Eksis Tanpa H3B

dilarang_masuk Tunggu!

Jangan klik “like” dulu, jangan “share” dulu.

Baca sejenak tulisan ini, setidaknya dua menit.

Kemarin saya dan Indari Mastuti berkunjung Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat, bertemu Pak Januar Yepi Ruswita dan Pak Budhiana Kartawijaya. Tujuannya tentu membahas kegiatan yang bisa digarap bersama Pikiran Rakyat.

Nah, terkait kegiatan menulis, salah satu keprihatinan Pak Budhiana adalah masih rendahnya information literacy di kalangan pengguna media sosial ditandai dengan beredar luasnya H3B (Hoax, Horor, Hasut, dan Bully).

Apa itu hoax?

Itu, tuh, berita yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Termasuk yang dari grup sebelah, kali, ya? Masih ingat?
Informasi tersebut bisa berupa foto, artikel, video, atau pernyataan tokoh tertentu. Yang bikin gemas adalah berita hoax yang dilengkapi foto palsu.

Pak Yanuar menunjukkan foto selfie perempuan berkerudung di lokasi pemboman yang baru lalu. Diduga foto itu hasil olahan dan aslinya memperlihatkan perempuan yang selfie saat salat Idulfitri. Mana yang asli mana yang palsu hanya ahli foto yang paham. Yang bukan jangan ikutan sotoy, deh!

Hikmahnya, jangan keseringan selfie #halah

Yang bikin supergemas, berita-berita seperti itu kadang di-share oleh teman-teman kita.

Ketika berita atau foto dari sumber lain kita perlihatkan, yang bersangkutan otomatis bilang “Maaf, kan saya tidak tahu”.

Lha ya itu! Jika tidak tahu kenapa nge-share?

Menyebarkan berita hoax itu bikin level kekerenan Anda merosot sekian tingkat, lho.

Berikutnya adalah horor.

Seorang teman di grup WA langsung mengundurkan diri ketika ada anggota yang memajang foto jemari bolong-bolong—saya lupa, entah karena serangan kutu atau kebanyakan pegang hape. Eh, kalau ngasih informasi lantas bilang saya lupa apa sumbernya termasuk hoax bukan, ya? Asli ini serius tanya.

Dia ketakutan dan perlu waktu lama untuk membujuknya kembali bergabung. Permintaan maaf memang disampaikan, tapi kerusakan kan sudah terjadi.

Kabarnya juga, banyak foto korban terorisme Sarinah beredar di media sosial. Hanya kabarnya karena teman FB saya baik-baik sehingga saya tidak pernah lihat.

Sudah. Jika saya perinci lagi uraiannya, tulisannya saya ini juga bakal beraroma horor, deh.

Jadi prinsipnya kita tahu bahwa menyebarkan berita atau gambar yang menimbulkan rasa takut itu tidak sip sama sekali. Buat apa, sih? Membuktikan bahwa kita penuh belas kasih dengan menuliskan kalimat “Aduh, kasihan, ya!” Atau bahwa kita ini saleh dengan menayangkan foto korban sambil memaktubkan doa-doa?

Kasih ya kasih, doa ya doa. Tapi horor ya tetap horor.

H yang ketiga adalah hasut.

Semoga kita terhindar dari memberitakan dan membagikan berita yang memecah belah persaudaraan. Saya pernah menemukan orang menggosipkan keburukan mantan pasangan atau mantan rekan kerja secara terbuka di media sosial.

Ketika ada yang tanya apa tujuannya, jawabannya bikin nyengir “Ini kan FB saya. kalau tidak suka ya nggak usah baca. Gampang, kan?” #melongo3detik

Kata Pak Budhiana, jika bermuatan hasutan, kalimat yang terlihat sepele, video kocak, atau meme yang bikin ngakak sekalipun bisa mendatangkan maut. Karena informasi hoax, orang bisa dituduh sesat karena berbeda cara salat. Karena berita horor, manusia bisa saling tuding.

Padahal, saling tuding antar manusia belum ada cabang olahraganya. Yang ada baru saling pukul, saling tendang, saling banting 😀

Yang terakhir adalah bully.

Tidak semua pengguna media sosial itu paham etika pergaulan digital. Jadi, ketika ada yang melakukan kesalahan, termasuk menyebarkan 3-H di atas, please kasih tahu baik-baik. Jangan sampai kita jadi perisak atau tukang bully karena merasa paling beretika dan paling akademis.

Ketika ada yang menyampaikan pandangan berbeda di media sosial, pahami dulu, takar dulu. Apakah Anda punya pengetahuan tentang yang dia bahas? Jika tidak, suwer, lebih baik diam.

Jika kita punya pengetahuan, perlukah pendapatnya itu dibantah atau dikomentari? Apakah bermanfaat jika kita ikut nimbrung berdebat dan memaki? Apakah berpengaruh jika kita turut memaparkan klarifikasi dan bukti?

Di layar hape kita adaaa saja akun yang hobinya menyebar kebencian. Ditenggelamkan dalam lautan rujukan seilmiah apa pun jempolnya tetap menggapai-gapai buat nge-klik share berita salah.

Sudah.

Sekarang silakan klik like dan share–pe de saja ada yang mau share 😀 , biar eksis tanpa H3B #anotherhalah.

Salam takzim,

Anna Farida

—————–

WARTA:

Februari 2016 akan ada workshop ngeblog dan information literacy bersama HU Pikiran Rakyat. Kita akan belajar perbedaan jurnalisme dan jurnalisme warga, berlatih mencari rujukan yang benar sesuai kaidah pemberitaan yang layak, hingga aspek hukum yang wajib diketahui para blogger.

 

GRUP TETANGGA SEBELAH?

calvin_and_hobbes

wikispaces.com

Saya 98% yakin, Anda pernah baca informasi seperti ini:

$%#@$^^&*^%$#

$%#@$^^&*^%$#

… dan seterusnya dan selanjutnya …

(dari grup sebelah) atau (dari grup tetangga)

 

Sebelah mana? Tetangga siapa?

Sabtu lalu saya merumpi bersama pengurus Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) dan membahas sejumlah program untuk mengompori ibu-ibu agar kian rajin menulis. Selain dikompori, anggota akan diajak kembali belajar prinsip-prinsip sederhana saat mengutip sebuah sumber informasi termasuk menyebarkannya. Biar enggak malu-maluin nyebar berita hoax!

Pakai daster yes, nyebar berita bohong no!

Di Sekolah Perempuan, saya pernah ngomel bawel wel wel, memperingatkan alumni agar tidak sampai bikin Julie Nava cari nyiru buat tutup muka. Soalnya dialah mentor yang mengajarkan materi riset dalam menulis, termasuk melacak rujukan dengan cara yang benar.

Lha, sekarang lain lagi.

Saya ikut dan diikutkan dalam beberapa grup Whatsapp dan Facebook. Bukan sepuluh dua puluh kali saya dapatkan informasi yang sumbernya dari grup sebelah atau grup tetangga. Celakanya, saya juga pernah latah membagikan informasi dengan menyebut tetangga sebelah itu. Sekarang sudah tobat.

Mengapa tren ini muncul, ya? Mengapa tidak sebut saja sumbernya, dari Grup Menyanyi Riang, misalnya. Malas? Mau cepat? Atau sudah dianggap biasa?

Coba cek, deh. Jika Anda punya waktu luang, lakukan eksperimen ini. Saya minta Anda karena saya emoh melakukannya.

Misalnya Anda dapat info tetangga dari A tentang cara cepat langsing dengan jus durian #halah. Minta A bertanya kepada grup tetangga itu, apa sumber atau rujukannya.

Anggap saja yang menyebarkan info di grup tetangga itu adalah B. Berdasarkan kesotoyan saya, besar kemungkinan B akan menjawab “dari grup sebelah”.

Jika B bertanya kepada C di grup sebelah itu, C akan menjawab dari grup tetangga sebelah.

