BERCANDA DENGAN EYD

bercanda dengan EYDArtikel ini dimuat dalam “Wisata Bahasa” Harian Umum Pikiran Rakyat. Saya bagikan versi aslinya, ya.

 

BERCANDA DENGAN EYD

(Anna Farida)

Bagaimana jika ada kajian Ejaan Yang Disempurnakan yang diawali dengan dialog seperti ini:

#IngatEYD

Ini perlu diketahui para suami ketika merayu istri.

Istri: “Mas, baju baruku bagus, enggak?”
Suami: “Bagus, dong, Sayangku. Lehermu jadi terlihat jenjang …”
I: “Maksudmu apa? Nyindir leherku yang besar, ya?”
S: “Oh … um … maksudku … berjenjang-jenjang …”
I: “Hah! Tahu enggak kata itu apa artinyaaa? Grrrhhh!”

Istri kian murka, rayuan gagal.

Saya mengajar di sebuah komunitas menulis perempuan yang kebanyakan anggotanya adalah ibu rumah tangga. Ada yang memiliki latar belakang pendidikan bahasa, ada yang tidak. Ada yang masih ingat pelajaran tata bahasa, ada yang bilang lupa. Rata-rata, alasan mereka adalah karena tak suka pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

Pendek kata, dulu tak suka sekarang lupa.

Selain ilmu, bahasa itu kan keterampilan. Begitu jarang digunakan, dia akan segera dilupakan. Dulu, saat SMA, nilai rapor saya untuk bahasa Jerman selalu 9. Sekarang, kemampuan Deutsch saya ada di level pre-basic alias dasar saja tidak. Kosakata? Nyaris punah.

Apa sebabnya?

Lulus SMA, saya mendalami pendidikan bahasa Inggris di IKIP Bandung. Setelah itu, saya aktif menulis, mengajar menulis, dan menjadi trainer berbagai pelatihan orang tua dan guru. Artinya, saya lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Untuk berjejaring dengan komunitas guru internasional, saya pakai bahasa Inggris. Tak bisa dicegah, kurang dari sepuluh tahun, bahasa Jerman saya bisa dibilang lenyap.

Tragedi yang sama bisa terjadi pada bahasa Indonesia—termasuk bahasa ibu. Kecakapan berbahasa sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Pengaruh itu bisa positif bisa pula sebaliknya.

Tren bahasa singkatan misalnya. Kebiasaan menyingkat kata mulai muncul ketika telepon genggam menawarkan menu pesan singkat alias SMS. Jumlah karakter per pesan dibatasi, dan untuk setiap pesan dikenakan biaya tertentu.

Tak lama kemudian media sosial menyediakan fasilitas chatting. Bahasa tidak formal berkembang cepat, bahasa alay ikut menyergap. Seiring dengan mudah dan murahnya akses internet, tren ini cenderung diiyakan oleh kebanyakan pengguna media sosial.

Awalnya para ibu adem ayem saja, bahkan ikut dalam euforia komunikasi abad ke-21.

Saya juga.

Lama-lama yang mengeluh kian banyak.

Saya juga.

Menurut para ibu, anak-anak mengalami kesulitan ketika harus menuangkan gagasan dalam tulisan karena lebih akrab dengan bahasa chatting. Ini terjadi dalam semua mata pelajaran.

Beberapa rekan guru termasuk dosen curhat. Mengajar anak-anak membuat laporan atau sekadar menulis pengalaman dan pendapat jadi tugas yang mahaberat. Murid dan mahasiswa mereka rata-rata masih harus dibimbing untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang baik. Kesalahan tata bahasa yang sama terus berulang. Kosakata mereka terbatas, dan gaya tulis mereka terlihat sekali dipaksakan. Laporan dua halaman bikin mereka mengeluh, sementara arsip chat harian bisa ribuan pesan.

Para ibu tak kalah gerah.

Sebagian besar lupa banyak hal, sebagian yang lain lebih akrab dengan bahasa media sosial. Buntutnya, saya sering jadi sasaran tembak saat anak-anak mereka dapat tugas bahasa Indonesia.

Pesan-pesan begini, nih, yang bikin saya tambah sayang pada para ibu.

“Bu Anna, yang baku mana, sih? Nasihat atau nasehat? Tampak atau nampak? Maaf, ini PR anak saya.”

