MENCINTAI GENERASI LITERER

generasi litererFor me, opinion is merely curhat with style 😀

Opini ini dimuat di Harian Galamedia 6 Maret 2017. Selamat membaca.

MENCINTAI GENERASI LITERER

Oleh: Anna Farida

Saya membaca “Dunia Sophie”-nya Jostein Gaarder ketika mahasiswa. Setengah mati saya selesaikan buku itu di antara rasa ingin tahu dan rasa malas yang bergantian datang. Entah berapa minggu baru tamat setelah sebagian besar halaman saya lewat. Itu pun saya segera lupa isinya.

22 tahun kemudian, putri saya yang masih SD menamatkan buku yang sama hanya dalam seminggu. Saya bersaksi, dia benar-benar membacanya. Di rumah, buku itu tak pernah lepas dari tangannya. Sesekali dia bertanya apakah saya tahu Aristoteles atau Thomas Aquinas dan saya jawab sekenanya.

Begitu dia menyatakan diri selesai baca, saya penasaran, apa saja yang dia dapat dari novel filsafat yang tebalnya hampir 800 halaman itu.

Jawabnya, “Seru, Bu. Banyak misterinya!”

Rasa ingin tahunya terpuaskan pada halaman 200-an, Sophie bertemu dengan Alberto Knox. Dia kembali kebingungan saat surat-surat buat Hilde bisa sampai ke tangan Sophie, juga ketika muncul misteri lain yang dia ceritakan kepada saya dengan penuh antusias.

Saya penasaran apakah dia pun menyerap materi sejarah dan filsafat yang padat dalam novel itu. Sambil lalu saya uji dia dengan beberapa pertanyaan, dan jawabannya santai saja, “Renaisans? Errr, yang mana, ya? Lupa! Spinoza? Rasanya ada ceritanya, orangnya gendut, tapi lupa juga, sih.”

Hasil investigasi saya membuktikan bahwa dia mencermati dan menikmati jalinan kisahnya dan membaca begitu saja materi filsafatnya. Putri saya harus membaca setiap halamannya karena tak ingin ketinggalan misterinya walau tak paham sebagian besar isinya.

Ini menarik. Buku tebal yang tidak didesain khusus untuk anak bisa mengikat minat anak 10 tahun. Penulisnya sudah pasti piawai. Siapa tak kenal Gaarder.

Walaupun begitu, perlu kita sadari bahwa minat baca pada zaman serba layar sentuh ini mulai langka. Bukan hanya pada anak, tapi juga pada orang dewasa yang tahu benar manfaat membaca. Saya sendiri bukan pembaca yang tangguh. Frekuensi dan kualitas bacaan saya biasa saja, tapi bukan berarti saya tidak bisa mendampingi anak-anak menjadi literer. Anda juga bisa. Mari kita upayakan bersama.

 

Jadilah “teladan”

Mengapa ada tanda petik di sana? Siapa tahu kita sejenis—tidak begitu suka membaca. Demi anak-anak, kita bisa berlatih suka. Saya biasa duduk sejenak di dekat mereka, ambil buku, dan membaca. Pandangan saya memang ke buku, sedangkan pikiran saya entah ke mana. Yang penting saya terlihat membaca. Tanpa sengaja, ada juga kalimat yang singgah dalam ingatan saya. Lumayan, kan?

Membaca itu seperti olahraga. Semula saya tidak suka karena membuat badan sakit semua. Saya melakukannya karena terpaksa, terengah-engah berlari keliling lapangan, demi kesehatan dan kebugaran (baca: demi mengurangi berat badan). Lama-lama saya merasakan manfaatnya dan mulai menjadikan olahraga sebagai gaya hidup.

Sama halnya dengan membaca, awalnya berat. Saya harus bertarung dengan kantuk padahal baru dapat dua halaman, belum lagi godaan untuk berhenti karena berbagai alasan. Saya kondisikan diri saya membaca, sambil paham atau sambil melamun, sukarela atau terpaksa, semoga lama-lama jadi benar-benar suka.

 

Akrabkan rumah dengan bacaan

Yang dimaksud dengan bacaan bukan hanya buku. Kita bisa membiasakan menulis pesan pada anggota keluarga. Daftar tugas rumah tangga, catatan belanjaan, hingga pesan-pesan cinta bisa ditempel di tempat-tempat yang strategis. Kebiasaan ini pada gilirannya juga membangun minat menulis pada anak.

Sebar buku pada tempat yang mudah dijangkau anak, sabar jika buku berserakan di seluruh penjuru rumah. Menggerutu saat anak lupa mengembalikan buku ke rak akan mengurangi kesenangan mereka membaca. Membiarkan buku berhamburan buka berarti mengabaikan tanggung jawab. Tentukan prioritas, mau membiasakan tanggung jawab dulu atau minat baca dulu. Dua-duanya bersamaan? Saya sih tidak bisa. Saya pilih minat baca, dan mengalah saat saya yang harus beres-beres bekasnya. Setelah kebiasaan baca terbangun, baru perlahan saya minta mereka ikut rapi-rapi—walau ini jarang terjadi. Saya lebih suka buku tertebar daripada tertata diam di rak dan menjadi hunian nyaman laba-laba.

 

Variasikan jenis bacaan

Izinkan anak membaca berbagai jenis buku—sesuai jenjang usianya, tentu. Pada tahap awal, hindari buku yang padat informasi ala buku pelajaran. Tak perlu cemas, mereka sudah banyak mendapatkan genre ini di sekolah.

Pilihkan buku-buku cerita, misalnya. Membaca fiksi diyakini membantu anak memperkuat daya ingat jangka panjang. Menurut pakar literasi, Sofie Dewayani, buku cerita bergambar membantu anak mencermati komunikasi nonverbal. Imajinasi anak bebas berkembang, kecintaan pada membaca juga akan terbangun secara sukarela.

