Haruskah EYD Jadi EBI?

media eyd ebi

EYD jadi EBI

Kita pernah merumpikan topik ini, kan? HU Pikiran Rakyat memuatnya di rubrik “Wisata Bahasa”, 26 Juni 2016.

Haruskah EYD Jadi EBI?

Oleh: Anna Farida

 

Seminggu ini beberapa pertanyaan bernada sama masuk ke kotak pesan saya.

Mbak Anna, beneran, EYD jadi EBI? Kok seperti nama udang kering?

 

Sebenarnya saya juga baru dua tiga minggu ini mendengar kabar terbitnya Salinan Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Nah, kan, singkatannya memang EBI. Sampai sekarang saya masih canggung setelah sekian lama menggunakan istilah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

 

Saat membandingkan kedua pedoman itu dari sisi sistematika maupun isi secara sepintas, tak saya temukan perbedaan yang mendasar. Ada tambahan pedoman penggunaan huruf tebal dalam kata berhuruf miring, ada perbedaan urutan penggunaan kata serapan, selebihnya belum saya baca secara terperinci.

 

Dalam perjalanannya, EYD tiga kali diperbarui. Kita mengenal versi 1975, 1987, dan 2009. Versi 2015 ini adalah pedoman bahasa Indonesia yang mutakhir, dan frasa “yang disempurnakan” tidak lagi digunakan dalam permendikbud di atas. Jadi boleh, dong, dijuluki EBI. Nama baru, semangat baru.

 

Tanpa lebih jauh mengulas apa yang membuat EYD berbeda dari EBI, atau mempertanyakan apakah namanya tetap EYD atau menjadi EBI, bagi saya perubahan itu kemestian. Bahasa adalah sarana manusia berkomunikasi, berasal dari kesepakatan para penggunanya, yang kemudian dibakukan.

 

Manusia selalu berubah, jadi wajar jika bahasa pun bergerak dinamis. Kita beruntung jadi manusia yang lahir belakangan, jadi tak perlu ikut repot mengumpulkan kata demi kata, menetapkan maknanya, dan merumuskan cara penulisannya. Saya lahir saat bahasa Indonesia sudah punya kamus,  siap guna, tinggal pakai. Kamus Besar Bahasa Indonesia sudah dicetak dengan kertas, tak terserak di bebatuan atau daun lontar. Lebih dari itu, kini kita menikmati kamus elektronik yang sangat praktis, bisa digenggam ke mana-mana dalam telepon pintar.

 

Beberapa kali aturan berbahasa Indonesia memang mengalami perubahan karena berbagai pertimbangan. Kita seharusnya menyambutnya dengan gembira. Perubahan, walau sedikit saja, adalah tanda bahwa kita adalah manusia yang terus tumbuh menyempurna. Dari berbagai sisi, bahasa di seluruh dunia akan terus berubah—bisa berkembang, meluas, bisa juga hilang digantikan bahasa lain. Coba perhatikan, berapa persen anak-anak kita yang aktif menggunakan bahasa ibu dalam komunikasi sehari-hari?

Kita juga mengenal bahasa yang dihidupkan dari kematian—bahasa yang pernah lama dilupakan sejarah—dan kini  jadi bahasa yang ikut berkuasa di dunia. Anda tahu, kan, bahasa apa itu?

 

Jadi, terbitnya EBI adalah peluang bagi para pengguna bahasa Indonesia untuk belajar ulang dan melakukan penyesuaian—toh perubahannya tidak banyak. Munculnya aturan baru akan membuat kita diingatkan untuk tetap menjadi bagian yang aktif dalam perkembangan bahasa Indonesia. Tak ada yang lebih berhak dan wajib menjaga sekaligus mengembangkan bahasa ini selain kita—saya dan Anda.

 

Kini saatnya kita bisa nyeletuk kepada anak-anak di rumah atau di sekolah, “EYD jadi EBI, lho.”

Lantas anak-anak akan bertanya, “Apa, sih, EYD? Apa pula itu EBI?”

Itulah kesempatan emas untuk menjelaskan bahwa kita punya bahasa Indonesia, kita punya pedomannya. Anak-anak mesti tahu bahwa mereka mewarisi bahasa yang sudah berkembang dan melintasi berbagai peristiwa penting, bahkan saat mereka masih melayang-layang di alam ruh.