“Lah, kan tinggal buka kamus online, Bu.”

“Kan ada Bu Anna. Bisa sekalian tanya-tanya hal lain.”

“Haish!”

Jadilah saya kamus berjalan. Padahal, untuk banyak kata, saya pun buka kamus. Saya bahkan berkali-kali buka kamus untuk satu kata yang sama karena lupa.

Saya merasa mau dan merasa perlu, karena ingin tulisan saya bermutu. Bahasa kan mewakili karakter sekaligus kredibilitas seseorang. Saya belajar juga belum lama, kok. Bukti tertulisnya ada di blog saya. Tulisan yang saya buat dua tahun yang lalu masih berantakan, tulisan dua bulan yang lalu, bahkan dua hari yang lalu, masih saja ada yang meleset. Saya meringis sambil menyunting tulisan lama begitu ada pembaca berkomentar.

Saya juga tak bersedia disebut guru, apalagi pakar EYD—biasa, para ibu sering lebay kasih julukan macam-macam. Saya lebih suka disebut juru siar.

Sesuai namanya, hobi saya adalah menyiarkan kabar, kadang salah kadang benar.

Tak sekali saya minta maaf di depan khalayak bahwa ternyata penjelasan saya salah, atau tulisan saya tak sesuai kaidah.

Berulang-ulang saya sampaikan kepada para ibu bahwa belajar bahasa bukan perkara instan. Bahasa bukan melulu rumus yang bisa dihafal, melainkan sarana komunikasi yang mesti dijadikan kebiasaan. Kemauan untuk menggunakan bahasa yang baik secara konsisten perlu dijaga.

Dengan niat menularkan kemauan inilah, saya memilih metode humor dalam menyampaikan materi EYD. Materi ajar selama tiga tahun terakhir akan dijadikan ebook untuk dibagikan gratis. Tunggu tanggal edarnya.

Saya sajikan materi dalam bentuk cerita atau dialog imajiner yang lucu, kadang agak berlebihan. Setahu saya, berdasarkan pengalaman, humor membuat orang merasa santai dan membuka diri.

Nah, kesediaan membuka diri adalah kondisi ideal untuk belajar. Materi lebih mudah diserap, pemahaman menancap kuat. Suasana cair membuat belajar jadi produktif sekaligus menyenangkan.

Mau contoh?

Dialog semacam ini bisa menuai komentar panjang yang hidup:

#‎IngatEYD

“Lihat, Bu! Bis diangkut oleh bas pakai bus!”
“Biarin. Asal bukan bapakmu yang diangkut.” –kalem mode on– 

Bis: Kotak kecil milik kantor pos, untuk memasukkan surat. 
Bas: Kepala pekerja (mandor).
Bus: Kendaraan besar beroda empat.

Nah, Ibu-ibu …
Naiklah bus, bukan bis, apalagi bas!

Kadang saya tantang para ibu untuk membuat kalimat, kemudian saya bahas—tentu dengan pendekatan dan penjelasan sesantai mungkin. Dengan begitu, mereka tidak merasa dihakimi. Contoh soalnya seperti ini:

#‎IngatEYD
Ingin kuhangatkan sore yang basah. Sayang, denting mangkuk tukang bakso mengiang sejenak lantas menghilang.

Kalian kutantang.
Buat dua atau tiga kalimat. Gunakan beberapa kata yang suku kata terakhirnya mengandung “ang-ing-ung-eng-ong”. EYD akan kita benahi bersama. Ayo, tulis. Kok malah “ndomblong” 

Hasilnya luar biasa. Daya imajinasi dan daya bahasa para ibu ini meletup tanpa katup!

Yang perlu saya lakukan hanya mengoreksi sebagian kaidah EYD yang meleset dan membiarkan sebagian yang lain. Tak perlu dikoreksi semua, nanti mereka jera. Saya juga kan tidak tahu semua.

Nah, mari bercanda.

 

Salam takzim,

Anna Farida, Kepala Sekolah Perempuan, juru siar EYD, penulis, tinggal di Bandung, www.annafarida.com

Bahasa Ibu, Penanda Diri

Seharusnya tulisan ini bertengger di “Teaching Adventure” 🙂

Anna Farida

kuis bahasa ibuSaya orang Jawa. Saat bertutur melalui lisan maupun tulisan, yang biasa saya gunakan adalah bahasa yang dipahami kebanyakan orang—dalam hal ini bahasa Indonesia. Bahasa Jawa saya gunakan ketika berkumpul dengan kalangan yang berbahasa ibu sama.

