MENCINTAI GENERASI LITERER

generasi litererFor me, opinion is merely curhat with style 😀

Opini ini dimuat di Harian Galamedia 6 Maret 2017. Selamat membaca.

MENCINTAI GENERASI LITERER

Oleh: Anna Farida

Saya membaca “Dunia Sophie”-nya Jostein Gaarder ketika mahasiswa. Setengah mati saya selesaikan buku itu di antara rasa ingin tahu dan rasa malas yang bergantian datang. Entah berapa minggu baru tamat setelah sebagian besar halaman saya lewat. Itu pun saya segera lupa isinya.

22 tahun kemudian, putri saya yang masih SD menamatkan buku yang sama hanya dalam seminggu. Saya bersaksi, dia benar-benar membacanya. Di rumah, buku itu tak pernah lepas dari tangannya. Sesekali dia bertanya apakah saya tahu Aristoteles atau Thomas Aquinas dan saya jawab sekenanya.

Begitu dia menyatakan diri selesai baca, saya penasaran, apa saja yang dia dapat dari novel filsafat yang tebalnya hampir 800 halaman itu.

Jawabnya, “Seru, Bu. Banyak misterinya!”

Rasa ingin tahunya terpuaskan pada halaman 200-an, Sophie bertemu dengan Alberto Knox. Dia kembali kebingungan saat surat-surat buat Hilde bisa sampai ke tangan Sophie, juga ketika muncul misteri lain yang dia ceritakan kepada saya dengan penuh antusias.

Saya penasaran apakah dia pun menyerap materi sejarah dan filsafat yang padat dalam novel itu. Sambil lalu saya uji dia dengan beberapa pertanyaan, dan jawabannya santai saja, “Renaisans? Errr, yang mana, ya? Lupa! Spinoza? Rasanya ada ceritanya, orangnya gendut, tapi lupa juga, sih.”

Hasil investigasi saya membuktikan bahwa dia mencermati dan menikmati jalinan kisahnya dan membaca begitu saja materi filsafatnya. Putri saya harus membaca setiap halamannya karena tak ingin ketinggalan misterinya walau tak paham sebagian besar isinya.

Ini menarik. Buku tebal yang tidak didesain khusus untuk anak bisa mengikat minat anak 10 tahun. Penulisnya sudah pasti piawai. Siapa tak kenal Gaarder.

Walaupun begitu, perlu kita sadari bahwa minat baca pada zaman serba layar sentuh ini mulai langka. Bukan hanya pada anak, tapi juga pada orang dewasa yang tahu benar manfaat membaca. Saya sendiri bukan pembaca yang tangguh. Frekuensi dan kualitas bacaan saya biasa saja, tapi bukan berarti saya tidak bisa mendampingi anak-anak menjadi literer. Anda juga bisa. Mari kita upayakan bersama.

 

Jadilah “teladan”

Mengapa ada tanda petik di sana? Siapa tahu kita sejenis—tidak begitu suka membaca. Demi anak-anak, kita bisa berlatih suka. Saya biasa duduk sejenak di dekat mereka, ambil buku, dan membaca. Pandangan saya memang ke buku, sedangkan pikiran saya entah ke mana. Yang penting saya terlihat membaca. Tanpa sengaja, ada juga kalimat yang singgah dalam ingatan saya. Lumayan, kan?

Membaca itu seperti olahraga. Semula saya tidak suka karena membuat badan sakit semua. Saya melakukannya karena terpaksa, terengah-engah berlari keliling lapangan, demi kesehatan dan kebugaran (baca: demi mengurangi berat badan). Lama-lama saya merasakan manfaatnya dan mulai menjadikan olahraga sebagai gaya hidup.

Sama halnya dengan membaca, awalnya berat. Saya harus bertarung dengan kantuk padahal baru dapat dua halaman, belum lagi godaan untuk berhenti karena berbagai alasan. Saya kondisikan diri saya membaca, sambil paham atau sambil melamun, sukarela atau terpaksa, semoga lama-lama jadi benar-benar suka.