 

Saya gembira, walau sebenarnya hati saya agak mencelus juga. Dalam permendikbud yang baru terbit itu disebutkan bahwa Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

 

Sudah lama EYD menemani saya menulis bersama banyak teman, hingga menghasilkan buku eletronik “Bercanda dengan EYD”. Anda bisa mengunduhnya secara gratis via internet.

 

Inilah perjalanan bahasa kita, proses besar yang wajib dirayakan. Kita bersyukur bahasa Indonesia didudukkan pada tempatnya yang semestinya, lengkap dengan pedoman yang dilindungi hukum. Terima kasih, EYD, selamat datang Ejaan Bahasa Indonesia, selamat datang EBI.

————————-

Anna Farida, penulis, kepala Sekolah Perempuan, narasumber “Dunia Pendidikan” RRI Pro-4 Bandung.

EYD BERUBAH JADI EBI?

Bercanda Dengan EYDEYD berubah jadi EBI! Aduh, jadi ingat udang kering!

Mbak, Anna, beneran, jadi EBI? Masa sih tidak ada singkatan yang lebih keren, gitu?

Ehehe ….

Sebenarnya saya mau diam-diam saja dulu, karena memang belum punya waktu untuk membaca Salinan Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia secara detail.

Tapi daripada saya ditanya-tanya lagi, lebih baik saya buat tulisan ini.

 

Jadi begini, terus terang saya juga baru tahu beberapa minggu terakhir bahwa ada peraturan baru yang mengatur ejaan bahasa Indonesia kita tercinta, namanya sudah saya sebut di atas. Memang masih canggung, setelah lama menggunakan istilah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), kini saya harus membiasakan diri dengan singkatan baru, EBI.

 

Tadi pagi bersama Ubit (11), saya berusaha membandingkan keduanya dari sisi sistematika maupun isi. Walau sepintas—itulah sebabnya saya sebenarnya belum mau bicara, nunggu para pakar saja. Saya kan hanya juru siar, tapi tergoda untuk berkomentar #sotoyasalways—saya tidak menemukan perbedaan yang mendasar.

 

Ada tambahan pedoman penggunaan huruf tebal dalam kata berhuruf miring, ada perbedaan urutan penggunaan kata serapan, lantas apa lagi, tadi, ya? Lupa.

 

Ala kulli hal—cieee, biar terkesan salihah menjelang Ramadan—yang ingin saya bahas bukan itu. Berapa kali pun pedoman bahasa diubah, seharusnya bukan masalah.

Bahasa itu kan sarana manusia berkomunikasi, berasal dari kesepakatan para penggunanya, kemudian dibakukan. Kita beruntung jadi manusia yang lahir belakangan, jadi tak perlu ikut ribut mengumpulkan kata demi kata, menetapkan maknanya, merumuskan penulisannya. Kita (maksudnya saya) lahir saat bahasa Indonesia sudah punya kamus. Siap guna, tinggal pakai.

 

Beberapa kali aturan berbahasa Indonesia mengalami perubahan karena berbagai pertimbangan. Ada sedikit teman yang berkata, “Ah, kok plin-plan, bikin bingung saja”. Ada juga yang menyambut perubahan demi perubahan dengan gembira.

 

Saya termasuk kawanan yang kedua.

Saya suka jika dalam bahasa ada perubahan, walau sedikit saja. Itu tanda bahwa kita adalah manusia yang terus tumbuh menyempurna. Dari berbagai sisi, bahasa di seluruh dunia akan terus berubah—bisa berkembang, bisa juga hilang, digantikan bahasa lain.

Eh, ada juga bahasa yang dihidupkan dari kematian dan kini ikut berkuasa di dunia. Anda tahu bahasa apa itu? Ehehe.

 

Jadi santai saja. Tak perlu resah jika ada aturan yang membuat kita harus belajar ulang dan melakukan penyesuaian. Justru inilah kesempatan bagi kita untuk belajar lagi dan lagi. Saya akan tetap menjadi bagian yang aktif dalam perkembangan bahasa Indonesia, semoga Anda pun demikian.

Jika mampu, buatlah aturan baru, kampanyekan, dan jadikan kesepakatan. Bukan tak mungkin kita jadi penemu yang kemudian ditiru. Namanya juga bikin aturan, tak bisa sembarangan dan banyak kaidahnya, tentu.