Namun demikian, kadang ada rasa rindu menggunakan bahasa ibu, termasuk di depan publik. Saya penasaran, apakah teman-teman Facebook saya merasakan hal yang sama.

Karena itu, Agustus 2014 yang lalu, saya iseng mengadakan kuis berbagi bahasa ibu, dengan tema “ketika anak sakit”.

Reaksi teman-teman saya beraneka. Ada yang merasa kagok karena lama tidak menulis dengan bahasa ibu, ada yang senang karena nemu tempat merindu, ada pula yang excited karena kuis ini dianggap unik bahkan ajaib. Padahal, yang dikuiskan adalah sesuatu yang sangat dekat dengan diri kita.

Di akhir kuis, saat membaca tulisan demi tulisan sambil tersenyum, saya bahagia. Berderet kosakata yang sama sekali belum pernah saya baca. Inilah kekayaan Indonesia, warisan masa silam yang wajib kita…

View original post 2,422 more words

Menggagas Karakter Remaja

Teh Elsa. Saat dia masih SD, aku sudah punya anak :-D

Teh Elsa. Saat dia masih SD, aku sudah punya anak 😀

“Anak saya sudah 15 tahun, tapi saya malu tanya apakah dia sudah mimpi basah atau belum. Gimana caranya?”

SMS itu masuk saat saya mengudara di acara “Resensi Buku” di Radio MQ FM 102,7, Daarut Tauhiid, Bandung, 25 Januari 2014.

Dipandu penyiar sigap yang belum lama meninggalkan masa remajanya, kami berbincang seru tentang buku “Pilar-pilar Pembangunan Karakter Remaja” yang diterbitkan oleh Nuansa Cendekia.

Buku ini didesain sebagai panduan praktis bagi guru SMP-SMA untuk menerapkan 18 + 3 karakter dalam pembelajaran. Benar, ini buku buat guru. Namun demikian, kita harus ingat bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara sekolah-orang tua-masyarakat. Jadi, panduan buat guru tentu bisa jadi panduan ortu.

Saya awali segmen pertama dengan pandangan masyarakat umum tentang remaja dan bagaimana remaja memandang dirinya sendiri.

Amati berita yang berselirak di media elektronik dan cetak. Bandingkan, mana yang lebih marak, mana yang lebih menarik untuk dibaca, kabar remaja berprestasi atau berita remaja bunuh diri.

Tanpa mengabaikan angka spektakuler yang mewakili sisi negatif remaja, kita wajib tetap berusaha membangun sisi yang lainnya, tetap mengupayakan berkembangnya karakter remaja yang mulia, kan?

Bagaimana caranya?

Pertanyaan di atas bisa jadi salah satu titik masuk yang menarik.

Foto dok. MQ FM Bandung

Foto dok. MQ FM Bandung

Rasanya, semua remaja suka membahas seksualitas—walau sambil buang muka, mereka pasti pasang telinga. Coba saja.

Kita bisa masuk dari sisi sains dan membahas berkembangnya organ reproduksi, bisa juga menilik aspek agama, tentang mandi wajib, misalnya.

Gurauan seperti ini pun bisa dipraktikkan:

Ibu: “Kak, akan tiba saatnya Kakak mimpi basah. Sperma keluar dari dalam tubuh, tanda Kakak sudah siap punya anak. Ibu harus rela dipanggil nenek. Mau dikasih nama siapa nanti?”

Anak: “Ibu, aaah! Masa masih SMP punya anak?”

Ibu: “Jadi, apa yang akan Kakak lakukan sekarang?”

Pilar-pilar Pembangunan Karakter Remaja

Pilar-pilar Pembangunan Karakter Remaja

SMS di atas mewakili sekian banyak orang tua dan guru yang gugup dan gagap ketika mendapatkan pertanyaan sejenis. Ada seorang guru yang mengirim surel kepada saya dan bertanya, bagaimana cara menemani anak yang selalu jadi korban perisakan (bullying) tanpa terkesan pilih kasih, tanpa menjadikan anak itu semakin jadi bulan-bulanan.