Dukung hobi anak dengan memberinya bacaan terkait. Anak yang suka sepak bola akan tertarik membaca komik bertema bola atau biografi pemain idolanya. Berita aktual terkait sepak bola juga akan memancing minat bacanya.

Bagi balita, sediakan beragam buku aktivitas yang bisa dicoret dan dirobek. Untuk anak yang lebih besar, variasikan dengan komik, buku TTS, majalah, hingga buku petunjuk penggunaan hape, misalnya.

 

Carikan teman

Ini zaman media sosial, saat urusan pribadi jadi kabar dunia. Saat melakukan kebaikan, terasa bahwa dukungan teman cukup besar pengaruhnya, termasuk teman maya. Untuk remaja, melibatkan media sosial untuk mengungkit minat baca bisa jadi jalan tengah. Anjurkan mereka untuk membahas buku dengan teman di sela chat. Jika mereka masih enggan, temani, carikan teman. Ajak teman-teman Anda yang punya anak remaja untuk membuat klub baca jarak jauh, misalnya.

 

Bukan sulap

Dalam beberapa kesempatan saya menyebut membangun minat baca pada era gadget seperti ilusi tingkat tinggi. Bagaimana mau menciptakan ilusi sedangkan saya bukan tukang sulap? Jajal upaya di atas, erami dengan ketekunan. Jangan berharap hasilnya instan dan menakjubkan seperti main sulap.

Salam literasi.

—————

Anna Farida, kepala Sekolah Perempuan, penulis “Biasa Baca Sejak Balita”—bisa diunduh gratis via Google.

MENGGAGAS PENDIDIKAN IBU

galamedia-anna-farida-pendidikan-ibuOpini ini dimuat di Harian Galamedia, 22 Desember 2016. Seperti biasa, tulisan saya di koran lebih padat, berisi, rapi. Terima kasih kepada editornya yang jeli menatanya.

Ini versi aslinya, ampuni kealpaannya 😀

 

Muasal pendidikan adalah keluarga sebagai lingkungan terdekat bagi anak. Sentuhan pendidikan pertama yang dirasakan seorang bayi diharapkan berasal dari keluarga yang memiliki cinta kasih dan  daya dukung positif bagi perkembangannya. Alih-alih isu pengarusutamaan gender yang pernah dan masih menguat, dalam umumnya budaya Indonesia, peran pengasuhan dan pendidikan masih menjadi tanggung jawab ibu (Tobit dalamTim Pengembang Imu Pendidikan FIP-UPI, 2007: 309). Di pundak para ibu kualitas pendidikan anak disandarkan.

Di negara maju, pendidikan bagi perempuan dan laki-laki sama pentingnya. Di negara berkembang dan belum berkembang, pendidikan bagi perempuan jauh lebih penting berdasarkan alasan sosial ekonomi. Terkait dengan perbaikan generasi, pendidikan untuk ibu dan calon ibu menjadi kebutuhan yang mendesak. Jika seorang perempuan memiliki pendidikan memadai, anak-anaknya akan memperoleh manfaat berupa berbagai pencerahan dan pengalaman belajar dari ibunya. Di bawah pengasuhannya, semua anggota keluarga akan terdidik (Gupta, N.L. (2000), Woman Education through Ages, New Delhi: Concept Publishing Company).

Sementara itu, data dari Badan Pusat Statistik 2009 memperlihatkan bahwa 75,69% perempuan usia 15 tahun ke atas hanya tamat SMP ke bawah. Mayoritas perempuan, 30,70%, hanya lulus SD. Bisa dimengerti mengapa 4,2 juta perempuan, artinya sekitar 70% dari Tenaga Kerja Indonesia adalah perempuan—dan sebagian besar bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Berikutnya, data BPS tahun 2010 mencatat 12,26% perempuan Indonesia menikah pertama kali pada usia 10-15 tahun, 32.46% pada usia 16-18 tahun. Artinya, 45% perempuan Indonesia menikah pertama kali sebelum mereka berusia 19 tahun.

Pada usia 19 tahun, idealnya mereka masih belajar di perguruan tinggi. Kajian yang dilakukan oleh Bank Dunia di 25 negara berkembang, Gender Equality and The Millenium Development Goals (2003) memperlihatkan bahwa rendahnya tingkat pendidikan seorang ibu berdampak langsung pada gizi buruk dan rendahnya kualitas pengasuhan terhadap anak. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa jika perempuan bersekolah satu hingga tiga tahun lebih lama, angka kematian anak bisa turun hingga 15%. Dengan masa sekolah yang sama pada laki-laki, angka kematian anak yang berhasil diturunkan adalah 6%.

Data tersebut menunjukkan bahwa peran perempuan terhadap pendidikan bahkan keselamatan anak sangat krusial. Tentu, yang dimaksud dengan pendidikan pada era sekarang bukan lagi sekadar melek aksara. Cakupan pendidikan yang mesti dimiliki perempuan masa kini sungguh luas sekaligus kompleks.

Karenanya, untuk menjaga kesinambungan belajar, pendidikan digital bisa jadi jembatan. Para ibu tetap memiliki peluang untuk “kuliah” tanpa meninggalkan rumah.  Mereka bisa mengikuti berbagai kursus online yang disediakan melalui berbagai platform dengan biaya murah hingga gratis. Banyak universitas terkemuka di dunia menawarkan kursus online dengan aneka pilihan materi. Kini berbagai universitas dan lembaga di Indonesia pun menawarkan kursus yang tak kalah menarik. Kursus disampaikan melalui sistem yang mudah diakses dan waktu yang fleksibel.