Senyampang menunggu kita jadi ahli bahasa, kita taat saja dulu, ya, dengan pedoman yang ada. Bagaimana?

 

Ngomong-ngomong, saya baru saja meluncurkan kumpulan rumpian #IngatEYD dengan komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis. Diskusi segar, ringan, namun bernas ada di sana. Kita bisa belajar kaidah bahasa Indonesia dan tetap awet muda.

Bisa diunduh gratis di sini.

 

Terima kasih sudah menjadi teman belajar kami, EYD. Kau selalu di hati.

Agak mencelus juga hati saya membaca tulisan bahwa Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Tapi inilah perjalanan yang wajib dirayakan. Kita bersyukur masih banyak orang yang peduli dengan bahasanya sendiri dan menjadikannya peraturan yang dilindungi hukum.

 

Demikian siaran hari ini, kita tunggu koreksi, masukan, dan konfirmasi dari para pakar.

Selamat datang Ejaan Bahasa Indonesia, selamat datang EBI.

Salam takzim,

Anna Farida

www.annafarida.com

 

BERCANDA DENGAN EYD

bercanda dengan EYDArtikel ini dimuat dalam “Wisata Bahasa” Harian Umum Pikiran Rakyat. Saya bagikan versi aslinya, ya.

 

BERCANDA DENGAN EYD

(Anna Farida)

Bagaimana jika ada kajian Ejaan Yang Disempurnakan yang diawali dengan dialog seperti ini:

#IngatEYD

Ini perlu diketahui para suami ketika merayu istri.

Istri: “Mas, baju baruku bagus, enggak?”
Suami: “Bagus, dong, Sayangku. Lehermu jadi terlihat jenjang …”
I: “Maksudmu apa? Nyindir leherku yang besar, ya?”
S: “Oh … um … maksudku … berjenjang-jenjang …”
I: “Hah! Tahu enggak kata itu apa artinyaaa? Grrrhhh!”

Istri kian murka, rayuan gagal.

Saya mengajar di sebuah komunitas menulis perempuan yang kebanyakan anggotanya adalah ibu rumah tangga. Ada yang memiliki latar belakang pendidikan bahasa, ada yang tidak. Ada yang masih ingat pelajaran tata bahasa, ada yang bilang lupa. Rata-rata, alasan mereka adalah karena tak suka pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

Pendek kata, dulu tak suka sekarang lupa.

Selain ilmu, bahasa itu kan keterampilan. Begitu jarang digunakan, dia akan segera dilupakan. Dulu, saat SMA, nilai rapor saya untuk bahasa Jerman selalu 9. Sekarang, kemampuan Deutsch saya ada di level pre-basic alias dasar saja tidak. Kosakata? Nyaris punah.

Apa sebabnya?

Lulus SMA, saya mendalami pendidikan bahasa Inggris di IKIP Bandung. Setelah itu, saya aktif menulis, mengajar menulis, dan menjadi trainer berbagai pelatihan orang tua dan guru. Artinya, saya lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Untuk berjejaring dengan komunitas guru internasional, saya pakai bahasa Inggris. Tak bisa dicegah, kurang dari sepuluh tahun, bahasa Jerman saya bisa dibilang lenyap.

Tragedi yang sama bisa terjadi pada bahasa Indonesia—termasuk bahasa ibu. Kecakapan berbahasa sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Pengaruh itu bisa positif bisa pula sebaliknya.

Tren bahasa singkatan misalnya. Kebiasaan menyingkat kata mulai muncul ketika telepon genggam menawarkan menu pesan singkat alias SMS. Jumlah karakter per pesan dibatasi, dan untuk setiap pesan dikenakan biaya tertentu.

Tak lama kemudian media sosial menyediakan fasilitas chatting. Bahasa tidak formal berkembang cepat, bahasa alay ikut menyergap. Seiring dengan mudah dan murahnya akses internet, tren ini cenderung diiyakan oleh kebanyakan pengguna media sosial.

Awalnya para ibu adem ayem saja, bahkan ikut dalam euforia komunikasi abad ke-21.

Saya juga.

Lama-lama yang mengeluh kian banyak.

Saya juga.

Menurut para ibu, anak-anak mengalami kesulitan ketika harus menuangkan gagasan dalam tulisan karena lebih akrab dengan bahasa chatting. Ini terjadi dalam semua mata pelajaran.

