OBOR BLARAK

OBOR BLARAK

 

Tahun lalu saya dipameri foto pesohor yang berhasil mengurangi berat badan. Semangat saya menggebu-gebu ingin melakukan hal yang sama. Berikutnya, suami saya beli sepeda (lagi) dan saya jadi bersepeda ke warung atau sekadar gaya-gayaan keliling kampung—sebenarnya sambil mengeluh sepanjang jalan karena beratnya kaki mengayuh.

 

Dari Youtube saya menyimak presentasi tentang pentingnya menata wadah-wadah di lemari dapur. Saya langsung praktik dan mendapatkan manfaatnya. Kepada dokter gigi saya berjanji untuk tidak makan yang keras-keras agar tambalan saya tidak lepas lagi, lagi, dan lagi.

 

Dengan semangat membara saya tularkan aneka tekad itu di media sosial. Gaya banget, lah, pokoknya! Saya memajang foto makanan sehat, menge-post foto sedang bersepeda, mengomel ketika lemari dapur berantakan, dan menolak keripik basreng yang menggoda. Pendek kata, militan!

 

Kurang dari seminggu, militansi itu kendur satu demi satu. Saya nglali alias sengaja lupa saat memilih jenis makanan, nglali bahwa telur gabus yang alot bisa merontokkan tambalan. Saya berhenti bersepeda dengan alasan tidak bisa cepat atau tidak sempat. Wadah-wadah di dapur mulai tidak jelas mana mangkuk dan mana tutupnya.

 

Padahal beberapa hari sebelumnya saya begitu bersemangat. Peribahasa Inggris menyebutnya new brooms sweep clean. Sapu yang masih baru hasil sapuannya bersih (ada juga, sih, sapu yang malah mengotori lantai saat dipakai—mungkin tukang bikinnya atau tukang sapunya kurang profesional). Begitu sapu mulai usang, kualitas sapuannya kian berkurang.

 

Dalam bahasa Jawa ada istilah obor blarak.

Fyi, blarak itu sebutan untuk daun kelapa kering. Sifatnya mudah terbakar. Ketika dinyalakan, api yang dihasilkannya besar dengan bunyi berisik, plus percikan bara ke mana-mana.

Wusss!

Api menyala-nyala, lantas padam tak lama kemudian, karena pada dasarnya yang dibakar hanyalah daun kering yang tipis. Bara yang dihasilkan pun nyaris tidak bersisa, langsung menghitam begitu angin berhenti berembus.

 

Dalam belajar, kadang saya kena gejala obor blarak ini.

Menggebu pada saat awal, lantas meredup tanpa proses dan hasil yang jelas. Ingin ini ingin itu, heboh tak tentu ingin jadi seperti ini atau seperti itu, kemudian padam sambil lalu. Maklum, anak muda #annanglaliumur

Watak blarak memang mudah padam. Itu kemestiannya, jadi sama sekali bukan salahnya. Hanya blarak KW alias sintetis yang nyalanya awet 😀

 

Jadi, untuk menjadi kayu yang bisa jadi bara yang bagus, yang bisa mematangkan banyak hidangan, atau menghangatkan ruangan, perjalanan saya masih panjang.

Saya kan masih muda #anothernglali

 

Salam takzim,

Anna Farida

 

 

Advertisements

LITERASI ANAK: PERGESERAN PARADIGMA

cerpen

FL2N 2018 Bidang Cerpen

LITERASI ANAK: PERGESERAN PARADIGMA
Oleh: Anna Farida

Tiga puluh tujuh anak khusyuk menghayati kertas folio bergaris. Pena di tangan mereka bergerak dengan irama yang beraneka. Kadang kepala mereka mendongak, menatap langit-langit, mungkin sedang menata kalimat di kepala.

Anak-anak ini datang dari sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah, atau yang sederajat dari berbagai penjuru Indonesia. Selain utusan dari provinsi di Pulau Jawa yang masih mendominasi, ada peserta dari Bali, Bali, Jambi, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Riau, Kalimantan Barat, juga Sumatra Barat. Mereka terpilih sebagai finalis lomba menulis cerpen, menyisihkan lebih dari empat ratus naskah lain.

27-31 Oktober 2018 berlangsung kegiatan Festival dan Lomba Literasi Nasional (FL2N) Sekolah Dasar 2018, yang diselenggarakan oleh Subdit Peserta Didik Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Pada kegiatan ini, lima bidang lomba dipertandingkan: menulis cerita pendek, baca puisi, cipta pantun, cipta syair, dan mendongeng. 165 peserta terpilih sebagai finalis dari seluruh Indonesia dan unjuk kebolehan di hadapan para juri yang terdiri dari para akademisi dan praktisi literasi anak.