Ada pula kursus yang diselenggarakan melalui grup-grup media sosial atau aplikasi chat group yang lebih praktis. Prinsipnya, kemauan untuk mengakses pintu demi pintu adalah kunci awalnya, media atau sarana yang digunakan bisa apa saja. Setelah itu, para ibu bisa memperoleh keuntungan tak terduga seperti:

  • Pilihan sangat luas. Mereka bisa memilih berbagai materi sesuai minat: memasak, menjahit, politik, sastra, mesin, biologi, seni, dan masih banyak lagi
  • Menjadi teladan. Dengan menjadi pembelajar tiada henti, ibu menjadi teladan dalam penggunaan internet positif. Keluarga sebagai pusat belajar dengan sendirinya terwujud.
  • Biaya murah. Banyak kursus yang berkualitas dan gratis, bahan belajar pun bisa diakses dengan mudah.
  • Suasana belajar yang nyaman. Karena kelas online bisa diakses dari mana pun, para ibu tak perlu buru-buru meninggalkan rumah dan kehilangan waktu paling berharga bagi keluarga. Mereka bisa memilih waktu belajar yang paling efektif, misalnya tengah malam atau menjelang pagi.
  • Interaksi antar peserta fleksibel. Bagi pembelajar yang malu-malu, kelas online memberikan ruang yang lebih leluasa untuk ikut berekspresi.
  • Konsep diri yang seimbang. Suasana akademis dalam diri ibu akan terus terjaga, pengetahuan dan wawasan mereka terus berkembang, sehingga self esteem pun seimbang.
  • Jejaring kebaikan. Melalui kelas-kelas online, para ibu menemukan teman-teman dengan minat yang sama dan bisa saling bekerja sama dalam kebaikan.
  • Belajar hal baru, bertemu teman baru, dan mendapatkan kepercayaan diri (kembali) tentu hal yang menyenangkan. Belajar untuk kesenangan, mengapa tidak?

Bagi perempuan, dengan segala kendala dan kesibukannya, ketersediaan internet dan berbagai platform pendidikan digital memberikan jalan untuk terus belajar. Kunci utamanya tentu kemauan yang datang dari diri sendiri dan kemauan untuk mengajak orang lain belajar bersama.

E-learning juga memberikan rasa percaya diri bagi para ibu bahwa mereka mampu mendidik anak-anak menjadi generasi terbaik. Keyakinan ini akan berimplikasi pada cara mereka mengasuh anak-anak, memberikan pilihan-pilihan terbaik kepada anak, sekaligus menjadi teladan bagi anak sebagai pembelajar mandiri.

Ruang pendidikan digital ini demikan luas, namun belum dieksplorasi secara optimal. Ajakan secara terus menerus kepada masyarakat melalui berbagai lini informasi wajib disampaikan. Pendekatan pribadi hingga pendekatan kelembagaan bisa diupayakan agar masyarakat Indonesia, khususnya perempuan, memahami jenis pendidikan ini sebagai alternatif yang istimewa.

Melalui kelas-kelas online, kita bisa menjangkau pendidikan yang berkualitas. Aksesnya terbuka bagi semua kalangan. Bukan mustahil bahwa pendidikan di zaman ini sudah semestinya mudah, murah, dan berkualitas dunia.

Selamat Hari Ibu.

———————-

Anna Farida, Kepala Sekolah Perempuan, penulis buku-buku pendidikan. www.annafarida.com

Artikel ini disarikan dari jurnal ilmiah berjudul Preserving Sustainability Of Mothers’ Education Through Digital Classes yang disampaikan penulis dalam International Conference on Education in Indonesia di Universitas Singaperbangsa Karawang.

Haruskah EYD Jadi EBI?

media eyd ebi

EYD jadi EBI

Kita pernah merumpikan topik ini, kan? HU Pikiran Rakyat memuatnya di rubrik “Wisata Bahasa”, 26 Juni 2016.

Haruskah EYD Jadi EBI?

Oleh: Anna Farida

 

Seminggu ini beberapa pertanyaan bernada sama masuk ke kotak pesan saya.

Mbak Anna, beneran, EYD jadi EBI? Kok seperti nama udang kering?

 

Sebenarnya saya juga baru dua tiga minggu ini mendengar kabar terbitnya Salinan Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Nah, kan, singkatannya memang EBI. Sampai sekarang saya masih canggung setelah sekian lama menggunakan istilah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

 

Saat membandingkan kedua pedoman itu dari sisi sistematika maupun isi secara sepintas, tak saya temukan perbedaan yang mendasar. Ada tambahan pedoman penggunaan huruf tebal dalam kata berhuruf miring, ada perbedaan urutan penggunaan kata serapan, selebihnya belum saya baca secara terperinci.

 

Dalam perjalanannya, EYD tiga kali diperbarui. Kita mengenal versi 1975, 1987, dan 2009. Versi 2015 ini adalah pedoman bahasa Indonesia yang mutakhir, dan frasa “yang disempurnakan” tidak lagi digunakan dalam permendikbud di atas. Jadi boleh, dong, dijuluki EBI. Nama baru, semangat baru.

 

Tanpa lebih jauh mengulas apa yang membuat EYD berbeda dari EBI, atau mempertanyakan apakah namanya tetap EYD atau menjadi EBI, bagi saya perubahan itu kemestian. Bahasa adalah sarana manusia berkomunikasi, berasal dari kesepakatan para penggunanya, yang kemudian dibakukan.

 

Manusia selalu berubah, jadi wajar jika bahasa pun bergerak dinamis. Kita beruntung jadi manusia yang lahir belakangan, jadi tak perlu ikut repot mengumpulkan kata demi kata, menetapkan maknanya, dan merumuskan cara penulisannya. Saya lahir saat bahasa Indonesia sudah punya kamus,  siap guna, tinggal pakai. Kamus Besar Bahasa Indonesia sudah dicetak dengan kertas, tak terserak di bebatuan atau daun lontar. Lebih dari itu, kini kita menikmati kamus elektronik yang sangat praktis, bisa digenggam ke mana-mana dalam telepon pintar.