Beberapa rekan guru termasuk dosen curhat. Mengajar anak-anak membuat laporan atau sekadar menulis pengalaman dan pendapat jadi tugas yang mahaberat. Murid dan mahasiswa mereka rata-rata masih harus dibimbing untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang baik. Kesalahan tata bahasa yang sama terus berulang. Kosakata mereka terbatas, dan gaya tulis mereka terlihat sekali dipaksakan. Laporan dua halaman bikin mereka mengeluh, sementara arsip chat harian bisa ribuan pesan.

Para ibu tak kalah gerah.

Sebagian besar lupa banyak hal, sebagian yang lain lebih akrab dengan bahasa media sosial. Buntutnya, saya sering jadi sasaran tembak saat anak-anak mereka dapat tugas bahasa Indonesia.

Pesan-pesan begini, nih, yang bikin saya tambah sayang pada para ibu.

“Bu Anna, yang baku mana, sih? Nasihat atau nasehat? Tampak atau nampak? Maaf, ini PR anak saya.”

“Lah, kan tinggal buka kamus online, Bu.”

“Kan ada Bu Anna. Bisa sekalian tanya-tanya hal lain.”

“Haish!”

Jadilah saya kamus berjalan. Padahal, untuk banyak kata, saya pun buka kamus. Saya bahkan berkali-kali buka kamus untuk satu kata yang sama karena lupa.

Saya merasa mau dan merasa perlu, karena ingin tulisan saya bermutu. Bahasa kan mewakili karakter sekaligus kredibilitas seseorang. Saya belajar juga belum lama, kok. Bukti tertulisnya ada di blog saya. Tulisan yang saya buat dua tahun yang lalu masih berantakan, tulisan dua bulan yang lalu, bahkan dua hari yang lalu, masih saja ada yang meleset. Saya meringis sambil menyunting tulisan lama begitu ada pembaca berkomentar.

Saya juga tak bersedia disebut guru, apalagi pakar EYD—biasa, para ibu sering lebay kasih julukan macam-macam. Saya lebih suka disebut juru siar.

Sesuai namanya, hobi saya adalah menyiarkan kabar, kadang salah kadang benar.

Tak sekali saya minta maaf di depan khalayak bahwa ternyata penjelasan saya salah, atau tulisan saya tak sesuai kaidah.

Berulang-ulang saya sampaikan kepada para ibu bahwa belajar bahasa bukan perkara instan. Bahasa bukan melulu rumus yang bisa dihafal, melainkan sarana komunikasi yang mesti dijadikan kebiasaan. Kemauan untuk menggunakan bahasa yang baik secara konsisten perlu dijaga.

Dengan niat menularkan kemauan inilah, saya memilih metode humor dalam menyampaikan materi EYD. Materi ajar selama tiga tahun terakhir akan dijadikan ebook untuk dibagikan gratis. Tunggu tanggal edarnya.

Saya sajikan materi dalam bentuk cerita atau dialog imajiner yang lucu, kadang agak berlebihan. Setahu saya, berdasarkan pengalaman, humor membuat orang merasa santai dan membuka diri.

Nah, kesediaan membuka diri adalah kondisi ideal untuk belajar. Materi lebih mudah diserap, pemahaman menancap kuat. Suasana cair membuat belajar jadi produktif sekaligus menyenangkan.

Mau contoh?

Dialog semacam ini bisa menuai komentar panjang yang hidup:

#‎IngatEYD

“Lihat, Bu! Bis diangkut oleh bas pakai bus!”
“Biarin. Asal bukan bapakmu yang diangkut.” –kalem mode on– 

Bis: Kotak kecil milik kantor pos, untuk memasukkan surat. 
Bas: Kepala pekerja (mandor).
Bus: Kendaraan besar beroda empat.

Nah, Ibu-ibu …
Naiklah bus, bukan bis, apalagi bas!

Kadang saya tantang para ibu untuk membuat kalimat, kemudian saya bahas—tentu dengan pendekatan dan penjelasan sesantai mungkin. Dengan begitu, mereka tidak merasa dihakimi. Contoh soalnya seperti ini:

#‎IngatEYD
Ingin kuhangatkan sore yang basah. Sayang, denting mangkuk tukang bakso mengiang sejenak lantas menghilang.