Tema besar yang diusung adalah “Literasi Membangun Pembelajar Sepanjang Hayat” dan tahun ini anak-anak berkarya dengan tema khusus memperkenalkan budaya daerah dalam bingkai keindonesiaan yang damai.

Sebagaimana dijabarkan dalam Petunjuk Teknis FL2N 2018, salah satu tujuan kegiatan ini adalah memotivasi peserta didik untuk meningkatkan budaya membaca dan menulis sejak dini, juga mendorong tumbuhnya semangat kebersamaan dalam keberagaman.

Ketika melakukan seleksi untuk menentukan finalis, para juri saling berbagi evaluasi berkaitan dengan karya anak-anak. Dari bidang cerpen, yang ditemukan adalah mulai bergesernya cara pandang anak-anak terhadap relasi sehari-hari.

Tema keragaman budaya yang disodorkan pada finalis sebagian menjelma menjadi tulisan yang sederhana, unik khas anak-anak, ada pula yang agak too good to be true. Ada anak yang berkisah tentang perselisihan dua kelompok masyarakat beda suku dan akhirnya bisa mereka damaikan. Ada yang menulis tentang temannya dari suku lain yang kehilangan keluarga kemudian anak itu meminta orang tuanya melakukan proses adopsi. Ada juga cerita tentang anak yang bertualang ke pulau lain dan menjalin persahabatan dengan penduduk asli di sana.

Dari kacamata orang dewasa, anak-anak tampil sebagai tokoh pendamai wilayah konflik rasanya mustahil. Proses adopsi anak dari suku lain juga tidak sederhana, begitu pula bertualang ke pulau lain sendirian. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan.

Sebaliknya, anak-anak cenderung berpikir spontan dan berani melepaskan imajinasi. Pertimbangan teknis dan detail yang biasa dilakukan orang dewasa tentu bukan ranah mereka. Jangankan ke luar pulau, mendadak tersesat di luar negeri pun bisa. Tanpa harus repot mengurus visa bahkan tanpa orang tua, mereka bisa jalan-jalan ke mana-mana. Mereka bebas tanpa sekat formalitas.

Punya imajinasi yang terbebaskan adalah privelege yang kian terkikis begitu manusia mendewasa. Meski demikian, ada pula catatan kecil yang perlu dipertimbangkan. Ada paradigma yang bergeser tentang pengamatan anak-anak terhadap kehidupan sehari-hari.

Dari cerpen yang mereka tulis, terlihat bahwa tema-tema yang diambil cenderung jauh dari keseharian. Alih-alih bercerita tentang relasi yang dijalin dalam keseharian dengan keluarga atau tetangga terdekat, mereka memilih bercerita tentang hal yang dianggap lebih istimewa atau heroik.

Tema favorit mereka adalah berlibur ke tempat yang jauh atau ikut lomba yang sulit, berlatih sangat tekun bahkan dalam waktu singkat, lantas jadi pemenang. Tema pilihan lainnya adalah bertemu dengan anak yang sangat nakal kemudian menyadarkannya, menjadi penengah antara kelompok yang saling berseteru, hingga memecahkan misteri yang seru. Pendek kata, mereka memilih tema-tema yang dianggap “wow”.

Dari aspek bahasa, sebagian anak menggunakan bahasa di luar bahasa sehari-hari. Pilihan kalimat mereka cenderung formal dan berbunga-bunga, diselingi dialog yang dramatis dan tidak natural.

Yang justru jadi hiburan yang menyegarkan adalah keberanian anak-anak menyelipkan beberapa kata dalam bahasa daerah ke dalam cerita mereka. Selama pembaca yang bukan penutur bahasa itu tetap bisa mencerna maknanya, penggunaan bahasa daerah membantu penulis cilik menyajikan narasi atau dialog yang alamiah. Walau tidak banyak anak melakukannya, ini pertanda bahwa kebanggaan anak terhadap bahasa daerahnya masih ada.

Perihal pemilihan tema favorit dan penyajian bahasa pada karya anak ini hendaknya menjadi catatan bagi para guru atau pelatih mereka. Pertama, menciptakan karya yang berkualitas tetap bisa dilakukan tema yang dekat dengan keseharian.

Dengan demikian, mereka bisa menuliskannya dengan mendalam karena pernah peristiwa atau situasi tersebut pernah dialami atau diinderai.
Imajinasi tentu sah adanya, karena pada dasarnya cerpen itu bermuatan fiksi dan berisikan hal-hal khayali. Meski begitu, imajinasi yang bagus tetap perlu dilandasi oleh pengetahuan atau pengalaman yang memadai.