 

Akrabkan rumah dengan bacaan

Yang dimaksud dengan bacaan bukan hanya buku. Kita bisa membiasakan menulis pesan pada anggota keluarga. Daftar tugas rumah tangga, catatan belanjaan, hingga pesan-pesan cinta bisa ditempel di tempat-tempat yang strategis. Kebiasaan ini pada gilirannya juga membangun minat menulis pada anak.

Sebar buku pada tempat yang mudah dijangkau anak, sabar jika buku berserakan di seluruh penjuru rumah. Menggerutu saat anak lupa mengembalikan buku ke rak akan mengurangi kesenangan mereka membaca. Membiarkan buku berhamburan buka berarti mengabaikan tanggung jawab. Tentukan prioritas, mau membiasakan tanggung jawab dulu atau minat baca dulu. Dua-duanya bersamaan? Saya sih tidak bisa. Saya pilih minat baca, dan mengalah saat saya yang harus beres-beres bekasnya. Setelah kebiasaan baca terbangun, baru perlahan saya minta mereka ikut rapi-rapi—walau ini jarang terjadi. Saya lebih suka buku tertebar daripada tertata diam di rak dan menjadi hunian nyaman laba-laba.

 

Variasikan jenis bacaan

Izinkan anak membaca berbagai jenis buku—sesuai jenjang usianya, tentu. Pada tahap awal, hindari buku yang padat informasi ala buku pelajaran. Tak perlu cemas, mereka sudah banyak mendapatkan genre ini di sekolah.

Pilihkan buku-buku cerita, misalnya. Membaca fiksi diyakini membantu anak memperkuat daya ingat jangka panjang. Menurut pakar literasi, Sofie Dewayani, buku cerita bergambar membantu anak mencermati komunikasi nonverbal. Imajinasi anak bebas berkembang, kecintaan pada membaca juga akan terbangun secara sukarela.

Dukung hobi anak dengan memberinya bacaan terkait. Anak yang suka sepak bola akan tertarik membaca komik bertema bola atau biografi pemain idolanya. Berita aktual terkait sepak bola juga akan memancing minat bacanya.

Bagi balita, sediakan beragam buku aktivitas yang bisa dicoret dan dirobek. Untuk anak yang lebih besar, variasikan dengan komik, buku TTS, majalah, hingga buku petunjuk penggunaan hape, misalnya.

 

Carikan teman

Ini zaman media sosial, saat urusan pribadi jadi kabar dunia. Saat melakukan kebaikan, terasa bahwa dukungan teman cukup besar pengaruhnya, termasuk teman maya. Untuk remaja, melibatkan media sosial untuk mengungkit minat baca bisa jadi jalan tengah. Anjurkan mereka untuk membahas buku dengan teman di sela chat. Jika mereka masih enggan, temani, carikan teman. Ajak teman-teman Anda yang punya anak remaja untuk membuat klub baca jarak jauh, misalnya.

 

Bukan sulap

Dalam beberapa kesempatan saya menyebut membangun minat baca pada era gadget seperti ilusi tingkat tinggi. Bagaimana mau menciptakan ilusi sedangkan saya bukan tukang sulap? Jajal upaya di atas, erami dengan ketekunan. Jangan berharap hasilnya instan dan menakjubkan seperti main sulap.

Salam literasi.

—————

Anna Farida, kepala Sekolah Perempuan, penulis “Biasa Baca Sejak Balita”—bisa diunduh gratis via Google.

Haruskah EYD Jadi EBI?

media eyd ebi

EYD jadi EBI

Kita pernah merumpikan topik ini, kan? HU Pikiran Rakyat memuatnya di rubrik “Wisata Bahasa”, 26 Juni 2016.

Haruskah EYD Jadi EBI?

Oleh: Anna Farida

 

Seminggu ini beberapa pertanyaan bernada sama masuk ke kotak pesan saya.

Mbak Anna, beneran, EYD jadi EBI? Kok seperti nama udang kering?

 

Sebenarnya saya juga baru dua tiga minggu ini mendengar kabar terbitnya Salinan Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Nah, kan, singkatannya memang EBI. Sampai sekarang saya masih canggung setelah sekian lama menggunakan istilah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

 

Saat membandingkan kedua pedoman itu dari sisi sistematika maupun isi secara sepintas, tak saya temukan perbedaan yang mendasar. Ada tambahan pedoman penggunaan huruf tebal dalam kata berhuruf miring, ada perbedaan urutan penggunaan kata serapan, selebihnya belum saya baca secara terperinci.

