KOMUNIKASI YANG MELEKATKAN KELUARGA

 

Artikel Ibu di Galamedia-croppedSuatu sore, saya terperanjat.

Salah satu anak saya yang beranjak remaja mengucapkan kalimat yang menurut saya tidak layak. Bahasa tubuh dan ekspresi wajahnya juga membuat saya kaget karena dia biasanya sangat santun.

Ini dari mana asalnya?

 

Sebelum membahas kejutan pahit sore itu, saya ingin menyingkap pandangan tentang keluarga sebagai madrasah atau sekolah pertama bagi anak. Ada yang berpendapat bahwa sebagaimana anak burung yang belajar terbang dari induknya, anak pun pasti bisa belajar apa pun dari keluarganya.

 

Sayangnya, saat ini sebagian keluarga terserang gamang. Ada orang tua yang ragu apakah dia benar-benar punya peran dalam pendidikan anak-anak zaman sekarang, atau paling tidak bertanya-tanya, bagaimana caranya.

 

Apalagi jika kondisi ini dikaitkan dengan bergegasnya zaman bergerak. Tak sedikit orang tua yang merasa gaptek atau kudet—dua singkatan gaul yang mewakili makna ketertinggalan dalam era digital.

Akibatnya, terjadilah kesenjangan komunikasi antar generasi dan terlihatnya gejala yang lazim disebut panic parenting.

 

Namanya juga panik. Tindakan dan keputusan dilakukan secara mendadak, tidak terkendali, penuh suasana cemas, dan seringkali menimbulkan perilaku yang kurang terpuji.  Atas nama cinta, tanpa niat menyakiti, orang tua bisa melakukan kekerasan kepada anak, demikian pula sebaliknya.

 

Saya pun pernah mengalaminya.

Saat mendapati anak saya mengucapkan kalimat tak layak tadi, rentetan pertanyaan siap melompat.

Anehnya, mungkin saking terkejutnya, lidah saya terkunci. Ada untungnya juga, sih. Saya tak perlu melontarkan kalimat balasan yang akan saya sesali kemudian. Saya memandanginya dengan tajam, masih tak percaya, sementara dia melihat ke arah lain.

 

Kami sama-sama terkejut, sama-sama tidak menyangka cara berkomunikasi seperti itu bisa muncul. Di antara suasana kaku saat itu, saya ingat Marshall Rosenberg (2012: 125) yang mendefinisikan perilaku kami sebagai violent communication atau komunikasi yang bermuatan kekerasan.

 

Bisa jadi pemicunya adalah saya.

Mungkin sebelumnya saya membuatnya sangat kesal, dan akhirnya dia lepas kendali. Bisa jadi dia sedang jengkel dengan hal lain atau orang lain, kemudian saya yang kena getahnya.

Mungkin Anda pernah mengalami hal yang sama, bertengkar dengan anak atau pasangan kemudian menyesal berhari-hari.

 

Tak perlu resah, kita bisa sama-sama belajar menerapkan (kembali) komunikasi yang melekatkan keluarga. Saya yakin bahwa komunikasi yang jelas, terbuka, dan penuh cinta adalah pijakan yang kuat bagi keluarga yang sehat.

 

Keluarga yang terbiasa berkomunikasi secara sehat akan memiliki kelentingan, daya tahan, sekaligus kemampuan mengatasi masalah. Orang tua dengan gaya komunikasi yang sehat akan lebih optimal dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Pada gilirannya, anak-anak akan tumbuh dengan karakter positif: percaya diri sekaligus santun, terbuka sekaligus tahu batas.

 

Nah, bagaimana caranya membangun komunikasi yang sehat?

Ternyata, kemampuan berkomunikasi dengan baik itu bukan genetis tapi hasil latihan. Komunikasi yang sehat itu bukan sesuatu yang terberi, tapi harus diupayakan. Kita bisa merujuk ke berbagai buku komunikasi keluarga dan menerapkannya di rumah. Saya rangkumkan beberapa langkah—mudah menuliskannya, perlu perjuangan dan komitmen untuk melakukannya.

 

Pertama, luangkan waktu. Hadiah termahal yang bisa kita berikan kepada keluarga, terutama anak-anak, adalah waktu. Kekurangan waktu buat keluarga adalah problem yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kekurangan uang.

Padatnya jadwal kegiatan yang berbeda-beda membuat anggota keluarga sulit menemukan waktu untuk bisa mengobrol santai.

Ini tidak bisa dibiarkan. Waktu luang mesti diciptakan dengan cara yang kreatif, disesuaikan dengan kebiasaan keluarga. Ada keluarga yang bisa berbincang  leluasa saat subuh, ada yang memilih malam hari menjelang tidur. Ada yang menjadwalkan pertemuan keluarga, misalnya setiap malam Sabtu semua anggota wajib kumpul di rumah. Acaranya? Makan bersama dan saling bertukar cerita. Walau sejenak, luangkan. Jadikan kegiatan penting, bukan sambil lalu.