Berikutnya, kata D dari tetangganya tetangga atau mertuanya tetangga. Demikian seterusnya hingga Z, mungkin kembali A mungkin juga pindah ke A-2.

Jus durian pun sukses menjadi travelling theory.

 

Kan saya tidak menyebarkan kebencian? Kan hanya menyebarkan quote atau gambar yang memotivasi?

Walau tujuannya baik, caranya tetap harus benar.

Sederhana saja, Buk. Suwer tidak ribet.

Sebarkan kebaikannya, sebutkan sumbernya. Itu hanya setitik upaya untuk peduli, kok.

Sebut saja namanya, “info dari Mas Edward dari Grup Penggemar Tahu”.

Dengan cara ini, Mas Edward akan dapat apresiasi, sekaligus waspada. Karena sadar namanya akan disebut sebagai sumber berita, dia akan lebih hati-hati dengan isi berita yang disebarkannya. Ini harapan imajinatif saya yang dangkal—kasihan banget, sudah imajinasi, dangkal pula haha.

Kemungkinan lainnya, orang yang jadi sumber beritanya memang bertujuan merusak dan menyebarkan kerusakan. Tentu dia tak ingin namanya disebut dan memilih sembunyi di rumah tetangga sebelah tadi.  Masa jempol Anda ikut-ikutan mendukung kejahatannya?

Tapi saya yakin itu bukan Mas Edward – ini ngomongin apa, sih?

Jadi gitu, ya, Buk.

Mulai saat ini kita biasakan menyebut nama siapa pun yang menyebarkan berita apa pun. Atau setop saja, deh, menyebarkan berita yang rujukannya tetangga sebelah itu.

Sambil promosi, saya punya grup kuliah via Whatsapp tentang parenting dan pernikahan (nggaya, pakai nama kuliah—biarin), dan adminnya galak bener. Dia melarang anggota menge-post berita salin-rekat alias copas dari grup lain.

Jika Anda mau berbagi informasi, ceritakan saja apa isinya, jangan di-copas mentah-mentah. Setidaknya ada usaha sedikit untuk mencerna sebuah berita dan menuliskannya sesuai pemahaman sendiri.

Hal sederhana ini juga setitik upaya untuk menjaga generasi berikutnya, lho.

Ngeri banget membayangkan anak-anak kita jadi generasi copas dan generasi tetangga sebelah.

Catatan: Banyak yang tanya, tulisan ini boleh di-copas tidak?
Ya boleh, lah. Siarkan seluasnya, sebutkan sumbernya. Jika ada yang keberatan kan tinggal jitak saya 😀

Saya siarkan tulisan ini dan kabur segera, takut juga kena jitak penyuka tetangga sebelah ahahah.

 

Salam takzim,

Anna Farida

ROMO MAGNIS: tiga catatan akhir 2015

Frans_magnis_suseno

sumber: id.wikipedia.org

80 tahun dan tulisannya masih jernih, tak bikin jera.

Hari ini, ujung 2015, melalui grup Whatsapp, saya membaca tulisan Romo Magnis di Harian Kompas. Saya mengenal Franz Magnis Suseno melalui buku-bukunya, dan bertemu tahun 1995-an. Saat itu Himpunan Mahasiswa Islam mengadakan training—entah training apa saya lupa, HMI kan memang doyan bikin training.

Saya bertugas menjemput Romo di Stasiun Hall, dan langsung mengenalinya begitu pertama kali melihatnya.

Dengan posturnya yang menjulang, dia berjalan tegap sambil menenteng tas dan payung hitam panjang di kedua tangannya—mana kanan mana kiri saya lupa. Begitu dia mendekat, terlihatlah bros salib kecil di kerah bajunya. Mana kanan mana kiri saya juga lupa—ini nulis kok banyak lupanya.

Hari ini Romo Magnis menulis di koran Kompas. Tulisannya jernih, tentu tidak seperti tulisan saya yang berhamburan kebanyakan iseng. Can’t be helped, what to to do, kata Ubit.

Romo membuka tulisannya dengan mempertanyakan konsep revolusi mental dan menyambungnya dengan kalimat ini, “Bahwa kita memerlukan sebuah revolusi mental untuk keluar dari rawa mediokritas, kemalasan intelektual, kecengengan emosional, kedangkalan spiritual, kebrutalan dogmatisme, dan dari belenggu-belenggu prasangka dan kecurigaan yang menyandera bangsa sulit disangkal.”

Menurut Romo Magnis, sebagai refleksi akhir tahun, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah budaya kekerasan. Selain kasus tawuran, pengeroyokan, dan penindasan, Romo menyebut kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Masih saja ada kalangan yang dipaksa untuk menjalankan atau untuk tidak menjalankan ibadah tertentu bahkan dianggap sesat jika keyakinannya berbeda dengan “kebanyakan”.

Yang kedua adalah bebas dari rasa takut. Masih terkait tentang kebebasan beribadah, disebutkan bahwa masih ada orang yang hidup dalam ketakutan karena keyakinan religius dan tata cara ibadahnya tidak disetujui kalangan lain. Para tokoh agama pun ditantang untuk bersikap, di mana mereka berdiri. Ibadah itu kan hak yang sangat personal antara manusia dan Tuhan. Masa mau direcoki oleh orang lain. Pulang ke akhirat juga sendiri-sendiri, kan?—eh tentu Anda tahu bahwa dua kalimat terakhir itu omelan saya.

Yang ketiga adalah korupsi.

Lha, ini yang harus dipangkas habis!

Beragama atau tidak, koruptor itu menyebalkan dan wajib diberantas. Sayangnya, kita masih saja disuguhi drama tidak lucu tentang pemberantasan korupsi di Indonesia. Dua minggu yang lalu televisi masih menyiarkan aneka keributan terkait isu korupsi. Sekarang mana?

Kasus satu demi kasus menguap tanpa kita ketahui (saya saja kali, yang tidak tahu, ya? Wong yang sering ditonton acara got talent melulu, itu juga acara tahun lalu yang sudah jelas pemenangnya—nah mulai ngelantur) Peduli amat dengan komentar masyarakat, apalagi masyarakat seperti saya yang pintarnya mengoceh atau bahasa kerennya berwacana di media sosial. Hari ini teriak-teriak tentang pendidikan berkualitas, besok mamerin foto narsis tak keruan atau nebeng narsis ke anak ahaha.

Haish, setop.

Kita sedang serius, ini.

Tiga hal di atas masih jadi catatan besar hingga tahun-tahun ke depan. Saya yang ibuk-ibuk dan mengajar ibuk-ibuk ini pun perlu menyempatkan diri untuk berpikir melampaui cucian piring dan keranjang setrikaan. Yang berlangsung di sekitar kita saat ini, di negara kita, sangat menentukan kualitas hidup anak-anak kita hari ini dan kelak.

Jadi, peduli adalah pilihan terbaik.

Begitulah renungan akhir tahun ini. Sejatinya saya hendak menulis tentang hal lain, tapi rasanya tulisan Romo Magnis ini lebih penting saya bagikan duluan.

Semoga bermanfaat

Disiplin Positif Bagi Remaja: Bisa?

Sebelum merumpi, mari bernostalgia sejenak.

Ingat waktu anak masih bayi? Ingat waktu dia belajar jalan? Kita harap-harap cemas, ingin jadi orang pertama yang menyaksikannya menapakkan kaki sendiri. Mula-mula kita menuntunnya, berjalan bersamanya, mengikuti irama langkahnya. Otomatis kita bungkukkan punggung, dan pegal-pegal sesudahnya. Tapi tak kapok juga, kan? Besok diulangi lagi. Lagi dan lagi.

Ketika genggaman mulai kita lepaskan, kita tahu bahwa mungkin dia akan jatuh. Tapi di saat yang sama kita percaya bahwa jatuh adalah bagian dari proses belajar.