Kalian kutantang.
Buat dua atau tiga kalimat. Gunakan beberapa kata yang suku kata terakhirnya mengandung “ang-ing-ung-eng-ong”. EYD akan kita benahi bersama. Ayo, tulis. Kok malah “ndomblong” 

Hasilnya luar biasa. Daya imajinasi dan daya bahasa para ibu ini meletup tanpa katup!

Yang perlu saya lakukan hanya mengoreksi sebagian kaidah EYD yang meleset dan membiarkan sebagian yang lain. Tak perlu dikoreksi semua, nanti mereka jera. Saya juga kan tidak tahu semua.

Nah, mari bercanda.

 

Salam takzim,

Anna Farida, Kepala Sekolah Perempuan, juru siar EYD, penulis, tinggal di Bandung, www.annafarida.com

Tanya Jawab Komunikasi Asertif

Salam Sehati, Bapak Ibu.

Mari masuk ke topik minggu ini, Komunikasi Asertif.

Saya tidak begitu suka definisi, seperti soal ujian esai SMP ahaha. Jadi saya akan sampaikan beberapa kasus sederhana, nanti definisikan masing-masing, apa itu komunikasi asertif.

Anda bergabung atau dimasukkan ke dalam sebuah grup WA. Anda sudah kebanyakan grup, topik yang dibahas tidak sesuai dengan minat, atau hape Anda nge-hang atau nge-drop melulu.
Anda ingin sekali keluar tapi rikuh. Kan yang masukin teman baik, sebagian anggota grup juga teman-teman dekat. Jadi di satu sisi kita menderita batin (halah banget, grup WA kok jadi sumber derita) di sisi lain kita ingin menjaga perasaan teman.

Saya bisa keluar dengan berkata seperti ini, “Teman-teman, hape saya mulai nge-hang, nih. Tampaknya dia tidak sanggup mengejar diskusi yang aktif di grup kita ini. Saya pamit exit group dulu, ya. Informasi dan foto penting sudah saya simpan, begitu siap bergabung lagi, saya akan kontak admin. Tengkyu banget sudah ngasih banyak wawasan, maaf jika ada salah kata, salahkan jempol saya yang besar ini 😀 Salaaam …

Atau dalam kasus lain, ada teman jualan baju dan menawarkan desain yang menurut Anda tidak menarik.

Jawab begini, “Saya lebih suka baju yang polos, tidak banyak lipatan.”

Perhatikan. Saya tidak tidak menjelekkan grup WA itu, tidak mencela desain baju, tapi juga bisa keluar dari grup yang tidak saya perlukan dan tidak perlu beli baju yang tidak cocok.

Anak merajuk minta hape baru.
“Saat ini anggaran keluarga kita adalah melunasi uang sekolahmu. Ibu/Ayah akan berusaha jika memang hape baru kamu perlukan, dan anggarannya ada. Oke?”

Saya tidak mencela keinginan anak pingin hape dan menasihatinya dengan berbagai wejangan tentang hidup hemat dan sabar.

Suami merokok di rumah yang sempit.
“Mas, rumah kita kan kecil. Biar terkesan luas udaranya bisa dijaga biar tetap segar. Aku juga lebih nyaman kalau baju dan perabotan rumah kita fresh.” ———-> Cukup.

“Eh, asyik, habis mandi!” ––nempel-nempel sedikit boleh, ehm— “Mas harum dan segar kalau habis mandi. Aku suka aromanya.” —-> Cukup. Tidak perlu merepet tentang rokok.

Beda dengan “Mas, kenapa sih, merokok melulu. Sama saja dengan bakar uang, kan?” Atau … “Mas kapan mau berhenti merokok?”

Sampaikan pandangan Anda secara positif, tanpa menyerang lawan bicara. Istilah kerennya I-message. Pesan saya, pandangan saya.

Sampaikan dengan nada bicara yang netral, bahasa tubuh yang rileks, sampaikan sekali saja. 3 menit cukup (maaf, ini ukuran pribadi saya. Lebih dari itu biasanya saya tergoda untuk ngomel. Jadinya komunikasi agresif, bukan asertif lagi, dwong!)

Boleh diulang di waktu yang pas. Mau tahu kapan waktu yang pas? Saat Anda bisa menyampaikan I-message dengan hati yang ringan, dan hasilnya lawan bicara tidak jadi tersinggung. Perhatikan kapan waktu yang pas bagi lawan bicara. Kalau gagal sekali ya coba lagi dan lagi dan lagi 😀

Kan tidak bisa instan.