 

Kedua, hidupkan rumah dengan tawa. Ungkapan bahwa tawa adalah obat terbaik itu tidak berlebihan. Tertawa mengaktifkan fungsi alamiah tubuh untuk lebih rileks sehingga mengurangi stress. Keluarga dengan tradisi humor lebih mudah membangun komunikasi yang sehat antar anggotanya daripada keluarga yang cenderung serius. Humor membuka sumbatan kekakuan antar generasi dan mencairkan kecanggungan setelah pertengkaran, misalnya.

Tentu, bercanda tetap harus dilakukan dalam lingkup kesantunan yang semestinya. Kata dan tindakan kasar atau melecehkan tetap tak dibenarkan. Jangan sampai bercanda justru menjadi wahana saling bully dan akhirnya tidak menyenangkan lagi. Ada keluarga yang lekat karena terbiasa saling ledek. Ini sah saja, asal semua ikut bergembira. Aturannya sederhana, segera kurangi intensitas gurauan begitu ada salah satu yang tidak tertawa.

 

Ketiga, biasakan berbicara secara spesifik. Komunikasi yang sehat bisa dipahami dengan mudah oleh anggota keluarga yang lain. Kebiasaan ini penting terutama ketika ada anggota keluarga yang mengalami masalah. Kalimat-kalimat sindiran, termasuk kalimat yang tidak bermakna jelas, hanya akan menimbulkan masalah baru.

Misalnya, kakak dan adik bertengkar. Kakak menggerutu, “Adik menyebalkan.”

Itu kalimat umum. Ajak dia untuk membuatnya spesifik. Kan tidak dalam semua hal Adik menyebalkan. Tanya dia, Adik menyebalkan ketika melakukan apa.

“Kakak nggak suka, ya, kalau Adik bikin berantakan mainan?” misalnya.

Ajakan semacam ini lambat laun akan membangun karakter obyektif pada anak. Fokus dia adalah perbuatan yang tidak dia sukai, bukan semata-mata kepada pelakunya.

 

Keempat, jadilah pendengar yang aktif. Dalam prinsip komunikasi empatik yang diajarkan Stephen Covey, salah satu karakter komunikasi yang sehat adalah berusaha mengerti dulu, baru dimengerti. Nah, salah satu cara untuk mengerti orang lain ketika berkomunikasi adalah mendengarkan aktif.

Apa maksudnya?

Misalnya anak sedang bercerita tentang temannya yang punya handphone baru. Respon orang tua bisa macam-macam:

  • Mendengarkannya sambil lalu sambil berkomentar, “Ah, pemborosan! Anak kecil kok gonta-ganti hape!
  • Menyindirnya, “Anak yang baik biasanya bisa membedakan keinginan dan kebutuhan.”
  • Menuduhnya, “Pingin juga? Punya uang berapa, emang?”
  • Mendengarkannya secara aktif, “Seri apa katanya? Bagus, ya. Ayah juga pingin ganti hape belum kesampaian saja.

Salah satu aspek penting dalam komunikasi yang sehat adalah melibatkan diri dengan lawan bicara. Berikan respon positif, misalnya menganggukkan kepala, mengajukan pertanyaan, atau pernyataan singkat seperti “Oh, ya? Wah! Serius?” kepadanya.

 

Dengan melibatkan diri, sebagai orang tua, kita bisa memahami sudut pandang anak sekaligus menghormatinya. Jika kita membiasakan diri mendengarkan anak, teladan itu akan mereka ikuti. Pada gilirannya, ketika orang tua menyampaikan sesuatu, anak akan mendengarkannya secara aktif pula. Perbuatan baik dicontohkan, kebiasaan terpuji diteladankan.

 

Kelima, perhatikan bahasa nonverbal. Suatu saat Anda menemukan anak cemberut dan melangkahkan kakinya tanpa semangat, sudut matanya sembap memerah.

Ketika ditanya, dia menjawab, “Enggak apa-apa, kok. Cuma capek”.

Mana yang lebih Anda percayai, bahasa lisannya atau bahasa tubuhnya?

Menangkap bahasa tubuh ini perlu perhatian penuh. Ekspresi lawan bicara seperti memalingkan pandangan atau memainkan jari tanda gugup tak akan terlihat jika Anda tidak memperhatikan dia.

Karena itu, ketika anak berbicara, letakkan gawai. Berhentilah sejenak dari kesibukan Anda, hadapkan badan kepadanya. dengan cara ini Anda akan lebih memahaminya dan lebih peka jika ada hal lain yang dia sembunyikan.

Di saat yang sama, anak jadi yakin bahwa orang tuanya memandang hal yang dia sampaikan adalah penting, bahwa dia pun penting. Ini modal yang sangat berharga untuk membangun komunikasi yang lekat dan terbuka.