Kita serukan pujian, “Yuk! Bisa. Ayo, jalan ke Mama. Tenang, Ayah jagain …”

Ketika dia lelah, kita akan menunggunya, kadang menggendongnya. Tak pernah kita memaksanya, karena yakin bahwa pada saatnya dia akan berjalan juga.

Kita percaya.

Sambil menunggunya siap kembali, kita desain rumah dan teras sebagai tempat latihannya. Kita amankan pernik yang bisa berbahaya. Tangga ditutup, meja berujung runcing diplester, taplak dieliminasi. Kursi ditata sedemikian rupa agar bisa jadi pegangan—kita bangunkan lingkungan yang membuatnya bersemangat sekaligus aman. Ketika dia makin lincah bergerak, tata letak barang di rumah pun diubah lagi. Kita jadi interior designer yang bekerja penuh cinta.

Sekarang …

Kita punya remaja. Ke mana pegangan yang pernah kita rancang itu? Apakah kita kunci karena rasa takut? Atau kita perpanjang ukurannya demi mendukung tumbuh kembangnya?

Kita tahu, tibalah saat untuk mulai melepasnya, tapi di saat yang sama kita ragu apakah dia akan baik-baik saja. Bagaimana jika dia tersandung dan jatuh, sedangkan kita tak lagi di sisinya dan menggenggam tangannya?

Aduh, jadi mellow, gini.

Dalam berbagai buku dan pendapat ahli tumbuh kembang kita belajar bahwa saat memasuki masa remaja, anak cenderung mulai ingin menemukan diri sendiri dan melepaskan diri dari “penjagaan” orang tua. Padahal, sebenarnya mereka masih sangat memerlukan panduan, termasuk dalam mendisiplinkan diri sendiri.

Mereka sendiri merasa, saat masih anak-anak, disiplin lebih mudah diterapkan. Orang tua masih pegang peran besar, anak ikut mematuhi. Jika terjadi kesalahan, orang tua lebih mudah memaafkan dan segera mengambil alih tanggung jawab – ini umumnya, lho, ya.

Kini, mereka telah remaja.

Disebut dan diperlakukan sebagai anak-anak jelas tak mau lagi. Diminta bersikap sebagai orang dewasa pun masih gamang. Jadi disiplin yang seperti yang yang cocok?

Dalam pengasuhan, kita mengenal istilah positive discipline atau disiplin positif. Secara sederhana, ciri-cirinya adalah:

  • Disiplin ditujukan untuk mengatur perilaku agar anak mengerti mana yang salah dan yang benar
  • Anak menjadi subjek. Mereka tahu bahwa disiplin didesain untuk kepentingan mereka
  • Disiplin positif membangun sikap percaya diri, bukan untuk menyakiti anak dengan alasan apa pun
  • Disiplin bukan alat pangkas kepentingan anak atau senjata untuk melindungi kepentingan orangtua

Bagaimana menerapkannya?

  • Awali dengan membuat kesepakatan dengan anak tentang aturan yang hendak diterapkan
  • Sampaikan pendapat orang tua, simak dan apresiasi pendapat anak
  • Perjelas mana aturan yang tidak dapat diganggu gugat, jelaskan mengapa
  • Pilih intonasi, bahasa tubuh, dan waktu yang pas
  • Pilih kalimat positif
  • Berikan waktu pribadi untuk masing-masing anak
  • Jika anak memperlihatkan komitmen, berikan apresiasi
  • Jika terjadi pelanggaran, cari solusi bersama, bukan selalu hukuman. Ajak dia untuk mencoba lagi dan lagi.
  • Tegas, dan di saat yang sama tetap ramah.
  • Jadilah teladan. Jadilah orang pertama yang komitmen pada hal yang telah disepakati — ini tantangan bagi kebanyakan orang tua, hehe.
  • Sabar, perlu waktu – ini jauh lebih menantang, ehm!

Bagaimana menjaganya?

Rapat keluarga dan membahas aturan bisa sangat menyenangkan. Bagian yang tricky adalah menjaga konsistensi saat menerapkannya. Terkait penerapan aturan, sejujurnya, remaja masih tergantung pada orang tua. Perilaku orang tua akan menjadi cermin dan rujukan mereka dalam bersikap.

Ketika orang tua melanggar aturan lalu lintas, misalnya, remaja akan melihatnya sebagai referensi. Awalnya mereka ragu, apakah ini benar atau salah.

Jika sesuatu yang salah menjadi kebiasaan, bukan mustahil jadi kebenaran bagi mereka. Saat pengetahuan mereka kian berkembang, dan menemukan bahwa ternyata orang tua melakukan pelanggaran, lunturlah kepercayaan.

Rasa tak percaya ini akan merembet ke aspek kehidupan yang lain.

Tak heran jika remaja mulai mencari patron dan teman lain yang lebih fair, teman yang tidak melulu berwacana tentang kebaikan namun di saat yang sama melanggar peraturan tanpa sungkan.

Konsistensi.

Inilah benteng pertama sekaligus utama dalam membangun perilaku disiplin bersama remaja. Semoga Allah menggenapkan yang tercecer dalam upaya pengasuhan kita.

————————-

Anna Farida, kepala Sekolah Perempuan, penulis buku-buku pendidikan keluarga. Karyanya bisa dilihat di www.annafarida.com

Makalah ini disampaikan dalam seminar orang tua tanggal 21 November 2015 bertema Save The Children With Helmet. Program SELAMAT – Save The Children – Yayasan Sayangi Tunas Cilik – SMPN 14 Bandung – Komite Orang Tua Kota Bandung.

#ngaku: Makalahnya serius biar nggaya, padahal presentasinya curhat-curhatan seperti biasa 😀

 

 

 

Mindful Parenting

Salam Sehati, Bapak Ibu.
Hujan mulai mengguyur Bandung dan kota-kota lain.
Semoga mencurahkan berkah, amin.

Rumpi dulu.
Besok saya akan jadi fasilitator pelatihan orang tua dalam rangka penelitian tesis seorang mahasiswa UPI.
Materi yang akan kami bahas adalah “Mindful Parenting“.

Ini TOR yang dibuat mahasiswa tersebut sebagai panduan presentasi saya. Jadi bukan saya yang bikin, tapi isinya asyik, layak dirumpikan bersama.

Setelah pelatihan saya akan bikin tulisan tentang tema ini, deh.

Mindful dapat diartikan penuh penghayatan, eling, penuh kesadaran atau dalam agama Islam dapat pula dikatakan khusu.

Dengan keterampilan ini orangtua sadar betul bahwa ia sebagai orangtua dan perilaku-perilaku yang ditampilkan dalam mengasuh anak adalah perilaku yang tepat sebagai orangtua.

Fasilitator menjelaskan tentang 5 dimensi keterampilan mindful parenting:

Mendengarkan dengan perhatian penuh. Contoh pada saat anak berbicara dengan orangtua, apa yang sedang dilakukan oleh orangtua? Apakah sedang melaksanakan aktivitas lain? Sedang BBM-an, mendengarkan sambil mengurus pekerjaan rumah atau menghadirkan sepenuhnya dalam pembicaraan dengan anak.
Penerimaan untuk tidak menghakimi diri sendiri dan anak: contoh pada saat anak mempunyai masalah apakah orangtua memberikan label “negative”, kamu bodoh, telat dll?. Atau apakah orangtua mempunyai permintaan yang tidak realistis”selalu menggunakan syarat?”
Kesadaran emosional atas diri dan anak: berkaitan dengan kecerdasan emosi orangtua. Apakah orangtua mampu melihat kekhawatiran anaknya dari bahasa tubuh anak? Apakah orangtua mampu membaca keinginan anak walaupun anak tidak mengatakannya? apakah orangtua menyadari bahwa saat suasana hati orangtua bad mood itu akan mempengaruhi bagaimana orangtua memperlakukan anak?
Pengaturan diri dalam hubungan parenting; Orangtua mampu menyikapi setiap permasalahan yang terjadi pada diri anak, contoh pada saat anak pulang telat dan tidak menghubungi orangtua, apakah saat ia pulang orangtua langsung menanyakan/memarahi/berkomentar langsung? Atau memberikan kesempatan anak untuk beristirahat terlebih dahulu, setelah itu mencari kesempatan yang tepat untuk membahasnya.
Kasih sayang kepada diri dan anak; apakah orangtua selalu mengevaluasi tentang bagaimana mengasuh anak? Pada saat melakukan kesalahan dalam mengasuh anak apakah cenderung menyalahkan diri sendiri? Pada saat anak mempunyai kesalahan apakah cenderung membahas kesalahan anak yang dulu-dulu walaupun niatnya mengambil pelajaran?