 

Beberapa kali aturan berbahasa Indonesia memang mengalami perubahan karena berbagai pertimbangan. Kita seharusnya menyambutnya dengan gembira. Perubahan, walau sedikit saja, adalah tanda bahwa kita adalah manusia yang terus tumbuh menyempurna. Dari berbagai sisi, bahasa di seluruh dunia akan terus berubah—bisa berkembang, meluas, bisa juga hilang digantikan bahasa lain. Coba perhatikan, berapa persen anak-anak kita yang aktif menggunakan bahasa ibu dalam komunikasi sehari-hari?

Kita juga mengenal bahasa yang dihidupkan dari kematian—bahasa yang pernah lama dilupakan sejarah—dan kini  jadi bahasa yang ikut berkuasa di dunia. Anda tahu, kan, bahasa apa itu?

 

Jadi, terbitnya EBI adalah peluang bagi para pengguna bahasa Indonesia untuk belajar ulang dan melakukan penyesuaian—toh perubahannya tidak banyak. Munculnya aturan baru akan membuat kita diingatkan untuk tetap menjadi bagian yang aktif dalam perkembangan bahasa Indonesia. Tak ada yang lebih berhak dan wajib menjaga sekaligus mengembangkan bahasa ini selain kita—saya dan Anda.

 

Kini saatnya kita bisa nyeletuk kepada anak-anak di rumah atau di sekolah, “EYD jadi EBI, lho.”

Lantas anak-anak akan bertanya, “Apa, sih, EYD? Apa pula itu EBI?”

Itulah kesempatan emas untuk menjelaskan bahwa kita punya bahasa Indonesia, kita punya pedomannya. Anak-anak mesti tahu bahwa mereka mewarisi bahasa yang sudah berkembang dan melintasi berbagai peristiwa penting, bahkan saat mereka masih melayang-layang di alam ruh.

 

Saya gembira, walau sebenarnya hati saya agak mencelus juga. Dalam permendikbud yang baru terbit itu disebutkan bahwa Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

 

Sudah lama EYD menemani saya menulis bersama banyak teman, hingga menghasilkan buku eletronik “Bercanda dengan EYD”. Anda bisa mengunduhnya secara gratis via internet.

 

Inilah perjalanan bahasa kita, proses besar yang wajib dirayakan. Kita bersyukur bahasa Indonesia didudukkan pada tempatnya yang semestinya, lengkap dengan pedoman yang dilindungi hukum. Terima kasih, EYD, selamat datang Ejaan Bahasa Indonesia, selamat datang EBI.

————————-

Anna Farida, penulis, kepala Sekolah Perempuan, narasumber “Dunia Pendidikan” RRI Pro-4 Bandung.

Menemani Remaja Belajar Bertanggung Jawab

 

media pr 25 Juni 2016

Opini di HU Pikiran Rakyat, 25 Juni 2016

Ini artikel asli yang saya kirim ke Harian Umum Pikiran Rakyat. Versi koran lebih padat, tak banyak melantur seperti ini 😀

 

Seorang ibu mengeluh tentang putrinya yang sudah dua belas tahun tapi belum tertib membereskan kamarnya sendiri. Semula sang ibu membiarkan kamar sang putri berantakan, tapi lama-lama tidak tahan dan turun tangan sambil mengomel. Kamar pun beres untuk kemudian dibuat berantakan lagi, demikian setiap hari.

Saat menyadari bahwa anak beranjak remaja dan  kecakapan hidupnya belum sesuai harapan—misalnya dalam hal tingkah laku atau prestasi belajar—yang paling sering dilakukan orang tua adalah menyalahkan diri sendiri. Berikutnya akan ada kecenderungan untuk menyalahkan orang lain seperti pasangan, guru, atau teman-teman sang anak.

 

Masalah kian ruwet ketika yang disalahkan tidak terima dan balik menyalahkan. Ayah menyalahkan Ibu dan sebaliknya, orang tua menyalahkan guru, guru menyalahkan orang tua, anak menyalahkan orang tua dan sebaliknya.

Ini jalan buntu.

Semua pihak terjebak dalam pertikaian yang menguras energi tanpa solusi. Anak menyaksikan perilaku orang-orang dewasa yang kontraproduktif dan menjadikan perilaku itu sebagai pijakan bertindak.

 

Menyalahkan diri sendiri dan orang lain mungkin memberi ruang untuk memperoleh pembenaran, mengapa perilaku anak meleset dari harapan.

Kita tahu, sebagian remaja kita tumbuh dalam lingkungan yang kondusif dan sebagian lagi harus berjuang keras menjalani tumbuh kembang yang layak. Faktanya, tumbuh dalam kondisi apa pun, tuntutan masa depan yang mereka hadapi tetap sama.

 

Lantas apa yang bisa dilakukan oleh orang tua atau orang dewasa lain dalam proses pembelajaran remaja menjadi pribadi yang bertanggung jawab?

 

Setop berperan jadi korban

Juara dalih terpopuler yang biasa diajukan remaja ketika tanggung jawabnya meleset adalah menyalahkan orang lain atau hal lain. Ketika datang terlambat, misalnya, dia berdalih “Adik saya rewel. Saya harus menghiburnya dulu. Angkotnyangetem (nunggu penumpang lain) hampir sejam. Tadi saya lewat pasar tumpah, jalan jadi macet.”

Artinya, dia mencoba berkata bahwa “Saya ini korban kerewelan adik saya, korban angkot yang lambat, korban pasar yang padat. Jadi saya seharusnya diampuni. Aturan-aturan itu tidak berlaku bagi saya karena saya ini korban. Karena saya korban, saya tidak perlu bertanggung jawab.”

