BERCANDA DENGAN EYD

bercanda dengan EYDArtikel ini dimuat dalam “Wisata Bahasa” Harian Umum Pikiran Rakyat. Saya bagikan versi aslinya, ya.

 

BERCANDA DENGAN EYD

(Anna Farida)

Bagaimana jika ada kajian Ejaan Yang Disempurnakan yang diawali dengan dialog seperti ini:

#IngatEYD

Ini perlu diketahui para suami ketika merayu istri.

Istri: “Mas, baju baruku bagus, enggak?”
Suami: “Bagus, dong, Sayangku. Lehermu jadi terlihat jenjang …”
I: “Maksudmu apa? Nyindir leherku yang besar, ya?”
S: “Oh … um … maksudku … berjenjang-jenjang …”
I: “Hah! Tahu enggak kata itu apa artinyaaa? Grrrhhh!”

Istri kian murka, rayuan gagal.

Saya mengajar di sebuah komunitas menulis perempuan yang kebanyakan anggotanya adalah ibu rumah tangga. Ada yang memiliki latar belakang pendidikan bahasa, ada yang tidak. Ada yang masih ingat pelajaran tata bahasa, ada yang bilang lupa. Rata-rata, alasan mereka adalah karena tak suka pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

Pendek kata, dulu tak suka sekarang lupa.

Selain ilmu, bahasa itu kan keterampilan. Begitu jarang digunakan, dia akan segera dilupakan. Dulu, saat SMA, nilai rapor saya untuk bahasa Jerman selalu 9. Sekarang, kemampuan Deutsch saya ada di level pre-basic alias dasar saja tidak. Kosakata? Nyaris punah.

Apa sebabnya?

Lulus SMA, saya mendalami pendidikan bahasa Inggris di IKIP Bandung. Setelah itu, saya aktif menulis, mengajar menulis, dan menjadi trainer berbagai pelatihan orang tua dan guru. Artinya, saya lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Untuk berjejaring dengan komunitas guru internasional, saya pakai bahasa Inggris. Tak bisa dicegah, kurang dari sepuluh tahun, bahasa Jerman saya bisa dibilang lenyap.

Tragedi yang sama bisa terjadi pada bahasa Indonesia—termasuk bahasa ibu. Kecakapan berbahasa sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Pengaruh itu bisa positif bisa pula sebaliknya.

Tren bahasa singkatan misalnya. Kebiasaan menyingkat kata mulai muncul ketika telepon genggam menawarkan menu pesan singkat alias SMS. Jumlah karakter per pesan dibatasi, dan untuk setiap pesan dikenakan biaya tertentu.

Tak lama kemudian media sosial menyediakan fasilitas chatting. Bahasa tidak formal berkembang cepat, bahasa alay ikut menyergap. Seiring dengan mudah dan murahnya akses internet, tren ini cenderung diiyakan oleh kebanyakan pengguna media sosial.

Awalnya para ibu adem ayem saja, bahkan ikut dalam euforia komunikasi abad ke-21.

Saya juga.

Lama-lama yang mengeluh kian banyak.

Saya juga.

Menurut para ibu, anak-anak mengalami kesulitan ketika harus menuangkan gagasan dalam tulisan karena lebih akrab dengan bahasa chatting. Ini terjadi dalam semua mata pelajaran.

Beberapa rekan guru termasuk dosen curhat. Mengajar anak-anak membuat laporan atau sekadar menulis pengalaman dan pendapat jadi tugas yang mahaberat. Murid dan mahasiswa mereka rata-rata masih harus dibimbing untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang baik. Kesalahan tata bahasa yang sama terus berulang. Kosakata mereka terbatas, dan gaya tulis mereka terlihat sekali dipaksakan. Laporan dua halaman bikin mereka mengeluh, sementara arsip chat harian bisa ribuan pesan.

Para ibu tak kalah gerah.

Sebagian besar lupa banyak hal, sebagian yang lain lebih akrab dengan bahasa media sosial. Buntutnya, saya sering jadi sasaran tembak saat anak-anak mereka dapat tugas bahasa Indonesia.

Pesan-pesan begini, nih, yang bikin saya tambah sayang pada para ibu.

“Bu Anna, yang baku mana, sih? Nasihat atau nasehat? Tampak atau nampak? Maaf, ini PR anak saya.”