—- TOR di atas adalah panduan untuk presentasi saya, disusun oleh Pathah Pajar Mubarok yang tengah menyelesaikan tesisnya di Pascasarjana UPI) — Sukses, Pathah 🙂

uchishofia

Ilustrasi: forums.psychcentral.com         Ilustrasi: forums.psychcentral.com

Tema: Mindful Parenting

Waktu: Sabtu siang, 07 November 2015 01:15 PM

Ruang Kelas: Kuliah via WhatsApp Keluarga Sehati

No. kontak: 0896 5041 6212 (Suci Shofia)

Narasumber: Elia Daryati dan Anna Farida

Diskusi:

Salaaam, agak mundur dikit  boleh, yaaa. Mengurutkan jawaban dulu.

Ceritanya surel yang dikirim Bu Elia ke Mbak Anna Farida kayaknya nyasar. Padahal dah dari jam 12 siang ngirimnya. Akhirnya dikirim ulang deh termasuk ke admin Kulwap Keluarga Sehati. Tim sibuk beberapa menit sebelum kulwap di mulai. Meski mundur 15 menit, namun peserta yang baik hati dan rajin belajar setia menanti.

Pertanyaan-1

Adakah tips agar selalu mindful dalam mengasuh anak-anak? Kalau lagi capek, sedang lapar, mau datang menstruasi, sulit kontrol emosi.
Jawaban Bu Elia Daryati

Mindful parenting, dipopulerkan dengan padanan bahasa Indonesia “mengasuh berkesadaran”. Parenting adalah mengasuh, orangtua mengasuh anak-anaknya agar tumbuh menjadi pribadi-pribadi unggul. Mindful adalah berkesadaran atau apa saja yang mengacu…

View original post 2,307 more words

Tanya Jawab Komunikasi Asertif

Salam Sehati, Bapak Ibu.

Mari masuk ke topik minggu ini, Komunikasi Asertif.

Saya tidak begitu suka definisi, seperti soal ujian esai SMP ahaha. Jadi saya akan sampaikan beberapa kasus sederhana, nanti definisikan masing-masing, apa itu komunikasi asertif.

Anda bergabung atau dimasukkan ke dalam sebuah grup WA. Anda sudah kebanyakan grup, topik yang dibahas tidak sesuai dengan minat, atau hape Anda nge-hang atau nge-drop melulu.
Anda ingin sekali keluar tapi rikuh. Kan yang masukin teman baik, sebagian anggota grup juga teman-teman dekat. Jadi di satu sisi kita menderita batin (halah banget, grup WA kok jadi sumber derita) di sisi lain kita ingin menjaga perasaan teman.

Saya bisa keluar dengan berkata seperti ini, “Teman-teman, hape saya mulai nge-hang, nih. Tampaknya dia tidak sanggup mengejar diskusi yang aktif di grup kita ini. Saya pamit exit group dulu, ya. Informasi dan foto penting sudah saya simpan, begitu siap bergabung lagi, saya akan kontak admin. Tengkyu banget sudah ngasih banyak wawasan, maaf jika ada salah kata, salahkan jempol saya yang besar ini 😀 Salaaam …

Atau dalam kasus lain, ada teman jualan baju dan menawarkan desain yang menurut Anda tidak menarik.

Jawab begini, “Saya lebih suka baju yang polos, tidak banyak lipatan.”

Perhatikan. Saya tidak tidak menjelekkan grup WA itu, tidak mencela desain baju, tapi juga bisa keluar dari grup yang tidak saya perlukan dan tidak perlu beli baju yang tidak cocok.

Anak merajuk minta hape baru.
“Saat ini anggaran keluarga kita adalah melunasi uang sekolahmu. Ibu/Ayah akan berusaha jika memang hape baru kamu perlukan, dan anggarannya ada. Oke?”

Saya tidak mencela keinginan anak pingin hape dan menasihatinya dengan berbagai wejangan tentang hidup hemat dan sabar.

Suami merokok di rumah yang sempit.
“Mas, rumah kita kan kecil. Biar terkesan luas udaranya bisa dijaga biar tetap segar. Aku juga lebih nyaman kalau baju dan perabotan rumah kita fresh.” ———-> Cukup.

“Eh, asyik, habis mandi!” ––nempel-nempel sedikit boleh, ehm— “Mas harum dan segar kalau habis mandi. Aku suka aromanya.” —-> Cukup. Tidak perlu merepet tentang rokok.

Beda dengan “Mas, kenapa sih, merokok melulu. Sama saja dengan bakar uang, kan?” Atau … “Mas kapan mau berhenti merokok?”

Sampaikan pandangan Anda secara positif, tanpa menyerang lawan bicara. Istilah kerennya I-message. Pesan saya, pandangan saya.

Sampaikan dengan nada bicara yang netral, bahasa tubuh yang rileks, sampaikan sekali saja. 3 menit cukup (maaf, ini ukuran pribadi saya. Lebih dari itu biasanya saya tergoda untuk ngomel. Jadinya komunikasi agresif, bukan asertif lagi, dwong!)

Boleh diulang di waktu yang pas. Mau tahu kapan waktu yang pas? Saat Anda bisa menyampaikan I-message dengan hati yang ringan, dan hasilnya lawan bicara tidak jadi tersinggung. Perhatikan kapan waktu yang pas bagi lawan bicara. Kalau gagal sekali ya coba lagi dan lagi dan lagi 😀

Kan tidak bisa instan.

Menurut saya, kekuatan lain dari komunikasi ini adalah aspek “minta maaf” yang terkandung di dalamnya.

Melalui komunikasi ini kita seolah bilang begini, “Maaf, mungkin pendapat saya tidak sesuai dengan kehendakmu.”

It’s about me, not you. Ini tentang saya, bukan kamu. Lidah saya saja yang kurang suka pedas, bukan karena masakanmu tidak enak, misalnya.

Walaupun sebenarnya kamu juga yang jadi sasaran tembak saya huehehehe

Dengan cara ini, lawan bicara tidak merasa disalahkan, dihakimi. Secara tidak langsung, lawan bicara dikondisikan untuk mengerti kita, memahami pendapat kita, dan ini mendatangkan perasaan positif dalam dirinya. –> ingat, ya, bukan diminta secara langsung, tapi dengan I-message tadi.

Bukan dengan berkata, “Ngertiin aku, dong!” melainkan “Aku ingin begini, pendapatku begitu”.

Kita akan lebih mudah memahaminya dengan praktik langsung per kasus.

Mari kita mulai rumpi. Semoga pertanyaan bisa masuk sebelum Sabtu, jadi waktu menjawab pun lebih leluasa.

Sip?

uchishofia

ilustrai: enjangwahyuningrum.wordpress.com ilustrasi: enjangwahyuningrum.wordpress.com

Kenapa sih kamu itu kok kasar sekali tiap mengucapkan kata? Kapan kamu berhenti merokok? Ngapain kamu share berita nggak penting? dan berbagai ungkapan rasa tidak nyaman yang hanya terucap dalam hati.

Asertif, dunk!!!

Yuk, simak tanya jawab yang padat kaya manfaat berikut ini:

Pertanyaan-1

Bagaimana menegur suami yang suka merokok di dalam rumah kami yang mungil? Hanya ada ruang tamu dan kamar tidur satu. Dia merokok di ruang tamu. Tapi kalau ada  teman sedang main ke rumah bawa anak, dia rela merokok di balkon.

