di media massa, dan ratusan artikel di blog.

Namanya juga belajar, semua ditabrak dan dihajar. Mungkin tulisan saya dangkal, saya tidak menyangkal.
Santai saja.

Fyi, saya melakukan itu semua dari rumah. Jadi, tinggal di rumah bukan berarti saya berhenti berisik lewat tulisan sambil terus belajar. Saya juga menemani para ibu belajar melalui berbagai kelas online.

Sesekali saya memang mengajar di luar, tapi kantor utama saya ya rumah. Berdaster.

Kemudian, saat putri bungsu saya mulai mandiri, saya minta izin ke suami untuk kuliah lagi. Deal! Saya dapat dukungan penuh.

Gagap pada masa awal karena sudah meninggalkan kampus delapan belas tahun, saya kembali berjuang. Tetap di antara tugas utama antar-antar anak, sambil urus jemuran, plus mengejar deadline naskah yang tiada henti.

Jadi tidak semua kisahnya manis, ya. Jungkir balik perjuangannya mirip atlet catur. Angkat benteng mandiin kuda 😀

2018, hari ini saya diwisuda lagi, dan dapat penghargaan sebagai salah satu dari dua belas peraih IPK tertinggi. Yang mendampingi saya menerima piagam Uninus adalah bayi yang dulu dua bulan itu, sekarang dua puluh tahun, sudah berkumis.

Saya tuliskan kisah ini sebagai rasa syukur dan terima kasih pada suami dan anak-anak.
Saya bagikan kenarsisan ini sebagai penyemangat bagi para ibu di rumah agar tak berhenti belajar di mana pun, melalui media apa pun, formal maupun tidak. Kita tetap bisa berkarya dan bermanfaat bagi sesama.

Nah, perayaan singkat usai, foto-foto pun selesai. Lepaskan toga, kembali ke daster, bikin telur ceplok buat anak-anak.

Salam takzim,

Anna Farida, 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s