“Lah, kan tinggal buka kamus online, Bu.”

“Kan ada Bu Anna. Bisa sekalian tanya-tanya hal lain.”

“Haish!”

Jadilah saya kamus berjalan. Padahal, untuk banyak kata, saya pun buka kamus. Saya bahkan berkali-kali buka kamus untuk satu kata yang sama karena lupa.

Saya merasa mau dan merasa perlu, karena ingin tulisan saya bermutu. Bahasa kan mewakili karakter sekaligus kredibilitas seseorang. Saya belajar juga belum lama, kok. Bukti tertulisnya ada di blog saya. Tulisan yang saya buat dua tahun yang lalu masih berantakan, tulisan dua bulan yang lalu, bahkan dua hari yang lalu, masih saja ada yang meleset. Saya meringis sambil menyunting tulisan lama begitu ada pembaca berkomentar.

Saya juga tak bersedia disebut guru, apalagi pakar EYD—biasa, para ibu sering lebay kasih julukan macam-macam. Saya lebih suka disebut juru siar.

Sesuai namanya, hobi saya adalah menyiarkan kabar, kadang salah kadang benar.

Tak sekali saya minta maaf di depan khalayak bahwa ternyata penjelasan saya salah, atau tulisan saya tak sesuai kaidah.

Berulang-ulang saya sampaikan kepada para ibu bahwa belajar bahasa bukan perkara instan. Bahasa bukan melulu rumus yang bisa dihafal, melainkan sarana komunikasi yang mesti dijadikan kebiasaan. Kemauan untuk menggunakan bahasa yang baik secara konsisten perlu dijaga.

Dengan niat menularkan kemauan inilah, saya memilih metode humor dalam menyampaikan materi EYD. Materi ajar selama tiga tahun terakhir akan dijadikan ebook untuk dibagikan gratis. Tunggu tanggal edarnya.

Saya sajikan materi dalam bentuk cerita atau dialog imajiner yang lucu, kadang agak berlebihan. Setahu saya, berdasarkan pengalaman, humor membuat orang merasa santai dan membuka diri.

Nah, kesediaan membuka diri adalah kondisi ideal untuk belajar. Materi lebih mudah diserap, pemahaman menancap kuat. Suasana cair membuat belajar jadi produktif sekaligus menyenangkan.

Mau contoh?

Dialog semacam ini bisa menuai komentar panjang yang hidup:

#‎IngatEYD

“Lihat, Bu! Bis diangkut oleh bas pakai bus!”
“Biarin. Asal bukan bapakmu yang diangkut.” –kalem mode on– 

Bis: Kotak kecil milik kantor pos, untuk memasukkan surat. 
Bas: Kepala pekerja (mandor).
Bus: Kendaraan besar beroda empat.

Nah, Ibu-ibu …
Naiklah bus, bukan bis, apalagi bas!

Kadang saya tantang para ibu untuk membuat kalimat, kemudian saya bahas—tentu dengan pendekatan dan penjelasan sesantai mungkin. Dengan begitu, mereka tidak merasa dihakimi. Contoh soalnya seperti ini:

#‎IngatEYD
Ingin kuhangatkan sore yang basah. Sayang, denting mangkuk tukang bakso mengiang sejenak lantas menghilang.

Kalian kutantang.
Buat dua atau tiga kalimat. Gunakan beberapa kata yang suku kata terakhirnya mengandung “ang-ing-ung-eng-ong”. EYD akan kita benahi bersama. Ayo, tulis. Kok malah “ndomblong” 

Hasilnya luar biasa. Daya imajinasi dan daya bahasa para ibu ini meletup tanpa katup!

Yang perlu saya lakukan hanya mengoreksi sebagian kaidah EYD yang meleset dan membiarkan sebagian yang lain. Tak perlu dikoreksi semua, nanti mereka jera. Saya juga kan tidak tahu semua.

Nah, mari bercanda.

 

Salam takzim,

Anna Farida, Kepala Sekolah Perempuan, juru siar EYD, penulis, tinggal di Bandung, www.annafarida.com

Advertisements

GRUP TETANGGA SEBELAH?

calvin_and_hobbes

wikispaces.com

Saya 98% yakin, Anda pernah baca informasi seperti ini:

$%#@$^^&*^%$#

$%#@$^^&*^%$#

… dan seterusnya dan selanjutnya …

(dari grup sebelah) atau (dari grup tetangga)

 

Sebelah mana? Tetangga siapa?