Jawaban Elia Daryati

Relasi suami istri, merupakan relasi yang setara. Artinya, jika pasangan ini menempatkan posisi yang setara, akan terbangun saling menghargai satu sama lain. Terkadang kita sendiri merasa sungkan untuk menegur, karena menempatkan posisi sebagai orang yang sedikit “takut”, jangan-jangan kalau dibiarkan justru suami tidak akan mengerti. Mungkin suami berpikir kita setuju-setuju saja. Atau boleh jadi, kita menegur tidak terlalu menekankan betapa, tidak sukanya…

View original post 2,936 more words

TTM bukan TTS

Marriage with Heart

Marriage with Heart

Saya pikir materi TTM akan menghadirkan diskusi yang renyah dan bikin nyengir selama sejam. Ternyata, pertanyaan yang masuk beraroma panas. Boro-boro sempat nyengir, Bu!

Tak percaya? Coba saja baca materinya, kemudian simak tanya jawabnya.

Tanya 1:
Sekarang ini suami punya profesi baru yang mengharuskan sering berinteraksi dengan banyak orang, terutama wanita cantik. Beliau juga jadi banyak ketemu dan hang out dengan grupnya yang kadang-kadang cukup dekat dan kalau dilihat dari berbagai pose fotonya cukup bebas. Saya percaya pada suami, tidak ingin cemburu karena itu tuntutan profesi. Tapi ada rasa khawatir juga. Bagaimana menyiasatinya supaya saya bisa tetap percaya dan tidak cemburu berlebihan. Juga suami tidak terjebak WIL. Terima kasih.

Jawaban Bu Elia Daryati

Lingkungan kerja yang berisiko.

Jenis pekerjaan yang dijalani seseorang merupakan sebuah pilihan. Setiap jenis pekerjaan tentunya memiliki iklim kerja dan iklim sosial sesuai bidang yang ditekuninya. Seperti lingkungan kerja yang sedang dijalani oleh suami Ibu.

Filosofinya adalah seorang suami memiliki tanggung jawab sebagai pencari nafkah bagi keluarganya. Adapun lingkungan pekerjaan suami Ibu tampaknya memiliki pola interaksi yang agak riskan, khususnya dalam relasi antar lawan jenis. Menyikapi hal ini, tentunya diperlukan kesadaran kedua belah pihak terhadap kondisi yang ada. Suami dan istri harus memiliki komitmen dan pola komunikasi yang baik.

Jika kesadaran terhadap hal tersebut tidak dijadikan agenda keluarga dan hanya menyerahkan pada perjalanan nasib dan takdir, akan sedikit membayakan. Kenapa? keteguhan seseorang sifatnya fluktuatif, siapa yang dapat menjaminkan bahwa kita memiliki kekuatan yang sifatnya stabil dalam menghadapi hantaman. Khususnya dalam hal ini hantaman pergaulan.

Pada awalnya mungkin merasa jengah dengan situasi pergaulan yang sedikit riskan, namun karena dilakukan setiap hari akan terjadi pembiasaan. Yang sedikit riskan menjadi suatu yang wajar dan batas toleransi menjadi kurang terasa dalam membedakan “batas-batas” antara salah dan benar.

Untuk itu, sekali lagi komitmen dan pola komunikasi harus dijadikan sebagai pijakan. Bukankah nafkah dalam berumah tangga, bukan saja sekedar dari banyaknya yang kita dapatkan, namun tentunya ada keberkahan yang kita dapatkan. Semata-mata, untuk membangun keluarga yang sakinah mawwadah dan rahmah.

Akhirnya semua dikembalikan ke keluarga masing-masing. Sebuah lingkungan kerja yang berisiko adalah kondisi “daripada-daripada”… jika masih mungkin, alternatif sebuah pekerjaan lain dapat kita pikirkan, jika tidak mungkin, hubungan keluarga yang harus dikuatkan.

Jawaban Anna Farida

Secara umum, semua pekerjaan punya risiko. Saya penulis, risiko saya terkait dengan kebiasaan duduk lama. Tukang ojek berisiko dipeluk oleh semua jenis manusia dari yang muda merona hingga kakek nenek.

Nah, risiko berdekatan dengan lawan jenis pun bisa dikelola.

Kita masing-masing punya batas yang berbeda, seperti apa sih yang disebut dengan berdekatan. Ada orang yang satu ruang dengan lawan jenis saja sudah disebut berdekatan,  ada yang bersentuhan kulit pun berpendapat tidak apa-apa asal tidak ada unsur lain-lain. Jadi rentangnya sangat panjang, dan kita tidak akan bahas itu.

Yang perlu dilakukan sebagai istri adalah menempatkan diri pada posisi menjadi mitra suami. Peran mitra adalah ikut menjaga suaminya agar tujuan kemitraan (rumah tangga) tercapai.

Sepakat dengan Bu Elia, komunikasi wajib berjalan lebih efektif karena lingkungan yang mewarnai keseharian suami tadi. Mengingatkan tujuan bahwa suami bekerja demi keluarga tidak selalu dilakukan dengan mengungkapkan rasa cemas ke suami, apalagi dibumbui pernyataan rasa tidak percaya diri seperti ini

Da aku mah apa atuh, pasti lebih menarik teman-teman kerjamu daripada aku. —> Lah, malah menempatkan diri di posisi tidak berharga. Kalau keseringan diucapkan bisa terjadi beneran, lho!

Sebaliknya, istri bisa menempatkan diri sebagai partner yang tidak kalah menarik dari luar maupun dalam. Belajarlah meng-upgrade diri—bukan semata-mata demi suami, melainkan juga demi kebutuhan belajar yang tetap harus dijaga. Ini kan kemestian kita sebagai manusia.

Perhatikan penampilan. Jangan absen mandi dua hari karena suami sedang di luar kota. Lha! Mandi itu kan sehat, wangi itu kan menyenangkan. Bagi orang lain, lebih-lebih bagi diri sendiri. Menghargai diri sendiri itu wajib, sehingga tidak perlu ada rasa cemas melepaskan suami keluar rumah karena dia akan kembali utuh karena kebaikannya, karena dukungan istri, dan penjagaan Allah.

Sesekali kirim-kirim pesan sayang, kirim gambar anak-anak, atau kirim doa itu boleh adanya. Atur saja ritmenya agar suami pun tidak merasa dimata-matai atau dicurigai melulu.

Tanya 2

Assalamu’alaikum,
Saya punya tante, baru-baru ini suaminya seorang pejabat daerah kepergok hendak mesum dengan istri orang di sebuah hotel. Usia perempuan tadi seusia anaknya. Di koran juga di TV lokal sudah memberitakan kabar tersebut. Seluruh keluarga jelas malu, tante sendiri bingung mau ngapain. Dia ingin mempertahankan tapi suaminya sudah zina. Apa yang harus tante saya lakukan? Anak-anaknya pun merasa benci dengan perbuatan ayahnya.

Jawaban Bu Elia Daryati

Menghadapi suami berselingkuh.

Menyikapi ketidaksetiaan pasangan, merupakan ujian terberat dalam sebuah pernikahan. Opsinya hanya dua, “take it” atau “leave it

Jika memaafkan konsekuensinya apa? Dan jika meninggalkan konsekuensinya apa? Kedua hal ini harus menjadi bahan pertimbangan ketika memutuskan. Tentunya yang paling tahu kekuatan diri, adalah diri masing-masing.  Dipikirkan dengan matang sebelum keputusan dilakukan. Harus tenang dan tidak terbawa emosi.

Mengingat hal ini menyangkut anggota keluarga yang lain, khususnya anak-anak. Tentunya perlu dibicarakan secara matang, namun diatas segalanya keputusan  istri lah yang paling menentukan. Apa pun keputusannya, jika sudah dilakukan harus siap. Siap memberikan penjelasan dan pengertian pada anak atau pun anggota keluarga yang lain.