Bagaimana dengan ayah tunggal yang harus siap dengan menstruasi pertama putrinya? Bagaimana seharusnya sikap guru PLH melihat rekan sekerjanya buang sampah sembarangan di depan siswa? Bagaimana cara siswa menolak ajakan temannya untuk menjajal rokok tanpa dicap “anak mami”? Kegiatan apa yang bisa dijadikan tren di media sosial, sehingga remaja bersemangat berpartisipasi dan menyebarkannya?

Sejam berlalu cepat, pertanyaan dari pendengar mengalir padat, dan saya harus segera pulang, melintasi hujan menuju kandang 🙂

Terima kasih, MQ FM, semoga selalu menjadi inspirasi umat.

TTS dan CARI KATA SEPUTAR ISLAM

TTS Cari Kata Seputar Islam - Anna Farida

TTS Cari Kata Seputar Islam – Anna Farida

Bikin buku TTS? Enteng, pikir saya. Eits! Ternyata, menyusun 2.400 pertanyaan dan 1.200 kata bermakna tentang Islam itu bikin saya nyaris frustrasi.

Isi kamus seperti sudah tumpah setengahnya, tapi soal yang saya buat belum sampai seperempatnya. Masalah yang saya temui berkaitan dengan transliterasi Arab-Indonesia, hingga istilah yang tidak mudah diterjemahkan. Lebih dari itu, saya harus bisa mengajukan pertanyaan yang padat tapi jelas, sehingga pembaca memahaminya dengan baik. Komposisi pertanyaan mudah, sedang, dan sulit juga saya perhitungkan.

Saya pernah mau mundur, lho.

Sambil malu-malu saya angkat tangan kepada editor, “Mbak Dewi, kita bikin buku lain, saja, yuuuk…”

Editor bertahan. Dia semangati saya untuk terus berjuang.

Saya sulut kembali energi yang sempat mengempis. Saya merancang buku ini demi menyajikan cara seru untuk menemani teman-teman mempelajari (kembali) Islam dengan cara yang asyik. Jadi, saya harus mengerjakannya dengan energi yang melimpah.

Saya yakin TTS ini akan jadi teman berbincang yang lumayan cerdas. Biasanya, ketika mengisi TTS, saya jadi meramban ke sana kemari cari referensi. Banyak serendipity yang saya temukan dan membuat saya membaca tanpa henti.

Ini kampanye saya di sampul belakang. TTS dan Cari Kata itu mengajak Anda

  • Menambah kosa kata
  • Menyehatkan otak
  • Melatih konsentrasi
  • Memperluas pengetahuan
  • Mengasah kesabaran
  • Merasakan nikmatnya sukses
  • Memperoleh hiburan

Wawasan baru tentang Islam bisa Anda temukan, pengetahuan yang telah Anda miliki jadi bangkit kembali.

Jadi, saya berharap, buku TTS dan dan Cari Kata ini akan jadi awal yang baik. Setelah mengisi kotak demi kotak, menemukan kata demi kata, semoga pembaca jadi ingin tahu lebih banyak tentang istilah yang baru saja ditemukan.

Seperti biasa, ketika buku masuk percetakan, saya meriang.

Banyak pihak yang mengawal buku ini. Editor, desainer, hingga Ali–putra saya–dengan setia membantu saya melakukan cek akhir. Eh saat buku siap cetak, desainernya masih saya recoki dengan revisi susulan. Maaf, dan tentu saja terima kasih setulusnya.

Semoga buku ini bermanfaat, menemani Ramadan teman-teman semua.

Turun panggung, melanjutkan meriang 😀

Neurosains, “Neuroeducation”

Kang Jalal. Otaknya dilamar Dr. Taufik Pasiak, mau diteliti. Nanti setelah meninggal ;-)

Kang Jalal. Otaknya dilamar Dr. Taufik Pasiak, mau diteliti. Nanti setelah meninggal 😉

Tanggal 23 Oktober 2013, saya mendadak merasa cerdas.

Saya harus buru-buru menuliskan disclaimer bahwa berikut ini adalah cerita saya mengikuti Seminar Nasional  Neuroscience in Communication Studies.  Saya hanya menulis hal-hal yang mengesankan dan berhasil saya pahami. Artinya, semua materi bagus, makalahnya tebal, dan tak semua saya mengerti, haha… Sebagian saya tulis di twitter, @annafaridaku.