Sabtu lalu saya merumpi bersama pengurus Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) dan membahas sejumlah program untuk mengompori ibu-ibu agar kian rajin menulis. Selain dikompori, anggota akan diajak kembali belajar prinsip-prinsip sederhana saat mengutip sebuah sumber informasi termasuk menyebarkannya. Biar enggak malu-maluin nyebar berita hoax!

Pakai daster yes, nyebar berita bohong no!

Di Sekolah Perempuan, saya pernah ngomel bawel wel wel, memperingatkan alumni agar tidak sampai bikin Julie Nava cari nyiru buat tutup muka. Soalnya dialah mentor yang mengajarkan materi riset dalam menulis, termasuk melacak rujukan dengan cara yang benar.

Lha, sekarang lain lagi.

Saya ikut dan diikutkan dalam beberapa grup Whatsapp dan Facebook. Bukan sepuluh dua puluh kali saya dapatkan informasi yang sumbernya dari grup sebelah atau grup tetangga. Celakanya, saya juga pernah latah membagikan informasi dengan menyebut tetangga sebelah itu. Sekarang sudah tobat.

Mengapa tren ini muncul, ya? Mengapa tidak sebut saja sumbernya, dari Grup Menyanyi Riang, misalnya. Malas? Mau cepat? Atau sudah dianggap biasa?

Coba cek, deh. Jika Anda punya waktu luang, lakukan eksperimen ini. Saya minta Anda karena saya emoh melakukannya.

Misalnya Anda dapat info tetangga dari A tentang cara cepat langsing dengan jus durian #halah. Minta A bertanya kepada grup tetangga itu, apa sumber atau rujukannya.

Anggap saja yang menyebarkan info di grup tetangga itu adalah B. Berdasarkan kesotoyan saya, besar kemungkinan B akan menjawab “dari grup sebelah”.

Jika B bertanya kepada C di grup sebelah itu, C akan menjawab dari grup tetangga sebelah.

Berikutnya, kata D dari tetangganya tetangga atau mertuanya tetangga. Demikian seterusnya hingga Z, mungkin kembali A mungkin juga pindah ke A-2.

Jus durian pun sukses menjadi travelling theory.

 

Kan saya tidak menyebarkan kebencian? Kan hanya menyebarkan quote atau gambar yang memotivasi?

Walau tujuannya baik, caranya tetap harus benar.

Sederhana saja, Buk. Suwer tidak ribet.

Sebarkan kebaikannya, sebutkan sumbernya. Itu hanya setitik upaya untuk peduli, kok.

Sebut saja namanya, “info dari Mas Edward dari Grup Penggemar Tahu”.

Dengan cara ini, Mas Edward akan dapat apresiasi, sekaligus waspada. Karena sadar namanya akan disebut sebagai sumber berita, dia akan lebih hati-hati dengan isi berita yang disebarkannya. Ini harapan imajinatif saya yang dangkal—kasihan banget, sudah imajinasi, dangkal pula haha.

Kemungkinan lainnya, orang yang jadi sumber beritanya memang bertujuan merusak dan menyebarkan kerusakan. Tentu dia tak ingin namanya disebut dan memilih sembunyi di rumah tetangga sebelah tadi.  Masa jempol Anda ikut-ikutan mendukung kejahatannya?

Tapi saya yakin itu bukan Mas Edward – ini ngomongin apa, sih?

Jadi gitu, ya, Buk.

Mulai saat ini kita biasakan menyebut nama siapa pun yang menyebarkan berita apa pun. Atau setop saja, deh, menyebarkan berita yang rujukannya tetangga sebelah itu.

Sambil promosi, saya punya grup kuliah via Whatsapp tentang parenting dan pernikahan (nggaya, pakai nama kuliah—biarin), dan adminnya galak bener. Dia melarang anggota menge-post berita salin-rekat alias copas dari grup lain.

Jika Anda mau berbagi informasi, ceritakan saja apa isinya, jangan di-copas mentah-mentah. Setidaknya ada usaha sedikit untuk mencerna sebuah berita dan menuliskannya sesuai pemahaman sendiri.

Hal sederhana ini juga setitik upaya untuk menjaga generasi berikutnya, lho.