Pertanyaannya adalah, apakah peristiwa ini merupakan kejadian pertama kali yang sifatnya kasuistik, atau yang sudah berkali-kali dan menjadi kebiasaan. Jika sudah berkali-kali, tampaknya perlu pertimbangan yang lebih serius,  untuk bertanya kembali kepada diri, sesungguhnya kita menikah untuk apa ? Apakah untuk sekedar status atau mencari kebahagiaan hakiki. Hanyalah diri yang mampu menjawab. Mengingat setiap manusia pada dasarnya harus layak bahagia dan merdeka

Jawaban Anna Farida

Ini pertanyaan yang sebenarnya saya hindari, tadinya saya mau kabur saja dan menyerahkan jawaban pada Bu Elia. Tapi, ah, tar dikejar peserta kulwap, jadi saya jawab saja sesuai pendapat pribadi, ya.

It takes two to tango. Membina rumah tangga itu perlu dua orang yang saling berkomitmen. Ketika terjadi musibah, misalnya salah satu berulah, sementara satu orang yang lain kena getah, itu salah satu risiko berumah tangga.

Kita tetap harus siap dengan berbagai kemungkinan, kan? Manusia itu benda hidup (lha iya!) bisa berubah dari baik menjadi buruk dari buruk menjadi baik. Itulah mengapa ada doa berbunyi “Wahai yang Maha membolak-balikkan hati,” kita memohon agar penjagaan Allah selalu menemani pernikahan kita, amin.

Tentang Tante penanya, keputusan tetap harus kembali pada visi rumah tangga, mengingat batasan maaf manusia bisa berbeda-beda. Ada yang lihat pasangannya ngobrol dengan orang lain saja sudah ribut, ada juga yang menetapkan hubungan badani sebagai batas perselingkuhan yang tidak termaafkan.

Terkait anak, terutama anak yang masih kecil atau remaja, tante tersebut harus tegas menyatakan bahwa perbuatan ayah mereka salah, tidak boleh dibela. Namun demikian, anak tetap harus diajak menghargai Ayah sebagai ayah, sebagai sesama manusia yang bisa berbuat salah. Apakah keluarga akan memaafkan atau tidak, lagi-lagi perlu dilihat lagi pernikahan tadi termasuk nilai yang dianut oleh keluarga yang bersangkutan. Di mana batas yang masih memungkinkan kesempatan kedua, mana batas harus berkata “cukup”.

Tanya 3
Suami bekerja dengan intensitas cukup sering dengan perempuan yang sudah berumur (kepala 4) dan belum menikah. Mereka saya lihat cukup akrab, bercanda santai. Namun ketika ada saya di antara mereka, perempuan tadi sama sekali tidak mau menyapa saya. Padahal saya berusaha baik kepada semua teman suami. Pas saya tanya ke suami, kenapa sikap temannya demikian, dia jawab mungkin sedang banyak masalah. Padahal setiap ketemu saya tidak mau menyapa.
Apakah itu sindrom perempuan telat menikah? atau memang dia ada cemburu?

 

Jawaban Bu Elia Daryati

Ada pepatah Perancis yang menyatakan “bersahabat itu pada dasarnya, seperti jatuh cinta sedikit”. Artinya dalam persahabatan selalu ada chemistry. Ada ikatan batin dan sedikit kepemilikan. Ini suatu hal yang wajar. Makanya, ketika sudah berkeluarga sebaiknya sebuah pasangan, menjadikan pasangannya itu sahabat, agar ikatannya menjadi semakin kuat.

Apakah sikap “kaku” teman suami dikantor itu cemburu? Boleh jadi, iya atau pun tidak. Mungkin dia yang cemburu atau mungkin juga sebenarnya kita yang cemburu. Biasanya seseorang akan menjadi cemburu, jika posisinya terancam oleh “kompetiter” yang memiliki kualifikasi yang lebih tinggi dari dirinya.  Sebuah ancaman akan terebutnya perhatian suami pada perempuan lain di luar diri. Perasaan terancam ini awalnya mungkin tidak disadari, namun lama-lama menjadi kurang masuk akal.

Untuk itu, sebetulnya hal pertama-tama dilakukan adalah introspeksi diri. Kita posisinya merasa terancam atau tidak. Sikap tenang kita, sebenarnya akan menjadikan persoalan menjadi lebih ringan. Tetaplah bersikap baik pada teman kerja suami, jadikan dia sahabat. Semakin kita mengenalnya, kita akan semakin tahu dia sebenarnya. Satu hal lagi yang perlu diketahui, bahwa tidak semua wanita yang belum nikah, identik dengan pribadi yang sulit. Semua kembali pada diri dan akhlak masing-masing.

Jawaban Anna Farida

Tanpa bermaksud sotoy, bisa jadi itu cemburu, bisa jadi memang kaku saja karena merasa tidak nyambung. Dengan suami Ibu kan dia punya bahasan yang jelas, misalnya pekerjaan. Sedangkan dengan Ibu, dia mau ngobrol apa?

Bisa dilihat apakah dia bersikap sama dengan pasangan teman kerjanya yang lain. Jika dia baik-baik saja dengan istri teman yang lain dan kaku kepada Ibu, berarti memang ada “something”.

Atau … ehm … Ibu sendiri yang cemburu padanya, sehingga tanpa sadar bahasa tubuh Ibu mengisyaratkan rasa tidak suka kepadanya. Akhirnya dia jadi rikuh, diam, kaku, atau menjauh.

Stop. Daripada menduga-duga, saya pilih berjaga-jaga.

Kita sudah belajar tentang romantisme di kulwap pertama.

Perhatikan, suami kan bisa santai dan bercanda akrab dengan rekan kerjanya. Bisakah suami melakukan hal yang lebih kepada istrinya? Jika ya, alhamdulillah, jika tidak, ayo cek materi pertama kita. Cari di blog Mahmud Admin.

Tanya 4
pertanyaan tentang tema TTM, saya tidak mengenal TTM karena sepakat dengan tulisan mbak Anna, mustahil laki-perempuan non muhrim dekat tanpa “sesuatu”. Sejak muda sampai menikah, saya menghindari hal tersebut. Saya pun tak punya teman akrab yang melakukan hal tersebut, sampai terjadi saat ini. Ceritanya, saya punya geng ibu-ibu, mantan wali murid. Geng ini biasaya ada acara makan lontong mie bareng, belajar make up bareng, dan hal sederhana lainnya. Yang membuat saya kepikiran belakangan ini, ternyata ada teman saya yang melakukan TTM bahkan sampai keblabasan (secara fisik), dan ada teman lagi yang jujur bercerita bahwa dulu dia begitu. Bisa dibilang, “ulah” mereka itu tidak ada efek langsung pada saya. Tetapi setelah saya renungi lagi, sepertinya saya kena “baunya”. Misalnya ada tukang lontong mie langganan kami yang sering menggoda bahwa saya ini pacaran dengan orang lain. Semula saya pikir itu guyonan biasa, ternyata terungkap bahwa warung lontong mie beliau adalah markas bagi para pelaku selingkuh dan TTM. Yang ingin saya tanyakan: bagaimana langkah saya selanjutnya? apakah harus menjauhi mereka dan memutuskan persahabatan kami? Sungguh saya masih ingin punya sahabat ibu-ibu sederhana saja, namun kecewa dan khawatir juga dengan imbasnya. Karena saya pikir, mungkin suatu saat perselingkuhan mereka terungkap di daerah kami. Dan mungkin saya dianggap sama dengan mereka karena bergaul akrab. (panjang ya..hehehe). *makasih mahmud.

Jawaban Bu Elia Daryati

Memiliki sahabat yang TTM

Ketika seseorang memilih berteman, apalagi sampai bersahabat, biasanya mereka terikat karena adanya ketertarikan yang sama dengan satu hal. Seperti halnya dengan ibu, yang memiliki ketertarikan terhadap masak-memasak, dll.