Kedua, cerita yang menggugah tetap bisa disampaikan kepada pembaca melalui kalimat-kalimat sederhana. Kekuatan cerita pendek ada pada tema, penokohan, setting, dan alurnya, sementara kalimat adalah sarana penyampaiannya. Kepada anak-anak semua aspek itu bisa dilatihkan perlahan-lahan, setahap demi setahap, hingga cerita demi cerita yang mereka tulis adalah teman seperjalanan mereka menuju dewasa.

Salam literasi.

Anna Farida, Juri Bidang Lomba Cerpen FL2N 2018

KOMUNIKASI YANG MELEKATKAN KELUARGA

 

Artikel Ibu di Galamedia-croppedSuatu sore, saya terperanjat.

Salah satu anak saya yang beranjak remaja mengucapkan kalimat yang menurut saya tidak layak. Bahasa tubuh dan ekspresi wajahnya juga membuat saya kaget karena dia biasanya sangat santun.

Ini dari mana asalnya?

 

Sebelum membahas kejutan pahit sore itu, saya ingin menyingkap pandangan tentang keluarga sebagai madrasah atau sekolah pertama bagi anak. Ada yang berpendapat bahwa sebagaimana anak burung yang belajar terbang dari induknya, anak pun pasti bisa belajar apa pun dari keluarganya.

 

Sayangnya, saat ini sebagian keluarga terserang gamang. Ada orang tua yang ragu apakah dia benar-benar punya peran dalam pendidikan anak-anak zaman sekarang, atau paling tidak bertanya-tanya, bagaimana caranya.

 

Apalagi jika kondisi ini dikaitkan dengan bergegasnya zaman bergerak. Tak sedikit orang tua yang merasa gaptek atau kudet—dua singkatan gaul yang mewakili makna ketertinggalan dalam era digital.

Akibatnya, terjadilah kesenjangan komunikasi antar generasi dan terlihatnya gejala yang lazim disebut panic parenting.

 

Namanya juga panik. Tindakan dan keputusan dilakukan secara mendadak, tidak terkendali, penuh suasana cemas, dan seringkali menimbulkan perilaku yang kurang terpuji.  Atas nama cinta, tanpa niat menyakiti, orang tua bisa melakukan kekerasan kepada anak, demikian pula sebaliknya.

 

Saya pun pernah mengalaminya.

Saat mendapati anak saya mengucapkan kalimat tak layak tadi, rentetan pertanyaan siap melompat.

Anehnya, mungkin saking terkejutnya, lidah saya terkunci. Ada untungnya juga, sih. Saya tak perlu melontarkan kalimat balasan yang akan saya sesali kemudian. Saya memandanginya dengan tajam, masih tak percaya, sementara dia melihat ke arah lain.

 

Kami sama-sama terkejut, sama-sama tidak menyangka cara berkomunikasi seperti itu bisa muncul. Di antara suasana kaku saat itu, saya ingat Marshall Rosenberg (2012: 125) yang mendefinisikan perilaku kami sebagai violent communication atau komunikasi yang bermuatan kekerasan.

 

Bisa jadi pemicunya adalah saya.

Mungkin sebelumnya saya membuatnya sangat kesal, dan akhirnya dia lepas kendali. Bisa jadi dia sedang jengkel dengan hal lain atau orang lain, kemudian saya yang kena getahnya.

Mungkin Anda pernah mengalami hal yang sama, bertengkar dengan anak atau pasangan kemudian menyesal berhari-hari.

 

Tak perlu resah, kita bisa sama-sama belajar menerapkan (kembali) komunikasi yang melekatkan keluarga. Saya yakin bahwa komunikasi yang jelas, terbuka, dan penuh cinta adalah pijakan yang kuat bagi keluarga yang sehat.

 

Keluarga yang terbiasa berkomunikasi secara sehat akan memiliki kelentingan, daya tahan, sekaligus kemampuan mengatasi masalah. Orang tua dengan gaya komunikasi yang sehat akan lebih optimal dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Pada gilirannya, anak-anak akan tumbuh dengan karakter positif: percaya diri sekaligus santun, terbuka sekaligus tahu batas.

 

Nah, bagaimana caranya membangun komunikasi yang sehat?

Ternyata, kemampuan berkomunikasi dengan baik itu bukan genetis tapi hasil latihan. Komunikasi yang sehat itu bukan sesuatu yang terberi, tapi harus diupayakan. Kita bisa merujuk ke berbagai buku komunikasi keluarga dan menerapkannya di rumah. Saya rangkumkan beberapa langkah—mudah menuliskannya, perlu perjuangan dan komitmen untuk melakukannya.