 

Lima cara di atas bisa dibangun perlahan-lahan, bisa dimulai dari mana saja, tanpa saling tuding siapa yang harus memulainya lebih dulu. Semua anggota keluarga punya peran yang sama, karena keluarga milik bersama.

Komunikasi adalah hal yang paling sering dianggap natural, namun ternyata tak bisa terbangun secara asal. Perlu latihan dan kemauan yang konsisten, sebagaimana burung belajar terbang yang tak henti mengepakkan sayap. Berulang-ulang, mencoba lagi saat gagal, start and restart.

 

Salam takzim,

Anna Farida

————————-

Dimuat di Harian Galamedia, Selasa, 25 Mei 2016. Ini versi aslinya. Pada versi koran ada beberapa suntingan.

 

Advertisements

GRUP TETANGGA SEBELAH?

calvin_and_hobbes

wikispaces.com

Saya 98% yakin, Anda pernah baca informasi seperti ini:

$%#@$^^&*^%$#

$%#@$^^&*^%$#

… dan seterusnya dan selanjutnya …

(dari grup sebelah) atau (dari grup tetangga)

 

Sebelah mana? Tetangga siapa?

Sabtu lalu saya merumpi bersama pengurus Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) dan membahas sejumlah program untuk mengompori ibu-ibu agar kian rajin menulis. Selain dikompori, anggota akan diajak kembali belajar prinsip-prinsip sederhana saat mengutip sebuah sumber informasi termasuk menyebarkannya. Biar enggak malu-maluin nyebar berita hoax!

Pakai daster yes, nyebar berita bohong no!

Di Sekolah Perempuan, saya pernah ngomel bawel wel wel, memperingatkan alumni agar tidak sampai bikin Julie Nava cari nyiru buat tutup muka. Soalnya dialah mentor yang mengajarkan materi riset dalam menulis, termasuk melacak rujukan dengan cara yang benar.

Lha, sekarang lain lagi.

Saya ikut dan diikutkan dalam beberapa grup Whatsapp dan Facebook. Bukan sepuluh dua puluh kali saya dapatkan informasi yang sumbernya dari grup sebelah atau grup tetangga. Celakanya, saya juga pernah latah membagikan informasi dengan menyebut tetangga sebelah itu. Sekarang sudah tobat.

Mengapa tren ini muncul, ya? Mengapa tidak sebut saja sumbernya, dari Grup Menyanyi Riang, misalnya. Malas? Mau cepat? Atau sudah dianggap biasa?

Coba cek, deh. Jika Anda punya waktu luang, lakukan eksperimen ini. Saya minta Anda karena saya emoh melakukannya.

Misalnya Anda dapat info tetangga dari A tentang cara cepat langsing dengan jus durian #halah. Minta A bertanya kepada grup tetangga itu, apa sumber atau rujukannya.

Anggap saja yang menyebarkan info di grup tetangga itu adalah B. Berdasarkan kesotoyan saya, besar kemungkinan B akan menjawab “dari grup sebelah”.

Jika B bertanya kepada C di grup sebelah itu, C akan menjawab dari grup tetangga sebelah.

Berikutnya, kata D dari tetangganya tetangga atau mertuanya tetangga. Demikian seterusnya hingga Z, mungkin kembali A mungkin juga pindah ke A-2.

Jus durian pun sukses menjadi travelling theory.

 

Kan saya tidak menyebarkan kebencian? Kan hanya menyebarkan quote atau gambar yang memotivasi?

Walau tujuannya baik, caranya tetap harus benar.

Sederhana saja, Buk. Suwer tidak ribet.

Sebarkan kebaikannya, sebutkan sumbernya. Itu hanya setitik upaya untuk peduli, kok.

Sebut saja namanya, “info dari Mas Edward dari Grup Penggemar Tahu”.

Dengan cara ini, Mas Edward akan dapat apresiasi, sekaligus waspada. Karena sadar namanya akan disebut sebagai sumber berita, dia akan lebih hati-hati dengan isi berita yang disebarkannya. Ini harapan imajinatif saya yang dangkal—kasihan banget, sudah imajinasi, dangkal pula haha.

Kemungkinan lainnya, orang yang jadi sumber beritanya memang bertujuan merusak dan menyebarkan kerusakan. Tentu dia tak ingin namanya disebut dan memilih sembunyi di rumah tetangga sebelah tadi.  Masa jempol Anda ikut-ikutan mendukung kejahatannya?

Tapi saya yakin itu bukan Mas Edward – ini ngomongin apa, sih?

Jadi gitu, ya, Buk.

Mulai saat ini kita biasakan menyebut nama siapa pun yang menyebarkan berita apa pun. Atau setop saja, deh, menyebarkan berita yang rujukannya tetangga sebelah itu.

Sambil promosi, saya punya grup kuliah via Whatsapp tentang parenting dan pernikahan (nggaya, pakai nama kuliah—biarin), dan adminnya galak bener. Dia melarang anggota menge-post berita salin-rekat alias copas dari grup lain.

