MENCINTAI GENERASI LITERER

generasi litererFor me, opinion is merely curhat with style 😀

Opini ini dimuat di Harian Galamedia 6 Maret 2017. Selamat membaca.

MENCINTAI GENERASI LITERER

Oleh: Anna Farida

Saya membaca “Dunia Sophie”-nya Jostein Gaarder ketika mahasiswa. Setengah mati saya selesaikan buku itu di antara rasa ingin tahu dan rasa malas yang bergantian datang. Entah berapa minggu baru tamat setelah sebagian besar halaman saya lewat. Itu pun saya segera lupa isinya.

22 tahun kemudian, putri saya yang masih SD menamatkan buku yang sama hanya dalam seminggu. Saya bersaksi, dia benar-benar membacanya. Di rumah, buku itu tak pernah lepas dari tangannya. Sesekali dia bertanya apakah saya tahu Aristoteles atau Thomas Aquinas dan saya jawab sekenanya.

Begitu dia menyatakan diri selesai baca, saya penasaran, apa saja yang dia dapat dari novel filsafat yang tebalnya hampir 800 halaman itu.

Jawabnya, “Seru, Bu. Banyak misterinya!”

Rasa ingin tahunya terpuaskan pada halaman 200-an, Sophie bertemu dengan Alberto Knox. Dia kembali kebingungan saat surat-surat buat Hilde bisa sampai ke tangan Sophie, juga ketika muncul misteri lain yang dia ceritakan kepada saya dengan penuh antusias.

Saya penasaran apakah dia pun menyerap materi sejarah dan filsafat yang padat dalam novel itu. Sambil lalu saya uji dia dengan beberapa pertanyaan, dan jawabannya santai saja, “Renaisans? Errr, yang mana, ya? Lupa! Spinoza? Rasanya ada ceritanya, orangnya gendut, tapi lupa juga, sih.”

Hasil investigasi saya membuktikan bahwa dia mencermati dan menikmati jalinan kisahnya dan membaca begitu saja materi filsafatnya. Putri saya harus membaca setiap halamannya karena tak ingin ketinggalan misterinya walau tak paham sebagian besar isinya.

Ini menarik. Buku tebal yang tidak didesain khusus untuk anak bisa mengikat minat anak 10 tahun. Penulisnya sudah pasti piawai. Siapa tak kenal Gaarder.

Walaupun begitu, perlu kita sadari bahwa minat baca pada zaman serba layar sentuh ini mulai langka. Bukan hanya pada anak, tapi juga pada orang dewasa yang tahu benar manfaat membaca. Saya sendiri bukan pembaca yang tangguh. Frekuensi dan kualitas bacaan saya biasa saja, tapi bukan berarti saya tidak bisa mendampingi anak-anak menjadi literer. Anda juga bisa. Mari kita upayakan bersama.

 

Jadilah “teladan”

Mengapa ada tanda petik di sana? Siapa tahu kita sejenis—tidak begitu suka membaca. Demi anak-anak, kita bisa berlatih suka. Saya biasa duduk sejenak di dekat mereka, ambil buku, dan membaca. Pandangan saya memang ke buku, sedangkan pikiran saya entah ke mana. Yang penting saya terlihat membaca. Tanpa sengaja, ada juga kalimat yang singgah dalam ingatan saya. Lumayan, kan?

Membaca itu seperti olahraga. Semula saya tidak suka karena membuat badan sakit semua. Saya melakukannya karena terpaksa, terengah-engah berlari keliling lapangan, demi kesehatan dan kebugaran (baca: demi mengurangi berat badan). Lama-lama saya merasakan manfaatnya dan mulai menjadikan olahraga sebagai gaya hidup.

Sama halnya dengan membaca, awalnya berat. Saya harus bertarung dengan kantuk padahal baru dapat dua halaman, belum lagi godaan untuk berhenti karena berbagai alasan. Saya kondisikan diri saya membaca, sambil paham atau sambil melamun, sukarela atau terpaksa, semoga lama-lama jadi benar-benar suka.

 

Akrabkan rumah dengan bacaan

Yang dimaksud dengan bacaan bukan hanya buku. Kita bisa membiasakan menulis pesan pada anggota keluarga. Daftar tugas rumah tangga, catatan belanjaan, hingga pesan-pesan cinta bisa ditempel di tempat-tempat yang strategis. Kebiasaan ini pada gilirannya juga membangun minat menulis pada anak.

Sebar buku pada tempat yang mudah dijangkau anak, sabar jika buku berserakan di seluruh penjuru rumah. Menggerutu saat anak lupa mengembalikan buku ke rak akan mengurangi kesenangan mereka membaca. Membiarkan buku berhamburan buka berarti mengabaikan tanggung jawab. Tentukan prioritas, mau membiasakan tanggung jawab dulu atau minat baca dulu. Dua-duanya bersamaan? Saya sih tidak bisa. Saya pilih minat baca, dan mengalah saat saya yang harus beres-beres bekasnya. Setelah kebiasaan baca terbangun, baru perlahan saya minta mereka ikut rapi-rapi—walau ini jarang terjadi. Saya lebih suka buku tertebar daripada tertata diam di rak dan menjadi hunian nyaman laba-laba.