Dari pagi hingga sore, saya menyimak lima pemateri keren yang berbicara tentang otak. Dokter dan Doktor, semuanya pintar menyampaikan makalah dengan renyah.

Diawali oleh dr. Erial Bahar, M.Sc., pakar neurosains-neuroanatomi Universitas Sriwijaya:

  • Otak menerima dan mengolah informasi dalam waktu seper sekian milidetik, melakukan kalkulasi, dan menghasilkan respon motorik.
  • Menjelaskan cara kerja memori manusia tak semudah menerangkan kode biner. Otak bekerja secara highly parallel, multitasking, effortlessly. Komputer bekerja secara serial, perlu “klik” untuk bekerja.
  • Can the brain understand the brain?
  • Dokter yang menangani jasad Einstein “mencuri” otaknya untuk diteliti. Ternyata, otak Enstein sama berat dengan orang kebanyakan, tapi memiliki sel neuroglia yang lebih banyak.
  • Jumlah syaraf dalam otak manusia ada sekira 100 miliar dengan 100 triliun sinapsis (membayangkan angka ini membuat saya haus haha)
  • Prefrontal cortex (di dalam batok kepala kita di bagian depan—yak, silakan diraba. Benar, kira-kira di balik dahi, agak ke atas) adalah bagian otak yang membedakan manusia dengan binatang. Di dalamnya ada gen unik yang hanya dimiliki manusia.

Kedua adalah Dr. Rismiyati E. Koesma, pakar psikologi (komunikasi interpersonal) Universitas Padjadjaran. Kabarnya beliau sudah berusia 60 tahun lebih, tapi casing-nya menakjubkan. Cantik, suaranya jernih, tenang…

  • Neuropsikologi mempelajari bagaimana proses biologis memengaruhi perilaku mental.
  • Sistem limbik: hubungan antara otak, emosi, motivasi, dan memori. Tampil pada manusia sebagai sistem afektif.
  • Yang berperan dalam komunikasi interpersonal: Usia, jenis kelamin, kondisi neuropsikologis.
  • Komunikasi verbal dan non verbal. Lisan bisa direkayasa, tapi tubuh selalu jujur. Reaksi seperti kontak mata, keringat, gerakan spontan tubuh, tarikan napas, dsb. adalah bentuk komunikasi non verbal.

Ketiga adalah Popy Rufaidah, PhD., Ketua Program Magister Manajemen Universitas Padjadjaran berbicara tentang neurobranding, neuroeconomics.

  • Neurobranding memahami perilaku psikologis konsumen, dan pengetahuan itu digunakan untuk membangun brand yang mendatangkan efek paling optimal.
  • Kita ini dijajah merk dari pagi hingga pagi lagi. Kita nyaris tidak mengenal produk. Bangun tidur gosok gigi pakai pepsodent, sarapan pakai blueband, bepergian naik toyota, dan seterusnya… Jika kita sudah terbiasa dengan merk itu, rasanya tak sah jika memakai merk lain. That’s neurobranding.
  • Brand: lebih baik beda sedikit daripada sedikit lebih baik. Saya juga lupa apa artinya, tapi kalimat ini saya tulis dan saya garis bawahi, jadi penting sekali hehe…
  • Personal branding: Identity, image, integrity. What you say, what you wear, what you do.
  • Otak itu seperti hardware. Belajar adalah menginstal software baru. Jika rusak atau terjangkit virus, format ulang. Re-learn! Belajar lagi. Branding is installing a value.

Keempat adalah Dr. Taufik Pasiak, ahli neuroanatomi & neuroteologi Universitas Sam Ratulangi. Hubungan otak dan keberagamaan.

