Haruskah EYD Jadi EBI?

media eyd ebi

EYD jadi EBI

Kita pernah merumpikan topik ini, kan? HU Pikiran Rakyat memuatnya di rubrik “Wisata Bahasa”, 26 Juni 2016.

Haruskah EYD Jadi EBI?

Oleh: Anna Farida

 

Seminggu ini beberapa pertanyaan bernada sama masuk ke kotak pesan saya.

Mbak Anna, beneran, EYD jadi EBI? Kok seperti nama udang kering?

 

Sebenarnya saya juga baru dua tiga minggu ini mendengar kabar terbitnya Salinan Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Nah, kan, singkatannya memang EBI. Sampai sekarang saya masih canggung setelah sekian lama menggunakan istilah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

 

Saat membandingkan kedua pedoman itu dari sisi sistematika maupun isi secara sepintas, tak saya temukan perbedaan yang mendasar. Ada tambahan pedoman penggunaan huruf tebal dalam kata berhuruf miring, ada perbedaan urutan penggunaan kata serapan, selebihnya belum saya baca secara terperinci.

 

Dalam perjalanannya, EYD tiga kali diperbarui. Kita mengenal versi 1975, 1987, dan 2009. Versi 2015 ini adalah pedoman bahasa Indonesia yang mutakhir, dan frasa “yang disempurnakan” tidak lagi digunakan dalam permendikbud di atas. Jadi boleh, dong, dijuluki EBI. Nama baru, semangat baru.

 

Tanpa lebih jauh mengulas apa yang membuat EYD berbeda dari EBI, atau mempertanyakan apakah namanya tetap EYD atau menjadi EBI, bagi saya perubahan itu kemestian. Bahasa adalah sarana manusia berkomunikasi, berasal dari kesepakatan para penggunanya, yang kemudian dibakukan.

 

Manusia selalu berubah, jadi wajar jika bahasa pun bergerak dinamis. Kita beruntung jadi manusia yang lahir belakangan, jadi tak perlu ikut repot mengumpulkan kata demi kata, menetapkan maknanya, dan merumuskan cara penulisannya. Saya lahir saat bahasa Indonesia sudah punya kamus,  siap guna, tinggal pakai. Kamus Besar Bahasa Indonesia sudah dicetak dengan kertas, tak terserak di bebatuan atau daun lontar. Lebih dari itu, kini kita menikmati kamus elektronik yang sangat praktis, bisa digenggam ke mana-mana dalam telepon pintar.

 

Beberapa kali aturan berbahasa Indonesia memang mengalami perubahan karena berbagai pertimbangan. Kita seharusnya menyambutnya dengan gembira. Perubahan, walau sedikit saja, adalah tanda bahwa kita adalah manusia yang terus tumbuh menyempurna. Dari berbagai sisi, bahasa di seluruh dunia akan terus berubah—bisa berkembang, meluas, bisa juga hilang digantikan bahasa lain. Coba perhatikan, berapa persen anak-anak kita yang aktif menggunakan bahasa ibu dalam komunikasi sehari-hari?

Kita juga mengenal bahasa yang dihidupkan dari kematian—bahasa yang pernah lama dilupakan sejarah—dan kini  jadi bahasa yang ikut berkuasa di dunia. Anda tahu, kan, bahasa apa itu?

 

Jadi, terbitnya EBI adalah peluang bagi para pengguna bahasa Indonesia untuk belajar ulang dan melakukan penyesuaian—toh perubahannya tidak banyak. Munculnya aturan baru akan membuat kita diingatkan untuk tetap menjadi bagian yang aktif dalam perkembangan bahasa Indonesia. Tak ada yang lebih berhak dan wajib menjaga sekaligus mengembangkan bahasa ini selain kita—saya dan Anda.

 

Kini saatnya kita bisa nyeletuk kepada anak-anak di rumah atau di sekolah, “EYD jadi EBI, lho.”

Lantas anak-anak akan bertanya, “Apa, sih, EYD? Apa pula itu EBI?”

Itulah kesempatan emas untuk menjelaskan bahwa kita punya bahasa Indonesia, kita punya pedomannya. Anak-anak mesti tahu bahwa mereka mewarisi bahasa yang sudah berkembang dan melintasi berbagai peristiwa penting, bahkan saat mereka masih melayang-layang di alam ruh.

 

Saya gembira, walau sebenarnya hati saya agak mencelus juga. Dalam permendikbud yang baru terbit itu disebutkan bahwa Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

 

Sudah lama EYD menemani saya menulis bersama banyak teman, hingga menghasilkan buku eletronik “Bercanda dengan EYD”. Anda bisa mengunduhnya secara gratis via internet.

 

Inilah perjalanan bahasa kita, proses besar yang wajib dirayakan. Kita bersyukur bahasa Indonesia didudukkan pada tempatnya yang semestinya, lengkap dengan pedoman yang dilindungi hukum. Terima kasih, EYD, selamat datang Ejaan Bahasa Indonesia, selamat datang EBI.