 

Dalam perjalanannya, EYD tiga kali diperbarui. Kita mengenal versi 1975, 1987, dan 2009. Versi 2015 ini adalah pedoman bahasa Indonesia yang mutakhir, dan frasa “yang disempurnakan” tidak lagi digunakan dalam permendikbud di atas. Jadi boleh, dong, dijuluki EBI. Nama baru, semangat baru.

 

Tanpa lebih jauh mengulas apa yang membuat EYD berbeda dari EBI, atau mempertanyakan apakah namanya tetap EYD atau menjadi EBI, bagi saya perubahan itu kemestian. Bahasa adalah sarana manusia berkomunikasi, berasal dari kesepakatan para penggunanya, yang kemudian dibakukan.

 

Manusia selalu berubah, jadi wajar jika bahasa pun bergerak dinamis. Kita beruntung jadi manusia yang lahir belakangan, jadi tak perlu ikut repot mengumpulkan kata demi kata, menetapkan maknanya, dan merumuskan cara penulisannya. Saya lahir saat bahasa Indonesia sudah punya kamus,  siap guna, tinggal pakai. Kamus Besar Bahasa Indonesia sudah dicetak dengan kertas, tak terserak di bebatuan atau daun lontar. Lebih dari itu, kini kita menikmati kamus elektronik yang sangat praktis, bisa digenggam ke mana-mana dalam telepon pintar.

 

Beberapa kali aturan berbahasa Indonesia memang mengalami perubahan karena berbagai pertimbangan. Kita seharusnya menyambutnya dengan gembira. Perubahan, walau sedikit saja, adalah tanda bahwa kita adalah manusia yang terus tumbuh menyempurna. Dari berbagai sisi, bahasa di seluruh dunia akan terus berubah—bisa berkembang, meluas, bisa juga hilang digantikan bahasa lain. Coba perhatikan, berapa persen anak-anak kita yang aktif menggunakan bahasa ibu dalam komunikasi sehari-hari?

Kita juga mengenal bahasa yang dihidupkan dari kematian—bahasa yang pernah lama dilupakan sejarah—dan kini  jadi bahasa yang ikut berkuasa di dunia. Anda tahu, kan, bahasa apa itu?

 

Jadi, terbitnya EBI adalah peluang bagi para pengguna bahasa Indonesia untuk belajar ulang dan melakukan penyesuaian—toh perubahannya tidak banyak. Munculnya aturan baru akan membuat kita diingatkan untuk tetap menjadi bagian yang aktif dalam perkembangan bahasa Indonesia. Tak ada yang lebih berhak dan wajib menjaga sekaligus mengembangkan bahasa ini selain kita—saya dan Anda.

 

Kini saatnya kita bisa nyeletuk kepada anak-anak di rumah atau di sekolah, “EYD jadi EBI, lho.”

Lantas anak-anak akan bertanya, “Apa, sih, EYD? Apa pula itu EBI?”

Itulah kesempatan emas untuk menjelaskan bahwa kita punya bahasa Indonesia, kita punya pedomannya. Anak-anak mesti tahu bahwa mereka mewarisi bahasa yang sudah berkembang dan melintasi berbagai peristiwa penting, bahkan saat mereka masih melayang-layang di alam ruh.

 

Saya gembira, walau sebenarnya hati saya agak mencelus juga. Dalam permendikbud yang baru terbit itu disebutkan bahwa Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

 

Sudah lama EYD menemani saya menulis bersama banyak teman, hingga menghasilkan buku eletronik “Bercanda dengan EYD”. Anda bisa mengunduhnya secara gratis via internet.

 

Inilah perjalanan bahasa kita, proses besar yang wajib dirayakan. Kita bersyukur bahasa Indonesia didudukkan pada tempatnya yang semestinya, lengkap dengan pedoman yang dilindungi hukum. Terima kasih, EYD, selamat datang Ejaan Bahasa Indonesia, selamat datang EBI.

————————-

Anna Farida, penulis, kepala Sekolah Perempuan, narasumber “Dunia Pendidikan” RRI Pro-4 Bandung.