 

Ketika remaja menempatkan diri sebagai korban, kepada mereka harus disampaikan, “Menyalahkan adik atau angkot dan pasar tidak menyelesaikan masalah. Ayo kita cari cara untuk datang tepat waktu.”

Hal yang sama bisa diterapkan ketika kita menjumpai kamarnya berantakan dan dia menyalahkan tugas sekolah yang banyak, misalnya.

“Menyalahkan tugas sekolah bukan solusi. Kesepakatan kita adalah kamar harus rapi sebelum sarapan, dan kita sama-sama tahu konsekuensinya jika kamar berantakan.”

 

Artinya, kesepakatan dan konsekuensi harus diketahui bersama sebelum ada kejadian. Pastikan remaja paham bahwa konsekuensi adalah hasil dari pilihan yang salah, bukan hukuman.

 

Pada saat yang sama, orang tua pun wajib konsisten saat berhadapan dengan situasi yang memestikan teladan yang baik.  Mari kita selisik peristiwa berikut ini:

 

Alif terlambat bangun dan kesal. Dia uring-uringan karena Senin adalah hari upacara. Murid yang terlambat akan dapat jatah membersihkan selokan sekolah. Sang ibu juga kesal karena semalam Alif melanggar jam tidur yang sudah disepakati. Tapi bagaimana lagi, ibunya merasa bersalah sekaligus tidak tega, bahkan ikut malu jika Alif membersihkan selokan.

Akhirnya sang ibu menelepon sekolah, “Alif sedang tidak enak badan, Pak. Mohon izin datang terlambat ke sekolah.”

 

Sekarang siapa yang punya problem dengan tanggung jawab? Mengapa Ibu memilih berpihak pada perilaku negatif Alif? Dia salah mengambil keputusan begadang, terlambat bangun, terancam kena sanksi, dan ibunya membereskan urusannya.

 

Ketika anak bersikap kurang baik, misalnya bersikap kasar, tidak mengerjakan PR, tidak sopan, atau melakukan pelanggaran lain di rumah atau di sekolah, sebagian orang tua mencari jalan pintas: jadi pembela.

Mereka mengemukakan dalih atas sikap kurang baik tadi, misalnya “Saya dan ibunya berpisah, jadi dia kurang fokus. Di rumah sedang ada masalah, jadi emosinya cepat terpancing. Mungkin dia kurang sehat, jadi cuek saja saat diajak bicara.”

 

Pada saat itulah orang tua mengiyakan bahwa anak adalah korban, jadi tak perlu bertanggung jawab. Anak akan melihat bahwa ternyata cara ini mujarab untuk menghindari konsekuensi dan menjadikannya kebiasaan.

Kita tak bisa menutup kemungkinan bahwa remaja kita sedang menghadapi situasi pelik yang membuatnya tidak leluasa menempatkan dirinya. Itu lain cerita. Yang sedang kita bahas justru dalih yang biasa digunakan orang tua untuk menutupi ketidakmampuan anak untuk bertanggung jawab.  Jadi memang ada unsur manipulasi di sana, dan anak mengaminkannya.

 

Dengan daya pikir yang mulai berkembang, remaja tahu bagaimana perasaan ayah atau ibu terhadap mereka. Somehowremaja ini mengendus aroma rasa bersalah dari kedua orang tua jika mereka melakukan kesalahan.

 

Dalam bahasa Jawa ada istilah anak polah bapa pradhah, jika anak melakukan kesalahan, orang tua ikut menanggung akibatnya. Tentu benar, perbuatan anak masuk dalam cakupan tanggung jawab orang tua. Pada saat yang sama, melatih tanggung jawab anak juga tanggung jawab orang tua, bahkan jauh lebih besar bobotnya. Tak selamanya orang tua ada di sisi anak untuk jadi “pahlawan penyelamat”.

 

Kita berharap anak-anak tumbuh dan berkembang kuat sesuai dengan potensinya, bukan dilemahkan karena orang tua selalu jadi tameng yang melingkupi mereka.

Bahkan untuk anak-anak yang difabel sekalipun, latihan bertanggung jawab mesti diberikan sedini mungkin dengan porsi sesuai kondisi mereka masing-masing.

 

Jika mereka mengalami kesulitan menumbuhkan tanggung jawab, tugas orang tua adalah membantunya berlatih. Salah satunya adalah mengurangi porsi peran “pahlawan semu” tadi.

Awali dengan duduk bersama remaja kita, ajak dia bicara. Sampaikan bahwa usianya kini mulai remaja, dan belajar bertanggung jawab adalah salah satu cara menapaki keberhasilan dalam hidup (Covey, 2009).

 

Tepat pada saat yang sama, orang tua pun mesti yakin bahwa anak mampu melakukannya. Melepaskan porsi patron atau pahlawan juga perlu perjuangan. Jadi, terkait berlatih tanggung jawab, anak dan orang tua berjuang bersama-sama.

 

Ketika remaja bersikap tidak santun di sekolah atau kurang sopan ke tetangga, misalnya, jangan buru-buru menelepon untuk minta maaf. Ajak dia belajar bertanggung jawab dengan minta maaf sendiri. Temani dia jika perlu. Jika dia menolak, biarkan anak menerima konsekuensinya—misalnya dapat surat peringatan dan sekolah atau dijauhi teman sekitar rumah.”

 

Jadi bukan hanya anak yang harus siap, orang tua pun harus siap. Besar kemungkinan dia akan marah kepada Anda dan menyangka Anda tidak sayang lagi. Mungkin dia mengomel, mungkin juga bungkam sebagai tanda protes.

Ketika dia melakukan kesalahan dan menempatkan diri sebagai korban, ajukan pertanyaan yang tepat seperti ini:

“Tanggung jawab siapa, nih, buang sampah setiap sore?”