 

Variasikan jenis bacaan

Izinkan anak membaca berbagai jenis buku—sesuai jenjang usianya, tentu. Pada tahap awal, hindari buku yang padat informasi ala buku pelajaran. Tak perlu cemas, mereka sudah banyak mendapatkan genre ini di sekolah.

Pilihkan buku-buku cerita, misalnya. Membaca fiksi diyakini membantu anak memperkuat daya ingat jangka panjang. Menurut pakar literasi, Sofie Dewayani, buku cerita bergambar membantu anak mencermati komunikasi nonverbal. Imajinasi anak bebas berkembang, kecintaan pada membaca juga akan terbangun secara sukarela.

Dukung hobi anak dengan memberinya bacaan terkait. Anak yang suka sepak bola akan tertarik membaca komik bertema bola atau biografi pemain idolanya. Berita aktual terkait sepak bola juga akan memancing minat bacanya.

Bagi balita, sediakan beragam buku aktivitas yang bisa dicoret dan dirobek. Untuk anak yang lebih besar, variasikan dengan komik, buku TTS, majalah, hingga buku petunjuk penggunaan hape, misalnya.

 

Carikan teman

Ini zaman media sosial, saat urusan pribadi jadi kabar dunia. Saat melakukan kebaikan, terasa bahwa dukungan teman cukup besar pengaruhnya, termasuk teman maya. Untuk remaja, melibatkan media sosial untuk mengungkit minat baca bisa jadi jalan tengah. Anjurkan mereka untuk membahas buku dengan teman di sela chat. Jika mereka masih enggan, temani, carikan teman. Ajak teman-teman Anda yang punya anak remaja untuk membuat klub baca jarak jauh, misalnya.

 

Bukan sulap

Dalam beberapa kesempatan saya menyebut membangun minat baca pada era gadget seperti ilusi tingkat tinggi. Bagaimana mau menciptakan ilusi sedangkan saya bukan tukang sulap? Jajal upaya di atas, erami dengan ketekunan. Jangan berharap hasilnya instan dan menakjubkan seperti main sulap.

Salam literasi.

—————

Anna Farida, kepala Sekolah Perempuan, penulis “Biasa Baca Sejak Balita”—bisa diunduh gratis via Google.

Advertisements

MENGGAGAS PENDIDIKAN IBU

galamedia-anna-farida-pendidikan-ibuOpini ini dimuat di Harian Galamedia, 22 Desember 2016. Seperti biasa, tulisan saya di koran lebih padat, berisi, rapi. Terima kasih kepada editornya yang jeli menatanya.

Ini versi aslinya, ampuni kealpaannya 😀

 

Muasal pendidikan adalah keluarga sebagai lingkungan terdekat bagi anak. Sentuhan pendidikan pertama yang dirasakan seorang bayi diharapkan berasal dari keluarga yang memiliki cinta kasih dan  daya dukung positif bagi perkembangannya. Alih-alih isu pengarusutamaan gender yang pernah dan masih menguat, dalam umumnya budaya Indonesia, peran pengasuhan dan pendidikan masih menjadi tanggung jawab ibu (Tobit dalamTim Pengembang Imu Pendidikan FIP-UPI, 2007: 309). Di pundak para ibu kualitas pendidikan anak disandarkan.

Di negara maju, pendidikan bagi perempuan dan laki-laki sama pentingnya. Di negara berkembang dan belum berkembang, pendidikan bagi perempuan jauh lebih penting berdasarkan alasan sosial ekonomi. Terkait dengan perbaikan generasi, pendidikan untuk ibu dan calon ibu menjadi kebutuhan yang mendesak. Jika seorang perempuan memiliki pendidikan memadai, anak-anaknya akan memperoleh manfaat berupa berbagai pencerahan dan pengalaman belajar dari ibunya. Di bawah pengasuhannya, semua anggota keluarga akan terdidik (Gupta, N.L. (2000), Woman Education through Ages, New Delhi: Concept Publishing Company).

Sementara itu, data dari Badan Pusat Statistik 2009 memperlihatkan bahwa 75,69% perempuan usia 15 tahun ke atas hanya tamat SMP ke bawah. Mayoritas perempuan, 30,70%, hanya lulus SD. Bisa dimengerti mengapa 4,2 juta perempuan, artinya sekitar 70% dari Tenaga Kerja Indonesia adalah perempuan—dan sebagian besar bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Berikutnya, data BPS tahun 2010 mencatat 12,26% perempuan Indonesia menikah pertama kali pada usia 10-15 tahun, 32.46% pada usia 16-18 tahun. Artinya, 45% perempuan Indonesia menikah pertama kali sebelum mereka berusia 19 tahun.

Pada usia 19 tahun, idealnya mereka masih belajar di perguruan tinggi. Kajian yang dilakukan oleh Bank Dunia di 25 negara berkembang, Gender Equality and The Millenium Development Goals (2003) memperlihatkan bahwa rendahnya tingkat pendidikan seorang ibu berdampak langsung pada gizi buruk dan rendahnya kualitas pengasuhan terhadap anak. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa jika perempuan bersekolah satu hingga tiga tahun lebih lama, angka kematian anak bisa turun hingga 15%. Dengan masa sekolah yang sama pada laki-laki, angka kematian anak yang berhasil diturunkan adalah 6%.