————————-

Anna Farida, penulis, kepala Sekolah Perempuan, narasumber “Dunia Pendidikan” RRI Pro-4 Bandung.

Advertisements

EYD BERUBAH JADI EBI?

Bercanda Dengan EYDEYD berubah jadi EBI! Aduh, jadi ingat udang kering!

Mbak, Anna, beneran, jadi EBI? Masa sih tidak ada singkatan yang lebih keren, gitu?

Ehehe ….

Sebenarnya saya mau diam-diam saja dulu, karena memang belum punya waktu untuk membaca Salinan Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia secara detail.

Tapi daripada saya ditanya-tanya lagi, lebih baik saya buat tulisan ini.

 

Jadi begini, terus terang saya juga baru tahu beberapa minggu terakhir bahwa ada peraturan baru yang mengatur ejaan bahasa Indonesia kita tercinta, namanya sudah saya sebut di atas. Memang masih canggung, setelah lama menggunakan istilah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), kini saya harus membiasakan diri dengan singkatan baru, EBI.

 

Tadi pagi bersama Ubit (11), saya berusaha membandingkan keduanya dari sisi sistematika maupun isi. Walau sepintas—itulah sebabnya saya sebenarnya belum mau bicara, nunggu para pakar saja. Saya kan hanya juru siar, tapi tergoda untuk berkomentar #sotoyasalways—saya tidak menemukan perbedaan yang mendasar.

 

Ada tambahan pedoman penggunaan huruf tebal dalam kata berhuruf miring, ada perbedaan urutan penggunaan kata serapan, lantas apa lagi, tadi, ya? Lupa.

 

Ala kulli hal—cieee, biar terkesan salihah menjelang Ramadan—yang ingin saya bahas bukan itu. Berapa kali pun pedoman bahasa diubah, seharusnya bukan masalah.

Bahasa itu kan sarana manusia berkomunikasi, berasal dari kesepakatan para penggunanya, kemudian dibakukan. Kita beruntung jadi manusia yang lahir belakangan, jadi tak perlu ikut ribut mengumpulkan kata demi kata, menetapkan maknanya, merumuskan penulisannya. Kita (maksudnya saya) lahir saat bahasa Indonesia sudah punya kamus. Siap guna, tinggal pakai.

 

Beberapa kali aturan berbahasa Indonesia mengalami perubahan karena berbagai pertimbangan. Ada sedikit teman yang berkata, “Ah, kok plin-plan, bikin bingung saja”. Ada juga yang menyambut perubahan demi perubahan dengan gembira.

 

Saya termasuk kawanan yang kedua.

Saya suka jika dalam bahasa ada perubahan, walau sedikit saja. Itu tanda bahwa kita adalah manusia yang terus tumbuh menyempurna. Dari berbagai sisi, bahasa di seluruh dunia akan terus berubah—bisa berkembang, bisa juga hilang, digantikan bahasa lain.

Eh, ada juga bahasa yang dihidupkan dari kematian dan kini ikut berkuasa di dunia. Anda tahu bahasa apa itu? Ehehe.

 

Jadi santai saja. Tak perlu resah jika ada aturan yang membuat kita harus belajar ulang dan melakukan penyesuaian. Justru inilah kesempatan bagi kita untuk belajar lagi dan lagi. Saya akan tetap menjadi bagian yang aktif dalam perkembangan bahasa Indonesia, semoga Anda pun demikian.

Jika mampu, buatlah aturan baru, kampanyekan, dan jadikan kesepakatan. Bukan tak mungkin kita jadi penemu yang kemudian ditiru. Namanya juga bikin aturan, tak bisa sembarangan dan banyak kaidahnya, tentu.

Senyampang menunggu kita jadi ahli bahasa, kita taat saja dulu, ya, dengan pedoman yang ada. Bagaimana?

 

Ngomong-ngomong, saya baru saja meluncurkan kumpulan rumpian #IngatEYD dengan komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis. Diskusi segar, ringan, namun bernas ada di sana. Kita bisa belajar kaidah bahasa Indonesia dan tetap awet muda.

Bisa diunduh gratis di sini.

 

Terima kasih sudah menjadi teman belajar kami, EYD. Kau selalu di hati.

Agak mencelus juga hati saya membaca tulisan bahwa Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Tapi inilah perjalanan yang wajib dirayakan. Kita bersyukur masih banyak orang yang peduli dengan bahasanya sendiri dan menjadikannya peraturan yang dilindungi hukum.

 

Demikian siaran hari ini, kita tunggu koreksi, masukan, dan konfirmasi dari para pakar.

Selamat datang Ejaan Bahasa Indonesia, selamat datang EBI.

Salam takzim,

Anna Farida

www.annafarida.com