Ngeri banget membayangkan anak-anak kita jadi generasi copas dan generasi tetangga sebelah.

Catatan: Banyak yang tanya, tulisan ini boleh di-copas tidak?
Ya boleh, lah. Siarkan seluasnya, sebutkan sumbernya. Jika ada yang keberatan kan tinggal jitak saya 😀

Saya siarkan tulisan ini dan kabur segera, takut juga kena jitak penyuka tetangga sebelah ahahah.

 

Salam takzim,

Anna Farida

Mindful Parenting

Salam Sehati, Bapak Ibu.
Hujan mulai mengguyur Bandung dan kota-kota lain.
Semoga mencurahkan berkah, amin.

Rumpi dulu.
Besok saya akan jadi fasilitator pelatihan orang tua dalam rangka penelitian tesis seorang mahasiswa UPI.
Materi yang akan kami bahas adalah “Mindful Parenting“.

Ini TOR yang dibuat mahasiswa tersebut sebagai panduan presentasi saya. Jadi bukan saya yang bikin, tapi isinya asyik, layak dirumpikan bersama.

Setelah pelatihan saya akan bikin tulisan tentang tema ini, deh.

Mindful dapat diartikan penuh penghayatan, eling, penuh kesadaran atau dalam agama Islam dapat pula dikatakan khusu.

Dengan keterampilan ini orangtua sadar betul bahwa ia sebagai orangtua dan perilaku-perilaku yang ditampilkan dalam mengasuh anak adalah perilaku yang tepat sebagai orangtua.

Fasilitator menjelaskan tentang 5 dimensi keterampilan mindful parenting:

Mendengarkan dengan perhatian penuh. Contoh pada saat anak berbicara dengan orangtua, apa yang sedang dilakukan oleh orangtua? Apakah sedang melaksanakan aktivitas lain? Sedang BBM-an, mendengarkan sambil mengurus pekerjaan rumah atau menghadirkan sepenuhnya dalam pembicaraan dengan anak.
Penerimaan untuk tidak menghakimi diri sendiri dan anak: contoh pada saat anak mempunyai masalah apakah orangtua memberikan label “negative”, kamu bodoh, telat dll?. Atau apakah orangtua mempunyai permintaan yang tidak realistis”selalu menggunakan syarat?”
Kesadaran emosional atas diri dan anak: berkaitan dengan kecerdasan emosi orangtua. Apakah orangtua mampu melihat kekhawatiran anaknya dari bahasa tubuh anak? Apakah orangtua mampu membaca keinginan anak walaupun anak tidak mengatakannya? apakah orangtua menyadari bahwa saat suasana hati orangtua bad mood itu akan mempengaruhi bagaimana orangtua memperlakukan anak?
Pengaturan diri dalam hubungan parenting; Orangtua mampu menyikapi setiap permasalahan yang terjadi pada diri anak, contoh pada saat anak pulang telat dan tidak menghubungi orangtua, apakah saat ia pulang orangtua langsung menanyakan/memarahi/berkomentar langsung? Atau memberikan kesempatan anak untuk beristirahat terlebih dahulu, setelah itu mencari kesempatan yang tepat untuk membahasnya.
Kasih sayang kepada diri dan anak; apakah orangtua selalu mengevaluasi tentang bagaimana mengasuh anak? Pada saat melakukan kesalahan dalam mengasuh anak apakah cenderung menyalahkan diri sendiri? Pada saat anak mempunyai kesalahan apakah cenderung membahas kesalahan anak yang dulu-dulu walaupun niatnya mengambil pelajaran?

—- TOR di atas adalah panduan untuk presentasi saya, disusun oleh Pathah Pajar Mubarok yang tengah menyelesaikan tesisnya di Pascasarjana UPI) — Sukses, Pathah 🙂

uchishofia

Ilustrasi: forums.psychcentral.com         Ilustrasi: forums.psychcentral.com

Tema: Mindful Parenting

Waktu: Sabtu siang, 07 November 2015 01:15 PM

Ruang Kelas: Kuliah via WhatsApp Keluarga Sehati

No. kontak: 0896 5041 6212 (Suci Shofia)

Narasumber: Elia Daryati dan Anna Farida

Diskusi:

Salaaam, agak mundur dikit  boleh, yaaa. Mengurutkan jawaban dulu.