 

Pertama, luangkan waktu. Hadiah termahal yang bisa kita berikan kepada keluarga, terutama anak-anak, adalah waktu. Kekurangan waktu buat keluarga adalah problem yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kekurangan uang.

Padatnya jadwal kegiatan yang berbeda-beda membuat anggota keluarga sulit menemukan waktu untuk bisa mengobrol santai.

Ini tidak bisa dibiarkan. Waktu luang mesti diciptakan dengan cara yang kreatif, disesuaikan dengan kebiasaan keluarga. Ada keluarga yang bisa berbincang  leluasa saat subuh, ada yang memilih malam hari menjelang tidur. Ada yang menjadwalkan pertemuan keluarga, misalnya setiap malam Sabtu semua anggota wajib kumpul di rumah. Acaranya? Makan bersama dan saling bertukar cerita. Walau sejenak, luangkan. Jadikan kegiatan penting, bukan sambil lalu.

 

Kedua, hidupkan rumah dengan tawa. Ungkapan bahwa tawa adalah obat terbaik itu tidak berlebihan. Tertawa mengaktifkan fungsi alamiah tubuh untuk lebih rileks sehingga mengurangi stress. Keluarga dengan tradisi humor lebih mudah membangun komunikasi yang sehat antar anggotanya daripada keluarga yang cenderung serius. Humor membuka sumbatan kekakuan antar generasi dan mencairkan kecanggungan setelah pertengkaran, misalnya.

Tentu, bercanda tetap harus dilakukan dalam lingkup kesantunan yang semestinya. Kata dan tindakan kasar atau melecehkan tetap tak dibenarkan. Jangan sampai bercanda justru menjadi wahana saling bully dan akhirnya tidak menyenangkan lagi. Ada keluarga yang lekat karena terbiasa saling ledek. Ini sah saja, asal semua ikut bergembira. Aturannya sederhana, segera kurangi intensitas gurauan begitu ada salah satu yang tidak tertawa.

 

Ketiga, biasakan berbicara secara spesifik. Komunikasi yang sehat bisa dipahami dengan mudah oleh anggota keluarga yang lain. Kebiasaan ini penting terutama ketika ada anggota keluarga yang mengalami masalah. Kalimat-kalimat sindiran, termasuk kalimat yang tidak bermakna jelas, hanya akan menimbulkan masalah baru.

Misalnya, kakak dan adik bertengkar. Kakak menggerutu, “Adik menyebalkan.”

Itu kalimat umum. Ajak dia untuk membuatnya spesifik. Kan tidak dalam semua hal Adik menyebalkan. Tanya dia, Adik menyebalkan ketika melakukan apa.

“Kakak nggak suka, ya, kalau Adik bikin berantakan mainan?” misalnya.

Ajakan semacam ini lambat laun akan membangun karakter obyektif pada anak. Fokus dia adalah perbuatan yang tidak dia sukai, bukan semata-mata kepada pelakunya.

 

Keempat, jadilah pendengar yang aktif. Dalam prinsip komunikasi empatik yang diajarkan Stephen Covey, salah satu karakter komunikasi yang sehat adalah berusaha mengerti dulu, baru dimengerti. Nah, salah satu cara untuk mengerti orang lain ketika berkomunikasi adalah mendengarkan aktif.

Apa maksudnya?

Misalnya anak sedang bercerita tentang temannya yang punya handphone baru. Respon orang tua bisa macam-macam:

  • Mendengarkannya sambil lalu sambil berkomentar, “Ah, pemborosan! Anak kecil kok gonta-ganti hape!
  • Menyindirnya, “Anak yang baik biasanya bisa membedakan keinginan dan kebutuhan.”
  • Menuduhnya, “Pingin juga? Punya uang berapa, emang?”
  • Mendengarkannya secara aktif, “Seri apa katanya? Bagus, ya. Ayah juga pingin ganti hape belum kesampaian saja.

Salah satu aspek penting dalam komunikasi yang sehat adalah melibatkan diri dengan lawan bicara. Berikan respon positif, misalnya menganggukkan kepala, mengajukan pertanyaan, atau pernyataan singkat seperti “Oh, ya? Wah! Serius?” kepadanya.

 

Dengan melibatkan diri, sebagai orang tua, kita bisa memahami sudut pandang anak sekaligus menghormatinya. Jika kita membiasakan diri mendengarkan anak, teladan itu akan mereka ikuti. Pada gilirannya, ketika orang tua menyampaikan sesuatu, anak akan mendengarkannya secara aktif pula. Perbuatan baik dicontohkan, kebiasaan terpuji diteladankan.