Data tersebut menunjukkan bahwa peran perempuan terhadap pendidikan bahkan keselamatan anak sangat krusial. Tentu, yang dimaksud dengan pendidikan pada era sekarang bukan lagi sekadar melek aksara. Cakupan pendidikan yang mesti dimiliki perempuan masa kini sungguh luas sekaligus kompleks.

Karenanya, untuk menjaga kesinambungan belajar, pendidikan digital bisa jadi jembatan. Para ibu tetap memiliki peluang untuk “kuliah” tanpa meninggalkan rumah.  Mereka bisa mengikuti berbagai kursus online yang disediakan melalui berbagai platform dengan biaya murah hingga gratis. Banyak universitas terkemuka di dunia menawarkan kursus online dengan aneka pilihan materi. Kini berbagai universitas dan lembaga di Indonesia pun menawarkan kursus yang tak kalah menarik. Kursus disampaikan melalui sistem yang mudah diakses dan waktu yang fleksibel.

Ada pula kursus yang diselenggarakan melalui grup-grup media sosial atau aplikasi chat group yang lebih praktis. Prinsipnya, kemauan untuk mengakses pintu demi pintu adalah kunci awalnya, media atau sarana yang digunakan bisa apa saja. Setelah itu, para ibu bisa memperoleh keuntungan tak terduga seperti:

  • Pilihan sangat luas. Mereka bisa memilih berbagai materi sesuai minat: memasak, menjahit, politik, sastra, mesin, biologi, seni, dan masih banyak lagi
  • Menjadi teladan. Dengan menjadi pembelajar tiada henti, ibu menjadi teladan dalam penggunaan internet positif. Keluarga sebagai pusat belajar dengan sendirinya terwujud.
  • Biaya murah. Banyak kursus yang berkualitas dan gratis, bahan belajar pun bisa diakses dengan mudah.
  • Suasana belajar yang nyaman. Karena kelas online bisa diakses dari mana pun, para ibu tak perlu buru-buru meninggalkan rumah dan kehilangan waktu paling berharga bagi keluarga. Mereka bisa memilih waktu belajar yang paling efektif, misalnya tengah malam atau menjelang pagi.
  • Interaksi antar peserta fleksibel. Bagi pembelajar yang malu-malu, kelas online memberikan ruang yang lebih leluasa untuk ikut berekspresi.
  • Konsep diri yang seimbang. Suasana akademis dalam diri ibu akan terus terjaga, pengetahuan dan wawasan mereka terus berkembang, sehingga self esteem pun seimbang.
  • Jejaring kebaikan. Melalui kelas-kelas online, para ibu menemukan teman-teman dengan minat yang sama dan bisa saling bekerja sama dalam kebaikan.
  • Belajar hal baru, bertemu teman baru, dan mendapatkan kepercayaan diri (kembali) tentu hal yang menyenangkan. Belajar untuk kesenangan, mengapa tidak?

Bagi perempuan, dengan segala kendala dan kesibukannya, ketersediaan internet dan berbagai platform pendidikan digital memberikan jalan untuk terus belajar. Kunci utamanya tentu kemauan yang datang dari diri sendiri dan kemauan untuk mengajak orang lain belajar bersama.

E-learning juga memberikan rasa percaya diri bagi para ibu bahwa mereka mampu mendidik anak-anak menjadi generasi terbaik. Keyakinan ini akan berimplikasi pada cara mereka mengasuh anak-anak, memberikan pilihan-pilihan terbaik kepada anak, sekaligus menjadi teladan bagi anak sebagai pembelajar mandiri.

Ruang pendidikan digital ini demikan luas, namun belum dieksplorasi secara optimal. Ajakan secara terus menerus kepada masyarakat melalui berbagai lini informasi wajib disampaikan. Pendekatan pribadi hingga pendekatan kelembagaan bisa diupayakan agar masyarakat Indonesia, khususnya perempuan, memahami jenis pendidikan ini sebagai alternatif yang istimewa.

Melalui kelas-kelas online, kita bisa menjangkau pendidikan yang berkualitas. Aksesnya terbuka bagi semua kalangan. Bukan mustahil bahwa pendidikan di zaman ini sudah semestinya mudah, murah, dan berkualitas dunia.

Selamat Hari Ibu.

———————-

Anna Farida, Kepala Sekolah Perempuan, penulis buku-buku pendidikan. www.annafarida.com

Artikel ini disarikan dari jurnal ilmiah berjudul Preserving Sustainability Of Mothers’ Education Through Digital Classes yang disampaikan penulis dalam International Conference on Education in Indonesia di Universitas Singaperbangsa Karawang.

Menemani Remaja Belajar Bertanggung Jawab

 

media pr 25 Juni 2016

Opini di HU Pikiran Rakyat, 25 Juni 2016

Ini artikel asli yang saya kirim ke Harian Umum Pikiran Rakyat. Versi koran lebih padat, tak banyak melantur seperti ini 😀

 

Seorang ibu mengeluh tentang putrinya yang sudah dua belas tahun tapi belum tertib membereskan kamarnya sendiri. Semula sang ibu membiarkan kamar sang putri berantakan, tapi lama-lama tidak tahan dan turun tangan sambil mengomel. Kamar pun beres untuk kemudian dibuat berantakan lagi, demikian setiap hari.