Menurut saya, kekuatan lain dari komunikasi ini adalah aspek “minta maaf” yang terkandung di dalamnya.

Melalui komunikasi ini kita seolah bilang begini, “Maaf, mungkin pendapat saya tidak sesuai dengan kehendakmu.”

It’s about me, not you. Ini tentang saya, bukan kamu. Lidah saya saja yang kurang suka pedas, bukan karena masakanmu tidak enak, misalnya.

Walaupun sebenarnya kamu juga yang jadi sasaran tembak saya huehehehe

Dengan cara ini, lawan bicara tidak merasa disalahkan, dihakimi. Secara tidak langsung, lawan bicara dikondisikan untuk mengerti kita, memahami pendapat kita, dan ini mendatangkan perasaan positif dalam dirinya. –> ingat, ya, bukan diminta secara langsung, tapi dengan I-message tadi.

Bukan dengan berkata, “Ngertiin aku, dong!” melainkan “Aku ingin begini, pendapatku begitu”.

Kita akan lebih mudah memahaminya dengan praktik langsung per kasus.

Mari kita mulai rumpi. Semoga pertanyaan bisa masuk sebelum Sabtu, jadi waktu menjawab pun lebih leluasa.

Sip?

uchishofia

ilustrai: enjangwahyuningrum.wordpress.com ilustrasi: enjangwahyuningrum.wordpress.com

Kenapa sih kamu itu kok kasar sekali tiap mengucapkan kata? Kapan kamu berhenti merokok? Ngapain kamu share berita nggak penting? dan berbagai ungkapan rasa tidak nyaman yang hanya terucap dalam hati.

Asertif, dunk!!!

Yuk, simak tanya jawab yang padat kaya manfaat berikut ini:

Pertanyaan-1

Bagaimana menegur suami yang suka merokok di dalam rumah kami yang mungil? Hanya ada ruang tamu dan kamar tidur satu. Dia merokok di ruang tamu. Tapi kalau ada  teman sedang main ke rumah bawa anak, dia rela merokok di balkon.

Jawaban Elia Daryati

Relasi suami istri, merupakan relasi yang setara. Artinya, jika pasangan ini menempatkan posisi yang setara, akan terbangun saling menghargai satu sama lain. Terkadang kita sendiri merasa sungkan untuk menegur, karena menempatkan posisi sebagai orang yang sedikit “takut”, jangan-jangan kalau dibiarkan justru suami tidak akan mengerti. Mungkin suami berpikir kita setuju-setuju saja. Atau boleh jadi, kita menegur tidak terlalu menekankan betapa, tidak sukanya…

View original post 2,936 more words

Bahasa Ibu, Penanda Diri

Seharusnya tulisan ini bertengger di “Teaching Adventure” 🙂

Anna Farida

kuis bahasa ibuSaya orang Jawa. Saat bertutur melalui lisan maupun tulisan, yang biasa saya gunakan adalah bahasa yang dipahami kebanyakan orang—dalam hal ini bahasa Indonesia. Bahasa Jawa saya gunakan ketika berkumpul dengan kalangan yang berbahasa ibu sama.

Namun demikian, kadang ada rasa rindu menggunakan bahasa ibu, termasuk di depan publik. Saya penasaran, apakah teman-teman Facebook saya merasakan hal yang sama.

Karena itu, Agustus 2014 yang lalu, saya iseng mengadakan kuis berbagi bahasa ibu, dengan tema “ketika anak sakit”.

Reaksi teman-teman saya beraneka. Ada yang merasa kagok karena lama tidak menulis dengan bahasa ibu, ada yang senang karena nemu tempat merindu, ada pula yang excited karena kuis ini dianggap unik bahkan ajaib. Padahal, yang dikuiskan adalah sesuatu yang sangat dekat dengan diri kita.

Di akhir kuis, saat membaca tulisan demi tulisan sambil tersenyum, saya bahagia. Berderet kosakata yang sama sekali belum pernah saya baca. Inilah kekayaan Indonesia, warisan masa silam yang wajib kita…

View original post 2,422 more words

MEMERKOSA BAHASA

10552439_10202522322675073_786562598078022292_nSemiloka Bahasa dan Lembaga Adat yang diadakan Badan Bahasa Kemendikbud ini asyik. Para pemateri yang diundang memaparkan bahasa dan adat dari sisi yang tidak mainstream. Adrianus Meliala (gelarnya banyak sekali!), guru besar kriminologi Universitas Indonesia, berbicara tentang fungsi bahasa untuk dalam merusak perdamaian dan kebhinekaan. Ini dia hasil catatan saya.