“Kemarin repot banget, Bu. Pak Guru kasih banyak tugas.”

Yang kita bahas bukan siapa yang salah, tapi tanggung jawab siapa ini.”

 

Jika kita membantah tugas yang banyak atau menyalahkan keteledorannya, yang akan dia lakukan pada kesempatan lain adalah mencari alasan yang lebih paten.

Jadi, berikan tanggapan yang sederhana: Tanggung jawab adalah tanggung jawab. Kali ini dia lalai dan mesti diperbaiki lain waktu.

Lakukan tanpa pertengkaran panjang, tanpa omelan, fokus pada tanggung jawabnya. Bersiaplah juga untuk bersabar, perubahan tak akan terjadi dalam semalam.

 

Sepakati target bersama

Awali dengan membahas pentingnya bagi remaja belajar menjadi manusia dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab. Ada target belajar yang wajib dicapai. Buat target yang masuk akal, sesuai kemampuan mereka, tingkatkan porsinya seiring waktu. Dengan menyepakati target bersama, misalnya berangkat les tanpa terlambat, remaja kita akan berusaha mencapainya.

 

Target juga bisa diwujudkan dalam daftar tugas.

Awalnya, remaja tidak akan suka. Bagi mereka, daftar tugas adalah bencana nomor tujuh di dunia.

Isi daftar tugas bisa bervariasi seperti mengurus rumah, latihan musik, latihan olah raga, baca kitab suci, baca buku, atau tugas apa pun sesuai keperluan dan ciri khas keluarga.

 

Bukan tidak mungkin akan terjadi “perang” pada masa-masa awal, atau anak hanya bersemangat di hari pertama, lupa di hari kedua, kemudian buyar di hari ketiga. Ketika ini terjadi, tugas untuk orang tua hanya satu: berhenti satpam yang rewel.

Kita boleh mengingatkan dia sesekali, menemaninya sesekali. Terapkan konsekuensi tanpa banyak menyalahkannya.

 

Yang tak kalah pentingnya, izinkan remaja memilih daftar tugas sendiri. Ini wujud tanggung jawabnya, dan efeknya jauh lebih bagus daripada untaian tugas yang dibuatkan oleh orang tua.

Pada hakikatnya, hidup anak adalah hidupnya, pilihan adalah pilihannya, orang tua adalah teman seperjalanannya. Tugas kita adalah mendampinginya mewujudkan pilihan itu, bukan memilihkannya jalan hidup dan menuntutnya bertanggung jawab atasnya.

 

Temani mereka, beri apresiasi atas pencapaian dan niat baik sekecil apa pun. Gagal di hari pertama? Mulai lagi besok, lusa, minggu depan. Start and restart, karena belajar itu sepanjang hayat.

 

————————-

Anna Farida adalah kepala Sekolah Perempuan, penulis buku “Parenting with Heart”.

EYD BERUBAH JADI EBI?

Bercanda Dengan EYDEYD berubah jadi EBI! Aduh, jadi ingat udang kering!

Mbak, Anna, beneran, jadi EBI? Masa sih tidak ada singkatan yang lebih keren, gitu?

Ehehe ….

Sebenarnya saya mau diam-diam saja dulu, karena memang belum punya waktu untuk membaca Salinan Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia secara detail.

Tapi daripada saya ditanya-tanya lagi, lebih baik saya buat tulisan ini.

 

Jadi begini, terus terang saya juga baru tahu beberapa minggu terakhir bahwa ada peraturan baru yang mengatur ejaan bahasa Indonesia kita tercinta, namanya sudah saya sebut di atas. Memang masih canggung, setelah lama menggunakan istilah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), kini saya harus membiasakan diri dengan singkatan baru, EBI.

 

Tadi pagi bersama Ubit (11), saya berusaha membandingkan keduanya dari sisi sistematika maupun isi. Walau sepintas—itulah sebabnya saya sebenarnya belum mau bicara, nunggu para pakar saja. Saya kan hanya juru siar, tapi tergoda untuk berkomentar #sotoyasalways—saya tidak menemukan perbedaan yang mendasar.

 

Ada tambahan pedoman penggunaan huruf tebal dalam kata berhuruf miring, ada perbedaan urutan penggunaan kata serapan, lantas apa lagi, tadi, ya? Lupa.

 

Ala kulli hal—cieee, biar terkesan salihah menjelang Ramadan—yang ingin saya bahas bukan itu. Berapa kali pun pedoman bahasa diubah, seharusnya bukan masalah.

Bahasa itu kan sarana manusia berkomunikasi, berasal dari kesepakatan para penggunanya, kemudian dibakukan. Kita beruntung jadi manusia yang lahir belakangan, jadi tak perlu ikut ribut mengumpulkan kata demi kata, menetapkan maknanya, merumuskan penulisannya. Kita (maksudnya saya) lahir saat bahasa Indonesia sudah punya kamus. Siap guna, tinggal pakai.

 

Beberapa kali aturan berbahasa Indonesia mengalami perubahan karena berbagai pertimbangan. Ada sedikit teman yang berkata, “Ah, kok plin-plan, bikin bingung saja”. Ada juga yang menyambut perubahan demi perubahan dengan gembira.

 

Saya termasuk kawanan yang kedua.

Saya suka jika dalam bahasa ada perubahan, walau sedikit saja. Itu tanda bahwa kita adalah manusia yang terus tumbuh menyempurna. Dari berbagai sisi, bahasa di seluruh dunia akan terus berubah—bisa berkembang, bisa juga hilang, digantikan bahasa lain.

Eh, ada juga bahasa yang dihidupkan dari kematian dan kini ikut berkuasa di dunia. Anda tahu bahasa apa itu? Ehehe.