Saat menyadari bahwa anak beranjak remaja dan  kecakapan hidupnya belum sesuai harapan—misalnya dalam hal tingkah laku atau prestasi belajar—yang paling sering dilakukan orang tua adalah menyalahkan diri sendiri. Berikutnya akan ada kecenderungan untuk menyalahkan orang lain seperti pasangan, guru, atau teman-teman sang anak.

 

Masalah kian ruwet ketika yang disalahkan tidak terima dan balik menyalahkan. Ayah menyalahkan Ibu dan sebaliknya, orang tua menyalahkan guru, guru menyalahkan orang tua, anak menyalahkan orang tua dan sebaliknya.

Ini jalan buntu.

Semua pihak terjebak dalam pertikaian yang menguras energi tanpa solusi. Anak menyaksikan perilaku orang-orang dewasa yang kontraproduktif dan menjadikan perilaku itu sebagai pijakan bertindak.

 

Menyalahkan diri sendiri dan orang lain mungkin memberi ruang untuk memperoleh pembenaran, mengapa perilaku anak meleset dari harapan.

Kita tahu, sebagian remaja kita tumbuh dalam lingkungan yang kondusif dan sebagian lagi harus berjuang keras menjalani tumbuh kembang yang layak. Faktanya, tumbuh dalam kondisi apa pun, tuntutan masa depan yang mereka hadapi tetap sama.

 

Lantas apa yang bisa dilakukan oleh orang tua atau orang dewasa lain dalam proses pembelajaran remaja menjadi pribadi yang bertanggung jawab?

 

Setop berperan jadi korban

Juara dalih terpopuler yang biasa diajukan remaja ketika tanggung jawabnya meleset adalah menyalahkan orang lain atau hal lain. Ketika datang terlambat, misalnya, dia berdalih “Adik saya rewel. Saya harus menghiburnya dulu. Angkotnyangetem (nunggu penumpang lain) hampir sejam. Tadi saya lewat pasar tumpah, jalan jadi macet.”

Artinya, dia mencoba berkata bahwa “Saya ini korban kerewelan adik saya, korban angkot yang lambat, korban pasar yang padat. Jadi saya seharusnya diampuni. Aturan-aturan itu tidak berlaku bagi saya karena saya ini korban. Karena saya korban, saya tidak perlu bertanggung jawab.”

 

Ketika remaja menempatkan diri sebagai korban, kepada mereka harus disampaikan, “Menyalahkan adik atau angkot dan pasar tidak menyelesaikan masalah. Ayo kita cari cara untuk datang tepat waktu.”

Hal yang sama bisa diterapkan ketika kita menjumpai kamarnya berantakan dan dia menyalahkan tugas sekolah yang banyak, misalnya.

“Menyalahkan tugas sekolah bukan solusi. Kesepakatan kita adalah kamar harus rapi sebelum sarapan, dan kita sama-sama tahu konsekuensinya jika kamar berantakan.”

 

Artinya, kesepakatan dan konsekuensi harus diketahui bersama sebelum ada kejadian. Pastikan remaja paham bahwa konsekuensi adalah hasil dari pilihan yang salah, bukan hukuman.

 

Pada saat yang sama, orang tua pun wajib konsisten saat berhadapan dengan situasi yang memestikan teladan yang baik.  Mari kita selisik peristiwa berikut ini:

 

Alif terlambat bangun dan kesal. Dia uring-uringan karena Senin adalah hari upacara. Murid yang terlambat akan dapat jatah membersihkan selokan sekolah. Sang ibu juga kesal karena semalam Alif melanggar jam tidur yang sudah disepakati. Tapi bagaimana lagi, ibunya merasa bersalah sekaligus tidak tega, bahkan ikut malu jika Alif membersihkan selokan.

Akhirnya sang ibu menelepon sekolah, “Alif sedang tidak enak badan, Pak. Mohon izin datang terlambat ke sekolah.”

 

Sekarang siapa yang punya problem dengan tanggung jawab? Mengapa Ibu memilih berpihak pada perilaku negatif Alif? Dia salah mengambil keputusan begadang, terlambat bangun, terancam kena sanksi, dan ibunya membereskan urusannya.

 

Ketika anak bersikap kurang baik, misalnya bersikap kasar, tidak mengerjakan PR, tidak sopan, atau melakukan pelanggaran lain di rumah atau di sekolah, sebagian orang tua mencari jalan pintas: jadi pembela.

Mereka mengemukakan dalih atas sikap kurang baik tadi, misalnya “Saya dan ibunya berpisah, jadi dia kurang fokus. Di rumah sedang ada masalah, jadi emosinya cepat terpancing. Mungkin dia kurang sehat, jadi cuek saja saat diajak bicara.”

 

Pada saat itulah orang tua mengiyakan bahwa anak adalah korban, jadi tak perlu bertanggung jawab. Anak akan melihat bahwa ternyata cara ini mujarab untuk menghindari konsekuensi dan menjadikannya kebiasaan.

Kita tak bisa menutup kemungkinan bahwa remaja kita sedang menghadapi situasi pelik yang membuatnya tidak leluasa menempatkan dirinya. Itu lain cerita. Yang sedang kita bahas justru dalih yang biasa digunakan orang tua untuk menutupi ketidakmampuan anak untuk bertanggung jawab.  Jadi memang ada unsur manipulasi di sana, dan anak mengaminkannya.