Jika Anda mau berbagi informasi, ceritakan saja apa isinya, jangan di-copas mentah-mentah. Setidaknya ada usaha sedikit untuk mencerna sebuah berita dan menuliskannya sesuai pemahaman sendiri.

Hal sederhana ini juga setitik upaya untuk menjaga generasi berikutnya, lho.

Ngeri banget membayangkan anak-anak kita jadi generasi copas dan generasi tetangga sebelah.

Catatan: Banyak yang tanya, tulisan ini boleh di-copas tidak?
Ya boleh, lah. Siarkan seluasnya, sebutkan sumbernya. Jika ada yang keberatan kan tinggal jitak saya 😀

Saya siarkan tulisan ini dan kabur segera, takut juga kena jitak penyuka tetangga sebelah ahahah.

 

Salam takzim,

Anna Farida

ROMO MAGNIS: tiga catatan akhir 2015

Frans_magnis_suseno

sumber: id.wikipedia.org

80 tahun dan tulisannya masih jernih, tak bikin jera.

Hari ini, ujung 2015, melalui grup Whatsapp, saya membaca tulisan Romo Magnis di Harian Kompas. Saya mengenal Franz Magnis Suseno melalui buku-bukunya, dan bertemu tahun 1995-an. Saat itu Himpunan Mahasiswa Islam mengadakan training—entah training apa saya lupa, HMI kan memang doyan bikin training.

Saya bertugas menjemput Romo di Stasiun Hall, dan langsung mengenalinya begitu pertama kali melihatnya.

Dengan posturnya yang menjulang, dia berjalan tegap sambil menenteng tas dan payung hitam panjang di kedua tangannya—mana kanan mana kiri saya lupa. Begitu dia mendekat, terlihatlah bros salib kecil di kerah bajunya. Mana kanan mana kiri saya juga lupa—ini nulis kok banyak lupanya.

Hari ini Romo Magnis menulis di koran Kompas. Tulisannya jernih, tentu tidak seperti tulisan saya yang berhamburan kebanyakan iseng. Can’t be helped, what to to do, kata Ubit.

Romo membuka tulisannya dengan mempertanyakan konsep revolusi mental dan menyambungnya dengan kalimat ini, “Bahwa kita memerlukan sebuah revolusi mental untuk keluar dari rawa mediokritas, kemalasan intelektual, kecengengan emosional, kedangkalan spiritual, kebrutalan dogmatisme, dan dari belenggu-belenggu prasangka dan kecurigaan yang menyandera bangsa sulit disangkal.”

Menurut Romo Magnis, sebagai refleksi akhir tahun, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah budaya kekerasan. Selain kasus tawuran, pengeroyokan, dan penindasan, Romo menyebut kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Masih saja ada kalangan yang dipaksa untuk menjalankan atau untuk tidak menjalankan ibadah tertentu bahkan dianggap sesat jika keyakinannya berbeda dengan “kebanyakan”.

Yang kedua adalah bebas dari rasa takut. Masih terkait tentang kebebasan beribadah, disebutkan bahwa masih ada orang yang hidup dalam ketakutan karena keyakinan religius dan tata cara ibadahnya tidak disetujui kalangan lain. Para tokoh agama pun ditantang untuk bersikap, di mana mereka berdiri. Ibadah itu kan hak yang sangat personal antara manusia dan Tuhan. Masa mau direcoki oleh orang lain. Pulang ke akhirat juga sendiri-sendiri, kan?—eh tentu Anda tahu bahwa dua kalimat terakhir itu omelan saya.

Yang ketiga adalah korupsi.

Lha, ini yang harus dipangkas habis!

Beragama atau tidak, koruptor itu menyebalkan dan wajib diberantas. Sayangnya, kita masih saja disuguhi drama tidak lucu tentang pemberantasan korupsi di Indonesia. Dua minggu yang lalu televisi masih menyiarkan aneka keributan terkait isu korupsi. Sekarang mana?

Kasus satu demi kasus menguap tanpa kita ketahui (saya saja kali, yang tidak tahu, ya? Wong yang sering ditonton acara got talent melulu, itu juga acara tahun lalu yang sudah jelas pemenangnya—nah mulai ngelantur) Peduli amat dengan komentar masyarakat, apalagi masyarakat seperti saya yang pintarnya mengoceh atau bahasa kerennya berwacana di media sosial. Hari ini teriak-teriak tentang pendidikan berkualitas, besok mamerin foto narsis tak keruan atau nebeng narsis ke anak ahaha.

Haish, setop.

Kita sedang serius, ini.

Tiga hal di atas masih jadi catatan besar hingga tahun-tahun ke depan. Saya yang ibuk-ibuk dan mengajar ibuk-ibuk ini pun perlu menyempatkan diri untuk berpikir melampaui cucian piring dan keranjang setrikaan. Yang berlangsung di sekitar kita saat ini, di negara kita, sangat menentukan kualitas hidup anak-anak kita hari ini dan kelak.