Ceritanya surel yang dikirim Bu Elia ke Mbak Anna Farida kayaknya nyasar. Padahal dah dari jam 12 siang ngirimnya. Akhirnya dikirim ulang deh termasuk ke admin Kulwap Keluarga Sehati. Tim sibuk beberapa menit sebelum kulwap di mulai. Meski mundur 15 menit, namun peserta yang baik hati dan rajin belajar setia menanti.

Pertanyaan-1

Adakah tips agar selalu mindful dalam mengasuh anak-anak? Kalau lagi capek, sedang lapar, mau datang menstruasi, sulit kontrol emosi.
Jawaban Bu Elia Daryati

Mindful parenting, dipopulerkan dengan padanan bahasa Indonesia “mengasuh berkesadaran”. Parenting adalah mengasuh, orangtua mengasuh anak-anaknya agar tumbuh menjadi pribadi-pribadi unggul. Mindful adalah berkesadaran atau apa saja yang mengacu…

View original post 2,307 more words

Tanya Jawab Komunikasi Asertif

Salam Sehati, Bapak Ibu.

Mari masuk ke topik minggu ini, Komunikasi Asertif.

Saya tidak begitu suka definisi, seperti soal ujian esai SMP ahaha. Jadi saya akan sampaikan beberapa kasus sederhana, nanti definisikan masing-masing, apa itu komunikasi asertif.

Anda bergabung atau dimasukkan ke dalam sebuah grup WA. Anda sudah kebanyakan grup, topik yang dibahas tidak sesuai dengan minat, atau hape Anda nge-hang atau nge-drop melulu.
Anda ingin sekali keluar tapi rikuh. Kan yang masukin teman baik, sebagian anggota grup juga teman-teman dekat. Jadi di satu sisi kita menderita batin (halah banget, grup WA kok jadi sumber derita) di sisi lain kita ingin menjaga perasaan teman.

Saya bisa keluar dengan berkata seperti ini, “Teman-teman, hape saya mulai nge-hang, nih. Tampaknya dia tidak sanggup mengejar diskusi yang aktif di grup kita ini. Saya pamit exit group dulu, ya. Informasi dan foto penting sudah saya simpan, begitu siap bergabung lagi, saya akan kontak admin. Tengkyu banget sudah ngasih banyak wawasan, maaf jika ada salah kata, salahkan jempol saya yang besar ini 😀 Salaaam …

Atau dalam kasus lain, ada teman jualan baju dan menawarkan desain yang menurut Anda tidak menarik.

Jawab begini, “Saya lebih suka baju yang polos, tidak banyak lipatan.”

Perhatikan. Saya tidak tidak menjelekkan grup WA itu, tidak mencela desain baju, tapi juga bisa keluar dari grup yang tidak saya perlukan dan tidak perlu beli baju yang tidak cocok.

Anak merajuk minta hape baru.
“Saat ini anggaran keluarga kita adalah melunasi uang sekolahmu. Ibu/Ayah akan berusaha jika memang hape baru kamu perlukan, dan anggarannya ada. Oke?”

Saya tidak mencela keinginan anak pingin hape dan menasihatinya dengan berbagai wejangan tentang hidup hemat dan sabar.

Suami merokok di rumah yang sempit.
“Mas, rumah kita kan kecil. Biar terkesan luas udaranya bisa dijaga biar tetap segar. Aku juga lebih nyaman kalau baju dan perabotan rumah kita fresh.” ———-> Cukup.

“Eh, asyik, habis mandi!” ––nempel-nempel sedikit boleh, ehm— “Mas harum dan segar kalau habis mandi. Aku suka aromanya.” —-> Cukup. Tidak perlu merepet tentang rokok.

Beda dengan “Mas, kenapa sih, merokok melulu. Sama saja dengan bakar uang, kan?” Atau … “Mas kapan mau berhenti merokok?”

Sampaikan pandangan Anda secara positif, tanpa menyerang lawan bicara. Istilah kerennya I-message. Pesan saya, pandangan saya.

Sampaikan dengan nada bicara yang netral, bahasa tubuh yang rileks, sampaikan sekali saja. 3 menit cukup (maaf, ini ukuran pribadi saya. Lebih dari itu biasanya saya tergoda untuk ngomel. Jadinya komunikasi agresif, bukan asertif lagi, dwong!)