 

Dengan daya pikir yang mulai berkembang, remaja tahu bagaimana perasaan ayah atau ibu terhadap mereka. Somehowremaja ini mengendus aroma rasa bersalah dari kedua orang tua jika mereka melakukan kesalahan.

 

Dalam bahasa Jawa ada istilah anak polah bapa pradhah, jika anak melakukan kesalahan, orang tua ikut menanggung akibatnya. Tentu benar, perbuatan anak masuk dalam cakupan tanggung jawab orang tua. Pada saat yang sama, melatih tanggung jawab anak juga tanggung jawab orang tua, bahkan jauh lebih besar bobotnya. Tak selamanya orang tua ada di sisi anak untuk jadi “pahlawan penyelamat”.

 

Kita berharap anak-anak tumbuh dan berkembang kuat sesuai dengan potensinya, bukan dilemahkan karena orang tua selalu jadi tameng yang melingkupi mereka.

Bahkan untuk anak-anak yang difabel sekalipun, latihan bertanggung jawab mesti diberikan sedini mungkin dengan porsi sesuai kondisi mereka masing-masing.

 

Jika mereka mengalami kesulitan menumbuhkan tanggung jawab, tugas orang tua adalah membantunya berlatih. Salah satunya adalah mengurangi porsi peran “pahlawan semu” tadi.

Awali dengan duduk bersama remaja kita, ajak dia bicara. Sampaikan bahwa usianya kini mulai remaja, dan belajar bertanggung jawab adalah salah satu cara menapaki keberhasilan dalam hidup (Covey, 2009).

 

Tepat pada saat yang sama, orang tua pun mesti yakin bahwa anak mampu melakukannya. Melepaskan porsi patron atau pahlawan juga perlu perjuangan. Jadi, terkait berlatih tanggung jawab, anak dan orang tua berjuang bersama-sama.

 

Ketika remaja bersikap tidak santun di sekolah atau kurang sopan ke tetangga, misalnya, jangan buru-buru menelepon untuk minta maaf. Ajak dia belajar bertanggung jawab dengan minta maaf sendiri. Temani dia jika perlu. Jika dia menolak, biarkan anak menerima konsekuensinya—misalnya dapat surat peringatan dan sekolah atau dijauhi teman sekitar rumah.”

 

Jadi bukan hanya anak yang harus siap, orang tua pun harus siap. Besar kemungkinan dia akan marah kepada Anda dan menyangka Anda tidak sayang lagi. Mungkin dia mengomel, mungkin juga bungkam sebagai tanda protes.

Ketika dia melakukan kesalahan dan menempatkan diri sebagai korban, ajukan pertanyaan yang tepat seperti ini:

“Tanggung jawab siapa, nih, buang sampah setiap sore?”

“Kemarin repot banget, Bu. Pak Guru kasih banyak tugas.”

Yang kita bahas bukan siapa yang salah, tapi tanggung jawab siapa ini.”

 

Jika kita membantah tugas yang banyak atau menyalahkan keteledorannya, yang akan dia lakukan pada kesempatan lain adalah mencari alasan yang lebih paten.

Jadi, berikan tanggapan yang sederhana: Tanggung jawab adalah tanggung jawab. Kali ini dia lalai dan mesti diperbaiki lain waktu.

Lakukan tanpa pertengkaran panjang, tanpa omelan, fokus pada tanggung jawabnya. Bersiaplah juga untuk bersabar, perubahan tak akan terjadi dalam semalam.

 

Sepakati target bersama

Awali dengan membahas pentingnya bagi remaja belajar menjadi manusia dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab. Ada target belajar yang wajib dicapai. Buat target yang masuk akal, sesuai kemampuan mereka, tingkatkan porsinya seiring waktu. Dengan menyepakati target bersama, misalnya berangkat les tanpa terlambat, remaja kita akan berusaha mencapainya.

 

Target juga bisa diwujudkan dalam daftar tugas.

Awalnya, remaja tidak akan suka. Bagi mereka, daftar tugas adalah bencana nomor tujuh di dunia.

Isi daftar tugas bisa bervariasi seperti mengurus rumah, latihan musik, latihan olah raga, baca kitab suci, baca buku, atau tugas apa pun sesuai keperluan dan ciri khas keluarga.

 

Bukan tidak mungkin akan terjadi “perang” pada masa-masa awal, atau anak hanya bersemangat di hari pertama, lupa di hari kedua, kemudian buyar di hari ketiga. Ketika ini terjadi, tugas untuk orang tua hanya satu: berhenti satpam yang rewel.

Kita boleh mengingatkan dia sesekali, menemaninya sesekali. Terapkan konsekuensi tanpa banyak menyalahkannya.

 

Yang tak kalah pentingnya, izinkan remaja memilih daftar tugas sendiri. Ini wujud tanggung jawabnya, dan efeknya jauh lebih bagus daripada untaian tugas yang dibuatkan oleh orang tua.

Pada hakikatnya, hidup anak adalah hidupnya, pilihan adalah pilihannya, orang tua adalah teman seperjalanannya. Tugas kita adalah mendampinginya mewujudkan pilihan itu, bukan memilihkannya jalan hidup dan menuntutnya bertanggung jawab atasnya.