Jadi, peduli adalah pilihan terbaik.

Begitulah renungan akhir tahun ini. Sejatinya saya hendak menulis tentang hal lain, tapi rasanya tulisan Romo Magnis ini lebih penting saya bagikan duluan.

Semoga bermanfaat

Hari ini Hari Guru

Yang juga membedakan manusia dengan binatang adalah kemampuannya merepotkan orang lain.

Lihat saja apa yang dia lakukan begitu kehadirannya diketahui oleh ibunya.

Ada yang gembira sepenuh jiwa, “Alhamdulillah, positif!”

Ada yang cemas penuh sesal, “Oh, no! Kok positif?”

Pertapaannya di dalam rahim hingga proses kelahirannya melibatkan banyak orang: ayah ibunya, tenaga medis, kakek nenek, kerabat, tetangga, teman orang tuanya …

 

Tak mungkin dia bangkit sendiri mencari kain bedongnya.

Tangis pertamanya ditaburi ucapan selamat dibalur doa-doa. Pertumbuhannya dituntun oleh banyak orang. Dia dijaga benteng bantal guling saat belajar tengkurap, dialas tilam empuk ketika belajar duduk. Air susu tak henti disodorkan, langsung ke mulutnya. Makanan halus disajikan dan disuapkan, tinggal ditelannya.

Saat langkahnya mulai terayun satu  dua, genggaman hangat membimbingnya. Tak seperti bayi kambing yang harus tersungkur dan bangkit sendiri, lengan-lengan terbuka lebar untuk menyongsong pijakan goyahnya. Ada senyum yang membuatnya merasa aman menapak, ada pelukan hangat yang menyambutnya.

Saat dia tumbuh sebagai anak-anak, sebagai remaja, sebagai orang dewasa, tak henti orang tuanya menggumamkan doa. Tak henti orang-orang di sekelilingnya membantunya hidup–ada yang mengajarinya kebaikan, ada yang menjerumuskannya dalam keburukan. Tak salah bila ada ucapan, “Baik buruknya seseorang turut ditentukan oleh bantuan kehidupan yang diterimanya”.

Di rumah, kepadanya disampaikan nilai-nilai kemuliaan: hormat kepada yang lebih tua, sayang kepada yang lebih muda, adil dengan sesama manusia. Di sekolah, kepadanya diajarkan ilmu dan wawasan, oleh guru oleh kawan. Di lingkungan tetangga dia belajar, di lingkungan kerja, dia belajar. Semua dia lakukan di antara manusia lain, yang bisa disentuhnya maupun yang dikenalnya melalui jejaring maya.

Hingga tiba saat kematiannya, manusia lain pun masih melibatkan diri. Ada yang melakukannya karena tulus cinta padanya, atau karena hormat pada orang tua dan anak-anaknya, atau sekadar prihatin karena tiada manusia lain yang mau mengurusnya.

Tak mungkin dia mencari sendiri kain kafannya. Mustahil dia berjalan sendiri ke kuburnya. Penghormatan yang terakhir sebagai manusia, pun dia terima dari orang-orang di sekitarnya.

Sekian gelintir, sekian puluh, sekian ratus … sekian banyak manusia lain ikut membentuk nilai kehidupan yang diyakininya. Dia belajar dari banyak guru dalam rentang usianya. Proses dan hasil belajar itulah yang akan dibawanya sebagai secuil kecil bekal untuk menghadap Tuhannya.

Manusia, dari awal kehadirannya hingga kepulangannya, adalah murid dari manusia lain.

Hari ini, 25 November 2014, adalah Hari Guru.

Untuk semua guru, dari sejak kelahiranku hingga kematianku, terima kasih atas semua bekal tentang laku hidup, kebaikan, dan ilmu. Salam takzim, ampuni kelalaikanku atas ajaranmu.

MENYUNTING EMPATI

editing workshop

Foto dok. panitia

Pagi itu saya buru-buru.

Ada workshop penerjemahan dan jurnalistik di Jakarta, dan saya bertugas memberikan materi penyuntingan naskah alias editing.

Bus melaju tanpa hambatan, jadi seharusnya saya tiba tepat waktu.

Tiba-tiba sopir menepikan kendaraan, dan berdiri di hadapan saya dengan sikap sopan. Ternyata dia menyapa penumpang yang duduk di belakang saya.

Terdengarlah dialog ini:

Ibu, maaf. Jadinya Ibu mau turun di mana?”

Aduh, Ibu juga belum tahu. Dari tadi nelepon belum diangkat…”

Ibu kan mau ke daerah ****?” (Saya lupa nama tempatnya)

Iya.”

Begini, Bu. Bus ini tidak akan lewat ****.”

Trus gimana?”

Lebih enak Ibu turun di Ceger. Nanti dari sana Ibu naik taksi.”