 

Jadi santai saja. Tak perlu resah jika ada aturan yang membuat kita harus belajar ulang dan melakukan penyesuaian. Justru inilah kesempatan bagi kita untuk belajar lagi dan lagi. Saya akan tetap menjadi bagian yang aktif dalam perkembangan bahasa Indonesia, semoga Anda pun demikian.

Jika mampu, buatlah aturan baru, kampanyekan, dan jadikan kesepakatan. Bukan tak mungkin kita jadi penemu yang kemudian ditiru. Namanya juga bikin aturan, tak bisa sembarangan dan banyak kaidahnya, tentu.

Senyampang menunggu kita jadi ahli bahasa, kita taat saja dulu, ya, dengan pedoman yang ada. Bagaimana?

 

Ngomong-ngomong, saya baru saja meluncurkan kumpulan rumpian #IngatEYD dengan komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis. Diskusi segar, ringan, namun bernas ada di sana. Kita bisa belajar kaidah bahasa Indonesia dan tetap awet muda.

Bisa diunduh gratis di sini.

 

Terima kasih sudah menjadi teman belajar kami, EYD. Kau selalu di hati.

Agak mencelus juga hati saya membaca tulisan bahwa Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Tapi inilah perjalanan yang wajib dirayakan. Kita bersyukur masih banyak orang yang peduli dengan bahasanya sendiri dan menjadikannya peraturan yang dilindungi hukum.

 

Demikian siaran hari ini, kita tunggu koreksi, masukan, dan konfirmasi dari para pakar.

Selamat datang Ejaan Bahasa Indonesia, selamat datang EBI.

Salam takzim,

Anna Farida

www.annafarida.com

 

Eksis Tanpa H3B

dilarang_masuk Tunggu!

Jangan klik “like” dulu, jangan “share” dulu.

Baca sejenak tulisan ini, setidaknya dua menit.

Kemarin saya dan Indari Mastuti berkunjung Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat, bertemu Pak Januar Yepi Ruswita dan Pak Budhiana Kartawijaya. Tujuannya tentu membahas kegiatan yang bisa digarap bersama Pikiran Rakyat.

Nah, terkait kegiatan menulis, salah satu keprihatinan Pak Budhiana adalah masih rendahnya information literacy di kalangan pengguna media sosial ditandai dengan beredar luasnya H3B (Hoax, Horor, Hasut, dan Bully).

Apa itu hoax?

Itu, tuh, berita yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Termasuk yang dari grup sebelah, kali, ya? Masih ingat?
Informasi tersebut bisa berupa foto, artikel, video, atau pernyataan tokoh tertentu. Yang bikin gemas adalah berita hoax yang dilengkapi foto palsu.

Pak Yanuar menunjukkan foto selfie perempuan berkerudung di lokasi pemboman yang baru lalu. Diduga foto itu hasil olahan dan aslinya memperlihatkan perempuan yang selfie saat salat Idulfitri. Mana yang asli mana yang palsu hanya ahli foto yang paham. Yang bukan jangan ikutan sotoy, deh!

Hikmahnya, jangan keseringan selfie #halah

Yang bikin supergemas, berita-berita seperti itu kadang di-share oleh teman-teman kita.

Ketika berita atau foto dari sumber lain kita perlihatkan, yang bersangkutan otomatis bilang “Maaf, kan saya tidak tahu”.

Lha ya itu! Jika tidak tahu kenapa nge-share?

Menyebarkan berita hoax itu bikin level kekerenan Anda merosot sekian tingkat, lho.

Berikutnya adalah horor.

Seorang teman di grup WA langsung mengundurkan diri ketika ada anggota yang memajang foto jemari bolong-bolong—saya lupa, entah karena serangan kutu atau kebanyakan pegang hape. Eh, kalau ngasih informasi lantas bilang saya lupa apa sumbernya termasuk hoax bukan, ya? Asli ini serius tanya.

Dia ketakutan dan perlu waktu lama untuk membujuknya kembali bergabung. Permintaan maaf memang disampaikan, tapi kerusakan kan sudah terjadi.

Kabarnya juga, banyak foto korban terorisme Sarinah beredar di media sosial. Hanya kabarnya karena teman FB saya baik-baik sehingga saya tidak pernah lihat.

Sudah. Jika saya perinci lagi uraiannya, tulisannya saya ini juga bakal beraroma horor, deh.

Jadi prinsipnya kita tahu bahwa menyebarkan berita atau gambar yang menimbulkan rasa takut itu tidak sip sama sekali. Buat apa, sih? Membuktikan bahwa kita penuh belas kasih dengan menuliskan kalimat “Aduh, kasihan, ya!” Atau bahwa kita ini saleh dengan menayangkan foto korban sambil memaktubkan doa-doa?

Kasih ya kasih, doa ya doa. Tapi horor ya tetap horor.

H yang ketiga adalah hasut.

Semoga kita terhindar dari memberitakan dan membagikan berita yang memecah belah persaudaraan. Saya pernah menemukan orang menggosipkan keburukan mantan pasangan atau mantan rekan kerja secara terbuka di media sosial.

Ketika ada yang tanya apa tujuannya, jawabannya bikin nyengir “Ini kan FB saya. kalau tidak suka ya nggak usah baca. Gampang, kan?” #melongo3detik

Kata Pak Budhiana, jika bermuatan hasutan, kalimat yang terlihat sepele, video kocak, atau meme yang bikin ngakak sekalipun bisa mendatangkan maut. Karena informasi hoax, orang bisa dituduh sesat karena berbeda cara salat. Karena berita horor, manusia bisa saling tuding.

Padahal, saling tuding antar manusia belum ada cabang olahraganya. Yang ada baru saling pukul, saling tendang, saling banting 😀

Yang terakhir adalah bully.