 

Temani mereka, beri apresiasi atas pencapaian dan niat baik sekecil apa pun. Gagal di hari pertama? Mulai lagi besok, lusa, minggu depan. Start and restart, karena belajar itu sepanjang hayat.

 

————————-

Anna Farida adalah kepala Sekolah Perempuan, penulis buku “Parenting with Heart”.

KOMUNIKASI YANG MELEKATKAN KELUARGA

 

Artikel Ibu di Galamedia-croppedSuatu sore, saya terperanjat.

Salah satu anak saya yang beranjak remaja mengucapkan kalimat yang menurut saya tidak layak. Bahasa tubuh dan ekspresi wajahnya juga membuat saya kaget karena dia biasanya sangat santun.

Ini dari mana asalnya?

 

Sebelum membahas kejutan pahit sore itu, saya ingin menyingkap pandangan tentang keluarga sebagai madrasah atau sekolah pertama bagi anak. Ada yang berpendapat bahwa sebagaimana anak burung yang belajar terbang dari induknya, anak pun pasti bisa belajar apa pun dari keluarganya.

 

Sayangnya, saat ini sebagian keluarga terserang gamang. Ada orang tua yang ragu apakah dia benar-benar punya peran dalam pendidikan anak-anak zaman sekarang, atau paling tidak bertanya-tanya, bagaimana caranya.

 

Apalagi jika kondisi ini dikaitkan dengan bergegasnya zaman bergerak. Tak sedikit orang tua yang merasa gaptek atau kudet—dua singkatan gaul yang mewakili makna ketertinggalan dalam era digital.

Akibatnya, terjadilah kesenjangan komunikasi antar generasi dan terlihatnya gejala yang lazim disebut panic parenting.

 

Namanya juga panik. Tindakan dan keputusan dilakukan secara mendadak, tidak terkendali, penuh suasana cemas, dan seringkali menimbulkan perilaku yang kurang terpuji.  Atas nama cinta, tanpa niat menyakiti, orang tua bisa melakukan kekerasan kepada anak, demikian pula sebaliknya.

 

Saya pun pernah mengalaminya.

Saat mendapati anak saya mengucapkan kalimat tak layak tadi, rentetan pertanyaan siap melompat.

Anehnya, mungkin saking terkejutnya, lidah saya terkunci. Ada untungnya juga, sih. Saya tak perlu melontarkan kalimat balasan yang akan saya sesali kemudian. Saya memandanginya dengan tajam, masih tak percaya, sementara dia melihat ke arah lain.

 

Kami sama-sama terkejut, sama-sama tidak menyangka cara berkomunikasi seperti itu bisa muncul. Di antara suasana kaku saat itu, saya ingat Marshall Rosenberg (2012: 125) yang mendefinisikan perilaku kami sebagai violent communication atau komunikasi yang bermuatan kekerasan.

 

Bisa jadi pemicunya adalah saya.

Mungkin sebelumnya saya membuatnya sangat kesal, dan akhirnya dia lepas kendali. Bisa jadi dia sedang jengkel dengan hal lain atau orang lain, kemudian saya yang kena getahnya.

Mungkin Anda pernah mengalami hal yang sama, bertengkar dengan anak atau pasangan kemudian menyesal berhari-hari.

 

Tak perlu resah, kita bisa sama-sama belajar menerapkan (kembali) komunikasi yang melekatkan keluarga. Saya yakin bahwa komunikasi yang jelas, terbuka, dan penuh cinta adalah pijakan yang kuat bagi keluarga yang sehat.

 

Keluarga yang terbiasa berkomunikasi secara sehat akan memiliki kelentingan, daya tahan, sekaligus kemampuan mengatasi masalah. Orang tua dengan gaya komunikasi yang sehat akan lebih optimal dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Pada gilirannya, anak-anak akan tumbuh dengan karakter positif: percaya diri sekaligus santun, terbuka sekaligus tahu batas.

 

Nah, bagaimana caranya membangun komunikasi yang sehat?

Ternyata, kemampuan berkomunikasi dengan baik itu bukan genetis tapi hasil latihan. Komunikasi yang sehat itu bukan sesuatu yang terberi, tapi harus diupayakan. Kita bisa merujuk ke berbagai buku komunikasi keluarga dan menerapkannya di rumah. Saya rangkumkan beberapa langkah—mudah menuliskannya, perlu perjuangan dan komitmen untuk melakukannya.

 

Pertama, luangkan waktu. Hadiah termahal yang bisa kita berikan kepada keluarga, terutama anak-anak, adalah waktu. Kekurangan waktu buat keluarga adalah problem yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kekurangan uang.

Padatnya jadwal kegiatan yang berbeda-beda membuat anggota keluarga sulit menemukan waktu untuk bisa mengobrol santai.

Ini tidak bisa dibiarkan. Waktu luang mesti diciptakan dengan cara yang kreatif, disesuaikan dengan kebiasaan keluarga. Ada keluarga yang bisa berbincang  leluasa saat subuh, ada yang memilih malam hari menjelang tidur. Ada yang menjadwalkan pertemuan keluarga, misalnya setiap malam Sabtu semua anggota wajib kumpul di rumah. Acaranya? Makan bersama dan saling bertukar cerita. Walau sejenak, luangkan. Jadikan kegiatan penting, bukan sambil lalu.