Ya sudah, gimana bagusnya saja…”

Suara ibu itu menggantung. Keraguan dan kecemasannya membuat sang sopir berpaling ke arah saya dan bertanya, “Mbak, turun di Pasar Rebo trus ke Pondok Gede, kan?”

Iya, Pak,” sahut saya.

Ibu ini mau turun di Ceger. Tapi saya hanya bisa berhenti di perlintasan jalan tol. Ibu ini harus jalan kira-kira seratus meter trus nyebrang. Mbak mau nemenin?”

Dia menjelaskan bahwa turun di Ceger sama saja, dan akan ada banyak taksi di sana. Lagi-lagi saya mengangguk tak yakin. Saya tidak tahu Ceger, tidak tahu juga Pasar Rebo.

Ah, sama-sama tidak tahu, kan. Jadi saya setuju saja.

Maka turunlah kami di sisi jalan tol diiringi ucapan terima kasih sang sopir.

Ternyata ibu yang duduk di belakang saya itu sudah berusia lanjut. Kami berjalan bergandengan tangan, dan berpisah tanpa sempat berkenalan.

Kejadian singkat itu terputar ulang ketika saya duduk di dalam taksi.

Saya pernah menemukan sopir yang mengemudi ala pilot pesawat tempur di film-film. Ada pula yang merokok seenaknya di bus ber-AC, atau menelepon sambil menginjak rem semaunya.

Hari itu saya belajar dari seorang sopir yang berbeda.

Dia bisa saja menurunkan semua penumpang yang tidak punya tujuan jelas di pool terakhir. Dia juga bisa berteriak dari kursinya dan bertanya ke ibu itu, atau meminta kondekturnya untuk melakukannya. Dia juga bisa saja kasih instruksi agar ibu itu turun sendiri, tanpa repot-repot minta tolong kepada saya. Pilihannya untuk menepikan bus hanya untuk bertanya, dan tutur katanya yang santun itu sungguh mengesankan. Masih ada orang baik, masih ada harapan untuk dunia yang lebih baik.

Karakter seperti inilah yang mesti sampai kepada anak-anak kita, generasi muda kita, masyarakat kita. Sebenarnya, kita selalu punya pilihan untuk peduli.

Saya sampai di lokasi tiga puluh menit lebih lambat—untung ada acara lain yang bisa ditukar jadwalnya. Workshop berlangsung dua sesi, bermain kalimat dan paragraf dari pagi hingga sore, seru sekali.

Mendidik Anak, Mendidik Orang Tua

parenting with heartSejak buku Parenting with Heart terbit, saja sering mendapatkan pesan pribadi berisi pertanyaan, cerita, hingga curhat. Padahal, untuk buku ini saya hanya berperan sebagai co-writer. Saya mendampingi Bu Elia Daryati menuliskan berbagai pengalamannya sebagai psikolog.

Walaupun demikian, saya senang menerima dan membalas pesan-pesan itu, dengan disclaimer bahwa saya bukan ahli tumbuh kembang anak, bukan pula konsultan parenting. Saya ini ibu yang juga sedang sama-sama belajar.

Dalam sebuah talkshow di radio, Bu Elia menyampaikan satu hal penting yang rasanya perlu saya bagikan.

Sebagai manusia, kita punya target jangka panjang, menengah, dan pendek. Kita sekolah dari jenjang ke jenjang, ikut kursus ini dan itu, demi menangguk sukses di masa kini dan masa depan. Kita menyisihkan pendapatan sebagai dana pensiun, agar ada jaminan saat kita tak lagi produktif.

Sayangnya, untuk tugas pengasuhan, tak banyak orang tua yang menetapkan target jangka panjang, menengah, dan pendek. Tidak ada sekolah orang tua, tidak banyak kursus keayahbundaan yang didesain untuk mendidik para orang tua. Kebanyakan menganggap bahwa tugas pengasuhan adalah hal yang alami, natural, nggak perlu belajar juga bisa.

Saya sepakat bahwa yang pengasuhan adalah tugas alamiah, dan yang disebut alami sebagai orang tua adalah belajar. Artinya, kemestian sebagai manusia yang memiliki anak adalah belajar menjadi orang tua yang baik dan benar. Yang kita didik adalah manusia yang akan menjadi pemimpin manusia lain, dan pemimpin bagi diri mereka sendiri. Ini sama sekali bukan tugas sepele. Tantangannya sangat besar, apalagi di zaman sekarang, saat baik dan buruk  berjalan bersisian bagai tiada batas.

Tugas kita adalah menjadi teladan, memandu mereka memilih teladan yang benar, dan pada akhirnya menjadikan diri mereka teladan bagi orang lain. Tugas itu tak bisa kita jalankan dengan kaidah “jalani saja”. Never.

Tak ada pilihan lain kecuali belajar.