Proses interaksi dalam pertemanan dan persahabatan, didalamnya akan menyangkut adanya interaksi nilai-nilai kehidupan, pandangan-pandangan dan termasuk di dalamnya adalah masalah keyakinan-keyakinan atas sesuatu yang benar dan salah. Mengapa ? dalam berteman dan bersahabat selalu ada interaksi dalam hal pertukaran pendapat dan argumen. Untuk terjadinya proses saling mempengaruhi. Mengingat proses saling mempengaruhi dalam persahabatan adalah sunatullah sifatnya.

Saatnya kita memihak pada diri, jika kita merasa memiliki pribadi yang lebih “sehat”, mampukah memberikan pengaruh yang lebih baik. Soalnya sinergi negatif dan positif tidak pernah seimbang, kecuali salah satu menguasainya. Kembali dalam hal ini, jawabannya ada di diri masing-masing, mempertahankan sahabat yang seperti itu atau mencari lingkungan baru yang lebih sehat. Ini sebuah pilihan.

Jawaban Anna Farida

Saya ini masih muda #halaaah tapi dalam berpandangan kadang konservatif hahaha.

Tentang berteman, saya berprinsip pada pepatah Jawa, “cedhak kebo gupak”. Artinya, kalau berdekatan dengan kerbau bisa kena kibasan ekornya yang … yang … hehehe. Padanannya adalah ungkapan “berteman dengan pandai besi terpercik api, berteman dengan penjual parfum ikut wangi”.

Kita bia saja berkata, “Ah, kan kembali pada pribadi masing-masing. Yang penting kita tidak ikutan.”

Eits, jangan salah. Manusia itu saling menginspirasi saling memengaruhi. Itulah mengapa kita wajib mendekat pada orang-orang yang baik, sekaligus jadi orang baik. Sebagai teman, apalagi ini kan teman akrab, Ibu wajib mengingatkan bahwa yang dilakukan teman Ibu itu salah. Ingatkan sekali, dua kali, diomelin, dianggap sok gini gitu, sudah risiko. Lihat teman yang lain. Apakah menunjukkan sambutan positif atas peringatan Ibu atau malah ikut memusuhi. Dari situ Ibu bisa ambil bersikap, mau terus bersahabat atau mencari sahabat lain. Penduduk bumi banyak, lho. Peserta kulwap ini saja lebih dari 100 😀

Tanya 5
Assalamu’alaikum, Mbak … Titip pertanyaan yaaa …
Ada sahabat sekantor saya sudah menikah, yang saya ketahui betul kalau dia aktif berhubungan tiap hari dengan teman laki-laki yang sudah beristri via BBM. Saya sudah mengingatkan untuk tidak terlalu dekat. Tapi dia beralasan bisa jaga diri karena cuma sekedar teman dan tidak akan merusak rumah tangganya, karena masing-masing juga sangat mencintai keluarganya, apalagi laki-laki itu non muslim jadi nggak mungkin juga sampai tergoda untuk menikah dengannya. Bagaimana memberi saran ke temen saya itu ya supaya dia bisa menjaga jarak dengan laki-laki tadi.

Jawaban Bu Elia Daryati

Interaksi lawan jenis di tempat kerja.

Proses interaksi lawan jenis di tempat kerja, merupakan suatu yang tidak dapat dihindarkan. Tergantung relasi yang dibangun, apakah memang semata-mata orientasinya pada penyelesaian tugas kerja yang sifatnya formal atau relasi persahabatan yang sifatnya personal.

Jika didasari oleh tuntutan tugas yang tidak melibatkan perasan yang sifatnya mendalam, ini bukan seseuatu yang perlu dirisaukan karena memang ini semata-mata tuntutan tugas yang sifatnya profesional. Apalagi jika, seseorang itu menyadari posisi masing-masing. Seperti status pernikahan dan keyakinan yang berbeda, dijadikan patokan dalam mengontrol relasi yang dibangun.

Kecuali, jika kita melihat apa yang dilakukan mereka itu, seperti sering pergi berdua tanpa tujuan jelas, kemudian kirim pesan via BBM yang tidak ada hubungan dengan pekerjaan, ini tentunya perlu untuk diingatkan.

Namun kekhawatiran ibu dan kepedulian ibu sebagai teman, perlu diacungkan jempol. Memang mencegah lebih baik daripada mengobati.

Jawaban Anna Farida

Saya jawab dengan pertanyaan: “Beranikah sahabat Anda yang punya teman dekat itu memperlihatkan seluruh isi chat BBM-nya kepada suaminya?”

Tanya saja spontan. Lihat reaksinya!

Jika dia bilang berani, masih bisa sih, dibilang aman. Tapi ya buat apa berinteraksi pribadi di luar pekerjaan dengan lawan jenis, sementara dia bisa gunakan waktu yang luang untuk chat dengan suami atau anaknya atau ibunya, misalnya.

Kalau ngeyel hanya berteman tapi tidak berniat menunjukkan isi BBM ke suami, bagi saya itu jalan buntu, jadi no comment lebih jauh kecuali STOP.

Keluar deh, kepala batunya. Biarin ahahah.

Tanya 6
Pertanyaan saya,
1. Apa yang harus dilakukan jika istri sudah memaafkan suami yang pernah punya WIL, tapi tetap sulit melupakan segala perbuatan suami (kebohongan,tanggal, dan segala hal yang berkaitan) karena teringat lagi dan lagi meskipun sudah menyibukkan diri.
2.Bagaimana cara suami membantu istri untuk melupakan kenangan buruk tadi?
3.Bagaimana cara suami mengembalikan kepercayaan istri? Mengingat mantan WIL-nya teman kampus/kerjanya?  4.Bagaimana cara melupakan mantan WIL/PIL jika msh merupakan rekan sekolah/kerja?

 

Jawaban Bu Elia Daryati

Membebaskan diri dari perasaan curiga.

Bagi orang yang pernah mengalami perasaan tersakiti, biasanya akan memiliki sensitivitas yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ini merupakan suatu yang wajar sesungguhnya. Namun jika kita memaafkan harusnya juga dalam bentuk maaf yang tulus.

Mengapa? Perilaku paranoid yang terus-menerus pada pasangannya, akan menjadikan perilaku berulang pada pasangannya. Tanpa sadar perilaku kita mendorong, pasangan kita untuk mengingat peristiwa-peristiwa yang sesungguhnya ingin dilupakannya.

Coba pahami, seorang suami yang baik dan pernah “khilaf”, perlu dibantu oleh pasangannya dengan cara memaafkan dan tidak mengingat-ingat kembali pada peristiwa yang sudah berlalu. Jika bukan istrinya yang menolong siapa lagi dia dapat pertolongan.

Menjadikan diri menjadi pribadi yang baik, akan membuat pasangan kita melekat secara batin. Jika kita sudah memaafkan, namun tingkah laku kita tambah tidak menarik (menyebalkan), bisa-bisa dia akan kembali mencari ketentraman di tempat lain.

Seseorang akan melangkah ke barat dan meninggalkan timur. Berarti di timur ada apa?

Jawaban Anna Farida

Maaf banget, nih. Dari empat nomor pertanyaan itu, saya mengendus rasa cemas yang agak kenceng gitu, deh, dari istri. Dari pertanyaan ini juga terlihat bahwa sebenarnya sang suami punya iktikad memperbaiki diri. Jadi, yang belum siap memaafkan adalah sang istri.

Bagaimana kalau kita coba yang ini:

Kejadian suami punya WIL bukan seperti pelajaran masa SMP yang bisa kita lupakan. Kejadian itu akan terus bersembunyi di dalam hati, muncul di saat yang paling nyebelin, paling tidak pas.

Kalau suami punya WIL dan istri mudah melupakan malah aneh menurut saya.