 

Kedua, hidupkan rumah dengan tawa. Ungkapan bahwa tawa adalah obat terbaik itu tidak berlebihan. Tertawa mengaktifkan fungsi alamiah tubuh untuk lebih rileks sehingga mengurangi stress. Keluarga dengan tradisi humor lebih mudah membangun komunikasi yang sehat antar anggotanya daripada keluarga yang cenderung serius. Humor membuka sumbatan kekakuan antar generasi dan mencairkan kecanggungan setelah pertengkaran, misalnya.

Tentu, bercanda tetap harus dilakukan dalam lingkup kesantunan yang semestinya. Kata dan tindakan kasar atau melecehkan tetap tak dibenarkan. Jangan sampai bercanda justru menjadi wahana saling bully dan akhirnya tidak menyenangkan lagi. Ada keluarga yang lekat karena terbiasa saling ledek. Ini sah saja, asal semua ikut bergembira. Aturannya sederhana, segera kurangi intensitas gurauan begitu ada salah satu yang tidak tertawa.

 

Ketiga, biasakan berbicara secara spesifik. Komunikasi yang sehat bisa dipahami dengan mudah oleh anggota keluarga yang lain. Kebiasaan ini penting terutama ketika ada anggota keluarga yang mengalami masalah. Kalimat-kalimat sindiran, termasuk kalimat yang tidak bermakna jelas, hanya akan menimbulkan masalah baru.

Misalnya, kakak dan adik bertengkar. Kakak menggerutu, “Adik menyebalkan.”

Itu kalimat umum. Ajak dia untuk membuatnya spesifik. Kan tidak dalam semua hal Adik menyebalkan. Tanya dia, Adik menyebalkan ketika melakukan apa.

“Kakak nggak suka, ya, kalau Adik bikin berantakan mainan?” misalnya.

Ajakan semacam ini lambat laun akan membangun karakter obyektif pada anak. Fokus dia adalah perbuatan yang tidak dia sukai, bukan semata-mata kepada pelakunya.

 

Keempat, jadilah pendengar yang aktif. Dalam prinsip komunikasi empatik yang diajarkan Stephen Covey, salah satu karakter komunikasi yang sehat adalah berusaha mengerti dulu, baru dimengerti. Nah, salah satu cara untuk mengerti orang lain ketika berkomunikasi adalah mendengarkan aktif.

Apa maksudnya?

Misalnya anak sedang bercerita tentang temannya yang punya handphone baru. Respon orang tua bisa macam-macam:

  • Mendengarkannya sambil lalu sambil berkomentar, “Ah, pemborosan! Anak kecil kok gonta-ganti hape!
  • Menyindirnya, “Anak yang baik biasanya bisa membedakan keinginan dan kebutuhan.”
  • Menuduhnya, “Pingin juga? Punya uang berapa, emang?”
  • Mendengarkannya secara aktif, “Seri apa katanya? Bagus, ya. Ayah juga pingin ganti hape belum kesampaian saja.

Salah satu aspek penting dalam komunikasi yang sehat adalah melibatkan diri dengan lawan bicara. Berikan respon positif, misalnya menganggukkan kepala, mengajukan pertanyaan, atau pernyataan singkat seperti “Oh, ya? Wah! Serius?” kepadanya.

 

Dengan melibatkan diri, sebagai orang tua, kita bisa memahami sudut pandang anak sekaligus menghormatinya. Jika kita membiasakan diri mendengarkan anak, teladan itu akan mereka ikuti. Pada gilirannya, ketika orang tua menyampaikan sesuatu, anak akan mendengarkannya secara aktif pula. Perbuatan baik dicontohkan, kebiasaan terpuji diteladankan.

 

Kelima, perhatikan bahasa nonverbal. Suatu saat Anda menemukan anak cemberut dan melangkahkan kakinya tanpa semangat, sudut matanya sembap memerah.

Ketika ditanya, dia menjawab, “Enggak apa-apa, kok. Cuma capek”.

Mana yang lebih Anda percayai, bahasa lisannya atau bahasa tubuhnya?

Menangkap bahasa tubuh ini perlu perhatian penuh. Ekspresi lawan bicara seperti memalingkan pandangan atau memainkan jari tanda gugup tak akan terlihat jika Anda tidak memperhatikan dia.

Karena itu, ketika anak berbicara, letakkan gawai. Berhentilah sejenak dari kesibukan Anda, hadapkan badan kepadanya. dengan cara ini Anda akan lebih memahaminya dan lebih peka jika ada hal lain yang dia sembunyikan.

Di saat yang sama, anak jadi yakin bahwa orang tuanya memandang hal yang dia sampaikan adalah penting, bahwa dia pun penting. Ini modal yang sangat berharga untuk membangun komunikasi yang lekat dan terbuka.

 

Lima cara di atas bisa dibangun perlahan-lahan, bisa dimulai dari mana saja, tanpa saling tuding siapa yang harus memulainya lebih dulu. Semua anggota keluarga punya peran yang sama, karena keluarga milik bersama.

Komunikasi adalah hal yang paling sering dianggap natural, namun ternyata tak bisa terbangun secara asal. Perlu latihan dan kemauan yang konsisten, sebagaimana burung belajar terbang yang tak henti mengepakkan sayap. Berulang-ulang, mencoba lagi saat gagal, start and restart.