Neurosains, “Neuroeducation”

Kang Jalal. Otaknya dilamar Dr. Taufik Pasiak, mau diteliti. Nanti setelah meninggal ;-)

Kang Jalal. Otaknya dilamar Dr. Taufik Pasiak, mau diteliti. Nanti setelah meninggal 😉

Tanggal 23 Oktober 2013, saya mendadak merasa cerdas.

Saya harus buru-buru menuliskan disclaimer bahwa berikut ini adalah cerita saya mengikuti Seminar Nasional  Neuroscience in Communication Studies.  Saya hanya menulis hal-hal yang mengesankan dan berhasil saya pahami. Artinya, semua materi bagus, makalahnya tebal, dan tak semua saya mengerti, haha… Sebagian saya tulis di twitter, @annafaridaku.

Dari pagi hingga sore, saya menyimak lima pemateri keren yang berbicara tentang otak. Dokter dan Doktor, semuanya pintar menyampaikan makalah dengan renyah.

Diawali oleh dr. Erial Bahar, M.Sc., pakar neurosains-neuroanatomi Universitas Sriwijaya:

  • Otak menerima dan mengolah informasi dalam waktu seper sekian milidetik, melakukan kalkulasi, dan menghasilkan respon motorik.
  • Menjelaskan cara kerja memori manusia tak semudah menerangkan kode biner. Otak bekerja secara highly parallel, multitasking, effortlessly. Komputer bekerja secara serial, perlu “klik” untuk bekerja.
  • Can the brain understand the brain?
  • Dokter yang menangani jasad Einstein “mencuri” otaknya untuk diteliti. Ternyata, otak Enstein sama berat dengan orang kebanyakan, tapi memiliki sel neuroglia yang lebih banyak.
  • Jumlah syaraf dalam otak manusia ada sekira 100 miliar dengan 100 triliun sinapsis (membayangkan angka ini membuat saya haus haha)
  • Prefrontal cortex (di dalam batok kepala kita di bagian depan—yak, silakan diraba. Benar, kira-kira di balik dahi, agak ke atas) adalah bagian otak yang membedakan manusia dengan binatang. Di dalamnya ada gen unik yang hanya dimiliki manusia.

Kedua adalah Dr. Rismiyati E. Koesma, pakar psikologi (komunikasi interpersonal) Universitas Padjadjaran. Kabarnya beliau sudah berusia 60 tahun lebih, tapi casing-nya menakjubkan. Cantik, suaranya jernih, tenang…

  • Neuropsikologi mempelajari bagaimana proses biologis memengaruhi perilaku mental.
  • Sistem limbik: hubungan antara otak, emosi, motivasi, dan memori. Tampil pada manusia sebagai sistem afektif.
  • Yang berperan dalam komunikasi interpersonal: Usia, jenis kelamin, kondisi neuropsikologis.
  • Komunikasi verbal dan non verbal. Lisan bisa direkayasa, tapi tubuh selalu jujur. Reaksi seperti kontak mata, keringat, gerakan spontan tubuh, tarikan napas, dsb. adalah bentuk komunikasi non verbal.

Ketiga adalah Popy Rufaidah, PhD., Ketua Program Magister Manajemen Universitas Padjadjaran berbicara tentang neurobranding, neuroeconomics.

  • Neurobranding memahami perilaku psikologis konsumen, dan pengetahuan itu digunakan untuk membangun brand yang mendatangkan efek paling optimal.
  • Kita ini dijajah merk dari pagi hingga pagi lagi. Kita nyaris tidak mengenal produk. Bangun tidur gosok gigi pakai pepsodent, sarapan pakai blueband, bepergian naik toyota, dan seterusnya… Jika kita sudah terbiasa dengan merk itu, rasanya tak sah jika memakai merk lain. That’s neurobranding.
  • Brand: lebih baik beda sedikit daripada sedikit lebih baik. Saya juga lupa apa artinya, tapi kalimat ini saya tulis dan saya garis bawahi, jadi penting sekali hehe…
  • Personal branding: Identity, image, integrity. What you say, what you wear, what you do.
  • Otak itu seperti hardware. Belajar adalah menginstal software baru. Jika rusak atau terjangkit virus, format ulang. Re-learn! Belajar lagi. Branding is installing a value.

Keempat adalah Dr. Taufik Pasiak, ahli neuroanatomi & neuroteologi Universitas Sam Ratulangi. Hubungan otak dan keberagamaan.