 

Kelima, perhatikan bahasa nonverbal. Suatu saat Anda menemukan anak cemberut dan melangkahkan kakinya tanpa semangat, sudut matanya sembap memerah.

Ketika ditanya, dia menjawab, “Enggak apa-apa, kok. Cuma capek”.

Mana yang lebih Anda percayai, bahasa lisannya atau bahasa tubuhnya?

Menangkap bahasa tubuh ini perlu perhatian penuh. Ekspresi lawan bicara seperti memalingkan pandangan atau memainkan jari tanda gugup tak akan terlihat jika Anda tidak memperhatikan dia.

Karena itu, ketika anak berbicara, letakkan gawai. Berhentilah sejenak dari kesibukan Anda, hadapkan badan kepadanya. dengan cara ini Anda akan lebih memahaminya dan lebih peka jika ada hal lain yang dia sembunyikan.

Di saat yang sama, anak jadi yakin bahwa orang tuanya memandang hal yang dia sampaikan adalah penting, bahwa dia pun penting. Ini modal yang sangat berharga untuk membangun komunikasi yang lekat dan terbuka.

 

Lima cara di atas bisa dibangun perlahan-lahan, bisa dimulai dari mana saja, tanpa saling tuding siapa yang harus memulainya lebih dulu. Semua anggota keluarga punya peran yang sama, karena keluarga milik bersama.

Komunikasi adalah hal yang paling sering dianggap natural, namun ternyata tak bisa terbangun secara asal. Perlu latihan dan kemauan yang konsisten, sebagaimana burung belajar terbang yang tak henti mengepakkan sayap. Berulang-ulang, mencoba lagi saat gagal, start and restart.

 

Salam takzim,

Anna Farida

————————-

Dimuat di Harian Galamedia, Selasa, 25 Mei 2016. Ini versi aslinya. Pada versi koran ada beberapa suntingan.

 

GRUP TETANGGA SEBELAH?

calvin_and_hobbes

wikispaces.com

Saya 98% yakin, Anda pernah baca informasi seperti ini:

$%#@$^^&*^%$#

$%#@$^^&*^%$#

… dan seterusnya dan selanjutnya …

(dari grup sebelah) atau (dari grup tetangga)

 

Sebelah mana? Tetangga siapa?

Sabtu lalu saya merumpi bersama pengurus Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) dan membahas sejumlah program untuk mengompori ibu-ibu agar kian rajin menulis. Selain dikompori, anggota akan diajak kembali belajar prinsip-prinsip sederhana saat mengutip sebuah sumber informasi termasuk menyebarkannya. Biar enggak malu-maluin nyebar berita hoax!

Pakai daster yes, nyebar berita bohong no!

Di Sekolah Perempuan, saya pernah ngomel bawel wel wel, memperingatkan alumni agar tidak sampai bikin Julie Nava cari nyiru buat tutup muka. Soalnya dialah mentor yang mengajarkan materi riset dalam menulis, termasuk melacak rujukan dengan cara yang benar.

Lha, sekarang lain lagi.

Saya ikut dan diikutkan dalam beberapa grup Whatsapp dan Facebook. Bukan sepuluh dua puluh kali saya dapatkan informasi yang sumbernya dari grup sebelah atau grup tetangga. Celakanya, saya juga pernah latah membagikan informasi dengan menyebut tetangga sebelah itu. Sekarang sudah tobat.

Mengapa tren ini muncul, ya? Mengapa tidak sebut saja sumbernya, dari Grup Menyanyi Riang, misalnya. Malas? Mau cepat? Atau sudah dianggap biasa?

Coba cek, deh. Jika Anda punya waktu luang, lakukan eksperimen ini. Saya minta Anda karena saya emoh melakukannya.

Misalnya Anda dapat info tetangga dari A tentang cara cepat langsing dengan jus durian #halah. Minta A bertanya kepada grup tetangga itu, apa sumber atau rujukannya.

Anggap saja yang menyebarkan info di grup tetangga itu adalah B. Berdasarkan kesotoyan saya, besar kemungkinan B akan menjawab “dari grup sebelah”.

Jika B bertanya kepada C di grup sebelah itu, C akan menjawab dari grup tetangga sebelah.

Berikutnya, kata D dari tetangganya tetangga atau mertuanya tetangga. Demikian seterusnya hingga Z, mungkin kembali A mungkin juga pindah ke A-2.

Jus durian pun sukses menjadi travelling theory.

 

Kan saya tidak menyebarkan kebencian? Kan hanya menyebarkan quote atau gambar yang memotivasi?