  • Neuroplasticity: Kemampuan otak manusia mengatur ulang apa pun secara terstruktur. Ketika Anda memikirkan sesuatu, otak sudah berpikir bahwa sesuatu itu benar-benar terjadi. Hati-hati dengan pikiran Anda.
  • Kerusakan prefrontal kanan (yak, silakan raba kembali, bagian mana tadi?) akan menimbulkan kerusakan moral.
  • Ketika Anda merasakan Tuhan sebagai tumpuan harapan dan cinta, prefrontal kanan otak Anda aktif.  “Penyucian jiwa akan memperkuat akal pikiran” (Muthahhari)
  • Facial Acting Coding System. Ada senyum di dalam otak (benar-benar tersenyum, tulus, jujur) ada senyum yang tampak—direkayasa, hanya menarik dua ujung bibir.
  • Ada beberapa foto senyum yang diperlihatkan dan Dr. Taufik menganalisis senyum mereka—termasuk senyum tokoh dan selebriti yang kita kenal, hehe… Tebak siapa?
  • Default manusia adalah makhluk jujur. Jika berdusta dia akan stress.
  • Beda mistikus dan orang gila. Penampilan bisa jadi sama, tapi mistikus sikapnya mencerahkan. Pengalamannya datang dan hilang secara sadar, dan datang dalam waktu singkat, bisa berulang. Orang gila sebaliknya. Anda tidak akan tercerahkan olehnya.
  • Qalbu adalah satu sisi dari otak.

Pemateri pamungkas adalah Dr. Jalaluddin Rakhmat. Seminar nasional ini diadakan untuk beliau yang memasuki masa pensiun dari Universitas Padjadjaran, sekaligus memperingati Dies Natalis Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad. Kabarnya Fikom akan mendirikan The Jalal Center untuk mengkaji pemikiran beliau di bidang ilmu komunikasi. Kali ini Kang Jalal berbicara tentang neurokomunikasi.

  • Banyak film diputar, mengaduk emosi: takut, haru, cemas, dan bingung, haha…
  • Kisah Phineas Gage, mandor yang mengalami kecelakaan dan luka di kepala. Setelah sembuh, dia yang dulu penyayang, kini jadi temperamental. Seorang istri yang awalnya sederhana dan taat berubah jadi hobi selingkuh (aduh!). Setelah diperiksa, ada kerusakan di prefrontal cortex. Masih ingat, kan, di mana itu? Penyebabnya adalah karena kepala sang istri pernah dibenturkan suaminya ke dinding.
  • Mirror neuron: penemuan ilmiah terpenting setelah DNA? Neuron yang membangun peradaban (manusia) – Vilayanur Ramachandran. Anda bisa search presentasinya di Ted Talk. Search juga Dr. Daniel Glaser.
  • Mirror neuron ada di prefrontal cortex. Mirror neuron membuat kita bisa menangkap pemikiran orang lain tidak melalui nalar tapi melalui stimulasi langsung. melalui perasaan, bukan pikiran.
  • Ketika mengamati orang lain, kita (seolah) melakukan tindakan mereka itu dalam diri kita, dan kita turut merasakan emosi mereka.
  • Neurolinguistik: Memperbaiki kemampuan dan kebiasaan berbahasa melalui ilmu tentang otak. Diyakini bahwa bahasa yang benar akan menjadikan otak manusia benar.
  • Neuroanatomi melahirkan brain-based learning. Cara belajar manusia itu dipengaruhi oleh aktivitas otak, tapi ilmu otak ini tidak (belum) diajarkan secara khusus di fakultas pendidikan. Neurokomunikasi akan menjadi mata kuliah wajib di Fikom Unpad, Thanks to Kang Jalal.
  • Di titik ini, saya (iya, saya, Anna Farida...) jadi kepikiran dengan istilah neuroeducation, neuroteaching, neurolearning. Ngarang, hehe…
  • Word can change your brain (buku Andrew Newberg). Kata yes bersifat assuring, kata no menimbulkan stress. Jika anak Anda merengek hendak ikut, alih-alih berkata “Nggak, jangan ikut Ibu…” katakan “Ya. Hari ini Adik di rumah dulu, ya…”
  • Melalui CT scan sejumlah subjek dipindai aktivitas otaknya. Ketika membaca tulisan berisi kata-kata kasar, reaksi otaknya adalah fight, flight, dan freeze. Melawan, lari, atau mogok. Sekadar membaca tulisan saja reaksinya nyata, bagaimana dengan anak-anak yang setiap saat terpapar dengan kata-kata dan perlakuan kasar.
  • Kata-kata kasar melukai otak Anda dan otak orang di sekeliling Anda. Cara berkomunikasi yang salah akan mendatangkan efek yang sama.
  • Jika Anda membayangkan Tuhan sebagai zat yang keras dan hobi menghukum 15 menit sehari, Anda akan mengalami permanent brain damage.
  • Semua makalah akan diterbitkan menjadi jurnal tentang neurosains. Publish or perish.