Tidak semua pengguna media sosial itu paham etika pergaulan digital. Jadi, ketika ada yang melakukan kesalahan, termasuk menyebarkan 3-H di atas, please kasih tahu baik-baik. Jangan sampai kita jadi perisak atau tukang bully karena merasa paling beretika dan paling akademis.

Ketika ada yang menyampaikan pandangan berbeda di media sosial, pahami dulu, takar dulu. Apakah Anda punya pengetahuan tentang yang dia bahas? Jika tidak, suwer, lebih baik diam.

Jika kita punya pengetahuan, perlukah pendapatnya itu dibantah atau dikomentari? Apakah bermanfaat jika kita ikut nimbrung berdebat dan memaki? Apakah berpengaruh jika kita turut memaparkan klarifikasi dan bukti?

Di layar hape kita adaaa saja akun yang hobinya menyebar kebencian. Ditenggelamkan dalam lautan rujukan seilmiah apa pun jempolnya tetap menggapai-gapai buat nge-klik share berita salah.

Sudah.

Sekarang silakan klik like dan share–pe de saja ada yang mau share 😀 , biar eksis tanpa H3B #anotherhalah.

Salam takzim,

Anna Farida

—————–

WARTA:

Februari 2016 akan ada workshop ngeblog dan information literacy bersama HU Pikiran Rakyat. Kita akan belajar perbedaan jurnalisme dan jurnalisme warga, berlatih mencari rujukan yang benar sesuai kaidah pemberitaan yang layak, hingga aspek hukum yang wajib diketahui para blogger.

 

ROMO MAGNIS: tiga catatan akhir 2015

Frans_magnis_suseno

sumber: id.wikipedia.org

80 tahun dan tulisannya masih jernih, tak bikin jera.

Hari ini, ujung 2015, melalui grup Whatsapp, saya membaca tulisan Romo Magnis di Harian Kompas. Saya mengenal Franz Magnis Suseno melalui buku-bukunya, dan bertemu tahun 1995-an. Saat itu Himpunan Mahasiswa Islam mengadakan training—entah training apa saya lupa, HMI kan memang doyan bikin training.

Saya bertugas menjemput Romo di Stasiun Hall, dan langsung mengenalinya begitu pertama kali melihatnya.

Dengan posturnya yang menjulang, dia berjalan tegap sambil menenteng tas dan payung hitam panjang di kedua tangannya—mana kanan mana kiri saya lupa. Begitu dia mendekat, terlihatlah bros salib kecil di kerah bajunya. Mana kanan mana kiri saya juga lupa—ini nulis kok banyak lupanya.

Hari ini Romo Magnis menulis di koran Kompas. Tulisannya jernih, tentu tidak seperti tulisan saya yang berhamburan kebanyakan iseng. Can’t be helped, what to to do, kata Ubit.

Romo membuka tulisannya dengan mempertanyakan konsep revolusi mental dan menyambungnya dengan kalimat ini, “Bahwa kita memerlukan sebuah revolusi mental untuk keluar dari rawa mediokritas, kemalasan intelektual, kecengengan emosional, kedangkalan spiritual, kebrutalan dogmatisme, dan dari belenggu-belenggu prasangka dan kecurigaan yang menyandera bangsa sulit disangkal.”

Menurut Romo Magnis, sebagai refleksi akhir tahun, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah budaya kekerasan. Selain kasus tawuran, pengeroyokan, dan penindasan, Romo menyebut kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Masih saja ada kalangan yang dipaksa untuk menjalankan atau untuk tidak menjalankan ibadah tertentu bahkan dianggap sesat jika keyakinannya berbeda dengan “kebanyakan”.

Yang kedua adalah bebas dari rasa takut. Masih terkait tentang kebebasan beribadah, disebutkan bahwa masih ada orang yang hidup dalam ketakutan karena keyakinan religius dan tata cara ibadahnya tidak disetujui kalangan lain. Para tokoh agama pun ditantang untuk bersikap, di mana mereka berdiri. Ibadah itu kan hak yang sangat personal antara manusia dan Tuhan. Masa mau direcoki oleh orang lain. Pulang ke akhirat juga sendiri-sendiri, kan?—eh tentu Anda tahu bahwa dua kalimat terakhir itu omelan saya.

Yang ketiga adalah korupsi.

Lha, ini yang harus dipangkas habis!

Beragama atau tidak, koruptor itu menyebalkan dan wajib diberantas. Sayangnya, kita masih saja disuguhi drama tidak lucu tentang pemberantasan korupsi di Indonesia. Dua minggu yang lalu televisi masih menyiarkan aneka keributan terkait isu korupsi. Sekarang mana?

Kasus satu demi kasus menguap tanpa kita ketahui (saya saja kali, yang tidak tahu, ya? Wong yang sering ditonton acara got talent melulu, itu juga acara tahun lalu yang sudah jelas pemenangnya—nah mulai ngelantur) Peduli amat dengan komentar masyarakat, apalagi masyarakat seperti saya yang pintarnya mengoceh atau bahasa kerennya berwacana di media sosial. Hari ini teriak-teriak tentang pendidikan berkualitas, besok mamerin foto narsis tak keruan atau nebeng narsis ke anak ahaha.

Haish, setop.

Kita sedang serius, ini.

Tiga hal di atas masih jadi catatan besar hingga tahun-tahun ke depan. Saya yang ibuk-ibuk dan mengajar ibuk-ibuk ini pun perlu menyempatkan diri untuk berpikir melampaui cucian piring dan keranjang setrikaan. Yang berlangsung di sekitar kita saat ini, di negara kita, sangat menentukan kualitas hidup anak-anak kita hari ini dan kelak.

Jadi, peduli adalah pilihan terbaik.

Begitulah renungan akhir tahun ini. Sejatinya saya hendak menulis tentang hal lain, tapi rasanya tulisan Romo Magnis ini lebih penting saya bagikan duluan.

Semoga bermanfaat