OBOR BLARAK

OBOR BLARAK

 

Tahun lalu saya dipameri foto pesohor yang berhasil mengurangi berat badan. Semangat saya menggebu-gebu ingin melakukan hal yang sama. Berikutnya, suami saya beli sepeda (lagi) dan saya jadi bersepeda ke warung atau sekadar gaya-gayaan keliling kampung—sebenarnya sambil mengeluh sepanjang jalan karena beratnya kaki mengayuh.

 

Dari Youtube saya menyimak presentasi tentang pentingnya menata wadah-wadah di lemari dapur. Saya langsung praktik dan mendapatkan manfaatnya. Kepada dokter gigi saya berjanji untuk tidak makan yang keras-keras agar tambalan saya tidak lepas lagi, lagi, dan lagi.

 

Dengan semangat membara saya tularkan aneka tekad itu di media sosial. Gaya banget, lah, pokoknya! Saya memajang foto makanan sehat, menge-post foto sedang bersepeda, mengomel ketika lemari dapur berantakan, dan menolak keripik basreng yang menggoda. Pendek kata, militan!

 

Kurang dari seminggu, militansi itu kendur satu demi satu. Saya nglali alias sengaja lupa saat memilih jenis makanan, nglali bahwa telur gabus yang alot bisa merontokkan tambalan. Saya berhenti bersepeda dengan alasan tidak bisa cepat atau tidak sempat. Wadah-wadah di dapur mulai tidak jelas mana mangkuk dan mana tutupnya.

 

Padahal beberapa hari sebelumnya saya begitu bersemangat. Peribahasa Inggris menyebutnya new brooms sweep clean. Sapu yang masih baru hasil sapuannya bersih (ada juga, sih, sapu yang malah mengotori lantai saat dipakai—mungkin tukang bikinnya atau tukang sapunya kurang profesional). Begitu sapu mulai usang, kualitas sapuannya kian berkurang.

 

Dalam bahasa Jawa ada istilah obor blarak.

Fyi, blarak itu sebutan untuk daun kelapa kering. Sifatnya mudah terbakar. Ketika dinyalakan, api yang dihasilkannya besar dengan bunyi berisik, plus percikan bara ke mana-mana.

Wusss!

Api menyala-nyala, lantas padam tak lama kemudian, karena pada dasarnya yang dibakar hanyalah daun kering yang tipis. Bara yang dihasilkan pun nyaris tidak bersisa, langsung menghitam begitu angin berhenti berembus.

 

Dalam belajar, kadang saya kena gejala obor blarak ini.

Menggebu pada saat awal, lantas meredup tanpa proses dan hasil yang jelas. Ingin ini ingin itu, heboh tak tentu ingin jadi seperti ini atau seperti itu, kemudian padam sambil lalu. Maklum, anak muda #annanglaliumur

Watak blarak memang mudah padam. Itu kemestiannya, jadi sama sekali bukan salahnya. Hanya blarak KW alias sintetis yang nyalanya awet 😀

 

Jadi, untuk menjadi kayu yang bisa jadi bara yang bagus, yang bisa mematangkan banyak hidangan, atau menghangatkan ruangan, perjalanan saya masih panjang.

Saya kan masih muda #anothernglali

 

Salam takzim,

Anna Farida

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s