Tentang bahasa, ada tiga sudut pandang kriminologis:

1. Bahasa dan tutur kebencian (terjemahan ngarang dari hate speech—semoga pas di lidah pas di hati haha)

2. Bahasa dan kriminologi budaya

3. Bahasa dan sensitivitas sosial

Ada sebuah kejahatan yang disebut hate crime. Ketika Anda benci kepada saya karena saya perempuan Jawa, bergigi besar, dan berkerudung, Anda telah melakukan kejahatan. Saya tidak memilih ras dan gender saya. Saya meyakini Islam sebagai pilihan yang paling pribadi. Jika aspek primordial dan lahiriah itu membuat Anda tidak suka dan bersikap tidak baik, Anda telah jadi penjahat. Halah!

Kebencian itu berpengaruh pada pilihan bahasa penutur, menghasilkan tuturan dengan nuansa serupa. Inilah sudut pandang yang pertama, bahasa dan tutur kebencian.

Misalnya:

  • Maklum, lah. Perempuan memang tidak bisa diandalkan.

  • Orang Papua itu biar direndam sebulan tetap hitam.

  • Mas, berdiri, dong, biar kelihatan!–diucapkan ketika ada orang pendek berbicara.

Jika dibiarkan dan dibudayakan, tutur kebencian itu bisa berujung pada pelecehan, kekerasan, hingga pemusnahan kelompok tertentu. Ya! Itu bisa terjadi. Bahasa yang digunakan untuk menyebarkan kebencian bisa merusak otak penutur dan petuturnya, sekaligus merusak masyarakat dari skala yang terkecil hingga terluas. Anda ingat aneka slogan lebay beraroma SARA yang bermunculan di masa kampanye beberapa bulan terakhir? Menurut Prof. Meliala, itu kejahatan. Bahasa diperkosa untuk memojokkan dan menindas orang lain.

Sudut pandang yang kedua adalah bahasa dan krimonologi budaya, yaitu perilaku menyimpang yang berlaku dalam keseharian. Penyimpangan ini diterima sebagai kewajaran karena melibatkan simbol-simbol resmi atau umum.

Misalnya:

  • Tentara menggantungkan tanda pangkat di spion mobil agar bebas berkendara, atau pakai seragam dinas saat mengurus pajak.

  • Bunyi sirine saat rombongan pejabat lewat—Minggir kalian. Gue mau lewat.

  • Grafitti di tembok kota: Sahur on the Road dengan lambang gank tertentu—Mari sahur sambil balapan motor.

  • Kalimat dalam iklan atau kampanye yang merujuk pada jajaran pulau di Indonesia atau bendera merah putih dengan tujuan memanipulasi emosi kebangsaan.

 

Foto: Alffian W P Walukow, Sulawesi Utara.

Foto: Alffian W P Walukow, Sulawesi Utara.

Lambang-lambang tersebut lazim dipakai berbagai kalangan dan dianggap wajar. Tak jarang, anak-anak dan remaja kita menggunakannya atau menjadikannya lelucon. Please hindari penggunaan simbol atau bahasa yang bertujuan merusak kerukunan dan budaya kebaikan.

Sudut pandang yang ketiga adalah bahasa dan kepekaan sosial, yaitu berubahnya komunikasi secara sadar atau tidak, biasanya karena pilihan medium—bisa berupa kata-kata atau bahasa tubuh yang menyinggung orang lain.

Suatu saat saya dan Anda sedang berbincang seru. Kita tertawa riang dan saling berkomentar. Tiba-tiba antusiasme Anda merosot dan lebih banyak diam. Saya harus peka, mungkin ada kalimat saya yang menyinggung perasaan Anda. Bahasa adalah penghasil sensitivitas yang ampuh, dan kedewasaan penuturlah yang berperan di sini.

Misalnya:

  • Kata mualaf atau Cina diucapkan di kalangan yang sensitif dengan dua kata itu

  • Iklan Ayo ramai-ramai beli properti! dipasang di wilayah rawan pangan

  • Promosi rok mini di komunitas ibu menyusui yang punya problem berat badan. Coba saja kalau berani!