Boleh diulang di waktu yang pas. Mau tahu kapan waktu yang pas? Saat Anda bisa menyampaikan I-message dengan hati yang ringan, dan hasilnya lawan bicara tidak jadi tersinggung. Perhatikan kapan waktu yang pas bagi lawan bicara. Kalau gagal sekali ya coba lagi dan lagi dan lagi 😀

Kan tidak bisa instan.

Menurut saya, kekuatan lain dari komunikasi ini adalah aspek “minta maaf” yang terkandung di dalamnya.

Melalui komunikasi ini kita seolah bilang begini, “Maaf, mungkin pendapat saya tidak sesuai dengan kehendakmu.”

It’s about me, not you. Ini tentang saya, bukan kamu. Lidah saya saja yang kurang suka pedas, bukan karena masakanmu tidak enak, misalnya.

Walaupun sebenarnya kamu juga yang jadi sasaran tembak saya huehehehe

Dengan cara ini, lawan bicara tidak merasa disalahkan, dihakimi. Secara tidak langsung, lawan bicara dikondisikan untuk mengerti kita, memahami pendapat kita, dan ini mendatangkan perasaan positif dalam dirinya. –> ingat, ya, bukan diminta secara langsung, tapi dengan I-message tadi.

Bukan dengan berkata, “Ngertiin aku, dong!” melainkan “Aku ingin begini, pendapatku begitu”.

Kita akan lebih mudah memahaminya dengan praktik langsung per kasus.

Mari kita mulai rumpi. Semoga pertanyaan bisa masuk sebelum Sabtu, jadi waktu menjawab pun lebih leluasa.

Sip?

uchishofia

ilustrai: enjangwahyuningrum.wordpress.com ilustrasi: enjangwahyuningrum.wordpress.com

Kenapa sih kamu itu kok kasar sekali tiap mengucapkan kata? Kapan kamu berhenti merokok? Ngapain kamu share berita nggak penting? dan berbagai ungkapan rasa tidak nyaman yang hanya terucap dalam hati.

Asertif, dunk!!!

Yuk, simak tanya jawab yang padat kaya manfaat berikut ini:

Pertanyaan-1

Bagaimana menegur suami yang suka merokok di dalam rumah kami yang mungil? Hanya ada ruang tamu dan kamar tidur satu. Dia merokok di ruang tamu. Tapi kalau ada  teman sedang main ke rumah bawa anak, dia rela merokok di balkon.

Jawaban Elia Daryati

Relasi suami istri, merupakan relasi yang setara. Artinya, jika pasangan ini menempatkan posisi yang setara, akan terbangun saling menghargai satu sama lain. Terkadang kita sendiri merasa sungkan untuk menegur, karena menempatkan posisi sebagai orang yang sedikit “takut”, jangan-jangan kalau dibiarkan justru suami tidak akan mengerti. Mungkin suami berpikir kita setuju-setuju saja. Atau boleh jadi, kita menegur tidak terlalu menekankan betapa, tidak sukanya…

View original post 2,936 more words

Resensi Buku: Belajar Kata Secara Asyik

TTS Cari Kata Seputar Islam - Anna Farida

TTS Cari Kata Seputar Islam – Anna Farida

Resensi ini ditulis oleh teman SMS-an yang penuh pesona, punya gaya bahasa istimewa, Rohyati Sofjan.

DATA BUKU             : TTS & CARI KATA SEPUTAR ISLAM

PENULIS                    : ANNA FARIDA

PENERBIT                 : QIBLA/BHUANA ILMU POPULER

CETAKAN                 : PERTAMA, JULI 2014

TEBAL                       : 84 HALAMAN

ISBN                           : 978-602-249-663-2

HARGA                      : Rp29.000,00

 

BIASANYA dengan cara bagaimanakah Anda belajar mengenai kata, lama maupun baru? Kata yang terbentuk dari bahasa ibu kita atau yang lumrah terdengar maupun terbaca? Kata dari bahasa asing sendiri, yang kerap atau jarang kita gunakan?

Ada jutaan kata bertebaran. Kita kerap menggunakannya meski bisa jadi tidak menyadari artinya secara linguistik, tanpa bersandar teori ilmu bahasa tertentu. Kata-kata bisa menjadi umum dan akrab penggunaannya, atau khusus dan jarang digunakan; sesuai sifat kata sendiri sebagai penyusun kalimat dalam bahasa universal manusia.