Walau tujuannya baik, caranya tetap harus benar.

Sederhana saja, Buk. Suwer tidak ribet.

Sebarkan kebaikannya, sebutkan sumbernya. Itu hanya setitik upaya untuk peduli, kok.

Sebut saja namanya, “info dari Mas Edward dari Grup Penggemar Tahu”.

Dengan cara ini, Mas Edward akan dapat apresiasi, sekaligus waspada. Karena sadar namanya akan disebut sebagai sumber berita, dia akan lebih hati-hati dengan isi berita yang disebarkannya. Ini harapan imajinatif saya yang dangkal—kasihan banget, sudah imajinasi, dangkal pula haha.

Kemungkinan lainnya, orang yang jadi sumber beritanya memang bertujuan merusak dan menyebarkan kerusakan. Tentu dia tak ingin namanya disebut dan memilih sembunyi di rumah tetangga sebelah tadi.  Masa jempol Anda ikut-ikutan mendukung kejahatannya?

Tapi saya yakin itu bukan Mas Edward – ini ngomongin apa, sih?

Jadi gitu, ya, Buk.

Mulai saat ini kita biasakan menyebut nama siapa pun yang menyebarkan berita apa pun. Atau setop saja, deh, menyebarkan berita yang rujukannya tetangga sebelah itu.

Sambil promosi, saya punya grup kuliah via Whatsapp tentang parenting dan pernikahan (nggaya, pakai nama kuliah—biarin), dan adminnya galak bener. Dia melarang anggota menge-post berita salin-rekat alias copas dari grup lain.

Jika Anda mau berbagi informasi, ceritakan saja apa isinya, jangan di-copas mentah-mentah. Setidaknya ada usaha sedikit untuk mencerna sebuah berita dan menuliskannya sesuai pemahaman sendiri.

Hal sederhana ini juga setitik upaya untuk menjaga generasi berikutnya, lho.

Ngeri banget membayangkan anak-anak kita jadi generasi copas dan generasi tetangga sebelah.

Catatan: Banyak yang tanya, tulisan ini boleh di-copas tidak?
Ya boleh, lah. Siarkan seluasnya, sebutkan sumbernya. Jika ada yang keberatan kan tinggal jitak saya 😀

Saya siarkan tulisan ini dan kabur segera, takut juga kena jitak penyuka tetangga sebelah ahahah.

 

Salam takzim,

Anna Farida

ROMO MAGNIS: tiga catatan akhir 2015

Frans_magnis_suseno

sumber: id.wikipedia.org

80 tahun dan tulisannya masih jernih, tak bikin jera.

Hari ini, ujung 2015, melalui grup Whatsapp, saya membaca tulisan Romo Magnis di Harian Kompas. Saya mengenal Franz Magnis Suseno melalui buku-bukunya, dan bertemu tahun 1995-an. Saat itu Himpunan Mahasiswa Islam mengadakan training—entah training apa saya lupa, HMI kan memang doyan bikin training.

Saya bertugas menjemput Romo di Stasiun Hall, dan langsung mengenalinya begitu pertama kali melihatnya.

Dengan posturnya yang menjulang, dia berjalan tegap sambil menenteng tas dan payung hitam panjang di kedua tangannya—mana kanan mana kiri saya lupa. Begitu dia mendekat, terlihatlah bros salib kecil di kerah bajunya. Mana kanan mana kiri saya juga lupa—ini nulis kok banyak lupanya.

Hari ini Romo Magnis menulis di koran Kompas. Tulisannya jernih, tentu tidak seperti tulisan saya yang berhamburan kebanyakan iseng. Can’t be helped, what to to do, kata Ubit.

Romo membuka tulisannya dengan mempertanyakan konsep revolusi mental dan menyambungnya dengan kalimat ini, “Bahwa kita memerlukan sebuah revolusi mental untuk keluar dari rawa mediokritas, kemalasan intelektual, kecengengan emosional, kedangkalan spiritual, kebrutalan dogmatisme, dan dari belenggu-belenggu prasangka dan kecurigaan yang menyandera bangsa sulit disangkal.”

Menurut Romo Magnis, sebagai refleksi akhir tahun, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah budaya kekerasan. Selain kasus tawuran, pengeroyokan, dan penindasan, Romo menyebut kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Masih saja ada kalangan yang dipaksa untuk menjalankan atau untuk tidak menjalankan ibadah tertentu bahkan dianggap sesat jika keyakinannya berbeda dengan “kebanyakan”.