  • Neuroplasticity: Kemampuan otak manusia mengatur ulang apa pun secara terstruktur. Ketika Anda memikirkan sesuatu, otak sudah berpikir bahwa sesuatu itu benar-benar terjadi. Hati-hati dengan pikiran Anda.
  • Kerusakan prefrontal kanan (yak, silakan raba kembali, bagian mana tadi?) akan menimbulkan kerusakan moral.
  • Ketika Anda merasakan Tuhan sebagai tumpuan harapan dan cinta, prefrontal kanan otak Anda aktif.  “Penyucian jiwa akan memperkuat akal pikiran” (Muthahhari)
  • Facial Acting Coding System. Ada senyum di dalam otak (benar-benar tersenyum, tulus, jujur) ada senyum yang tampak—direkayasa, hanya menarik dua ujung bibir.
  • Ada beberapa foto senyum yang diperlihatkan dan Dr. Taufik menganalisis senyum mereka—termasuk senyum tokoh dan selebriti yang kita kenal, hehe… Tebak siapa?
  • Default manusia adalah makhluk jujur. Jika berdusta dia akan stress.
  • Beda mistikus dan orang gila. Penampilan bisa jadi sama, tapi mistikus sikapnya mencerahkan. Pengalamannya datang dan hilang secara sadar, dan datang dalam waktu singkat, bisa berulang. Orang gila sebaliknya. Anda tidak akan tercerahkan olehnya.
  • Qalbu adalah satu sisi dari otak.

Pemateri pamungkas adalah Dr. Jalaluddin Rakhmat. Seminar nasional ini diadakan untuk beliau yang memasuki masa pensiun dari Universitas Padjadjaran, sekaligus memperingati Dies Natalis Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad. Kabarnya Fikom akan mendirikan The Jalal Center untuk mengkaji pemikiran beliau di bidang ilmu komunikasi. Kali ini Kang Jalal berbicara tentang neurokomunikasi.

  • Banyak film diputar, mengaduk emosi: takut, haru, cemas, dan bingung, haha…
  • Kisah Phineas Gage, mandor yang mengalami kecelakaan dan luka di kepala. Setelah sembuh, dia yang dulu penyayang, kini jadi temperamental. Seorang istri yang awalnya sederhana dan taat berubah jadi hobi selingkuh (aduh!). Setelah diperiksa, ada kerusakan di prefrontal cortex. Masih ingat, kan, di mana itu? Penyebabnya adalah karena kepala sang istri pernah dibenturkan suaminya ke dinding.
  • Mirror neuron: penemuan ilmiah terpenting setelah DNA? Neuron yang membangun peradaban (manusia) – Vilayanur Ramachandran. Anda bisa search presentasinya di Ted Talk. Search juga Dr. Daniel Glaser.
  • Mirror neuron ada di prefrontal cortex. Mirror neuron membuat kita bisa menangkap pemikiran orang lain tidak melalui nalar tapi melalui stimulasi langsung. melalui perasaan, bukan pikiran.
  • Ketika mengamati orang lain, kita (seolah) melakukan tindakan mereka itu dalam diri kita, dan kita turut merasakan emosi mereka.
  • Neurolinguistik: Memperbaiki kemampuan dan kebiasaan berbahasa melalui ilmu tentang otak. Diyakini bahwa bahasa yang benar akan menjadikan otak manusia benar.
  • Neuroanatomi melahirkan brain-based learning. Cara belajar manusia itu dipengaruhi oleh aktivitas otak, tapi ilmu otak ini tidak (belum) diajarkan secara khusus di fakultas pendidikan. Neurokomunikasi akan menjadi mata kuliah wajib di Fikom Unpad, Thanks to Kang Jalal.
  • Di titik ini, saya (iya, saya, Anna Farida...) jadi kepikiran dengan istilah neuroeducation, neuroteaching, neurolearning. Ngarang, hehe…
  • Word can change your brain (buku Andrew Newberg). Kata yes bersifat assuring, kata no menimbulkan stress. Jika anak Anda merengek hendak ikut, alih-alih berkata “Nggak, jangan ikut Ibu…” katakan “Ya. Hari ini Adik di rumah dulu, ya…”
  • Melalui CT scan sejumlah subjek dipindai aktivitas otaknya. Ketika membaca tulisan berisi kata-kata kasar, reaksi otaknya adalah fight, flight, dan freeze. Melawan, lari, atau mogok. Sekadar membaca tulisan saja reaksinya nyata, bagaimana dengan anak-anak yang setiap saat terpapar dengan kata-kata dan perlakuan kasar.
  • Kata-kata kasar melukai otak Anda dan otak orang di sekeliling Anda. Cara berkomunikasi yang salah akan mendatangkan efek yang sama.
  • Jika Anda membayangkan Tuhan sebagai zat yang keras dan hobi menghukum 15 menit sehari, Anda akan mengalami permanent brain damage.
  • Semua makalah akan diterbitkan menjadi jurnal tentang neurosains. Publish or perish.

Catatan saya sudah habis. Tunggu saja jurnalnya terbit 🙂

Ini salah satu seminar terasyik yang pernah saya ikuti. Tempatnya nyaman, di ballroom Grand Preanger Bandung. Kue sponge rasa jeruk dan puding mangganya enak. Semur daging & cah brokolinya segar, cangkir lemon tea-nya bagus. Eh, ada kue sosis yang selalu hangat dengan saus pedas.

Nah, kan… langsung ketahuan kualitas otak saya.

Maaf!