  • Menyebut-nyebut kata “ingin merdeka” di wilayah konflik di Papua.

Jadi, bahasa sebagai salah satu temuan spektakuler dalam sejarah manusia sekaligus karunia Tuhan ini punya dua sisi. Anda mau pilih yang mana?

Di akhir paparan dan contoh-contoh “nakal” yang sebagian besar off the record, Prof. Meliala berpesan, “Berhentilah membuat bahasa menderita. Jangan perkosa dia untuk jadi sarana penyebar kebencian.”

 

Penafian: Tulisan ini adalah hasil catatan saya dari materi Prof. Adrianus Meliala dalam Semiloka Bahasa dan Lembaga Adat, Badan Bahasa Kemdikbud, tanggal 17-20 Agustus 2014 di TMII. Jika ada kesalahan pemahaman maupun contoh, tuduhlah saya, hehe.

 

(Mas) Sugeng Riyadi

 

 

Selo, Boyolali, Jawa Tengah

Selo, Boyolali, Jawa Tengah

Suami saya orang Bugis. Pernikahan delapan belas tahun tidak membuatnya terampil berbahasa Jawa. Sama parahnya, kosakata Bugis saya juga tak lebih dari dua belas lema.

Ini Lebaran tahun ketiga di rumah Mbah Kung, kakek saya. Untuk pertama kali, suami saya ikut acara bakar ikan bersama para pemuda di desa. Biasanya dia menghabiskan waktu untuk tidur setelah jadi sopir antar kota antar provinsi. Sambil membawa sepiring peuyeum, dia berangkat bersama paklik saya, dan pulang tiga jam kemudian dengan baju berbau asap.

“Seru, bumbu ikan bakarnya enak, tapi ngantuk banget,” katanya.

Keesokan harinya, setelah salat Idulfitri dan saling bersalaman, sambil heran suami saya bertanya, “Semalam Bapak kenalan dengan banyak orang yang namanya Sugeng Riyadi. Bapak pikir itu nama laki-laki. Ternyata perempuan juga banyak yang namanya Sugeng Riyadi, ya?”

Saya bengong sejenak, berpikir beberapa detik, lalu terbahak tak tertahankan. Di antara tatapan kesalnya, saya jelaskan bahwa sugeng riyadi itu artinya selamat hari raya. Bukan nama orang! Pasti frasa itu sering dia dengar tahun sebelumnya, tapi sepintas saja. Suasana Lebaran di rumah Mbah Kung kan selalu ramai, dan biasanya kunjungan kami hanya beberapa jam. Baru kali ini suami saya berinteraksi dengan penduduk asli dalam waktu yang lebih lama.

Begitu kami pulang, kasus sugeng riyadi memburaikan tawa seisi rumah, termasuk kotek ayam yang berkeliaran. Anak-anak merdeka meledek bapaknya, sementara suami saya bersungut-sungut tanpa daya.

Pantes. Beberapa orang menunjukkan reaksi aneh semalam,” keluhnya.

Kenapa, emang?” tanya saya.

Kalau ada yang ngajak salaman sambil bilang ‘sugeng riyadi‘ pasti Bapak jawab ‘Saya Anwar’. Kan Bapak pikir dia ngajak kenalan hahaha!” akhirnya dia ikut tertawa.

Hari itu dan hari berikutnya, setiap tamu terhibur oleh “Mas Sugeng Riyadi” yang jadi wajib diceritakan berulang-ulang. Pasalnya, anak-anak bergiliran mengintai orang yang menyalami bapaknya. Tawa mereka membahana begitu frasa fenomenal itu terdengar. Mau tak mau sang tamu bertanya, “Kenapa tertawa?” dan … mengalirlah kisah itu kembali 😀

Dari berbagai sumber saya temukan keterangan bahwa frasa sugeng riyadi berasal dari bahasa Jawa sugeng riyadin. Sugeng artinya selamat, riyadin adalah singkatan dari riyaya din. Riyaya artinya hari raya atau hari besar, din berasal dari bahasa Arab yang berarti agama. Jadi riyadin adalah hari raya agama (Islam). Belakangan kata riyadin jadi dilafalkan riyadi

Ngaturaken sugeng riyadi, sedoyo kalepatan nyuwun pangapunten.

Salam Idulfitri, semoga kita berjumpa dengan Ramadan lagi.