Yang kedua adalah bebas dari rasa takut. Masih terkait tentang kebebasan beribadah, disebutkan bahwa masih ada orang yang hidup dalam ketakutan karena keyakinan religius dan tata cara ibadahnya tidak disetujui kalangan lain. Para tokoh agama pun ditantang untuk bersikap, di mana mereka berdiri. Ibadah itu kan hak yang sangat personal antara manusia dan Tuhan. Masa mau direcoki oleh orang lain. Pulang ke akhirat juga sendiri-sendiri, kan?—eh tentu Anda tahu bahwa dua kalimat terakhir itu omelan saya.

Yang ketiga adalah korupsi.

Lha, ini yang harus dipangkas habis!

Beragama atau tidak, koruptor itu menyebalkan dan wajib diberantas. Sayangnya, kita masih saja disuguhi drama tidak lucu tentang pemberantasan korupsi di Indonesia. Dua minggu yang lalu televisi masih menyiarkan aneka keributan terkait isu korupsi. Sekarang mana?

Kasus satu demi kasus menguap tanpa kita ketahui (saya saja kali, yang tidak tahu, ya? Wong yang sering ditonton acara got talent melulu, itu juga acara tahun lalu yang sudah jelas pemenangnya—nah mulai ngelantur) Peduli amat dengan komentar masyarakat, apalagi masyarakat seperti saya yang pintarnya mengoceh atau bahasa kerennya berwacana di media sosial. Hari ini teriak-teriak tentang pendidikan berkualitas, besok mamerin foto narsis tak keruan atau nebeng narsis ke anak ahaha.

Haish, setop.

Kita sedang serius, ini.

Tiga hal di atas masih jadi catatan besar hingga tahun-tahun ke depan. Saya yang ibuk-ibuk dan mengajar ibuk-ibuk ini pun perlu menyempatkan diri untuk berpikir melampaui cucian piring dan keranjang setrikaan. Yang berlangsung di sekitar kita saat ini, di negara kita, sangat menentukan kualitas hidup anak-anak kita hari ini dan kelak.

Jadi, peduli adalah pilihan terbaik.

Begitulah renungan akhir tahun ini. Sejatinya saya hendak menulis tentang hal lain, tapi rasanya tulisan Romo Magnis ini lebih penting saya bagikan duluan.

Semoga bermanfaat

Hari ini Hari Guru

Yang juga membedakan manusia dengan binatang adalah kemampuannya merepotkan orang lain.

Lihat saja apa yang dia lakukan begitu kehadirannya diketahui oleh ibunya.

Ada yang gembira sepenuh jiwa, “Alhamdulillah, positif!”

Ada yang cemas penuh sesal, “Oh, no! Kok positif?”

Pertapaannya di dalam rahim hingga proses kelahirannya melibatkan banyak orang: ayah ibunya, tenaga medis, kakek nenek, kerabat, tetangga, teman orang tuanya …

 

Tak mungkin dia bangkit sendiri mencari kain bedongnya.

Tangis pertamanya ditaburi ucapan selamat dibalur doa-doa. Pertumbuhannya dituntun oleh banyak orang. Dia dijaga benteng bantal guling saat belajar tengkurap, dialas tilam empuk ketika belajar duduk. Air susu tak henti disodorkan, langsung ke mulutnya. Makanan halus disajikan dan disuapkan, tinggal ditelannya.

Saat langkahnya mulai terayun satu  dua, genggaman hangat membimbingnya. Tak seperti bayi kambing yang harus tersungkur dan bangkit sendiri, lengan-lengan terbuka lebar untuk menyongsong pijakan goyahnya. Ada senyum yang membuatnya merasa aman menapak, ada pelukan hangat yang menyambutnya.

Saat dia tumbuh sebagai anak-anak, sebagai remaja, sebagai orang dewasa, tak henti orang tuanya menggumamkan doa. Tak henti orang-orang di sekelilingnya membantunya hidup–ada yang mengajarinya kebaikan, ada yang menjerumuskannya dalam keburukan. Tak salah bila ada ucapan, “Baik buruknya seseorang turut ditentukan oleh bantuan kehidupan yang diterimanya”.

Di rumah, kepadanya disampaikan nilai-nilai kemuliaan: hormat kepada yang lebih tua, sayang kepada yang lebih muda, adil dengan sesama manusia. Di sekolah, kepadanya diajarkan ilmu dan wawasan, oleh guru oleh kawan. Di lingkungan tetangga dia belajar, di lingkungan kerja, dia belajar. Semua dia lakukan di antara manusia lain, yang bisa disentuhnya maupun yang dikenalnya melalui jejaring maya.