Catatan saya sudah habis. Tunggu saja jurnalnya terbit 🙂

Ini salah satu seminar terasyik yang pernah saya ikuti. Tempatnya nyaman, di ballroom Grand Preanger Bandung. Kue sponge rasa jeruk dan puding mangganya enak. Semur daging & cah brokolinya segar, cangkir lemon tea-nya bagus. Eh, ada kue sosis yang selalu hangat dengan saus pedas.

Nah, kan… langsung ketahuan kualitas otak saya.

Maaf!

Teaching Writing Biography through Skype

Tampang saya di kelas Bu Atin. Foto milik Atin Tresna.

Tampang saya di kelas Bu Atin. Foto milik Atin Tresna.

15 Mei 2013, menjelang pukul 10.00 WIB, Skype saya berdering.  Sesuai janji, rekan guru dari sebuah sekolah menengah pertama menampakkan wajahnya di layar. Kendala teknis audio yang sempat tidak terdengar kami selesaikan dalam waktu relatif singkat.

Atin Tresna Septina adalah teman kuliah saya. Kini dia mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris d SMPN 1 Bale Endah Bandung. Tiga tahun silam dia pernah memperkenalkan kelasnya kepada saya melalui Skype. Kini dia menggagas sebuah proyek unik. Tugas Writing Biography yang didahului wawancara narasumber melalui Skype adalah ide keren. Saya tersanjung diminta jadi tokoh yang akan jadi subjek proyek ini. Waduh, siapa saya? Hehe… tentu saja temannya Bu Atin.

Anak-anak yang saya jumpai kali ini terlihat berbeda. Tiga tahun lalu, wajah yang muncul di layar terlihat masih malu-malu. Kini yang tampil adalah kelas yang lebih percaya diri. Dugaan saya karena mereka sudah lebih akrab dengan internet dan gadget. Fasilitas video conferencing juga bukan lagi hal yang aneh. Dugaan saya lagi, mereka percaya diri karena apa yang hendak mereka lakukan hari itu sudah disiapkan dengan baik.

Skype-2-Nyaman di kelas

Skype-2-Nyaman di kelas. Foto: Atin Tresna

Dan berlangsunglah sesi wawancara yang menyenangkan. Javanese English dan Sundanese English bertemu, hoho… Terima kasih, anak-anak. You’re great!

Mereka bergantian bertanya tentang profesi saya sebagai penulis, dan pengalaman saya saat pertama kali menerbitkan buku. Sesekali pembicaraan saya melantur, sesekali juga Inggris Jawa saya tidak bisa mereka tangkap dengan baik. Namun demikian, secara keseluruhan, kelas kami asyik sekali.

Tidak ada yang sulit jika kita mau mencoba. Dulu saya mengenal Bu Atin sebagai teman yang mengaku gagap teknologi. Sekarang dia terampil dengan perangkat mengajar online dan yang lebih penting bersedia menggunakannya. Kadang gemes. Jika guru-guru yang rajin berjejaring di Facebok bersedia saling bertukar kelas, merancang proyek antar kelas, antar sekolah, antar negara… tampaknya anak-anak kita akan punya wawasan yang sedikit lebih luas dibandingkan dengan saat kita sekolah dulu.

Tugas menulis bisa jadi pengalaman unik, mengaktifkan emosi positif saat belajar. Bu Atin bercerita bahwa anak didiknya jadi bersemangat menggali informasi lebih jauh tentang topik yang sedang ditulis. Hasilnya pun mengagumkan. Tadi pagi saya menerima email berisi beberapa tugas mereka.

Beberapa hasil tugas writing biography

Beberapa hasil tugas writing biography

Senang membaca tulisan mereka, walau ada beberapa bagian yang dilebih-lebihkan, sampai membuat saya ge er haha…

Saya sedang rehat mengajar formal dan fokus menulis, tapi Skype session dengan kelas Bu Atin memercikkan ide untuk melakukan sesuatu dengan cakupan yang lebih luas. Ingin mengajak rekan-rekan guru yang lain “Arisan Kelas” hehe…  Semoga bisa segera meluangkan waktu 😉