 

Salam takzim,

Anna Farida

————————-

Dimuat di Harian Galamedia, Selasa, 25 Mei 2016. Ini versi aslinya. Pada versi koran ada beberapa suntingan.

 

GRUP TETANGGA SEBELAH?

calvin_and_hobbes

wikispaces.com

Saya 98% yakin, Anda pernah baca informasi seperti ini:

$%#@$^^&*^%$#

$%#@$^^&*^%$#

… dan seterusnya dan selanjutnya …

(dari grup sebelah) atau (dari grup tetangga)

 

Sebelah mana? Tetangga siapa?

Sabtu lalu saya merumpi bersama pengurus Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) dan membahas sejumlah program untuk mengompori ibu-ibu agar kian rajin menulis. Selain dikompori, anggota akan diajak kembali belajar prinsip-prinsip sederhana saat mengutip sebuah sumber informasi termasuk menyebarkannya. Biar enggak malu-maluin nyebar berita hoax!

Pakai daster yes, nyebar berita bohong no!

Di Sekolah Perempuan, saya pernah ngomel bawel wel wel, memperingatkan alumni agar tidak sampai bikin Julie Nava cari nyiru buat tutup muka. Soalnya dialah mentor yang mengajarkan materi riset dalam menulis, termasuk melacak rujukan dengan cara yang benar.

Lha, sekarang lain lagi.

Saya ikut dan diikutkan dalam beberapa grup Whatsapp dan Facebook. Bukan sepuluh dua puluh kali saya dapatkan informasi yang sumbernya dari grup sebelah atau grup tetangga. Celakanya, saya juga pernah latah membagikan informasi dengan menyebut tetangga sebelah itu. Sekarang sudah tobat.

Mengapa tren ini muncul, ya? Mengapa tidak sebut saja sumbernya, dari Grup Menyanyi Riang, misalnya. Malas? Mau cepat? Atau sudah dianggap biasa?

Coba cek, deh. Jika Anda punya waktu luang, lakukan eksperimen ini. Saya minta Anda karena saya emoh melakukannya.

Misalnya Anda dapat info tetangga dari A tentang cara cepat langsing dengan jus durian #halah. Minta A bertanya kepada grup tetangga itu, apa sumber atau rujukannya.

Anggap saja yang menyebarkan info di grup tetangga itu adalah B. Berdasarkan kesotoyan saya, besar kemungkinan B akan menjawab “dari grup sebelah”.

Jika B bertanya kepada C di grup sebelah itu, C akan menjawab dari grup tetangga sebelah.

Berikutnya, kata D dari tetangganya tetangga atau mertuanya tetangga. Demikian seterusnya hingga Z, mungkin kembali A mungkin juga pindah ke A-2.

Jus durian pun sukses menjadi travelling theory.

 

Kan saya tidak menyebarkan kebencian? Kan hanya menyebarkan quote atau gambar yang memotivasi?

Walau tujuannya baik, caranya tetap harus benar.

Sederhana saja, Buk. Suwer tidak ribet.

Sebarkan kebaikannya, sebutkan sumbernya. Itu hanya setitik upaya untuk peduli, kok.

Sebut saja namanya, “info dari Mas Edward dari Grup Penggemar Tahu”.

Dengan cara ini, Mas Edward akan dapat apresiasi, sekaligus waspada. Karena sadar namanya akan disebut sebagai sumber berita, dia akan lebih hati-hati dengan isi berita yang disebarkannya. Ini harapan imajinatif saya yang dangkal—kasihan banget, sudah imajinasi, dangkal pula haha.

Kemungkinan lainnya, orang yang jadi sumber beritanya memang bertujuan merusak dan menyebarkan kerusakan. Tentu dia tak ingin namanya disebut dan memilih sembunyi di rumah tetangga sebelah tadi.  Masa jempol Anda ikut-ikutan mendukung kejahatannya?

Tapi saya yakin itu bukan Mas Edward – ini ngomongin apa, sih?

Jadi gitu, ya, Buk.

Mulai saat ini kita biasakan menyebut nama siapa pun yang menyebarkan berita apa pun. Atau setop saja, deh, menyebarkan berita yang rujukannya tetangga sebelah itu.

Sambil promosi, saya punya grup kuliah via Whatsapp tentang parenting dan pernikahan (nggaya, pakai nama kuliah—biarin), dan adminnya galak bener. Dia melarang anggota menge-post berita salin-rekat alias copas dari grup lain.

Jika Anda mau berbagi informasi, ceritakan saja apa isinya, jangan di-copas mentah-mentah. Setidaknya ada usaha sedikit untuk mencerna sebuah berita dan menuliskannya sesuai pemahaman sendiri.

Hal sederhana ini juga setitik upaya untuk menjaga generasi berikutnya, lho.

Ngeri banget membayangkan anak-anak kita jadi generasi copas dan generasi tetangga sebelah.

Catatan: Banyak yang tanya, tulisan ini boleh di-copas tidak?
Ya boleh, lah. Siarkan seluasnya, sebutkan sumbernya. Jika ada yang keberatan kan tinggal jitak saya 😀

Saya siarkan tulisan ini dan kabur segera, takut juga kena jitak penyuka tetangga sebelah ahahah.

 

Salam takzim,

Anna Farida