Hingga tiba saat kematiannya, manusia lain pun masih melibatkan diri. Ada yang melakukannya karena tulus cinta padanya, atau karena hormat pada orang tua dan anak-anaknya, atau sekadar prihatin karena tiada manusia lain yang mau mengurusnya.

Tak mungkin dia mencari sendiri kain kafannya. Mustahil dia berjalan sendiri ke kuburnya. Penghormatan yang terakhir sebagai manusia, pun dia terima dari orang-orang di sekitarnya.

Sekian gelintir, sekian puluh, sekian ratus … sekian banyak manusia lain ikut membentuk nilai kehidupan yang diyakininya. Dia belajar dari banyak guru dalam rentang usianya. Proses dan hasil belajar itulah yang akan dibawanya sebagai secuil kecil bekal untuk menghadap Tuhannya.

Manusia, dari awal kehadirannya hingga kepulangannya, adalah murid dari manusia lain.

Hari ini, 25 November 2014, adalah Hari Guru.

Untuk semua guru, dari sejak kelahiranku hingga kematianku, terima kasih atas semua bekal tentang laku hidup, kebaikan, dan ilmu. Salam takzim, ampuni kelalaikanku atas ajaranmu.

MENYUNTING EMPATI

editing workshop

Foto dok. panitia

Pagi itu saya buru-buru.

Ada workshop penerjemahan dan jurnalistik di Jakarta, dan saya bertugas memberikan materi penyuntingan naskah alias editing.

Bus melaju tanpa hambatan, jadi seharusnya saya tiba tepat waktu.

Tiba-tiba sopir menepikan kendaraan, dan berdiri di hadapan saya dengan sikap sopan. Ternyata dia menyapa penumpang yang duduk di belakang saya.

Terdengarlah dialog ini:

Ibu, maaf. Jadinya Ibu mau turun di mana?”

Aduh, Ibu juga belum tahu. Dari tadi nelepon belum diangkat…”

Ibu kan mau ke daerah ****?” (Saya lupa nama tempatnya)

Iya.”

Begini, Bu. Bus ini tidak akan lewat ****.”

Trus gimana?”

Lebih enak Ibu turun di Ceger. Nanti dari sana Ibu naik taksi.”

Ya sudah, gimana bagusnya saja…”

Suara ibu itu menggantung. Keraguan dan kecemasannya membuat sang sopir berpaling ke arah saya dan bertanya, “Mbak, turun di Pasar Rebo trus ke Pondok Gede, kan?”

Iya, Pak,” sahut saya.

Ibu ini mau turun di Ceger. Tapi saya hanya bisa berhenti di perlintasan jalan tol. Ibu ini harus jalan kira-kira seratus meter trus nyebrang. Mbak mau nemenin?”

Dia menjelaskan bahwa turun di Ceger sama saja, dan akan ada banyak taksi di sana. Lagi-lagi saya mengangguk tak yakin. Saya tidak tahu Ceger, tidak tahu juga Pasar Rebo.

Ah, sama-sama tidak tahu, kan. Jadi saya setuju saja.

Maka turunlah kami di sisi jalan tol diiringi ucapan terima kasih sang sopir.

Ternyata ibu yang duduk di belakang saya itu sudah berusia lanjut. Kami berjalan bergandengan tangan, dan berpisah tanpa sempat berkenalan.

Kejadian singkat itu terputar ulang ketika saya duduk di dalam taksi.

Saya pernah menemukan sopir yang mengemudi ala pilot pesawat tempur di film-film. Ada pula yang merokok seenaknya di bus ber-AC, atau menelepon sambil menginjak rem semaunya.

Hari itu saya belajar dari seorang sopir yang berbeda.

Dia bisa saja menurunkan semua penumpang yang tidak punya tujuan jelas di pool terakhir. Dia juga bisa berteriak dari kursinya dan bertanya ke ibu itu, atau meminta kondekturnya untuk melakukannya. Dia juga bisa saja kasih instruksi agar ibu itu turun sendiri, tanpa repot-repot minta tolong kepada saya. Pilihannya untuk menepikan bus hanya untuk bertanya, dan tutur katanya yang santun itu sungguh mengesankan. Masih ada orang baik, masih ada harapan untuk dunia yang lebih baik.

Karakter seperti inilah yang mesti sampai kepada anak-anak kita, generasi muda kita, masyarakat kita. Sebenarnya, kita selalu punya pilihan untuk peduli.

Saya sampai di lokasi tiga puluh menit lebih lambat—untung ada acara lain yang bisa ditukar jadwalnya. Workshop berlangsung dua sesi, bermain kalimat dan paragraf dari pagi hingga sore, seru sekali.