Ada banyak cara bagi kita untuk belajar mengenai kata baru atau lama, dengan menyimak percakapan atau bacaan, secara audio atau audio visual. Dan dalam zaman internet sekarang ini, kian mudahlah bagi kita untuk belajar mengenal kata dari milis, blog, group Facebook, sampai jejaring sosial lainnya.

Anna Farida, penulis buku produktif, jeli mengambil celah peluang pengenalan kata dengan menyusun buku TTS & Cari Kata.  Dalam biodata di halaman akhir kita akan mengenal bagaimanakah sosok Anna sendiri. Melalui sejumlah buku pendidikan yang ditulisnya, Anna menyampaikan pesan bahwa belajar bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan.

Anna adalah kepala sekolah dan mentor menulis di Sekolah Perempuan, pembicara di berbagai pelatihan editing, dan penerjemah buku. Di komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis, Anna mengasuh kelas “Ingat EYD”. Berbagi wawasan tentang ejaan yang disempurnakan dan bahasa Indonesia melalui obrolan ringan, sesekali dengan cara bercanda. Dengan cara demikian, Anna berharap agar kecintaan bangsa Indonesia terhadap bahasanya tetap terjaga.

Jika di antara Anda ada yang suka mengisi TTS di koran atau majalah, buku ini barangkali bisa menjadi karib. TTS & Cari Kata Seputar Islam lebih tebal dan khusus. Agak rumit tapi tak mengesampingkan rasa asyik. Di sana kekayaan kosakata Anna bertebaran.

30 halaman TTS dengan puluhan ragam variasi kolom untuk diisi, berikut kunci jawabannya,  terasa tidak sembarangan pilihan kosakatanya. Ada banyak kata yang berbobot dan kerap tidak kita ketahui atau pedulikan maknanya, kita diajak berpikir sekaligus mencerna. Meski, terus terang, saya alami kesulitan dan tak pernah bisa penuh mengisi kolom karena ada banyak kolom yang berdiri sendiri sekaligus tidak bertautan dengan kolom lain yang lebih mudah, sehingga kerap terpaksa mencontek kunci jawabannya di bagian belakang. Barangkali Anna bisa mempertimbangkan tingkat kesulitan buku TTS yang disusunnya, bahwa kata sulit sebaiknya disandingkan dengan beberapa kata yang lebih mudah dalam tautan kolom.

Dalam bagian 30 halaman cari kata, masing-masing ada 40 kata bermakna di antara huruf yang berserakan. Anda bisa menemukannya dari kiri ke kanan, kanan ke kiri, atas ke bawah, bawah ke atas, dan diagonal atas bawah; masih lebih dirasa mudah karena konsistensi tautan abjadnya.

Nilai tambah dari TTS & Cari Kata Seputar Islam adalah pengetahuan tentang Islam. Wawasan baru bisa Anda temukan. Ingatan dan pengetahuan yang telah lama Anda miliki pun jadi bangkit kembali. Dengan kata lain, Anna mengajak kita untuk belajar Islam jadi seru, penuh tantangan, dan menyenangkan.

Guru pun Menulis: IIDN & Bank Mandiri

peserta Guru pun Menulis- IIDN Bank Mandiri (courtesy of Lygia Nostalina)

peserta Guru pun Menulis- IIDN Bank Mandiri (courtesy of Lygia Nostalina)

Sabtu 15 Desember 2012.

Ketika saya sampai, para peserta pelatihan Guru pun Menulis sudah berkumpul di aula lantai lima Bank Mandiri Cab. Sukarno Hatta, Bandung.  Lima sekolah yang terpilih atas rekomendasi Kanwil Diknas Kota Bandung masing-masing mengirimkan 30 wakil. Total peserta pelatihan hari itu adalah 150 guru. Insya Allah, pelatihan serupa akan diadakan secara berkala untuk sekolah-sekolah lain.

Setelah say hi kepada Indari Mastuti, founder Ibu-bu Doyan Nulis (IIDN), yang juga akan menjadi pemateri, saya segera cari colokan karena hape saya sekarat.