Yang bisa dilakukan adalah memaafkan kekhilafan suami untuk tujuan yang lebih besar. Sementara itu, suami bisa membantu istrinya dengan tiga tahapan: minta maaf, berjanji tidak akan melakukannya lagi, dan “membayar” kekhilafannya itu dengan perbuatan baik yang jauh lebih banyak kepada istri. Repot, ya? Lah iya, berani berbuat ya berani bertanggung jawab.

Jika suami sudah menunjukkan iktikad baik tadi, sang istri wajib segera menyambutnya dengan positif. Mengulang-ulang kekhilafan itu di hadapan suami bukan hanya bikin bete suami. Lebih dari itu, suami akan melihat istrinya sangat tidak percaya diri sehingga takut ditinggal punya WIL lagi. Ada unsur tidak pede di situ, dan istri yang tidak pede akan bikin suami jenuh—ini perlu bahasan terpisah.

Atau sebaliknya, suami melihat istrinya tidak percaya lagi bahkan jijik kepadanya karena pernah punya WIL. Jadi yah sudah, lah, sekalian saja, kadung basah.

Tentang mantan WIL yang masih satu lokasi kerja, suami bisa membantu dirinya sendiri dengan pindah bagian jika memungkinkan. Jika tidak mungkin pindah bagian atau pindah kelas atau ubah jadwal agar tidak bertemu, hindari kontak pribadi dengan cara apa pun, langsung atau tidak langsung.

Sorry to say, dalam hal ini, saya tidak percaya kata-kata mengalir begitu saja. Hal buruk dan baik terjadi karena kita mengundangnya.

Tanya 7
Kapankah seorang suami/istri perlu mengingatkan pasangannya tentang hubungan yg dijalinnya dengan lawan jenis? Ketika seorang suami/istri selalu memantau pasangannya, dengan siapa saja dia berhubungan, terutama lawan jenis, apakah yang demikian termasuk parno (maksud saya, ketakutan yg berlebihan)?

Jawaban Bu Elia Daryati

Saat yang tepat untuk saling mengingatkan.

Setiap pasangan yang memiliki hubungan yang kuat, biasanya memiliki “kompas hati” yang cukup peka. “warning” ini tentunya harus terus dipelihara dengan baik. Bersiaga berbeda den gan curiga.

Siaga yang kita berikan merupakan bentuk cinta atas pemeliharaan rumah tangga. Sedangkan curiga merupakan bentuk penghakiman atas suatu peristiwa yang belum tentu benar dalam kenyataannya.

Dalam mengingatkan pasangan tidak selamanya disampaikan dengan sikap yang sangat serius, bisa saja disampaikan sambil santai atau dalam guyonan.  Namun semua tergantung situasi sesuai derajatnya.

Jika tidak ada indikasi dapat saling mengingatkan dengan guyonan, jika mulai “tercium” ada sesuatu yang agak lebih serius bisa saja dilakukan dengan mengingatkan dan konfirmasi.  Sepertinya sistem tarik ulur ini menarik sebagai seni dalam mengingatkan pasangan. Targetnya semata-mata untuk meningkatkan ketahanan keluarga.

 

Jawaban Anna Farida

Weits, Bu Elia pintar sekali membedakan siaga dan curiga.

Ngaku, nih, saya juga belajar dari Bu Elia tentang waspada. Soalnya, saya sering kelewat percaya diri bahwa suami saya tidak akan berpaling satu mili pun dari saya ahahah. Dari Bu Elia saya belajar bahwa kapan pun saya atau suami bisa dekat dengan orang lain. Karenanya, upaya menjaga romantisme, menjaga komunikasi asertif, itu mesti dilakukan sepanjang hayat. Banyak kasus menunjukkan bahwa TTM bisa terjadi pada pasangan yang tak terduga.

Dari beberapa buku yang pernah saya baca, kita bisa mulai waspada kedekatan pasangan atau kedekatan kita sendiri dengan lawan jenis ketika:

  1. Ada rahasia dalam pertemanan itu. Mulai cemas kalau hape (HP) dipegang pasangan, mulai cari waktu bertemu ketika pasangan tidak ada (bertemu langsung maupun bertemu melalui dunia maya).
  2. Ada keperluan pribadi dibahas, misalnya makanan kesukaan, titip dibelikan baju atau keperluan pribadi lainnya (beli saja di toko online napa?) #emosih

Dua rambu itu cukup bagi kita untuk segera memperbaiki diri. Dua tanda itu bisa menjadi alarm bahwa pasangan mulai perlu diperhatikan, dicurahi tatih tayang dengan takaran lebih.

Tanya 8
Bagaimana caranya supaya suami tidak tebar pesona. Kami baru 3 tahun pindah ke rumah sendiri. Tetangga samping rumah kami ada single parent(janda) dengan anak-anaknya yang sudah remaja, otomatis usianya di atas kami. Setiap single parent ini lewat depan rumah kami, pas suami sedang menyapu atau mengeluarkan motor, dia selalu senyum ke suami. Tapi bila sebaliknya saya yang sedang menyapu, dia ini tidak pernah senyum dan berjalan agak cepat seperti menghindar tatap muka dengan saya.

Jawaban Anna Farida

Berarti single parent tersebut “straight” #eh

Lha, masa kita mau melarang orang lain senyum ke suami kita? Suami kita juga kan tidak bisa dilarang senyum ke orang lain. Sejauh apa yang dilakukannya masih dalam batas wajar, apalagi ini kan bertetangga, pasti akan selalu ada kesempatan bertemu, dan bukan hanya bertukar senyum.

Yang selalu harus dilakukan adalah menjaga keyakinan bahwa pernikahan kita aman karena upaya lahir batin yang kita lakukan. Beberapa jawaban sudah kita bahas di atas, semoga terwakili.

Prinsipnya, jika cinta kuat, komunikasi terjaga, senyum tetangga tidak akan jadi masalah. Salah satu upaya menguatkan cinta adalah dengan menjaga romantisme (kulwap-1).

Tanya 9

Ketika pasangan terlibat TTM, bisa saja karena pasangan kita yang emang terlalu membuka diri kepada lawan jenisnya. Namun sangat mungkin juga lawan jenis pasangan yang terlalu aktif dan terlampau “dalam” menjalin suatu hubungan, sehingga pasangan kita jadi terbawa sitausi TTM. Perlukah kita menegur teman lawan jenis pasangan yang demikian? Bagaimana cara yang anggun untuk menegur mereka?

Jawaban Anna Farida

Saya lebih memilih mengingatkan pasangan, karena urusan kita adalah pasangan kita, bukan orang lain. Caranya telah kita bahasa dalam jawaban pertanyaan terdahulu. Mungkin saya tambah biar seru, kembalikan tujuan berteman. Sebenarnya berteman itu apa? Ajak pasangan berdiskusi tentang berbagai kemungkinan yang bisa terjadi jika dia dekat dengan lawan jenis. Kita bisa bilang “percaya” pada pasangan karena kita berada di sisinya. Sebaliknya, kita tidak bisa percaya begitu saja pada sang teman, kan?

Eh ini bukan parnoan, lho.  Jaga-jaga saja.

Tanyakan kepada pasangan kita, bagaimana kalau ternyata temannya itu jatuh cinta kepadanya? Kan kemungkinan itu sangat bisa terjadi. Apa yang harus dilakukan untuk mencegah hal semacam itu?

Ajak pasangan untuk merumuskan jawabannya, dan dukung dia. Eh, kalau pasangan bilang akan menghindari teman akrabnya dengan keluar  dari tempat kerja saja, Anda siap? Hayooo galaaau.

Demikian kulwap kita yang agak-agak pedas, terima kasih sudah mengajukan pertanyaan semoga menjadi inspirasi teman yang lain. Selamat bediskusi.

Kulwap ini disponsori  oleh buku Marriage With Heart, penulis Anna Farida dan Elia Daryati

Sumber: Blog Suci Shofia

Daftarkan nomor WA Anda ke Admin Keluarga Sehati, Suci Shofia, 089650416212. Ikuti kulwapnya setiap Sabtu siang, sejam saja