Pelatihan ini mendatangkan tiga pemateri. Setelah acara dibuka oleh pihak Diknas dan Bank Mandiri, Alexander Andri dari Golden Life Institute menyampaikan materi motivasi menulis. Peserta diajak menyadari potensi diri dan membuka wawasan kepenulisan.  Setelah makan siang, salat zuhur, penyerahan hibah buku senilai 3.5 juta Rupiah untuk masing-masing sekolah, materi berikutnya dibawakan oleh Indari Mastuti. Dengan gayanya yang lincah, Indari menceritakan pengalamannya menulis di media massa sejak SMA hingga kini menerbitkan 60an judul buku.  Para guru diajak menggali ide, dipandu untuk menuliskan gagasannya dalam kalimat, merancang isi buku, dan menghasilkan beberapa paragraf.

Materi menjadi seru ketika Indari memanggil sejumlah guru untuk membacakan hasil eksplorasi mereka. Ternyata, ide-ide yang muncul tidak melulu berkaitan dengan mata pelajaran yang mereka ampu. Banyak juga guru yang ingin menulis buku how to, novel, hingga humor plesetan.

Berikutnya adalah hiburan. Setelah menulis, bapak ibu guru diajak menyanyi oleh Ferry Curtis. Penyanyi balada ini menyuguhkan lagu-lagu yang penuh makna, dengan penyajian yang interaktif. Peserta jadi segar, dan yang beruntung adalah saya.

Materi yang saya bawakan adalah Menyunting Tulisan Sendiri. Setelah motivasi menulis digugah, cara menulis diajarkan, kini saatnya peserta memeriksa hasil tulisan mereka.

Saya memulai materi dengan menyampaikan bahwa editor hadir untuk mengawal agar materi tulisan sesuai dengan standar penerbitan. Yang bertanggung jawab penuh atas tulisan tetap penulis. Jadi, ungkapan “Tulis saja sebebasnya, nanti ada editor yang membetulkan” tidak sepenuhnya benar.

Nah, untuk menjaga agar naskah berkualitas dari segi isi maupun bahasa, penulis bisa menempatkan diri sebagai editor bagi tulisannya sendiri.

Pertama, kami mengenang beberapa pelajaran tata bahasa Indonesia: kalimat majemuk, kalimat tidak sempurna, frasa, kalimat kepanjangan, kalimat yang bikin galau, hehe…

Berikutnya adalah mengingat kembali cara menghindari salin rekat atau copy paste, menulis rujukan, dan menulis ulang kalimat yang tidak efektif.

Kami juga belajar singkat memilih diksi, praktik menggunakan kamus online—karena ternyata, belakangan tidak semua penulis punya kamus cetak 🙂

Beberapa peserta mengajukan kata tertentu untuk diperiksa, baku atau tidak.  Begitu layar lebar menayangkan hasil pencarian melalui Kateglo Bahtera dan kamus online miliki Pusat Bahasa, terdengarlah seruan, “Ooo… lho… ternyata….”

Setelah memeriksa naskah sendiri dan tertawa bersama, tibalah saatnya memberi masukan kepada naskah teman sebelah. Bisik dan gumam segera memenuhi ruangan. Saya bersyukur, ternyata materi yang saya sampaikan ada yang nyangkut dan langsung diterapkan—kemungkinan besar karena materi editing kan gitu-gitu doang, haha…

Dalam waktu satu setengah jam, bapak ibu guru—sebagian di antaranya guru bahasa Indonesia—berperan sebagai editor, menyentil kembali kepekaan berbahasa yang sebenarnya telah kita miliki sejak lama.  Tentu tak semua materi bisa kami kupas tuntas. Walau begitu, saya berharap minat untuk kembali mencintai bahasa Indonesia jadi kian subur, dan bisa dibagikan kepada khalayak dalam bentuk tulisan.

Terima kasih, Bapak Ibu Guru, atas antusiasme, pengalaman, dan kegembiraan yang terbagi hingga akhir acara. Terima kasih dan selamat kepada Indari Mastuti bersama Indscript Creative, dan kru IIDN yang tetap ceria mengawal acara. Semoga pelatihan atas dukungan penuh Bank Mandiri ini terus begulir dan memberi manfaat bagi pendidikan Indonesia, aamiin…

 

* Foto pelatihan belum dirilis oleh IIDN, menyusul 🙂

* Sekolah yang berminat mengirimkan utusan bisa menghubungi Lygia Nostalina, @Giapecanduhujan FB: Lygia Pecanduhujan